
" Rindu ini terobati seketika saat aku menemukanmu kembali berada di dekatku."
..........................................................
Happy Reading
..........................................................
Zahra keluar dari kamar menghampiri Verry dan Lita.
" Maaf pak, udah membuat bapak menunggu lama." Ucap Zahra.
Verry menoleh ke belakang." Kamu udah siap Ra." Tanya Verry.
Zahra tersenyum mengangguk.
" Baiklah ayo kita berangkat sekarang." Ajak Verry berdiri dari tempat duduk.
" Tunggu mas, " Cegah Lita.
" Ada apa?"
" Ibu Zahra biar saya aja yang ngantar ke Bandara."
" Lita, lebih baik kamu jagain tante aja di Rumah Sakit. Zahra biar saya yang antar."
" Tapi mas, Pak Rey nugasi saya untuk ngantar kemanapun Ibu Zahra pergi."
" Gak ada tapi, tapi, kami berangkat dulu." Tegas Verry.
" Gak bisa mas bu Zahra harus pergi dengan saya."
" Lita, kamu tahukan, untuk apa coba aku tadi duduk di sini, aku da janji untuk ngantar Zahra. jadi kamu tenang saja aku yang akan tanggung jawab jika kamu dimarahi Rey."
" Mbak lita, aku diantar Pak Verry aja, mbak lebih baik kembali ke Rumah Sakit jagain ibuk mbak." Ucap Zahra lembut.
" Baik lah buk." Lita menunduk.
Verry dan Zahra berjalan keluar Apartemen.
Verry melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Dua puluh lima menit berlalu mereka telah sampai di Bandara.
" Ra kamu naik pesawatnya jam berapa?" Tanya Verry.
" Jam Tujuh lima belas pak."
" Ini masih jam 6 kita ngopi dulu yuk, sambil nunggu magrib."
" Baik pak." jawab Zahra menyetujui.
Zahra dan Verry minum kopi mereka sengaja mencari cafe yang ada mushalah nya biar Bisa sholat magrib sekalian. Selesai shalat Zahra pun langsung chek in di temani oleh Verry.
Pesawat akan segera berangkat penumpang sudah di persilahkan masuk ke dalam pesawat.
" Ra, hati-hati ya ntar kalau da sampai kabari saya." Ucap Verry penuh perhatian.
" Iya Pak, maksih ya pak udah mau ngantari saya." Zahra menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Verry pun tersenyum Zahra pergi meninggalkan Verry.
Zahra naik ke pesawat, ia mencari tempat duduk sesuai dengan nomer kursi yang ada di tiket yang ia pegang. Zahra terus berjalan dan sudah ketemu tempat duduknya. dekat dengan seseorang pria yang duduk di samping jendela, Pria itu menggunakn topi dan kaca mata hitam. Zahra memperhatikan pria yang wajahnya terlihat sangat familiar.
" Pak Rey," Ucap Zahra terkejut. Zahra yakin sekali pria di depannya itu adalah Rey.
Pria itu membuka kacamata dan menoleh.
" Pak Rey, " Panggil Zahra lagi kegirangan sudah seperti orang yang ketemu harta karun.
Zahra langsung duduk menghadap Rey yang menatapnya, ia masih tak mempercayai bahwa itu Rey karena belakangan ini Zahra sering berhalusinasi melihat Rey di mana-mana.
Zahra mengacungkan jari telunjuknya menyentuh hidung Rey.Rey mengerutkan dahi dengan apa yang dilakukan Zahra.
Jari tangan Zahra menyentuh hidung Rey.
" Benar ini bukan halu." Gumamnya.
" Kamu kenapa sih Zahra." Tanya Rey merasa aneh tiba-tiba hidung mancungnya disentuh Zahra.
" He...he...he.. maaf Pak aku kira aku mimpi ketemu bapak di sini gak tahunya beneran." Zahra tersenyum canggung, sadar dengan ulah bodohnya.
Rey menggelengkan kepala lalu kembali memainkan ponsel di tangannya.
Zahra kecewa dengan sikap Rey yang cuek. ia tertunduk sedih.
" Maaf," ucap Zahra lirih masih tertunduk.
Rey kembali menoleh Zahra yang tertunduk. hati Rey terenyuh melihat wajah cantik Zahra yang tertekuk sedih.
" Ra, " panggil Rey.
Zahra mengakat kepala melihat Rey.
" Merindukan ku." potong Rey masih menatap Zahra yang mengeluarkan unek-unek dengan mata yang berkaca-kaca menahan air mata.
Bibir Zahra tertutup rapat, tak mampu lagi berkata, dia hanya bisa menatap Rey dengan tatapan kerinduan yang mendalam.
" Ehem" suara deheman seseorang membuat Zahra dan Rey mengakhiri pandangan mereka.
Sebelum melihat sumber suara deheman tadi Zahra memejamkan mata dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
" Bodoh,bodoh,bodoh mengapa aku bisa keceplosan gini. Apa yang akan di pikirkan oleh Pak Rey." Batin Zahra.
" Nona cantik apakah kamu duduk di kursi tengah." Ucap seorang pria tampan menunjuk kursi tengah di antara Rey dan Zahra.
Zahra mengangguk.
" Kalau begitu bisakah nona duduk di tempat nona karena yang nona duduki sekarang kursi saya." sambung pria itu lagi menyungging senyum.
Zahra mengangguk dan tersenyum tipis, saat ia ingin bergeser tak sengaja Zahra melihat Rey yang juga menatapnya.
" Duduklah di sini." titah Rey.
