Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 53


__ADS_3

" Pak Rey sebenarnya kita mau kemana? Bapak gak berniat nyulik saya kan? " Tanya Zahra penasaran.


" Sebentar lagi kamu juga tahu. " Jawab Rey fokus mengemudi.


Tiga puluh menit berlalu mereka pun sampai di sebuah Rumah Panti.


Zahra membaca Plang di depan pintu masuk halaman rumah itu " Panti Asuhan Firdaus " .


Panti Asuhan yang sederhana tidak terlalu besar tetapi dari depan bangunan dan pekarangannya terlihat tersusun rapi dan bersih.


Rey turun terlebih dahulu, Zahra masih bingung kenapa Rey membawanya kemari di dalam hati nya bertanya apa sebenarnya Rey juga sering ke Panti. Ia gak menyangka orang kaya sombong dan bersifat dingin seperti Rey mau berbagi dengan anak-anak panti.


Rey membukakan pintu mobil tempat Zahra duduk. " Kamu mau turun apa masih mau terus duduk di mobil?


Zahra tersentak dari lamunanya. Ia kemudian turun dari mobil. Mereka berdua menjumpai pengurus Panti.


Setelah mengatakan tujuan mereka datang kemari yang ingin berbagi rezeki, maka ibu pungurus panti membawa mereka berjumpa dengan anak-anak yang kebetulan lagi bermain di taman belakang.


Anak-anak berlari mendekati Zahra dan Rey mereka seolah-olah sudah tahu bahwa mereka akan medapatkan rezeki dari pengunjung hari ini.


Zahra membagikan makanan ringan kepada anak-anak tak lupa Zahra juga memberikan buku tulis,buku bacaan bergambar dan buku mewarnai serta alat tulis lainnya kepada mereka semua. karena saat di minimarket Rey bukan hanya membeli makanan Ringan tetapi dia juga membeli perlengkapan belajar.


Mereka semua terlihat bahagia dan tak lupa berterimakasih pada Rey dan Zahra. Zahra kini tersenyum melihat senyum anak-anak tak berdosa yang kini tertawa bahagia dengan kedatangan mereka hari ini. Rey melihat senyum mengembang di bibir Zahra juga ikut bahagia." Zahra sangat cantik jika tersenyum seperti ini. Semoga aku bisa selalu membuatnya tersenyum. " batin Rey.


Seketika Zahra merasa Rey memperhatikannya. " Bapak kenapa ngelihat seperti itu? " Tanya Zahra.


" Apa hatimu udah lebih baik saat ini Zahra?"


Zahra memandang Rey yang berkata lembut padanya sekarang.


" Beberapa hari ini aku udah buat kamu menangis. Ku harap kamu bisa sedikit bahagia sekarang. Maafkan aku yang udah membawa mu ke dalam masalah keluarga kami. "


Zahra hanya tersenyum. " Kenapa bapak membawaku kemari? apa bapak sering kemari ya?


" Tidak, ini pertama kalinya aku ke Panti Asuhan. Bukankah kamu suka ke panti jika lagi sedih. "


" Bapak kok tahu? "


" Mama kamu yang cerita,katanya kamu suka datang ke panti kalau lagi sedih, sekarangkan kamu juga sedih ya mudah-mudahan bisa ngilangi sedihmu sedikit. "

__ADS_1


" Bukan hanya sedih pak jika saya bahagia dan dapat rezeki saya juga suka bermain dengan anak panti yang kurang beruntung. Bapak tahu gak kalau kita ada masalah pasti kita ngerasa bahwa Allah gak adil sama kita kenapa kita yang mendapat masalah, kenapa bukan orang lain aja. Saya juga seperti itu tapi setelah melihat anak-anak ini saya ngerasa malu pak udah mengeluh padahal mereka masih kecil sudah ditinggal kedua orangtuanya tetapi mereka tetap tersenyum bahagia. "


" Zahra, Aku juga sama seperti mereka, Allah juga tak adil, telah memgambil orangtuaku sewaktu aku kecil. "


" Tapi bapak masih jauh lebih beruntung dari mereka, bapak masih punya nenek yang merawat bapak, saudara yang menyayangi. bapak juga berkehidupan mewah, serba ada sementara mereka, jika ingin sesuatu harus menunggu uluran tangan orang lain. Makanya pak melihat mereka aku mampu bertahan dengan semua yang terjadi dihidupku. Dulu aku pernah putus asa karena masalah yang dialami sangat sulit tetapi saya sadar, saya masih punya papa mama, dan saudara yang sangat menyayangi ku. Jika mereka yang hanya hidup seorang diri hanya dukungan orang asing yang menjadikan mereka keluarga lantas kenapa saya gak bisa setegar mereka. Mengapa saya masih selalu mengeluh padahal Allah sudah menberikan kebahagiaan hidup dalam kasih sayang bersama keluarga yang gak pernah dirasakan oleh mereka. Merekalah yang mengajari saya untuk bersabar dan belajar ikhlas pak. "


Zahra terus memandangi anak anak yang asyik bermain sambil mengunyah makanan ringan yang mereka dapat dari Rey dan Zahra.


