Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 79. Tidak Punya Pilihan Lain.


__ADS_3

Tepat jam setengah 3 pas Zahra telah sampai di rumah Sasa di antar abangnya Arga tetapi Arga dan kakak iparnya Wulan tidak singgah karena Anak mereka si ganteng Dafa lagi tertidur pulas.


Zahra pun turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Sasa.


Tok...tok...tok....


"Assalamualaikum." ucap Zahra.


" Waalaikumsalam." terdengar suara Sasa dari dalam lalu membukakan pintu.


Cklek....


Pintu terbuka.


" Masuk Ra." Ajak Sasa yang seolah - olah sudah tahu bahwa Zahra akan datang.


Sasa mengajak Zahra langsung ke kamar.


Wajah Zahra masih terlihat murung memikirkan pertengkarannya tadi dengan Rey.


Zahra membaringkan Tubuhnya ke kasur.


" Sa, aku capek banget tadi aku dari rumah di antar bang Arga aku numpang tidur ya!." Zahra memejamkan matanya.


" Tidurlah." jawab Sasa.


Tak lama memejamkan matan Zahra pun terlelap dalam tidurnya. Sasa memperhatikan wajah sahabatnya itu.


" Ra aku berdoa semoga kamu menemukan kebahagiaanmu Ra, dan juga cinta sejatimu." gumam Sasa. Sasa sangat prihatin dengan keadaan Zahra meski banyak lelaki yang dari dulu mengejar cinta Zahra tapi nasib baik belum berpihak padanya.


Sasa kemudian keluar meninggalkan Zahra yang sedang tertidur.


 


 


Azan ashar berkumandang, sudah satu jam Zahra tertidur pulas. Sasa membangunkan Zahra.


" Ra bangun Ra, uda Ashar."


" Emh. sahut Zahra masih memejamkan mata.


" Ra ayo dong bangun mandi sana shalat Ashar."


" Bentar lagi lah Sa, aku masih ngantuk ni."


" Gak bisa Ra, Ayo bangun." Sasa masih terus mengguncang-guncang tubuh Zahra.


Zahra pun membuka mata lalu duduk masih memeluk guling.


" Cepetan Ra kita harus siap-siap, jangan sampai kita telat, biasanya jam lima acara sudah di mulai."


" Kemana?" tanya Zahra.


" Ke Party ulangtahun ARDANA GRUP lah, kemana lagi kamu lupa ya."

__ADS_1


" Aku malas ah, aku mau tidur aja." Zahra mau berbaring lagi tapi di tahan Sasa.


" Ets, lo harus ikut Ra, masa lo tega biari aku pergi sendiri."


" Biasanya juga tiap tahun pergi sendiri."


" Ya itukan beda, karena kamu belum kerja diperusahaan yang sama demgan ku, kalau sekarang kita ngantor bareng ditambah lagi sekarang lo jadi nyonya Rafasya Rayhan Ardana, istri pemilik perusahaan ya harus datang dong." ledek Sasa tersenyum.


" Bodoh amat." Zahra kembali berbaring.


" Ra jangan gitu dong, semua karyawan wajib hadir kalau gak....."


" Kalau gak apa? di pecat? itu yang aku harapkan." lasnjut Zahra memotong pembicaraan Sasa.


" Mana mungkin istri pemilik perusahaan di pecat, tapi aku hem...." Sasa membayangkan nasibnya jika zahra gak datang.


" Kedatanganmu menentukan masa depanku Ra." wajah Sasa terlihat murung.


Zahra duduk kembali mendengar perkataan dan melihat perubahan wajah Sasa.


" Maksud kamu apa Sa ngomong begitu, Pak Rey ngancam kamu?" tanya Zahra curiga.


" Sebenarnya sebelum kamu kemari pak Rey nelpon aku dia bilang aku harus pergi bersama kamu Ra ke Party kalau tidak mulai besok aku harus meninggalkan kantor."


" Hem... pantesan saat aku datang tadi Sasa gak banyak tanya biasanya dia pasti memberiku beribu pertanyaan sebelum masuk rumahnya, rupanya dia da tahu aku bakal kemari. Dasar kulkas dua pintu buat susah aja." Gerutu Zahra dalam hati.


Ting nong......


Suara bel nerbunyi.


Zahra menghela nafas dengan kasar kemudian mengambil handuk dan baju tidur Sasa lalu berjalan ke kamar mandi." Pak Rey menggunakan Sasa sebagai senjata agar aku mau datang Sore ini." gerutu Zahra sambil masuk ke kamar mandi.


Di depan, Sasa mempersilahkan seorang wanita masuk ke kamarnya. di dalam kamar Sasa tak melihat Zahra, Sasa mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi.


" Sepertinya Zahra lagi mandi, untunglah dia mau datang juga kalau gak aku bakal jadi korban." Batin Sasa.


seorang MUA mulai memoles wajah Sasa, terlebih dahulu Sasa menunjukkan gaun yang akan di kenakannya agar riasannya senada dengan gaun.


Zahra sudah selesai mandi, dia keluar dengan memakai baju tidur Sasa yang diambilnya dalam lemari Sasa kemudian melakukan shalat Ashar.


Beberapa menit kemudian Zahra selesai Shalat ia kembali duduk di ranjang memperhatikan sahabatnya yang sudah hampir selesai di rias.


