
" Kemana sih Zahra ditelponi kok gak di angkat? " Adi berulangkali menelpon Zahra tetapi tidak ada jawaban.
" Aku telpon Dinda aja. " Adi mencari nomer Dinda dan menelponnya. Dinda adalah sekertaris Adi dia sudah cukup lama bekerja dengan Adi.
tring..... tring.... tring....
" Pak Adi!! " Dinda melihat layar ponselnya. "Selamat pagi pak, ada yang bisa Dinda bantu pak? " tanya Dinda lembut pada bosnya di telpon.
" Dinda kabarkan sama Zahra hari ini saya tidak masuk, suruh dia tunggu di depan kantor, bentar lagi pak Rey dan pak Very akan menjemputnya untuk ke lokasi pembangunan hotel. "
" Iya pak segera saya sampaikan ke Zahra "
" Baik lah " bib panggilan terputus.
" Zahra, Zahra, Zahra, apa hebatnya sih dia?? sejak dia di sini pasti bos selalu ngasih kerjaan penting sama tu anak sedangkan gue cuma jadi pesuruh. mana bentar lagi Zahra akan jalan sama pak Rey dan pak Very, fuh... kenapa gak aku aja sih yang urus tu proyek, kan enak berada di antara cowok ganteng dan tajir. Aduh......,pagi pagi da kesel gue gara gara si Zahra yang ke genitan." Gerutu Dinda sambil berjalan ke meja Kerja Zahra.
" Zahra!! Lo di suruh pak Adi nunggu pak Rey dan Pak Very di depan. bentar lagi mereka jemput lo." Dinda berjalan kembali menuju ruangannya.
" Mbak Dinda, emangnya pak Adi gak masuk ya? "
" Iya, " jawab Dinda lagi tanpa melihat Zahra.
Zahra membereskan meja kerjanya, membawa beberapa berkas dan berjalan keluar kantor menunggu Very dan Rey.
Rey masih di perjalanan hari ini dia merasa senang karna berhasil membuat Very tidak ikut dengan begitu dia bisa leluasa menanyakan pada Zahra tentang kejadian saat Zahra menabraknya. Rey juga ingin tahu sebenarnya Zahra sudah menikah atau belum.
drrtt...... drrtt..... drrttt......
Ponsel Rey berbunyi panggilan dari Adi.
" Ya di, ada apa? " Rey mengangkat telpon.
" Rey lo dan Very da jalan? "
" Udah bentar lagi juga nyampe, tapi aku sendiri, Very gak ikut ada pertemuan dengan klien."
" Oh ya udah, aku cuma mau ngabari aku gak bisa ke lokasi mau bawa anak ku ke dokter. Lo jemput Zahra ya!! tadi Zahra da ku suru tunggu di depan kantor. "
" Ok, semoga anak lo cepat sembuh ya!!"
" Makasih Rey "
Rey menambah kecepatan mobilnya tak lama, ia sampai di depan kantor, Rey melihat Zahra yang sudah menunggunya.
ten, ten.....
Rey membunyikan klekson seraya membuka kaca jendela. " Ayo masuk!! "
Zahra berjalan menuju mobil Rey, ia memilih duduk di belakang.
" Kamu kira aku supir?? cepat duduk depan! " Rey menyuruh Zahra pindah dari belakang dengan nada yang tak bersahabat.
" Udah sombong galak lagi," gumam Zahra pelan.
__ADS_1
" Lo bilang apa tadi?? Rey memutar kepalanya kebelakang melihat Zahra.
" Enggak ada" Zahra membuka pintu dan duduk di samping Rey. " Saya sudah pindah pak, bisakah kita jalan sekarang?? pinta Zahra dengan senyuman yang dipaksakan.
" Pasang tu seat belt!!" Rey menjalankan mobil setelah melihat Zahra memasang seat beltnya.
" Pak very mana pak kok gak kelihatan?? " tanya Zahra.
" Dia gak ikut ada kerjaan." jawab Rey tetap fokus menyetir.
" Pak Adi kenapa gak masuk pak? "
" Anaknya sakit, ada pertanyaan lagi??" tanya Rey ketus.
Zahra menggeleng, " galak amat, nanya aja dibatasi," grutunya lagi dengan pelan.
Rey mendengar Zahra tetapi dia hanya diam saja dan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dia selalu seperti itu bila menyetir. Zahra takut karena Rey terlalu ngebut melajukan mobilnya.
" Pak, bisakah pelan sedikit? "
" Kenapa kamu takut mati? "
" Bukan masalah takut mati, jika bapak selaju ini bapak bisa mencelakai orang lain, "
" Tenang saja aku sudah terbiasa dan aku tak akan biarkan kamu celaka, "
" Mungkin kita berdua tidak celaka karna mobil ini dilengkapi dengan keamanan tapi bagaimana dengan orang yang diluar sana bisa saja mereka celaka dan menjadi korbannya."
Rey tak memperdulikan ocehan Zahra dia tetapa melajukan mobilnya.
Sy****iiiiit.........., Rey mengerem tiba-tiba, zahra terkejut sehingga kepalanya terbentur.Rey panik melihat Zahra yang terbentur hingga kepalanya memar.
" Kamu tidak apa apa kan Zahra?? " Rey terlihat sangat khawatir.
" Aku tidak apa-apa pak."
" Kepalamu memar Ra ".Rey mendadak lembut dan sangat perhatian tangannya tanpa sadar menyentuh kepala Zahra yan memar.
