
Rembulan telah digantikan mentari, dengan begitu Malam telah berganti pagi. Udara Pagi yang menyejukkan masuk menerobos setiap pentilasi udara di perumahan ARDANA.
Pagi ini Nek Retno dan Nek Gendis mondar -mandir disibukkan oleh kegiatan untuk mempersiapkan semua hal yang akan di bawa ke rumah Zahra, dari mulai pesanan parsel yang sudah diantar kurir pagi-pagi sekali sampai urusan menghubungi beberapa keluarga yang akan diajak serta ikut ke rumah Zahra.
Pukul sembilan semua sudah selesai. Rey, Nek Retno, Nek Gendis, anak dan menantu Nek gendis, Tante Linda dan juga suaminya Akbar sudah siap untuk berangkat menuju rumah Zahra.
Verry tidak tahu sama sekali bahwasannya Mama dan Papanya ikut juga ke rumah Zahra untuk melamar Zahra tetapi bukan melamar untuk dirinya melainkan untuk Rey sepupunya.
Nek Retno sengaja meminta Linda dan Akbar merahasiakan kepergian mereka hari ini ke rumah Zahra. Karena Nenek gak mau menambah masalah yang sudah ada. Nek Retno tahu kalau Verry juga mencintai Zahra, jika Verry tahu pasti dia gak akan bisa terima dan mengalah dari Rey dengan mudah. Maka dari itu untuk sementara waktu mereka merahasiakannya dari Verry.
Satu jam setengah berlalu, ketiga mobil yang kini telah sampai tujuan telah terparkir rapi di pekarangan rumah Zahra.
Zahra sudah berada di depan pintu menyambut kehadiran keluarga ARDANA yang sebenarnya juga sudah menjadi bagian dari keluarganya semenjak pernikahan kontrak dirinya dengan Rey berlangsung hampir 3 bulan yang lalu.
Zahra menyalami nek Retno, Nek gendis,Tante Linda dan anaknya nek Gendis, lalu mempersilahkan semua keluarga untuk masuk ke dalam rumah.
Mama Zahra yang sudah tahu kehadiran Rey dan keluarganya pun menuju ruang tamu untuk menyambut kedatangan mereka.
Mata Mama membulat saat tatapan matanya bertemu dengan orang yang tidak asing lagi baginya.
" Ibuk." Satu kata terucap dari bibir Mama menatap rindu Nek Retno.
" Kalvita. " Sahut Nenek gak kalah terkejutnya.
Nenek menghampiri Mama Zahra lalu memeluknya. Papa Zahra yang baru saja berada di ruang tamu ikut terkejut melihat buk Retno bersama keluarga kini berada di rumahnya.
" Kal, ibuk sering mencari mu, mendatangi rumah kalian dulu tapi kalian sudah pindah dan kami gak tahu kalian pindah kemana? hari ini ibuk sangat senang karena bisa bertemu kembali dengan kalian. " Nenek melepas pelukannya lalu memandang Mama dan Papa Zahra secara bergantian. Tak terasa airmata Nenek jatuh melintasi pipi yang sudah mulai mengendur.
Keluarga yang lain juga melihat haru pertemuan yang sudah lama di nantikan. Sementara Rey Dan Zahra saling berpandangan dengan tatapan heran tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
" Rey, Dari dulu kamu sering nanyain tante Kal kan?, Rey selalu marah Karena Rey gak bisa mengingat wajah tante Kal. Kemarilah sayang kini tante kesayangan mu ini sudah kita temukan. " Nenek menangis mengingat masa lalu.
Rey mendekati Nenek Dan Mama Zahra.
" Apa benar ini tante Kal nek? " Ada kerinduan yang mendalam di mata Rey.
Mama juga menitikkan air mata.
" Jadi Dia Rayhan putranya Elyn Dan Doni buk?" Tanya Mama memastikan. Airmata bahagia juga terus keluar dari mata Mama.
" Ya, " nenek mengangguk " Putra Elyn Dan Doni yang dulu selalu merengek dibuatkan masakan Oleh mu Kal. " Ucap nenek kembali mengingat kenangan masa kecil Rey.
" Pantas saja saat pertama bertemu dengan Rey aku merasa seakan-akan aku sudah lama mengenalnya. sekarang dia sudah sangat besar dan sangat tampan hingga aku tidak bisa mengenali si tampan kecil yang lebih memilih menemaniku memasak dari pada bermain dengan temanya." Mama menepuk lembut Pipi Rey.
__ADS_1
" Sebaiknya kita duduk Saja dulu, biar ngobrolnya lebih enak. " Kata Papa yang sadaritadi berada di samping Mama.
Mereka semua menyetujui ajakan Papa. Nenek dan Rey pun kembali duduk di sofa sementara mama Neha menyalami Nek Gendis.