" Sudah mbak, mbaknya ganti pakaian aja dulu nanti biar saya pakaikan jilbabnya." kata mbak MUA.


" Ra, sini biar di makeup sama si mbak ini."


" Nggak ah aku gak pala di rias, nanti make up sendiri aja.


Sasa menarik Zahra ke kursi depan meja rias.


" Duduk." perintah Sasa.


" Tapi Sa."


Sasa memasang wajah garangnya, akhirnya Zahra pasrah.

__ADS_1


" Mbak, make upnya tipis aja ya, jangan menor-menor." Pinta Zahra.


" Iya mbak." Jawab mbak MUA.


Zahra terpaksa mengikuti Sasa, Zahra gak punya pilihan lain dia harus datang ke acara kantor karena kalau tidak Sasa akan dipecat. Zahra gak ingin sahabatnya menjadi korban atas masalah yang terjadi antara dia dan Rey Zahra tahu betul dengan Rey yang tidak pernah mau berkompromi dengan orang lain semua keputusan dia yang menentukan. memecat seorang karyawan di kantornya adalah hal yang biasa bagi seorang Rafasya Rayhan Ardana.


 


.........


Flash Back


Rey mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi pikirannya masih tertuju pada Zahra. Hatinya sakit mendengar perkataan Zahra hari ini. Hanya butuh waktu Satu jam Rey sudah sampai di rumah. Rey berjalan langsung menuju kamar nenek pun yang menyapa tak di gubris olehnya.


" Rey kamu da pulang, Zahra mana? " tanya Nenek yang tak melihat Zahra pulang bersama Rey tetapi tak ada jawaban sepatah kata pun keluar dari bibit Rey.


Rey masuk ke kamar, di dalam kamar dia membuka jas nya membuang kesembarang arah kemudian duduk menyandarkan diri di sofa. Perkataan Zahra masih terngiang-ngiang di telinganya.


" Zahra, kamus angat membenciku bukan?kamu begitu tersiksa denga pernikahan ini, jika perpisahan bisa membuatmu bahagia baiklah aku akan melepaskanmu dan berusaha melupakan mu Zahra, walaupun aku yakin itu sangat berat bagiku. Tapi demi kebahagiaanmu apapun akan aku lakukan. Aku sadar aku gak pantas untuk kamu cintai Ra." Air mata Rey kini menetes tak terbendung, Rey tak rela melepaskan Zahra. Baru kali ini Rey yang begitu terlihat kuat ternyata sangat Rapuh. Jauh dari lubuk hatinya ia tak ingin berpisah dari Zahra.


" Malam ini aku akan akhiri semuanya demi Zahra, mungkin Zahra mencintai lelaki itu. dan aku akan bilang ke neneknya Farhan tentang pernikahan kami ini saat resepsi pernikahan Kyara di Brunai selesai. Lagian mereka berdua sudah menikah kurasa sudah tak jadi masalah jika aku katakan aku dan Zahra sudah berpisah." Gumam Rey lagi.


" Tapi aku yakin Zahra tidak akan datang hari ini setelah kejadian tadi, Zahra juga bukan tipe orang yang bisa diancam begitu saja, Aku harus cari cara agar Zahra mau datang." Rey memutar otak nya mencari alasan agar Zahra tak bisa menolak untuk datang ke acara ulang tahun kantor. Karna malam ini Rey berencana untuk melepaskan Zahra demi kebahagiaan Zahra sendiri.


" Sasa, ya Sasa adalah satu - satunya cara memaksa Zahra agar datang. Zahra begitu peduli dengan orang lain dia tidak mungkin menjadikan sahabatnya sendiri sebagai pelampiasan atas kesalahannya."


Rey kemudian mengambil ponselnya dan menelpon Sasa. yang langsung di jawab Sasa.


" Halo, siapa ini?" tanya Sasa yang mengangkat nomer tak di kenal tanpa nama.


" Sasa, sebentar lagi Zahra akan ke rumahmu, kamu harus bawa Zahra ke acara kantor nanti sore bagai manapun caranya." Ucap Rey memerintah Sasa Rey yakin Zahra pasti akan pulang ke rumah Sasa.


" Pak Rey." Ucap Sasa gak percaya Rey nelpon dia tapi Sasa mengenali suara yang berbicara adalah beneran Rey bos nya di kantor.


" Sebentar lagi akan ada kurir yang mengantarkan gaun untuk Zahra, dan aku akan mengirim seorang MUA yang akan merias kalian berdua." Sambung Rey lagi.


" Ba..baik pak." jawab Sasa gugup ke takutan.


" Dan ingat jika kamu tidak bisa membawa Zahra maka besok kamu akan menerima surat pemecatan kamu."


Bib...


Telepon ditutup.


Sasa masih kebingungan. " Ya Allah ada apa lagi si ini antara Zahra dan pak Rey kenapa mereka gak jadi suami istri beneran aja sih, kumohon Ya allah jadikanlah mereka saling mencintai agar mereka beneran berjodoh sampai maut memisahkan. Aamiin." Sasa menyapu kedua tangannya ke wajah selayaknya orang yang selesai berdoa padahal saat berdoa tadi dia tidak menengadahkan tangannya mungkin dia lupa karena masih syok di telpon Rey tadi.


 


 


💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟


Terimakasih buat semua yang udah dukung Author. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


 

__ADS_1


__ADS_2