Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 86. Rindu


__ADS_3

" Aku membuat diriku sibuk dengan hal-hal yang aku lakukan, tetapi setiap kali aku berhenti, aku masih memikirkanmu. Jika Merenungi kisah ini, aku menghela nafas panjang dan bertanya dalam hati kenapa harus terus kamu yang memenuhi pikiranku. Rasa rindu ini aku simpan sembunyi-sembunyi, bukan untuk di sampaikan tapi di kirimkan dalam doa."


.............................................................


Happy Reading


..............................................................


Sebulan berlalu sejak pesta ulang tahun ARDANA GRUP. Kebersaman di apartemen menjadi malam terakhir pertemuan Rey dan Zahra. Keesokan paginya Zahra tak lagi berjumpa dengan Rey sampai saat ini. Entah kemana Rey menghilang tak ada satupun karyawan kantor yang mengetahuinya termasuk Verry. Rey tak meninggalkan pesan apa-apa kecuali memerintahkan Verry untuk menghandle perusahaan selama ia pergi.


Zahra berjalan menuju dapur kantor seperti biasa Zahra membuatkan secangkir kopi untuk Rey, berharap Rey kembali ke kantor, tetapi tiap sore pula ia meminum kopi buatannya sendiri karena Rey tak kunjung kembali ke kantor.


Zahra masuk ke ruang kerja Rey dan meletakkan kopi di atas meja. Zahra memandangi foto Rey kecil bersama mamanya.


" Rey ser, where are you? I don't want to drink your cold coffee anymore, come back please." Zahra menghela nafas panjang, air matanya sudah hampir terjatuh tapi masih mampu ia tahan, lalu Zahra keluar dari ruangan itu berjalan menuju ruang kerjanya yang bersampingan.


" Pagi Ra, " Sapa Verry masuk ke ruangan kerja Zahra dengan tersenyum manis.


" Pagi Pak Verry." Jawab Zahra yang juga tersenyum membalas sapaan Verry.


" Ra, tolong kamu refisi ini ya nanti print ulang. Siapkan sebelum jam 11 karena Perusahaan Agkasa Grup akan menandatangani berkasnya siang ini." titah Verry.


" Baik pak." Jawab Zahra.


" Oh ya Ra, kamu jadi berangkat nanti sore."


" Insyaallah jadi Pak, Nenek sudah memberikan tiketnya kemaren.


" Sama siapa?"


" Sendirian."


" Emh andai saja besok tak ada rapat dengan klien aku pasti akan menemanimu Ra, ini semua karena Rey kalau dia di sini mungkin aku juga bisa ikut jadi kamu gak harus pergi sendirian, seharusnya dia yang urus kliennya sendiri. Ini menghilang entah kemana." Grutu Verry kesal.


Zahra tersenyum." Saya biasa kok Pak berpergian sendirian, lagian sesampainya di bandara nanti, Nenek bilang saya akan di jemput sopir kok, jadi Bapak gak usah khawatir."


" Kamu udah kemas kopermu?"


" Sudah Pak, nanti saya izin pulang jam 3 ya Pak takut jalanan macet."


" Ya uda kalau begitu nanti saya yang ngantar kamu ke Bandara."


" Gak usah pak saya naik taksi aja, nanti saya malah merepotkan Pak Verry.." Tolak Zahra sopan.

__ADS_1


" Tidak repot sama sekali malah saya senang. Nanti kita pulang bareng jam 3." Verry meninggalkan ruangan Zahra.


Zahra langsung mengerjakan berkas yang harus direfisi. Tak butuh waktu lama Zahra menyelesaikannya. Berkas baru sudah berada di tangan Zahra. Zahra kembali membaca berkas yang sudah diselesaikan, pikirannya teringat kembali saat membaca nama Rafasya Rayhan Ardana di tempat penanda tanganan berkas yang baru di refisinya. Hati Zahra berdesir seperti ada angin yang menerpa.


" Pak Rey, sebenarnya kamu kemana, kenapa kamu pergi tanpa kabar apakah kamu marah pada ku karena malam itu aku gak sengaja memelukmu. Pak Rey kembalilah hanya tersisa 28 hari lagi waktu yang di tentukan nenek Farhan pada perjanjian kontrak pernikahan kita. Seharusnya selama tiga bulan kita tinggal bersama, tapi Pak Rey malah meninggalkan ku sendiri di apartemen itu, tinggal 28 hari lagi biarkan aku menghabiskan waktu itu bersamamu sebelum kita bercerai." Air mata Zahra menetes, Zahra langsung menghapusnya. Zahra selalu teringat hari-hari bersama Rey semakin Zahra ingin melupakan kenangan itu maka semakin sering pula ia mengingatnya.


" Kenapa aku ini, kenapa saat ini aku merindukan dia memarahi ku, memerintahku seenaknya, memaksaku untuk melakukan apa yang di putuskannya, aku rindu ingin berdebat denganmu Pak Rey." Zahra memandangi walpaper di hp nya yang sejak menghilangnya Rey di ganti dengan fotonya bersama Rey saat berjalan-jalan ke museum 3D.