" Nek Gendis kan? " Tanya mama memastikan.
Nek Gendis mengangguk serentak dengan memejamkan kedua mata tanda menggiyakan.
" Nenek gak berubah ya Dari dulu sampai sekarang masih tetap kelihatan muda Dan cantik malah makin cantikan sekarang. " Mama mengukir senyum memuji nek Gendis.
Nek gendis juga membalas senyum mama.
" Kamu juga Kal, gak berubah Dari dulu tetap sama selalu saja bisa membuat orang di sekelilingmu bahagia, dan sekarang sifat mu itu menurun ke putrimu Zahra. " Nek Gendis memandang Zahra masih mengulum senyum.
Mama juga masih tersenyum kemudian bersalaman dengan anaknya nek Gendis lalu tante Linda.
" Apa kabarmu Lin, da lama banget kita gak jumpa ya, pasti anak kamu juga da besar.kalau gak salah, dulu juga hanya beda beberapa bulan saja dengan Rayhan kan? " tanya Mama.
" Iya mbak, Verry sekarang sudah besar sama seperti Rey. Dari kecil sampai sekarang mereka bukan hanya saudara tetapi juga teman baik. "
" Verry?, maksud kamu Verry yang teman kerja nya Rayhan? "
" Iya mereka memang satu kantor, mbak Kal udah pernah jumpa sama Very ya? "
" Iya mbak sepertinya memang begitu." Linda pun tersenyum lebar.
Mama kemudian duduk di samping Papa. Dengan waktu bersamaan bibik membawa minuman dan beberapa cemilan untuk di suguhkan. Mama mempersilahkan semuanya untuk minum dan menikmati makanan ringan yang sudah tertata rapi di meja.
" Oh ya buk, Doni dan Elin kemana? kok gak kelihatan? " Tanya Papa Zahra.
" Pasti mereka lagi di luar negeri ya buk, makanya gak bisa datang? " Sambung Mama.
Yang ditanya hanya terdiam membisu.
" Bang Doni dan mbak Elyn udah lama meninggal mbak, karena kecelakaan. Waktu itu usia Rey sembilan tahun, dan sejak kecelakaan itu Rey kehilangan sebagian memory ingatanya. Rey masih ingat dengan mbak Kal tapi Rey gak bisa mengingat wajah mbak. Dia sering menangis minta ketemu sama mbak dan kami juga sudah berusaha untuk mencari keberadaan mbak sekeluarga tapi gak ketemu juga. " Jelas Linda
" Mama kembali meneteskan airmata, terdiam membisu mengingat kembali sahabatnya yang kini gak akan bisa lagi bercengkerama dengannya seperti dulu, sahabat terbaiknya sudah tiada. Papa mengelus pundak mama untuk menguatkan Mama.
" Kal, ibu mau minta maaf pada kamu karena dulu ibu juga ikut menyalahkanmu sama seperti Elyn padahal sebenarnya anak ibu Doni lah yang bersalah. "
" Gak apa bu, Kal juga udah melupakan kejadian itu. " Jawab Mama menghapus airmatanya lagi.
" Saat mengetahui kebenarannya, Elyn berusaha mencarimu untuk meminta maaf tapi belum sempat Elyn menemukan alamatmu Elyn mengetahui keberadaan Doni bersama istri keduanya. Elyn menitipkan putrinya Kyara pada ibu dan membawa Rey ikut bersamanya. Mereka bertengkar sehingga saat pulang mobil yang mereka kendarai menabrak truk. Dony dan Elyn meninggal di tempat sedangkan Rey dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis. Alhamdulillah Rey selamat. " Pipi nenek berurai airmata.
__ADS_1
" Aku yang salah bu, seharusnya aku membantu Elyn untuk memberikan informasi yang akurat agar Elyn percaya, bukan malah pergi meninggalkannya. " Mama tertunduk menangis.
Rey dan Zahra hanya mendengarkan. Didalam pikiran mereka banyak pertanyaan tentang masa lalu yang terjadi antara kedua orangtua mereka. Akan tetapi keadaan membuat mereka memilih untuk tetap diam dan tidak menanyakannya. "
" Arman, Kal, ibu juga minta maaf atas kelakuannya Reza yang sudah membuat keluarga kalian malu. Sebenarnya Reza itu anaknya Doni dan selingkuhanya Intan. " lanjut Nenek.
" Lalu bagaimana anak Doni dari istri keduanya bisa tinggal bersama ibu? " Tanya Papa Zahra.
