Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 47


__ADS_3

"Jika kamu tak mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidup maka istiqarahlah memohon petunjuk pada Tuhanmu, karena Dialah sebaik baiknya pemberi petunjuk. "


...............................................................


***Happy Readding 👍👍😘*****


..............................................................


Suara adzan berkumandang, Tanda kaum muslim harus melaksanakan kewajiban menunaikan ibadah Shalat subuh. Begitu pula dengan Zahra ia baru selesai dari kamar mandi membersihkan dirinya, sudah menjadi kebiasaan Zahra mandi sebelum Adzan kemudian melaksanakan shalat subuh.


Selesai shalat Zahra melipat kembali mukena dan sajadahnya, meletakkan di tempat semula. Zahra melihat sahabatnya Sasa yang masih tertidur lelap Di balik selimut. Sasa kedatangan tamu bulanan sehingga meski mendengar suara adzan ia tetap meneruskan ritual tidurnya itu.


Tidak ingin mengganggu, Zahra beranjak keluar kamar menuju dapur utuk membantu Buk Siti mamanya Sasa yang lagi menyiapkan sarapan.


" Assalamualaikum buk." Sapa Zahra memberi salam.


" Waalaikumsalam Zahra, Sasa mana, pasti masih tidur ya? " Tanya buk Siti yang di balas senyuman manis oleh Zahra.


" Sasa ini gak pernah berubah setiap gak shalat pasti dia bangkong. " Buk Siti ngedumel mengingat kelakuan anak gadisnya.


Zahra menuju wastafel untuk mencuci piring-piring kotor.


" Zahra, Biar ibu aja nanti yang cuci, bentar lagi juga ini selesai. "


" Gak apa buk, biar Zahra saja."


" Ibuk terkadang malu sama Zahra di rumah ini pasti Zahra yang selalu bantu ibu malah anak gadis ibu sendiri ya gitu kelakuannya. Gimana nanti kalau dia menikah, iya kalau dapat mertua yang penyabar kalau dapat yang galak gak bisa ibu bayangkan gimana nasibnya nanti."


" Nanti Sasa juga berubah buk, Insyaallah Sasa kelak bisa punya mertua yang baik dan sayang sama Sasa seperti putrinya sendiri. "


" Aamiin, beruntung banget lelaki dan ibu mertua yang punya istri dan menantu seperti Zahra."


Mendengar perkataan ibu Siti air mata Zahra kembali menetes ia teringat tentang nasibnya sendiri. Zahra segera menghapusnya ia tidak mau kalau buk Siti tahu dia menangis.


" Zahra tahu gak? sebenarnya ibu pingin sekali kalau Zahra itu jadi menantu ibuk, "


" Ibuk ini apaan sih kan bang Yazid udah punya calon istri buk? "


" Ya tadinya sebelum ibuk tahu ibuk maunya punya Zahra yang jadi istrinya Yazid. Udah cantik,, rajin, sayang sama orang tua pastinya sholeha pula. "


" Lo kemaren kata Sasa ibuk mau jodohin bang Yazid sama anak temen ibuk? "


" Oh itu. Sebenarnya temen ibuk yang mau jodohin anaknya sama Yazid, ya ibuk setuju aja lagian kan Yazid itu juga udah berumur, seharusnya udah menikah malah abang Zahra, nak Arga temannya Yazid udah punya anak jadi ya ibuk pikir kalau memang Yazid mau gak masalah sama ibuk, tapi ibuk sih lebih suka kalau Zahra yang jadi mantu ibuk ketimbang anak temen ibuk itu. Eh ternyata Yazidnya udah punya pilihan sendiri. "


" Begitulah buk kita bisa berencana dan punya keinginan tetapi hanya Allah yang menjadi penentu terhadap segala sesuatu yang terjadi di hidup kita. Seperti pernikahan Zahra dulu yang udah di persiapkan secara matang tetapi malah gak jadi, Zahra sendiri gak pernah menyangka bahwa orang yang pernah Zahra sayangi malah selingkuh dengan orang lain. Kedepannya mungkin saja Zahra akan menikah tapi tak berjodoh panjang semuanya tidak bisa kita tebak buk apa yang akan terjadi.


