Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 111. Pernikahan


__ADS_3

Mentari pagi yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Entah jam berapa Rey tertidur tadi malam. Matanya tak mau terpejam karena selalu terbayang -bayang wajah Zahra.


Meski kurang tidur tapi Rey tak mengantuk sama sekali. Rey mondar mandir tak sabar merasa mengapa jam lama sekali berputar.


" Rey kenapa kamu gelisah? tanya Nek Retno Yang kebetulan bersama nek Gendis lewat di depan kamar Rey yang pintunya terbuka. Malam ini mereka tinggal di hotel yang kamarnya berhadap-hadapan.


" Nek kenapa jamnya lambat sekali, apa jamnya rusak." celetuk Rey.


Sontak Nek Retno dan Nek Gendis tertawa.


" Sabarlah Rey ini masih jam Enam, apa kamu udah gak sabar mau ngasih kami cicit." ledek Nek Gendis.


" Iya nek. Rey da gak sabar ngasi cicit yang ganteng dan cantik untuk nenek berdua. " jawabnya lagi becanda tapi tanpa beban.


Kedua pasang mata wanita paruh baya itu membulat sempurna tak percaya dengan apa yang mereka dengar, Apalagi nek Gendis yang selama ini tak pernah sekalipun melihat Rey becanda padahal sudah selalu ia isengi, ini membuat nek Gendis mendekati Rey dan mencubit hidung mancung Rey.


" Aw sakit Nek. " Rey memegang hidungnya merasa kesakitan dengan ulah nek Gendis.


" Ini benaran kamu kan Rey, sepertinya kamu gak lagi demam. kok beruang kutub mu so sweet gini sih mbakyu, makan apa ya dia tadi malam." Ujar Gendis lagi sambil tersenyum menggelengkan kepala.Nek Retno hanya membalas dengan senyuman bahagia.


" Kamu yang sabar dikit la Rey, Zahra itu udah jadi milikmu dia gak bakal kemana-mana apalagi lari. " Tambah Nek Gendis lagi. Kali ini ia menoel kedua pipi Rey gemes seperti anak kecil.


Bukannya marah Rey malah memeluk nek Gendis dari samping saat nek Gendis sudah melepaskan tangannya dan menoleh ke arah kakaknya Retno.


" Makasih ya nek, semua bisa seperti ini karena bantuan nenek. Rey sayang nenek." Ucap Rey.


Nenek terkejut, pasalnya cuma Rey cucunya yang gak pernah meluk nenek gaul yang satu itu, kalau very dan yang lainnya mah sering.


Nek Gendis menatap lekat Rey " Nenek juga sangat sayang sama kamu Rey. dari dulu nenek ingin melihat kamu tersenyum bahagia seperti ini. Teruslah bahagia sayang. " Tak terasa air mata Nenek jatuh dari pipinya.


" Kenapa nenek menangis, tapi katanya bahagia? kok ada air mata. " Sangkal Rey menghapus air mata di pipi nenek dengan lembut penuh kasih sayang.


" Biarkan dia mengalir hari ini, karena ini air mata kebahagiaan. " nek Gendis mememegang tangan cucunya itu lalu gantian nenek yang memeluk Rey.


Nek Retno yang menyaksikan juga ikutan menangis terharu, ia langsung segera menghapus airmatanya sendiri, tak ingin Rey tahu kalau dia juga meneteskan airmata.


" Jadi sekarang Nenek udah dilupakan ni.? " kata Nek Retno menyadarkan Rey dan Nek Gendis yang spontan melepas pelukan lalu saling menatap Nek Retno.


Rey gantian beranjak ke Nek Retno dan memeluknya.


" Mana mungkin Rey bisa melupakan Nenek. Nenek sangat berarti bagi hidup Rey. Rey sayang kalian berdua. "


Suasana menjadi haru, kebahagiaan yang sejak lama ditunggu oleh kedua nenek itu pun terwujud, keinginan melihat cucu mereka merasakan arti hidup dengan menemukan cinta.


" Sudah-sudah sekarang lebih baik kita bersiap-siap saja nanti kalau semuanya sudah datang baru kita berangkat ke rumah mantu kesayangan kita yang paling cantik. " Saran nek Gendis menyudahi kisah melow pagi ini.


Merekapun bersiap untuk menyambut kebahagiaan yang sudah lama di nantikan.


.........


Jam 10.00 WIB.


Mama Neha masuk kedalam kamar Zahra. memastikan bahwa Zahra sudah selesai bersiap.


Mama melihat Wajah Zahra dari pantulan cermin. Kemudian berjalan mendekati putri kesayangannya.

__ADS_1


Mama mencium puncak kepala Zahra yang tertutup jilbab.


" Masyaallah, Putri mama cantik sekali." seru mama mengembangkan senyum.


