Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 30


__ADS_3

Rey berbicara dengan Resepsionis Hotel, sementara Zahra duduk di kursi yang ada di loby hotel itu.


Rey kembali mendekati Zahra setelah selesai berbicara dengan Resepsionis.Ia duduk di samping Zahra yang masih menangis tanpa mengeluarkan suara.


Zahra teringat kejadian yang baru dialaminya. Setelah mendapat hinaan dari Bosnya dia di dorong ke kolam renang oleh orang yang tidak sempat di lihatnya, di mana para undangan sebagian besar mata mereka tertuju melihat dia yang basah kuyup saat sudah di selamatkan Rey. Keadaan yang sungguh menyedihkan dan memalukan baginya.


Rey mengulurkan sapu tangan di depan Zahra,. Zahra yang melihat saputangan di tangan Rey langsung menoleh. Mereka bertatapan.


Deg.......


" Mengapa hati ku terasa terenyuh melihat airmata yang memenuhi pipi Zahra. Ingin rasanya aku menghapusnya dengan kedua tanganku, tapi itu tak kan mungkin. Andaikan Zahra hanya gadis yang berpenampilan biasa pasti aku akan memeluknya dan meminjamkan dadaku untuk tempat ia meluapkan airmatanya. " Rey berbicara dalam hati.


Zahra tidak mengambil saputangan dari Rey ia menyeka air matanya dengan tangannya sendiri. Melihat itu Rey tersadar dari lamunannya.


" Aku udah menyuruh Resepsionis agar membelikan baju ganti untuk kita. Sebentar lagi mereka akan mengantarkannya, bagaimana kalau kita tunggu di kamar saja. Rey menunjukkan kunci kamar hotel yang di pegang di tangannya.


" Lebih baik kita tunggu di sini saja pak, saya tidak mau kalau nanti timbul fitnah jika kita berdua berada di dalam satu kamar. " Ucap Zahra tanpa melihat Rey.


" Baiklah terserah kamu saja. "


Sekitar 20 menit mereka menunggu tanpa bicara hanya terdengar dentingan jarum jam yang terletak di atas depan tempat mereka duduk. Zahra terus menunduk, beberapa kali ia menyeka air mata yang lolos dari mata bulatnya itu. Rey memperhatikan wajah Zahra yang meskipun sembab karena airmata tetap memancarkan kecantikan yang membuat mata Rey tak ingin lepas menatapnya.


" Pak ini pesanan Bapak. " Kata seorang pelayan hotel memberikan dua buah Paperbag yang di dalamnya berisi baju pesanan Rey.


Rey mengambilnya dan memberikan satu paperbag yang berisi gamis wanita beserta hijabnya kepada Zahra.


" Zahra, kita ganti baju dulu setelah itu baru kita pulang."


Zahra mengambil Paperbag dan berjalan beriringan dengan Rey menuju sebuah kamar Hotel. Rey mempersilahkan Zahra untuk berganti pakaian terlebih dahulu.


Setelah selesai, Zahra keluar dari kamar dan beranjak keluar Hotel tetapi Rey menghentikan langkah kaki Zahra.


" Zahra, tunggu sebentar aku ganti baju dulu, nanti akan aku antarkan kamu pulang."


" Tidak perlu pak, saya bisa pulang sendiri. " jawab Zahra datar dan terus berjalan.


Zahra menaiki taxi di dalam taxi Zahra terus menangis mengingat semua yang terjadi pada dirinya.sedangkan Rey mengikuti taxi yang di naiki Zahra, memastikan bahwa Zahra sampai rumah dengan selamat. Setelah itu ia pun kembali pulang ke rumahnya.


 


*****


keesokan harinya


Rey datang lebih awal pagi ini. Dia memanggil Very dan beberapa karyawan yang hadir di Party Ulang Tahun Perusahaan PRIMA GRUP tadi malam untuk berkumpul di ruangannya.