Zahra mengangguk masih dengan senyum tipisnya kemudian duduk di kursi Rey di samping jendela sedangkan Rey duduk di tempat Zahra, kursi tengah.
" Brow loh sportif dong, biarkan nona cantik itu duduk di kursinya." Kata pria itu lagi.
Rey tak menggubris perkataan pria itu, membuat pria yang juga berwajah tampan di sampingnya itu merasa tak senang.
__ADS_1
" Brow aku sedang bicara denganmu," sambungnya lagi menepuk bahu Rey.Rey menatap jengah pria itu masih tak meladeninya.
" Brow sebaiknya kamu kembali ke kursimu biar kan Nona cantik ini kembali duduk di tengah, aku juga pingin berkenalan dan ngobrol dengannya, jika kamu ingin juga aku tak akan mengganggu kita bisa berbagi, biarkan wanita ini yang akan memilih ingin berkencan dengan siapa aku apa kamu. Sportif bukan?" tambah pria itu lagi yang belagu sedikit songong.
Rey semakin jengah mendengat ucapan pria yang dari penampilan dan gayanya adalah playboy cap buaya darat.
" Sebaiknya kamu duduk saja karena saya gak akan pindah. Nona yang kamu bilang cantik ini istri saya, saya tidak akan biarkan istri saya berkenalan dengan cowok songong kaya lo, dan satu hal lagi saya gak akan pernah membagi istri saya kepada siapun." jawab Rey tegas.
" So she is your wife?" tanya pria itu kaget.
Rey malas menjawabnya lagi ia rasa jawabannya tadi sudah cukup jelas.
" Ok, I am sorry." Pria itu pun duduk di samping Rey sebelumnya pria itu melihat Zahra yang juga melihatnya. " Sorry " katanya lagi pada Zahra dan tersenyum. Zahra membalas dengan sedikit senyum. Zahra memandang Rey yang memainkan ponsel, Rasa rindu yang kini terobati setelah bertemu dengan Rey, Zahra tersenyum sensiri kemudian memalingkan wajah ke arah jendela, hatinya kini sangat senang apalagi mendengar ucapan Rey yang masih mengatakan dirinya adalah istri Rey.
Zahra terus saja senyam-senyum sendiri.
" Zahra kamu kenapa sih, lagian kan emang benar kamu ini istri nya Pak Rey, apa istimewanya cuma istri kontrak, ingat istri kontrak yang bentar lagi akan bercerai." lamun Zahra. " Ah biarlah tapi tetap aja hari ini aku senang akhirnya bisa ketemu lagi dengan Pak Rey." Batin Zahra lagi larut dalam lamunanya.
Seorang pramugari berjalan memberikan instruksi kepada seluruh penumpang untuk memakai sabuk pengaman karena pesawat sebentar lagi akan Take of.
Rey memakai Safety Beltnya, sedangkan Zahra masih melamun.
" Excuse me miss, please put on your seat belt." Ucap seorang pramugari berdiri di depan mereka tetapi tidak di dengar oleh Zahra,
" Miss, Heloo....." Ucapnya lagi tapi Zahra masih asyik melamun sehingga tetap melihat ke arah jendela dan tak mendengar ada yang memanggilnya.
Rey memberi kode pada pramugari bahwasaanya dia yang akan memberitahukan pada Zahra sehingga Pramugari cantik itu pun pergi memberi instruksi pada penumpang lainnya.
Rey menatap Zahra yang masih melamun. Lalu Rey memasangkan Safety Belt Zahra. Zahra terkejut saat Rey mencoba memasangkan Safety Beltnya,badan Rey sedikit condong ke arah Zahra sehingga wajah mereka berjarak sangat dekat.
Jantung Zahra bergemuruh tak karuan menatap Rey yang berjarak sangat dekat. Selesai memakaikan safety Belt pada Zahra Rey pun menatap Zahra yang terlebih dahulu memandanginya. Kini mereka saling bertatapan sangat lekat, walau bibir keduanya tak berkata apapun tetapi mata mereka saling berbicara melepaskan rindu sebulan tak berjumpa.
Rey mengakhiri pandangan dengan melihat kearah lain lalu menjauhkan diri duduk seperti semula. Zahra menjadi gugup lalu kembali memandang ke luar jendela.
Selama perjalanan mereka hanya diam saja berusaha menjaga debaran jantung masing-masing agar tetap tenang.
Zahra terus berkata-kata sendiri di dalam hati tentang perasaannya kini pada Rey. perasaan yang dia sendiri tidak tahu seperti apa. Letih melamun, akhirnya Zahra tertidur kepalanya terjatuh sehingga bersandar di bahu Rey. Rey membiarkan kepala Zahra tetap seperti itu, bersandar di bahunya sampai pesawat landing barulah Rey membangunkan Zahra.
" Ra, " panggil Rey tetapi Zahra belum bangun juga.
" Zahra." Rey kini menepuk tangan Zahra pelan.Zahra pun terbangun, membuka mata.
" Kita udah sampai, yuk kita turun." Ajak Rey.
" Zahra mengangguk ia pun berdiri tetapi Zahra lupa kalau belum melepas Safetty Belt.
Rey membukakan safety belt yang di pakai Zahra lalu mereka berdua turun dari pesawat.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Malam Reader, semoga senang ya membaca up nya Author malam ini. makasih dukungannya.
Absen dulu yuk Readers semua yang lagi nunggui Zahra dan Rey tetap bersama dan tidak jadi berpisah mana aja nih???
isi di kolom komentar ya 🙏🙏
__ADS_1
Salam manis dari Author 😘😘😘😘
Terimakasih 🙏🙏🙏