
Rangkaian acara hari ini sudah selesai. Sebagian kecil keluarga dan kerabat dekat yang hadir sudah pulang ke rumah masing masing. Farhan dan keluarganya pun sudah kembali ke ARDANA Hotel's untuk beristirahat. Tinggal hanya beberapa keluarga dekat Nenek Retno yang menginap di rumah mereka.
Malam ini Sasa tidak pulang dia akan tidur menemani Zahra di kamar Tamu sedangkan Rey tidur di kamarnya sendiri yang kini telah berubah menjadi kamar pengantin dengan hiasan yang penuh bunga mawar dan melati putih.
Saat Zahra dan Sasa akan masuk ke kamar tamu mereka bertemu dengan Nyonya Raudha yang masih belum kembali ke hotel.
" Kamu temannya Zahra yang tadi pagi membawakan sarapan Zahra kekamarkan? siapa tadi nama mu? saya lupa. " Tanya nyonya Raudha.
" Sasa nek. "
" Oh iya Sasa, kenapa kamu masih ada di sini? apa kamu tidak pulang ini kan sudah malam? "
" Sasa malam ini tidur di sini nek nemani saya." Jawab Zahra enteng.
" Apa?? dia mau tidur di sini dengan mu, tidak bisa, ini kan malam pertama kamu menjadi seorang istri kamu harus tidur bersama suamimu di kamar pengantin bukan di kamar tamu. Kamu nak Sasa lebih baik kamu pulang saja gak baik anak gadis tidur ditempat orang. "
" Tapi nek sasa ini sahabat saya, ini juga udah malam gak baik kalau dia pulang sendirian malam-malam gini nek. "
" Ya kamu pinta saja supir rumah ini ngantarkan dia, bereskan. " Kata nyonya Raudha lagi dengan nada judesnya.
Tidak mau mengambil resiko dan terjadi keributan, akhirnya Sasa memilih pulang saja ia pun pamit pada Zahra.
" Ra, aku pulang dulu ya Ra, aku gak papakok pulang sendiri. Besok aku kemari lagi. "
" Tapi Sa ini udah malam, kamu diantar supir aja, nanti aku bilang sama pak Rey biar nyuruh supirnya antar kamu Sa. "
" Gak usah Ra, Aku gak papa kok. " Sasa mememeluk Zahra kemudian setelah berpamitan dengan Zahra dan neneknya Farhan, Sasa menuruni anak tangga berjalan menuju pintu utama.
" Sekarang masuk lah ke kamar mu. " Perintah Nyonya Raudha.
Dengan terpaksa Zahra berjalan ke kamar Rey. di depan pintu kamar Zahra masih menoleh neneknya Farhan yang melihat dirinya menunggu masuk ke kamar baru dia akan pergi.
Cklek.....
Pintu di buka Zahra, Zahra masuk kedalam dan menutupnya kembali. " Kamar ini kosong tak ada Pak Rey di sini, mungkin dia sedang mandi."
Zahra merebahkan tubuhnya di king size milik Rey matanya memandang keseluruh kamar yang bernuansa hitam abu-abu. kamar yang sangat luas ditambah lagi dengan hiasan bunga-bunga membuat kamar itu semakin indah dan nyaman. Sedari pagi Zahra tak menyadari bagusnya kamar Rey karena ia terlalu memikirkan kesedihan atas nasibnya sendiri.
Hampir dua puluh menit Zahra berbaring di tempat tidur matanya pun mulai terpejam karena mengantuk. Tapi ia tersentak kaget mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Rey keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, hanya ada sehelai handuk yang menutupi bagian pinggangnya sampai lutut.
Zahra terkejut saat melihat Rey. Spontan menutup matanya dan memalingkan wajah ke arah lain ini pertama kalinya ia melihat lelaki yang hanya menggunakan haduk saja bahkan melihat abang-abangnya seperti itu pun ia tak pernah.
Rey juga kaget melihat Zahra berada di kamarnya.
" Sedang apa kamu disini? " bentaknya.
Rey mengambil baju dari dalam lemari kemudia kembali masuk kamar mandi untuk memakainya di sana. Selang beberapa menit Rey keluar dari kamar mandi. Ia kini telah berpakaian lengkap.
" Bukankah malam ini kamu tidur di kamar tamu bersama Sasa? mengapa kamu disini. " kembali tanya Rey.