Very, Lany, Jeny, Sasa dan beberapa karyawan lainnya pun sudah memasuki ruangan Rey mereka semua tertunduk ketakutan kecuali Very.


" Saya ingin untuk hari ini jangan ada yang membicarakan kejadian yang di alami Zahra tadi malam. Saya Rasa seperti nya ada kesalahan yang disengaja untuk mempermalukan Zahra. Very kamu selidiki sebenarnya apa yang terjadi, kenapa masakan yang di pesan Zahra bisa berubah. Dan kalian ingat baik-baik jika diantara kalian ada yang terlibat dalam konspirasi ini saya tidak akan segan-segan untuk memecat kalian. " Ucap Rey tegas. " sekarang kalian bisa kembali bekerja. "

__ADS_1


Badan Jeny gemetaran mendengar ancaman Rey, dia sangat takut bila kelakuannya bersekongkol dengan Lani ketahuan. Sementara Lani masih bisa menyembunyikan rasa gugupnya.


Very memperhatikan Jeny dan Lani ia curiga dengan gerak gerik keduanya. Mereka semua keluar dari ruangan Rey. Very pun segera mencari informasi dengan mengerahkan semua anggotanya untuk mengetahui apakah benar ada yang sengaja ingin mencelakakan Zahra.


 


.............


 


Rey duduk bersandar di kursinya ia menyingkap gorden di depan pembatas kaca antara ruangannya dan Zahra. Rey melihat Ruangan Zahra masih kosong padahal ini sudah jam 8.00 WIB.


Rey mengingat kembali saat pulang kerumahnya dalam keadaan masih basah kuyup dan langsung membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia teringat semua dengan apa yang di katakan Zahra.


" Bukankah dari awal saya sudah menolak tanggung jawab ini pak, tetapi bapak dan pak Very yang sangat yakin kalau saya bisa, saya sudah melakukan sebisa saya agar tidak ada kesalahan dan bapak tidak marah lagi. Saya tidak ingin terus-terusan di hina pak. Tetapi kenapa kali ini bapak tidak percaya dengan yang saya katakan. Saya sudah memesan sesuai yang bapak pinta, cukup dengan satu kepercayaan bapak itu bisa menjadi kekuatan bagi saya untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah. "


Kata kata itu terus terngiang di telinganya sehingga Rey memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya.


 


 


*****


Di Rumah Arga


Arga masuk ke dalam kamar adiknya karena sudah jam setengah sembilan tetapi Zahra belum keluar kamar juga. Arga melihat adiknya masih tertidur pulas, ia pun ikutan berbaring di samping adiknya itu sambil mengguncang-guncangkan tangan Zahra agar Zahra bangun.


" Malas ah bang, Zahra mau berenti kerja aja." Ucap Zahra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


" Loh kok baru aja kerja da mau berenti gimana sih? "


" Udah deh, abang keluar aja noh sono, Zahra mau tidur lagi masih ngantuk. " Zahra kembali memejamkan matanya.


" Dasar ni anak, emangnya tu Perusahaan milik dia ape mau kerja atau tidak sesuka hatinya aje. " Gerutu Arga menggelengkan kepalanya karena melihat adiknya yang kembali tertidur. Arga pun keluar dari kamar Zahra.


Tak lama kemudian.


drrtt...... drrtt..... drrtt......


Ponsel Zahra bergetar tanda panggilan masuk. Zahra mengambil ponselnya dan melihat nomor tak di kenal ia pun merijeknya.


drrtt..... drrtt..... drrtt.....


Nomer yang sama, kembali dirijek Zahra dan ponsel itu di letakkan di bawah bantalnya.


" Berani benar ni anak ngerijek panggilan dari ku. " Gerutu Rey kesal. Ia kembali mencoba menelepon Zahra.


drrtt..... drrtt..... drrtt......

__ADS_1


Zahra membiarkan saja ponselnya bergetar tetapi tak kunjung berhenti juga membuat Zahra menjadi kesal dan kali ini menjawab panggilan itu.