" Zahra jangan ngomong begitu sayang.Allah itu sangat sayang sama Zahra sehingga Allah membukakan keburukan lelaki yang hampir menikah dengan Zahra, karena Allah maha tahu bahwa lelaki itu gak pantas jadi suami Zahra. Ibuk yakin kelak Zahra akan mendapatkan suami yang baik dan sangat menyayangi Zahra.


Mendengar ucapan buk Siti, Zahra tetap tersenyum padahal hatinya sangat sedih.


Beberapa menit kemudian piring piring semuanya telah bersih di cuci Zahra, buk Siti juga telah selesai memasak.


" Buk Zahra ke kamar dulu ya mau siap-siap.


" Iya Zahra, makasihya da bantuin ibuk. "


 


 

__ADS_1


Matahari pun mulai menyapa pagi dengan sinarnya, pagi yang gelap kini perlahan menjadi terang, udaranya sangat segar, bila dilihat cuaca hari ini seperti nya akan cerah, diluar terdengar pula kicauan burung yang benyanyi ria, awal pagi yang indah bagi mereka yang hari ini tidak memiliki masalah.


 


 


Di dalam kamar Sasa terlihat sudah Rapi dan siap untuk sarapan sebelum pergi ke kantor.


" Lo Ra, kamu belum siap aku pikir tadi udah berangkat, emangnya lo dari mana Ra? "


" Biasalah dari dapur bantuin mama mu Sa, kasian juga kan buk Siti punya anak gadis satu tahunya molor mulu. " ledek Zahra yang mengambil gamisnya dari lemari lalu menuju kamar mandi untuk memakainya di sana.


" Ra lo belum cerita kan ke aku, sebenarnya lo tu ada masalah apa sih Ra?"


" Bentar aku ganti baju dulu. " Jawab Zahra dari dalam kamar mandi.


Zahra keluar kamar mandi dan duduk di ranjang, mengeluarkan alat make up dalam tasnya walau ia mengoleksi beberapa alat make up dalam tas nya itu tapi biasanya untuk keseharian di kantor Zahra hanya menggunakan pelembab, bedak yang di poles tipis, airliner dan lipstik warna bibir. Ia pun sudah memulai aktivitas memoles wajahnya.


" Ra sebenarnya ada masalah apa sih? tadi malam aku nungguin kamu shalat tapi karena zikirnya lama kali akunya ketiduran. "


Zahra mulai menceritakan semua yang terjadi padanya mulai peristiwa di bandara menjemput Kyara, di rumah pak Rey sampai kejadian tadi malam saat Zahra terbangun dari tidurnya.


Air mata Sasa ikut keluar membasahi pipi. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya.


" Ra, maafkan Sasa ya gak bisa bantu apa-apa, tapi Sasa akan selalu ada untuk ngasih semangat buat Zahra. Sasa juga akan slalu berdoa semoga semua ujian ini berakhir dan Zahra akan mendapatkan kebahagiaan."


" Makasih ya Sa, Sasa memang sahabat terbaik Zahra. " Keduanya saling berpelukan.


 


***


 


" Ra, maafya aku gak bisa nemeni Zahra masuk ke dalam."


" Gak papa kok Sa, makasih ya Sasa da ngantar kemari, kan jadi tambah jauh ke kantornya."


" Kan naik mobil, jadi jauh dikit gak apalah, Semangat ya Zahra sayang jangan nangis lagi."


Zahra tersenyum dan turun dari mobil Sasa berjalan menuju gerbang masuk rumah Rayhan.


Sasa masih melihati sahabatnya.


" Ya Allah padahal Engkau memberikan kesempurnaan pada diri Zahra baik fisik maupun akhlaknya, semoga Engkau juga memberikan kebahagiaan yang sempurna buat Zahra. Jangan biarkan dia kecewa lagi." Gumam Sasa kemudian melajukan mobilnya menuju kantor.


Bik iyem membukakan pintu.


" Assalamualaikum bik, nenek dan pak Rey nya ada?"


" Ada non, mereka lagi di kamarnya non Kyara, yuk non Zahra, bibik antar."