__ADS_1
" Sasa sudah pulang. Tadi sewaktu kami mau kekamar kami bertemu dengan neneknya Farhan. Ia menyuruh Sasa pulang dan menyuruhku masuk ke kamar ini. mungkin sekarang dia sudah pulang aku akan ke kamar tamu. " Zahra beranjak keluar kamar.
" Tunggu, kamu disini aja malam ni. " sahut Rey.
Dahi Zahra berkerut, tidak mungkin malam ini dia satu kamar dengan Rey.
" Kamu gak usah mikir macam macam. Tidurlah di sini, biar aku yang tidur di kamar tamu.Jangan lupa kamu kunci kamarnya, takut nanti ada yang curiga. " Rey berjalan keluar kamar.
Zahra pun mengunci kamarnya.
Rey kedapur dulu mengambil minum kemudian barulah ia kembali ke atas menuju kamar tamu yang dekat dengan kamarnya. Saat Rey berada di depan kamar tamu ia baru saja ingin membuka pintu tiba-tiba Rey dikejutkan dengan pintu yang di buka dari dalam. Yang membuat Rey lebih terkejut yang keluar dari kamar itu adalah nyonya Raudha neneknya Farhan.
" Nak Rayhan sedang apa kamu di sini?"
" Emh.... sa, saya lagi mau ke ruang kerja nek. " jawabnya asal.
" Ini kan kamar tamu bukan ruang kerja kamu? " nyonya Raudha mengerutkan keningnya.
" Ohya berhubung kamu ada di sini, ini kamu bawa koper istri kamu. Tadi ada di dalam nenek lihat dari bajunya sepertinya punya Zahra karena tadi Zahra juga mau tidur di dalam bersama temanya. untuknya nenek pengertian makanya nenek suruh temannya pulang." Nenek memberikan koper Zahra pada Rey.
" Kenapa kamu masih berdiri ayo sana pergi ke kamar mu. " perintahnya lagi.
Rey berjalan kembali ke kamar. Neneknya Farhan masih melihat Rey, memastikan Rey masuk ke kamarnya. di depan kamar Rey menoleh ke neneknya Farhan.
" Bagaimana ini pasti Zahra sudah mengunci pintunya. Mana nenek tua itu belum masuk. lagian ngapainsih dia pake nginap di sini segala." Gerutu Rey.
Rey membuka pintu tetapi pintu kamarnya telah di kunci Zahra karena tadi Rey yang menyuruh Zahra untuk mengunci pintu kamar.
" kenapa kamu gak masuk.? "
Rey tak menjawab ia bingung mau jawab apa. Karena tak ada jawaban nenek memegang handle pintu hendak membukanya. Pintu tidak bisa terbuka karena dikunci dari dalam.
" Istrimu mengunci pintunya.? " nyonya Raudha pun mengetuk pintu dengan kuat.
Zahra yang sudah memejamkan mata mendengar suara ketukan. Zahra berjalan untuk membukanya.
Cklek.... pintu terbuka. Alangkah terkejutnya Zahra melihat Nenek Farhan bersama Rey.
Nyonya Raudha melihat Zahra dari atas ke bawah.
" Aneh, mengapa dia malah memakai baju suaminya, bukan memakai baju tidur yang sexi, oh ya kopernya tadikan di kamar ku mungkin lingerinya di koper. Sudahlah toh nanti di buka juga. " pikirnya tersenyum simpul masih memperhatikan Zahra yang memakai pakaian Rey.
Zahra menggunakan kaos lengan panjang dan celana training milik Rey yang terlihat longgar di tubuh Zahra. Tadi saat Zahra ingin mengganti baju, ia baru ingat bahwa koper baju-baju Zahra masih berada di kamar sebelah. kamar yang rencananya akan menjadi tempat Zahra dan Sasa tidur malam ini. Maka dari itu Zahra mencari baju milik Rey yang bisa nyaman ia kenakan untuk tidur.
" Zahra, kenapa kamu mengunci pintu padahal suami kamu masih di luar? "
Zahra hanya diam tak punya kata-kata untuk menjawab pertanyaan nyonya Raudha.
" Mungkin Zahra pikir saya di kamar mandi nek makanya Zahra mengunci pintunya. Yakan sayang? " Rey mencoba meyakinkan Nyonya Raudha yang sudah mulai curiga.
" I.. iya nek. " Gugup Zahra.
__ADS_1
" Ya sudah kamu masuk sekarang. "
Rey pun masuk. Sedangkan nyonya Raudha kembali ke kamarnya. saat baru beranjak satu langkah ia berbalik.