" Kamu siapa sih, ganggu orang tidur saja, dasar kurang kerjaan. " jawab Zahra masih dengan suara serak.


" Saya Rafasya Raihan Ardana."


" Apa aku gak salah dengar, mau apa lagi bos galak ini menelpon ku." gumam Zahra pelan tetapi tetap terdengar oleh Rey. Zahra masih belum sadar sepenuhnya rasa kantuk membuat dia seolah-olah masih bermimpi.


" Nona Zahra Asyila Sarfaraz, kamu masih terus mau tidur dan bermimpi atau mau ke kantor membuktikan kalau kamu tidak bersalah.


Mendengar itu Zahra terkejut dan langsung bangkit dari tidurnya, ternyata dia tidak sedang bermimpi ia duduk bersila diatas tempat tidurnya.


" Apa?? " tanyanya dengan suara keras.


Rey menjauhkan ponsel dari telinganya karna mendengar suara cempreng Zahra yang membuat telinga Rey sakit karna terlalu kuat volumenya.


" Cepat kamu ke kantor kalau dalam waktu satu jam kamu tidak sampai berarti kamu mengakui kesalahanmu." Rey mematikan ponselnya.


Zahra masih bingung.


" Dasar orang aneh, sudah menghinaku habis-habisan terus menolongi ku yang mau tenggelam eh ini malah memintaku datang kekantornya. Emangnya dia pikir aku ini bonekanya apa, yang bisa di kendalikan sesuka hatinya. Biarin aja deh mending aku tidur lagi. " Gerutu Zahra.


Baru saja Zahra berbaring di tempat tidur ponselnya kembali bergetar. Zahra melihat nama Sasa di layar ponselnya itu iapun menjawabnya.


" Ra, lo dimana sih kok belum datang. " Tanya sasa.


" Aku masi di rumah" jawab zahra malas.


" Lo kok gak ngantor si Ra, lo tahu gak Ra tadi kami di panggil pak Rey, dia bilang jangan ada yang mengungkit kembali yang terjadi dengan mu tadi malam Ra, "


" Masa sih, bos galak itu ngumpuli kalian cuma bilang gitu doang. " Zahra kembali duduk bersila.


" Bukan hanya itu Ra, Pak Rey nyuruh Pak Very untuk mencari tahu kenapa kejadian tadi malam bisa terjadi dan jika terbukti ada yang berniat jahat ke kamu Ra, dia akan langsung memecatnya. " jelas Sasa, tiba tiba Very menghampiri Sasa.


" Ra udah dulu ya ada Pak Very ni. "


Bip. Telepon terputus. Zahra baru sadar dengan perkataan Rey tadi ia harus kekantor untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah.


" Baiklah Zahra sekarang kamu harus ke kantor. Jika kamu berhenti kamu harus berhenti dengan cara terhormat, membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah. " Gumam Zahra.


Ia langsung ke kamar mandi dan bersiap untuk segera kekantor.


Setelah selesai bersiap Zahra keluar kamar dan berjalan menuju dapur mengambil sepotong roti coklat. kemudian berjalan melewati abangnya Arga dan kakak iparnya Wulan.


" Dek lo mau kemana? tanya Arga melihat adiknya yang tergesa-gesa.


" Mau ngantor bang." jawab Zahra sambil memakai kaus kaki.


" Tapi tadi lo bilang mau berenti dek, kok ni malah ngantor."

__ADS_1


" Gak jadi, Zahra berangkat dulu ya bang, kak Assalamualaikum. " pamit Zahra mencium kedua punggung tangan abang dan kakak iparnya itu dan langsung berlari keluar mengendarai motor nya.


" Dasar anak edan, sebentar bilang berenti sebentar bilang gak jadi. " Ucap Arga. mereka berduapun tersenyum melihat kelakuan Zahra.


__ADS_2