" AstaghfirullahalAzhim. Ya Allah mengapa aku seperti ini apakah aku jatuh...., ti tidak ini gak boleh terjadi aku harus melupakan pak Rey karena sebentar lagi kami akan bercerai." celoteh Zahra pelan.


 


***


 


Pukul tiga sore hari Zahra keluar kantor bersama Verry, sesuai janji Verry dia akan mengantarkan Zahra pulang dan ke bandara.


" Pak, lebih baik bapak pulang, nanti saya akan diantar mbak lita saja." ucap Zahra ketika telah sampai.


" Lita siapa?" tanya Verry.


" Yang nemeni saya di apartemen pak, biasanya mbak lita juga yang ngantar jemput saya ke kantor sebulan ni, tadi pagi mbak Lita dapat kabar kalau ibunya sakit makanya tadi saya suruh dia nemeni ibunya tapi ini dia baru WA kalau udah di Apartemen."


" Bapak kenal juga sama mbak Lita?"


" Sepertinya begitu jika gak salah orang."


" Baiklah kalau gitu kita masuk aja." ajak Zahra


mereka berdua turun dari mobil dan berjalan di loby kemudian menaiki lift.


Sesampainya di depan pintu Apartemen, Zahra memencet bel. seketika langsung dibuka oleh Lita.


" ibu Zahra sudah pulang." tanya Lita yang kemudian melihat Verry.


" Lita kamu disini?" tanya Verry gak percaya.


" I, iya mas Verry." jawab Lita.


" Kalian udah saling kenal?" tanya Zahra yang disertai anggukan keduanya.


" Lita ini adek sepupu ku anak dari adiknya papa ku Ra."

__ADS_1


" Oh kalau begitu baguslah, ayuk masuk Pak, bapak ngobrol aja sama mbak Lita saya siap siap dulu ya. Mbak lita buatkan pak Very minum ya!" pintaZahra.


" Iya buk Zahra."


" Mbak harus berapa kali sih saya bilang panggil saja Zahra, jangan pake ibuk"


" Maaf buk tapi saya gak bisa ini tugas saya, saya gak bisa panggil nama majikan saya nanti saya bisa di pecat samq Pak Rey."


" Tapi Pak Rey kan gak ada disini, jadi dia gak bakal tahu dan gak bakal mecat mbak.


" Maaf buk tapi saya gak bisa."


" Emh ya sudahlah, saya tinggal dulu. Pak Verry silah kan duduk." Setelah itu Zahra masuk ke kamarnya


Verry duduk di sofa dan nenonton TV.


" lita, kamu di perintah Rey kembali dari Beijing hanya untuk ini," tanya Verry.


" Iya mas, " Jawab lita tersenyum.


" Rey memang aneh dia menyuruh seorang manager di kantor cabangnya hanya untuk mejadi penjaga Zahra." Verry geleng kepala gak percaya.


" Tapi mas, ini lebih penting dari pada mengurus perusahaan, aku malah senang Pak Rey memilh aku untuk menjaga bu Zahra, berarti pak Rey percaya denganku. maka dari itu aku harus Menjaga bu Zahra dengan sebaik mungkin. ini minumnya mas, diminum dulu." Lita memberikan secangkir teh panas pada Verry. senyuman masih mengembang dibibir Lita.


" Sepertinya Pak Rey sangat mencintai bu Zahra ya mas." Tanya Lita yang kini duduk di samping Verry.


Verry menatap Lita, tak berkomentar apapun, sebenarnya di dalam hati, Verry juga sudah curiga kalau Rey mencintai Zahra, tetapi hatinya tetap tak terima. Verry akan tetap memperjuangkan cintanya pada Zahra. Verry mengginginkan perceraian antara Zahra dan Rey segera terjadi agar dia bisa segera melamar Zahra.


 


 ***


Di dalam kamar Zahra.


Karena diluar sudah di tunggu, Zahra bersiap dengan cepat, Zahra merasa tak enak jika terlalu lama di tunggu.


Zahra menggunakan baju berwarna pech dengan jilbab pashmina bermotif polkadot bewarna senada. Zahra juga memoles bedak dengan sangat tipis, memakai lipstik warna bibir. dan memakai airliner sangat tipis diatas mata. Zahra tak pernah mengukir alis matanya dengan celak pinsil karena memang alismata Zahra sudah cantik alami, hitam berukir rapi.


Zahra terlihat sangat cantik padahal hanya dengan polesan sedikit saja agar terlihat fresh. Wajah Zahra memang cantik alami tidak perlu menggunakan make up lagi.


Zahra melihat wajahnya di depan cermin.


" Pak Rey aku berharap aku akan bertemu bapak di sana, Di resepsi pernikahan Kyara dan Farhan. Aku yakin Bapak pasti ada di sana." Zahra tersenyum lalu menarik kopernya berjalan keluar kamar menjumpai Verry dan Lita.

__ADS_1


__ADS_2