Zahra memeluk mama menyembunyikan wajahnya yang kini memerah karena merasa malu. Zahra tahu mamanya menangkap rasa kebahagiaan di wajahnya.


Mama menatap kembali wajah cantik putrinya, menangkup lembut pipi kiri Zahra.


" Semoga putri mama ini selalu bahagia, dan semoga dijauhkan dari penyakit 'ain. ( penyakit yang ditimbulkan dari mata, baik dari orang yang tidak suka maupun yang sekedar kagum tetapi tak menyebut kebesaran Allah terlebih dahulu.)


Bibir Zahra hanya bisa mengembangkan senyum. ia tak mampu berkata-kata sangkin gugupnya. Tapi ada rasa bersalah dirasakan Zahra karena telah menyembunyikan hal besar dari seorang wanita yang selalu mendukungnya itu.


Dari jendela kamar Zahra, terlihat sekilas beberapa mobil baru memasuki kawasan rumah mereka.


" Sayang, sepertinya calon suami dan keluargamu sudah datang. Mama temui mereka dulu ya! kamu di temani sama mbak Wulan dulu nanti baru turun kalau sudah di panggil. "


" Maafi Zahra ma. " seru Zahra saat mama mau beranjak akan pergi.


Mama kembali menoleh kerah Zahra.


" Maaf untuk apa sayang? " tanya mama lembut menangkap ada kegelisahan di wajah Zahra.


" Ma... maaf karena Zahra belum bisa bahagian Mama, sebentar lagi malah Zahra harus pindah kerumah suami Zahra nantinya." jawab Zahra sedih, sebenarnya Zahra ingin jujur tentang pernikahannya tetapi Zahra tak punya keberanian.


Mama kembali menangkupkan kedua tangannya dipipi Zahra.


" Zahra sayang, Kebahagiaan mama adalah saat mama melihat Zahra bahagia. Hari ini Zahra bahagia kan? "


Zahra mengangguk.


" Ini bukan hanya kebagian Zahra tapi kebagian Mama, Papa, dan semua orang yang sayang sama Zahra.Tetaplah tersenyum seperti ini sayang. "


" Ya udah, mantu mama da nungguin mama loh, mama kesana dulu ya! Dafa ganteng sama nenek yuk kita jumpain calon om kamu. " Mama mengambil Dafa dari gendongan Wulan. " Mbak Ulan disini dulu ya temani adikmu, jangan lupa dihibur biar Zahra gak gugup lagi. " Kata Mama tersenyum lalu berjalan keluar dengan menggendong cucu pertamanya.


" Iya ma. " kata Wulan.dia di kamar juga bersama dengan dua orang MUA yang meriah Wajah Zahra sehingga terlihat cantik sempurna.


Mama berjalan dengan wajah yang sangat bahagia. Bagaimana tidak, ini adalah hari yang sangat bahagia bagi mama. Hari yang selama ini ia nantikan, pernikahan putri tercintanya sebentar lagi akan berlangsung, Ditambah lagi Jam 02.00 dinihari, istri anak keduanya Arya melahirkan seorang putra yang sangat Tampan. Mama mendapatkan cucu baru membuat mama sangat bersemangat. Tanpa disadari mama ternyata ada beberapa orang yang tidak senang dengan kebahagiaan itu, apalagi saat mereka tahu bahwasannya calon suami Zahra ternyata orang yang sangat kaya, Pemilik perusahaan ARDANA, membuat mereka semakin tidak suka.


Satu persatu keluarga ARDANA turun dari mobil. tentu saja Sudah bisa dibayangkan Rey beserta keluarga membawa seserahan yang sangat banyak yang pasti barangnya juga sangat mewah dan mahal harganya.


Mama dan Papa beserta keluarga Zahra yang lain menyambut kedatangan keluarga Rey. Kyara dan Farhan juga ikut Hadir tetapi Reza tidak ikut karena Reza takut dirinya malah akan menjadi masalah sehingga Reza memilih untuk kembali ke Jerman setelah proses tunangan abangnya minggu lalu.


" Ma, lihatlah banyak banget seserahannya,seharusnya aku yang mendapatkan ini semua bukan Zahra. Kalau tahu gini lebih baik dulu kita biarkan saja Zahra nikah sama si Gilang itu. " sewot Sesil pada mamanya.


" Ssst, Kamu sabar sebentar kenapa sih, setelah rencana kita selesai mama akan cari cara agar kamu yang akan menggantikan Zahra menjadi nyonya ARDANA." jawab Yanti mamanya Sesil yang merupakan kakak kandung dari Papanya Zahra.


" Bener ya ma, kali ini rencana mama harus berhasil. "


" Tenang aja sayang, pasti akan berhasil, tante akan bantuan kamu juga kok. " tambah Sinta Istri dari adiknya Papa. Ia juga mengulum senyum bengis.