" Intan sangat marah saat tahu semua harta keluarga ARDANA jatuh pada Rey, tak sedikitpun dibagi untuknya dan anaknya Reza sehingga Intan mencoba untuk menghabisi Rey. Untung saja perbuatan kejinya itu ketahuan pihak rumah sakit sehingga Intan di hukum 25 tahun penjara karena kasus percobaan pembunuhan. Dengan berbagai pertimbangan ibuk membawa Reza pulang biar bagaimanapun Reza adalah anak Doni, cucu ibu juga. Reza berhak mendapatkan kehidupan yang layak sama seperti Rey dan Kyara. Ibu juga takut kalau salah didikan, Reza malah akan menjadi ancaman buat kehidupan Rey dan Kyara nantinya. Tapi ternyata meski Reza dibawah pengasuhan ku tetap saja Reza berbuat sesuatu yang tidak pantas. ini semua salah ibu yang lalai mengawasinya Sekali lagi maafkan Ibu ya Man, Kal atas kesalahan yang pernah dibuat Reza pada Zahra. " Nenek menangis menggenggam tangan Mama Seraya meminta maaf.
" Sudahlah Bu Kami sudah memaafkan Reza ya kan Pa?" Mama memandang Papa.
" Iya." Jawab Papa.
" Kal apakah kamu masih ingat dulu Elyn ingin menjodohkan Rey dan anakmu, sampai-sampai saat kamu mengandung anak kedua, Elyn sangat berharap yang lahir adalah perempuan tetapi malah yang lahir laki-laki lagi, trus Elyn memaksamu untuk hamil lagi ya kan? " Nenek tertawa kecil mengingat kejadian itu.
" Iya Bu, saya masih ingat Elyn memaksa Kal untuk melahirkan seorang putri agar bisa dijodohkan dengan Rey, tapi saat itu saya baru saja melahirkan tidak mungkin untuk hamil lagi." Mama pun ikut tertawa kecil.
" Sekarang dimana kedua putra kalian? yang seumuran dengan Rey siapa namanya? Bimbim ya kalau nggak salah." Tanya nenek lagi.
" Iya Bu, Bimbim sekarang tinggal di Kairo bersama istrinya, Dia sudah menikah dan sekarang istrinya lagi mengandung anak pertama mereka. Sedangkan abangnya Arga tinggal di pusat kota bersama istrinya mereka sudah dikaruniai seorang putra dan sekarang Zahra juga ikut tinggal bersama mereka karena Zahra juga bekerja di pusat kota." Jelas Mama, Mama tidak tahu kalau sebenarnya Zahra sudah tidak tinggal lagi di rumah Arga malah tinggal di kediaman ARDANA.
" Ibu nggak pernah menyangka ternyata keinginan Elyn sudah ada di depan mata. Ibu berharap semoga kalian berdua mau merestui hubungan Rey dan Zahra. Rey sangat mencintai Zahra, sebelumnya Rey tidak pernah mencintai wanita manapun cuma Zahra yang bisa meluluhkan hatinya Kal." Nenek meyakinkan Mama agar mau merestui hubungan Rey dan Zahra.
" Bu, saya sudah katakan sama Rey saya akan merestui hubungan mereka apabila Rey mampu menyelesaikan syarat yang sudah saya ajukan padanya." darah Papa.
" Syarat, Syarat apa Man?." Nenek menautkan kedua alisnya.
" Rayhan harus bisa menghafal surah Ar-Rahman dalam waktu satu minggu. Rayhan juga sudah menyanggupinya. Walaupun sekarang kami tahu ternyata Rayhan adalah anak dari sahabat mamanya Zahra bukan berarti syarat itu akan di batalkan. " Papa menatap Rey.
" Rey, benar kamu menyanggupinya? itu tidak mudah Rey, bukankah sudah lama kamu berhenti mengaji. " Kata Nenek pada Rey.
" Ya Nek, Insyaallah Rey bisa menghafalnya, doain Rey ya Nek?" Rey meyakinkan dengan mengulum senyum tipis.
" Bagaimana bila seandainya Rey gak mampu menghafal nya Man? "
" Maaf kan saya bu, tapi jika Rayhan tak mampu menghafalkannya maka saya akan menikahkan Zahra dengan seorang pemuda yang Hafis Qur'an dia juga anak dari sahabat saya. bahkan Pemuda itu terlebih dahulu mengatakan maksudnya untuk mengkhitbah Zahra. tadinya saya sudah sangat berharap Zahra menikah dengan pilihan saya itu tapi Neha meminta saya untuk memberikan kesempatan buat Rey. Jadi kupilih cara inilah yang paling tepat untuk menentukannya. "
" Baiklah Nan, ibu mengerti keputusan mu. " Nenek menghela napas dengan berat.
" Terima Kasih bu, atas pengertiannya. "balas papa Zahra.
" Sudah siang, sebaiknya kita makan dulu." ajak mama.
__ADS_1
Papa Dan Mama mengajak semuanya ke meja makan untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah di sajikan bik Ijah dan bik Imah.