" Zahra tunggu di sini aja bik. "


" Tadi buk Retno bilang kalau non Zahra datang bibik di suruh bawa non ke kamarnya non Kyara. "


" Oh gitu ya bik, "


" Iya non, yuk non,! "

__ADS_1


Zahra mengikuti bik iyem menuju kamar Kyara di lantai dua.


Nenek dan Rey membujuk Kyara untuk makan, dari tadi malam kyara belum makan siangnya pun dia hanya makan sedikit, wajahnya pucat, matanya pun sembab terlalu banyak menangis.


" Kyara sayang makan dulu ya, nanti kamu sakit dari semalam belum makan. " nenek berkata lembut.


" Kyara gak mau makan nek, biarin aja Kyara sakit, hati Kyara juga udah sakit nek karena bang Rey. "


" Kyara jangan keras kepala cepat kamu habiskan makanannu itu. " Kesal Rey.


" Yang keras kepala itu bang Rey bukan Kyara, gmana Kyara bisa makan jika pernikahan yang Kyara idam idamkan akan batal, lebih baik Kyara mati aja bang biar abang senang. "


" Kyara tutup mulutmu." Teriak Rey.


Zahra yang melihat perdebatan mereka pun angkat bicara, ia masuk ke dalam kamar Kyara.


" Mbak Kyara yang di bilang nenek dan pak Rey itu benar mbak Kyara harus makan jangan menyiksa diri seperti ini. " ucap Zahra.


Ketiganya melihat Zahra yang baru saja datang.


" Kalau kamu kesini hanya untuk memastikan saya baik baik saja atau sudah mati lebih baik kamu pulang! " Usir Kyara.


" Baiklah jika mbak mengusir saya. Ternyata mbak Kyara sendiri yang tidak ingin menikah." Zahra berbalik ingin pulang.


" Tunggu. " panggil Kyara. " Apa maksud perkataannmu apakah kamu setuju menikah dengan bang Rey. " tanya Kyara lagi.


Zahra kembali berbalik arah ke Kyara.


" Tadinya saya sudah memutuskan untuk membantu mbak agar pernikahan mbak tetap berlangsung saya setuju menikah kontrak dengan pak Rey tapi setelah melihat keadaan mbak seperti ini saya rasa apa yang saya lakukan akan percuma lebih baik di batalkan saja. pak Farhan pasti juga gak akan menikah dengan gadis yang lemah yang hanya bisanya menyiksa diri seperti mbak. "


Kyara menunduk dan menangis.


" Aku putus asa Zahra, aku sangat mencintai Farhan dan aku hanya ingin menikah dengannya." Suara Kyara lemah.


Zahra mendekati Kyara dan mengambil sepiring makanan dari tangan nenek memberikannya pada Kyara.


" Mbak harus makan agar di hari pernikahan mbak, mbak Kyara tidak sakit. "


" Zahra kamu mau menikah dengan bang Rey?" tanya Kyara lagi memastikan.


Zahra mengangguk lalu Kyara memeluk Zahra, air matanya masih menetes tapi kali ini air mata bahagia.


" Terimakasih Zahra, kamu menyelamatkan pernikahanku yang hampir batal, aku berhutang budi padamu Zahra. Aku akan berdoa semoga Allah membalas kebaikanmu dan semoga kelak kamu juga akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang kurasakan. " Kyara melepaskan pelukannya.


Zahra mencoba tersenyum mendengar perkataan Kyara, perkataan yang sama dari orang yang sama yang sebelumnya pernah di dengarnya.


" Sekarang boleh Kyara makan? " Tanya Kyara melihat sepiring nasi yang masih ada di tangan kanan Zahra.


" Ini mbak! " Zahra memberikannya pada Kyara.


Nenek menangis haru melihat dua gadis itu sedangkan Rey hatinya juga tersentuh dengan apa yang dilakukan Zahra.


" Pak Rey, nenek, bisakah saya berbicara sebentar tapi tidak di sini. " Ucap Zahra.


Rey menagkap bahwa ada syarat yang akan di ajukan Zahra. Ia mengangguk dan keluar dari kamar Kyara di ikuti Zahra dan nenek yang berjalan berdampingan.


💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟


 

__ADS_1


Tetap dukung Author ya jangan lupa tinggali jejak, like dan vote nya. Thanks 🙏🙏


__ADS_2