Mereka bertiga pun ikut masuk setelah semua tamu dari mempelai laki-laki masuk ke dalam.


Rey sudah duduk di tempat yang disediakan. kemudian tuan Kadi meminta keluarga pihak wanita memanggil calon mempelai wanita karena acara ijab kabul akan segera di mulai.


Zahra pun keluar dari kamarnya, berjalan ketempat dimana dirinya sudah dinantikan. Zahra dituntun untuk duduk di samping Papanya.

__ADS_1


Mata Rey tak lepas dari wajah Zahra yang walau menunduk tak sedikitpun mengurangi nilai kecantikannya.


" Ehm... " Terdengar deheman tuan Kadi.


" Nak Rayhan nanti kalau udah ijab kabul boleh dipandangi sepuasnya, sekarang kita mulai aja ya lebih cepat lebih baik. " Tuan Kadi mengembangkan senyum pada Rey yang terpergok tak berkedip menatap Zahra.


Ucapan tuan Kadi membuat seisi ruangan di penuhi gelak tawa. Sementara Rey sudah bisa dipastikan wajahnya memerah menahan rasa malu begitu juga dengan Zahra.


Sebelum dimulai Rey dipersilahkan untuk memberikan Mahar dan seserahan terlebih dulu. Zahrapun menerimanya.


Kini masuklah acara ijab kabul. Rey dan papanya Zahra sudah saling berjabat Tangan.


" Saya nikahkan engkau ananda Rafasyah Rayhan Ardana bin Dony Ardana


dengan Anakku Zahra Asyila Sarfaraz binti Muhammad Arman Sarfaraz dengan mas kawin seperangkat perhiasan 210 gram dibayar tunai."


" Saya terima nikahnya Zahra Asyila Sarfaraz binti Muhammad Arman Sarfaraz dengan......."


" Tunggu...... " Teriak bu'de Yanti membuat seisi ruangan terkejut sehingga Rey pun yang sama terkejutnya seketika berhenti mengucapkan lafaz kabul.


" Mbak Yanti. "dua kata keluar dari mulut papa dengan mata meminta penjelasan.


Semua mata tertuju pada bu'de Yanti


" Pak kadi yang terhormat, pernikahan ini tidak bisa dilangsungkan. " Kata bu'de Yanti yang setiap katanya penuh penegasan.


Papa berdiri diikuti Rey, Zahra, Mama dan beberapa orang yang lainnya.


" Mbak Yanti apa-apan ini. " tanya Arman sedikit kesal.


" Man aku cuma mau bilang Pernikahan ini gak bisa dilangsungkan? "


" Tapi kenapa mbak? "


" Kamu tanya aja sama tuan Kadi apa mungkin seseorang yang sudah menikah bisa menikah lagi Itupun dengan orang yang sama." bu'de berbicara sinis.


" Mbak Yanti, aku mohon jangan buat kekacauan di Hari pernikahan putriku. " ucap mama pelan yang sama sekali tak percaya dengan ucapan kakak iparnya itu.


" Kekacauan kamu bilang Neha? fiah.. yang buat kekacauan itu bukan aku tapi putri kebanggaan mu ini yang sebenarnya sudah menikah secara diam-diam dengan Rayhan sekitar tiga bulan yang lalu. "


" Mbak, jangan mengada-ngada? " kesal Papa.


" Aku gak mengada-ngada Man, Kalau kamu gak percaya sekarang kamu tanya saja langsung pada putri kebanggaan kalian itu. Cih... aku gak nyangka ternyata dibalik wajah polosnya menyimpan kelakuan tak pantas. kasian sekali kalian orangtua yang menantikan pernikahan anaknya ternyata malah gak dikasihtahu sama sekali kalau si anak sudah menikah. " bu'de tersenyum smrik.


Papa menoleh ke Zahra yang berada di sampingnya meminta penjelasan.


Zahra sekarang pandang papa, katakan apa benar yang di bilang Bu'de mu barusan?"


Zahra tak berani menatap Papanya, airmata sudah memenuhi semua area pipi.


" Zahra, jawab Papa? " Papa setengah berteriak. Merasa geram karena Zahra tak menjawabnya masih diam tertunduk.


Dengan memberanikan diri Zahra mengangkat kepalanya perlahan menatap Papa kemudian mengangguk pelan.


" Plak...... " Sebuah tamparan Keras dilayangkan Papa. Membuat semua orang yang menyaksikan terkejut tak percaya Papa memberi satu tamparan Keras.

__ADS_1


💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟


Banyak-banyak sedekah di bulan ini, jadi jangan lupa kasih lili dan vote yang banyak ya teman biar cerita Zahra dan Rey semakin banyak yang baca. Sekitar Terimakasih atas dukungannya. 🙏🙏🙏


__ADS_2