" Zahra sekarang suamimu sudah di kamar. jangan lupa tutup pintunya biar gak ada yang ganggu. " nyonya Raudha tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.
Zahra menutup pintu. Berjalan menuju tempat tidur, mereka berdua kini saling pandang.
" Bagaimana ini pak,? "
" Ya mau gimana lagi, nenek tua itu nginap di kamar sebelah terpaksa kita tidur satu kamar malam ni."
" Ha satu kamar, aku gak mau pak, apa gak ada solusi lain? "
" Tidak. "Jawab Rey. Rey memperhatikan Zahra dari ujung kepala sampai kaki. Zahra sadar di perhatikan karena sekarang ia sedang mengenakan baju milik Rey.
" Aku da bilangkan lemari mu yang paling pinggir dan jangan usik barang-barang barangku kenapa sekarang malah kamu pake baju ku ha? " ujar Rey kesal.
" Ya habisnya koperku tadi di kamar sebelah belum sempat aku bawa kan gak mungkin aku tidur pake gamis ya aku pinjam aju baju bapak. "
" Pinjam kamu bilang emangnya kapan kamu izin ke aku? "
" Ya maaf, aku emang belum sempat bilang ke bapak, lagian baju jelek gini aja dipermasalahin. " Zahra mencebikkan bibirnya.
" Apa kamu bilang, jelek? udah make barang orang gak permisi ini malah di katain pula kamu tahu gak Zahra, di kamar ini gak ada orang lain yang berani buka lemari ku, bahkan nenek dan Kyara juga gak berani. Tapi kamu? "
" Kenapa rupanya? lagian walaupun cuma kontrak aku ini tetap sah sebagai istrimu. Jadi kurasa aku punya hak untuk memakai baju suamiku, ya kan?"
" Oh... baiklah kalau begitu aku juga akan memberikan hak lainnya kepada mu sebagai istriku. " Rey berjalan mendekati Zahra dengan pandangan mematikan.
" Bapak mau apa? jangan mendekat." Zahra berjalan mundur.
" Aku hanya ingin memberikan hak yang lain pada istriku. " Rey terus melangkahkan kakinya mendekati Zahra sedangkan Zahra masih mencoba menjauh dengan berjalan mundur. Karena rasa takut dan tidak melihat ke belakang, tumit kaki Zahra mengenai sudut karpet alas tempat tidur, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Sebelum terjatuh Zahra mencoba mencari sesuatu untuk di pegang agar tak terjatuh saat itu Zahra menarik lengan baju Rey yang berada dekat di depannya. Terkejut ditarik secara tiba tiba oleh Zahra, membuat Rey juga kehilangan keseimbangan sehingga ia juga terjatuh kini keduanya terjatuh di atas kasur milik Rey dengan posisi Rey berada tepat di atas Zahra.
Sudah tak ada jarak antara mereka. Kini duapasang netra itu kembali saling berpandangan membuat kedua jantung mereka begemuruh berdetak tak menentu. Rey terhanyut memandang wajah cantik Zahra. Tangannya yang kini berada di samping Zahra pun bergerak tanpa terkendali. Tangan itu menyentuh wajah Zahra dengan lembut, menelusuri mulai dari memperbaiki jilbab Zahra lalu turun ke sudut mata, pipi dan membelai lembut bibir Zahra yang tipis. Rey semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra ingin sekali ia menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Zahra. seketika Zahra memejamkan matanya dengan ketakutan. melihat ekspresi Zahra Rey mengurungkan niatnya. Ia sadar yang dilakukannya tidak benar. Rey bangkit berdiri menjauhi Zahra.
" Tidurlah di kasur. Aku akan tidur di sofa. " Rey mengambil bantal. Mematikan lampu, hanya menggunakan lampu tidur yang sedikit gelap kemudian berjalan ke sofa dan tidur membelakangi Zahra.
" Zahra membuka kembali matanya. " ya Allah terimakasih telah menyelamatkanku.Hampir saja ia mengambil keperawanan bibirku. " batin Zahra menutup mulutnya.
Zahra tidur di ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut hanya menyisakan bagian kepala saja. keduanya pun memejamkan mata mencoba untuk tidur malam itu.
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Terimakasih karena udah mau dukung Author, dengan kasih, like, vote dan meninggalkan jejak di kolom komentar.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1