Zahra terkejud dengan sikap Rey, Reflek ia menjauhkan wajahnya dari tangan Rey.
" Maaf, aku tak bermaksud kurang ajar, aku hanya ingin melihat lukamu. " Jawab Rey tersadar dengan apa yang di lakukannya pada Zahra, tak seharusnya ia menyentuh Zahra.
" Pak mungkin bapak tak peduli dengan diri bapak, tapi ingatlah pak mungkin ada yang peduli dengan bapak, bapak punya keluarga yang pasti menyayangi bapak jangan beri tangisan pada mereka. begitu juga orang lain baik yang bapak kenal maupun tidak. Mereka juga punya keluarga, jangan karena kesalahan yang kita perbuat membuat mereka kehilangan orang yang dikasihi. Aku harap lukaku saat ini bisa mengingatkan bapak untuk tidak lagi ngebut saat berkendara. "
Zahra melepaskan seat belt, ia akan membuka pintu berniat turun dari mobil. tetapi sebelum Zahra berhasil membuka pintu Rey kembali menjalankan mobil, kali ini Rey mengemudi dengan kecepatan normal.
" Kenapa aku ini, ini pertama kalinya aku menuruti perkataan seseorang, nenek sekalipun tak bisa melarangku, kini aku malah menuruti Zahra. " batin Rey.
" Ternyata bos galak dan sombong ini bisa juga mendengarkan omongan orang lain." Zahra tersenyum simpul merasa lucu dengan tingkah bosnya itu, ia pun memalingkan wajahnya menghadap jendela tak mau Rey tahu.
" Terimakasih pak!. ucap Zahra melihat Rey
" Untuk apa? " Rey juga melihat Zahra
__ADS_1
" Karena bapak mau menuruti permintaan ku." senyum Zahra mengembang.
Dag, dig, dug... jantung Rey berdetak kencang melihat senyum manis Zahra.
Kini mereka diam tanpa suara keduanya menjadi canggung taklama akhirnya sampai di danau Mauntara, Zahra dan Rey turun dari mobil. Keduanya berjalan menuju lokasi.
" Baru kemarin aku kemari kini aku harus kembali dan mengingat konspirasi yang kalian buat untuk menghancurkan ku. kini mama terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri. Ya Allah kapan badai ini berlalu, sembuhkan mama ya Allah." Zahra berbicara dalam hatinya mengingat semua yang telah dilakukan Reza, Vivi, dan Gilang. Yang membuat airmatanya kembali membasahi pipi, mengingat mama yang masih tak sadarkan diri. ia merindukan mamanya.
Rey melihat Zahra menangis, " Ra, kamu baik-baik saja kan? "
" Iya pak." Zahra menghapus air matanya.
" Kamu ingat Zahra? di sini pertemuan kita pertama. Aku gak menyangka ternyata selain ceroboh kamu hoby nangis juga. "
Zahra menghentikan langkahnya menoleh ke Rey, Rey melihat wajah cantik Zahra yang dipenuhi air mata.
" Nih ambil!! hapus air matamu!!" Rey mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya.
" Tidak perlu," Zahra kembali berjalan meninggalkan Rey.
" Hey tunggu!!, Rey mengejar jalan Zahra sehinga Rey tepat berada di depan Zahra.
" Ambil ini atau kau ingin aku menghapusnya seperti saat itu."
Mereka berdua beradu pandang, mengingat kembali saat dimana Zahra menabrak Rey, Rey menarik Zahra agar tak terjatuh, mengusap lembut air mata di pipi Zahra. Zahra tersadar dan menundukkan kepalanya ia mengambil sapu tangan dari Rey.
" Walau ketus ternyata dia baik juga. " batin Zahra.
Mereka memilih duduk di dekat pohon ber-alas tikar yang di sewa dari pengelolah danau. Zahra membuka berkasnya mereka mulai merencanakan letak dan desain dasar hotel.
Selama zahra berbicara, jantung Rey terus Tak beraturan, matanya tak pernah lepas dari Zarha, Ia sangat mengagumi gadis cantik di depannya, baginya Zahra adalah wanita sempurna dia tak tahu mengapa kini hati, dan pikirkan nya telah penuh dengan semua hal tentang Zahra meski berulang kali ia menepisnya, perasaan itu kini malah bersemayam di hatinya.
Rey lelaki tampan incaran banyak wanita yang tak pernah mengenal dan merasakan cinta, bahkan dia sendiri tidak menginginkan cinta itu hadir dalam hatinya.
" Pak Rey, pak, pak, " Zahra memanggil manggil Rey yang sedang melihatnya tetapi Rey tidak menjawab bahkan berkedip pun tidak.
Zahra melambaikan tangannya tepat di depan Rey, sehingga Rey tersadar dari lamunan.
" Bapak dengar saya kan? tanya Zahra bingung dengan sikap bosnya itu.
" I.. iya saya dengar kamu sudah catat semua kan? "
Zahra mengangguk mengiyakan. Rey melihat Jam di tangannya menunjukkan Jam setengah 12.
" Sudah siang, kita makan dulu yuk nanti kita lanjutkan.
" Saya bawa bekal pak,"
" Ayo kamu ikut! saya sangat lapar."
" Tapi pak "
Rey terus berjalan masuk ke mobilnya tanpa memperdulikan Zahra. Zahra mengikuti berjalan di belakangnya dan juga ikut masuk kedalam mobil.
__ADS_1
bersambung.........