Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 75. Panas mendengar gosip


__ADS_3

" Menikahi seseorang yang mencintai Allah SWT yang akan menunjukkanmu lebih banyak hal tentang masa depan, dibanding apa yang kau lihat dan dengar sekarang."


..............................................................


HAPPY READING


..............................................................


Zahra dan Rey masuk kedalam disambut ramah oleh tante Ita.


Zahra menyalami tante.


" Assalamualaikum, tan, tante pa kabar? sehatkan."


" Alhamdulillah sehat, tadi kata Mama Zahra gak datang karena gak bisa cuti?"


" Iya tan,memang gak cuti."


" Loh tapi ni bisa kemari, ini Zahra sama siapa, calonnya ya, kenalin dong ke tante." goda tante Ita tersenyum manis melihat Rey yang berada di samping Zahra.


" Tante ni apaan sih, ini teman kerja Zahra namanya Pak Rey, kebetulan perusahaan tempat kita bekerja ada proyek dikawasan danau Mauntara tan,dan kami berdua yang di tugaskan meninjaunya jadi kita bisa singgah kemari." jelas Zahra.


" Oh..., Ya udah, ajak temanmu masuk Zahra, suguhkan hidangannya,maaf tante gak bisa ngelayani kalian ambil kan aja ya untuk temenmu ini." ucap tante lagi dengan sangat ramah.


" Beres itu tan, tapi Mama dan Papa dimana, kok gak kelihatan."


" Mamamu biasa lah di dapur, dari tadi tante ajaki duduk di depan tapi mama bilang nanti aja, sampai sekarang masih di dapur juga. kalau Papa Zahra lagi sama calon besan dan calon mantunya." goda tante lagi.


" Maksud tante?" Zahra mengerutkan dahi.


" Aduh Zahra gimana sih, ituloh Ustadz Abdul sama anaknya Salim."


" Oh.... Zahra masuk dulu ya tan."


" Iya, iya."


Zahra dan Rey berjalan ke dalam halaman Rumah yang sudah di dekor bak gedung mewah. Zahra mempersilahkan Rey duduk. Matanya masih menelusuri keberadaan papa dan Mamanya.


" Pak Rey, bapak di sini dulu ya aku mau jumpain Mama di belakang." Rey mengangguk dia duduk dan melihat Zahra berjalan masuk ke dalam Rumah tantenya sampai tak terlihat lagi.


Rey masih melihat-lihat sekelilingnya banyak para tamu undangan yang Hadir lagi menikmati hidangan yang di sajikan tuan Rumah. Rey juga melihat sepasang pengantin di atas pelaminan sedang bersalaman dengan beberapa tamu terkadang mereka berfoto bersama. Senyum mengembang sempurna di bibir kedua pengantin itu.


" Itu tadi Zahra kan, Anaknya pak Arman sama buk Neha." Terdengar kata seorang tamu yang duduk tidak jauh dari Rey sehingga Rey mendengarnya.

__ADS_1


" Sepertinya sih iya, dia yang pernikahannya batal itu ya kan mbak?" sahut temanya satu lagi.


" Kasihan ya cantik-cantik gak jadi nikah."


" Ih kita kan gak tahu kenapa, mungkin calonnya orang gak bener kali makanya di batalin."


" Mungkin juga sih, tapi yang aku denger mbak anak Pak Arman ini batal menikah sampai dua kali. Kalau pihak lelakinya yang menyalah masak sampai dua-duanya menyalah atau jangan jangan perempuannya yang gak bener ya."


" Hus jangan ngomong gitu buk, nanti jadi fitnah loh, lagian Pak Arman dan ibu Neha itu kan orang baik pasti anaknya juga baik. Dari wajahnya aja kelihatan kok anak baiknya.


" Jangan tertipu dengan wajah cantik mbak, bisa aja kan mbak zaman sekarang ini banyak yang kesing luarnya bagus tapi dalamnya hemm tahu sendirilah apa lagi dia tinggal di kota pergaulan di kota itu kan luar biasa."


Telinga Rey panas mendengar gosip ibu-ibu di sampingnya tetapi Rey masih menahan emosinya hanya karena tidak ingin membuat kacau suasana.


" Bener juga kata kamu, jangan-jangan anaknya Pak Arman udah gak pera..." Mereka saling memberi kode mengerti akan apa yang di maksudkan.


Tangan Rey mengepal semakin kuat ingin sekali rasanya ia menghajar ibu-ibu yang menggosipi Zahra. Hanya karena Zahra juga sekuat tenaga Rey menahan Emosinya.


" Andai saja kalian berbicara tidak di tempat ini aku pastikan akan membungkam mulut kalian agar tidak berkata buruk lagi tentang Zahra." Batin Rey masih mengepal tangannya.


" Hai, mau minum!"


Sapa seorang wanita cantik menhulurkan segelas minuman pada Rey.


" Aku Sesil sepupunya Zahra." Sesil mengulurkan tangannya.


" Rey." Jawab Rey tapi tak menerima uluran tangan Sesil, Sesil kembali menarik tangannya.


" Aku lihat kamu tadi datang sama Zahra, kamu ada hubungan apa dengan Zahra." tanya Sesil ramah.


Rey diam sejenak tak mungkin dia mengatakan bahwa dia adalah suami Zahra. Rey menatap Sesil dengan ekspresi datarnya lalu angkat suara " kami teman satu kantor." ucap Rey.


" Tapi kalian gak pacaran kan? Setahuku Zahra gak pernah mau pacaran tapi bisa jadi dia berubah mungkin karena dia takut gak laku, "


Tatapan Rey kini sudah mulai tak bersahabat.


" Oh ya mas Rey lebih baik jangan dekat-dekat dengan Zahra, dia itu gadis pembawa sial."


" Rey mengerutkan dahinya." Kamu jangan asal bicara ya tentang Zahra." ketus Rey tapi masih mampu mengontrol emosinya.


" Aduh, Mas Rey percaya deh, Zahra itu selalu jadi sumber masalah di keluarga kami, mulai dari dalam kandungan aja da buat masalah sampai sekarang jadi aib keluarga. Karena dia gagal menikah keluarga besar kami jadi cemoohan orang. kedua orang tuanya harus menanggung rasa malu. ya mudah mudahan aja kali ini pernikahan Zahra bisa terjadi. Lihat itu om saya Papanya Zahra lagi ngobrol sama temen nya itu. mereka lagi membahas perjodohan Zahra dengan lelaki muda di samping Papa Zahra namanya Salim.Sebenarnya saya kasihan lihat Zahra, saya berdoa semoga pernikahan Zahra dan Salim bisa segera dilaksanakan." Sesil menunjukkan papa Zahra, Ustadz Abdul dam Salim pada Rey, jarak mereka disudut tidak terlalu jauh dari tempat duduk Rey.


" Mata Rey tertuju pada Salim lelaki yang akan di jodohkan dengan Zahra.

__ADS_1


" Saya rasa Zahra bakal setuju mas, soalnya Salim itu Seorang Tahfiz dan dia baru saja menyelesaikan S2 nya di Turki. Dulu sewaktu kecil Zahra ingin sekali punya suami penghafal Qur 'an keduanya sangat serasi ya mas Rey, Zahra cantik hafal Qur'an, Ustadz Salim juga ganteng dan hafal Qur'an beneran cocok.


Rey tak suka mendengar cerita Sesil, hatinya terasa panas, tetapi seketika Rey teringat dengan ceramah Ustadz Hanan Attaki yang mengatakan Jodoh itu ibarat cermin. Sesuai dengan kekas-kelasnya, wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Wanita yang buruk juga untuk lelaki yang buruk. Rey sadar bahwa dia tidak pantas untuk Zahra. Mungkin lelaki penghafal Qur'an itulah yang pantas menjadi suami Zahra.


 


 


***


 


Di belakang Zahra menjumpai Mama, Zahra memeluk mamanya dari belakang. Mama terkejut dan menoleh ternyata putri kesayangannya yang memeluk dirinya.


" Zahra!" ucap Mama kaget.


Zahra tersenyum.


" Kok Zahra bisa kemari, padahal mama da bilang ke tante Ita Zahra gak bisa datang kado Zahra juga udah mama kasikan sama Lili. Tadi pagi Mama cari kadonya, eh gak tahunya anak mama malah datang." Mama tersenyum sambil mencubit pipi Zahra.


" Sakit ma," ucap Zahra manja pada mamanya. " Mama gak senengya lihat Zahra pulang." Zahra memasang wajah mewek.


" bukan gitu sayang, tapi Zahra sama siapa kemari, naik bus ya?" tanya mama.


Zahra menggeleng. " Zahra sama pak Rey ma yang tempo hari pernah singga di kafe bakso kita."


" Berdua?" tanya mama memastikan.


Zahra mengangguk. " Sebenarnya kita ada kerjaan ma lanjutan yang kemarin Zahra cerita tentang proyek hotel di danau Mauntara jadinya kita berdua kemari sambil kerja ma, besok juga pagi-pagi sekali kita harus ke lokasi Hotel. makanya Zahra bisa nyambilan pulang."


" Ya udah mama percaya kok sama Zahra. Anak mama ini gak akan ngecewain mama. Sekarang kita kedepan yuk, Zahra da jumpa Papa?"


" Belum. tadi kata tante Ita, papa lagi sama Ustadz Abdul."


" Oh iya, tadi mama juga udah ketemu mereka ada Salim juga loh, Mama lihat Salim makin ganteng aja. apa Zahra gak kepingin jumpa." mama tersenyum menggoda Zahra.


" Mama apaan sih." Zahra tersenyum malu.


Zahra dan Salim sahabatan sejak kecil mereka sangat akrab Salim lebih tua empat tahun dari Zahra. Sejak Salim tamat Sekolah menengah Pertama mereka sekeluarga pindah ke Kairo sejak itu pula Salim dan Zahra tidak pernah bertemu lagi. Mereka pernah berkomunikasi lewat Hp tapi itu dulu saat Zahra masih SMA. Sekarang mereka sama sekali tak pernah berkomunikasi dikarenakan kesibukan masing-masing.


Zahra dan Mama berjalan bersama kedepan untuk menjumpai Papa Zahra, tapi terlebih dahulu Zahra akan kembali menemui Rey. "Pasti pak Rey jenuh sendirian menunggu tanpa ada kawan.mudah mudahan saja dia gak marah kali ini." fikir Zahra.


bersambung......

__ADS_1


 


__ADS_2