Sedangkan Rey lebih tertarik memandang Zahra ketimbang anak-anak yang bermain. Rey semakin kagum dengan ketulusan hati Zahra yang selalu berbuat baik pada siapa saja yang di dekatnya.


" Makasih ya pak." ucap Zahra memandang Rey.


" Untuk apa?" Tanya Rey.


" Karena pak Rey udah ngajak aku kemari."


Rey tersenyum dan mengangguk. " kamu senang Zahra.?" Suara Rey kembali melembut.


Zahra mengangguk mengiyakan. " Tapi aku lelah pak. "


" Lelah kenapa? "


" Teman." Rey menjabat tangan Zahra. "Tumben kamu gak marah tanganmu bersentuhan denganku.apa karna sekarang aku suami mu? " Rey menggoda Zahra.


Zahra tersadar dengan apa yang dilakukannya ini gak benar. Dia sendiri gak menyangka malah mengajak Rey berjabat tangan, dengan cepat Zahra melepaskan tangannya.


" Kenapa dilepas kita kan sekarang udah mahram jangankan cuma pegangan tangan jika kamu mau yang lebih dari ini aku siap kok. " goda Rey lagi dengan senyuman dan kedipan mata.


" Awasya jangan macam-macam. " Zahra mengepalkan kedua tangannya mengambil ancang ancang bak atlit beladiri.


" ha.... ha.... ha.... Zahra, Zahra, kamu tenang aja aku gak bakal macam-macami kamu. Lagian tadikan kamu yang ngajaki salaman ini malah kamu pula yang mau menghajar aku. Dasar cewe aneh. "


Wajah Zahra memerah sudah seperti tomat karena malu mendengar yang di katakan Rey.


Setelah puas bermain bersama anak panti Asuhan Rey dan Zahra pamit pulang sebelumnya Rey memberikan sumbangan berupa sebuah cek yang sudah ditulis jumlah nominalnya untuk membantu oprasional rumah panti firdaus.


 


 ***

__ADS_1


Di kediaman Ardana


Jam sudah menunjukkan pukul empat, acara siraman yang di lakukan Kyara sudah selesai dan sebentar lagi akan dilanjutkan dengan acara berinai. Calon mempelai wanita akan di pasangkan inai ( hena) sisa dari calon mempelai pria. Jika mempelai prianya hanya memakai inai di semua kuku kaki dan tangan, mempelai wanita selain memakai inai di kuku punggunh tangan dan kaki juga di ukir dengan hena.


Nenek Farhan membawa inai dan hena di tangannya kemudian memberikan ke pada Nenek Retno.


" Buk Retno, ini inainya untuk calon menantu kami Kyara. "


Nenek menerima inai dan hena dari tangan neneknya Farhan.


" Oh iya buk Retno. Tadi saya lihat Rey dan istrinya belum pake inai, kenapa gak di buat buk tradisi kita?"


" Oh itu, merekakan menikahnya mendadak makanya kami gak sempat buatkannya buk. "


" Kalau begitu sekalian aja buk nanti kita pakekan, ibuk udah siapkan inai untuk Rayhan kan? Yang nanti sisanya akan di pakekan keistrinya"


" tapi kami belum menyiapkannya buk, apalagi acaranya kan sebentar lagi. takutnya gak sempat. "


" Buk Retno ini gimana sih, kenapa gak dipersiapkan, kalau cucu perempuan buk Retno Kyara di istimewakan oleh keluarga calon suaminya masa buk Retno tega sih memperlakukan cucu menantu buk Retno biasa biasa saja. bagaimana perasaan keluarganya buk. yang namanya pengantin itu tangan dan kakinya harus dihias dengan inai sebagai tanda pengantin baru bukan polos macam Rey dan Istrinya." ketus nenek Farhan.


Nenek Retno hanya diam saja tak tahu mau menjawab apa. dari belakang nek Retno, Nek Gendis datang dengan semangkuk kecil inai di tangannya.


" Nyonya Raudha tenang saja,kami udah menyiapkan semuanya. Sama seperti kalian mengistimewakan cucu kami Kyara, kami juga akan mengistimewakan cucu menantu kami Zahra karena sekarang dia adalah berliannya di Rumah Ardana ini. Mbakyu ini inai dan hena untuk Rey dan Zahra." Gendis memberikan inai kepada Retno dan mengambil inai untuk Kyara pemberian nyonya Raudha neneknya Farhan.


" Baiklah kalau begitu panggil Istrinya Rayhan, biar kita mulai acaranya. Tapi pastikan nak Rayhan memakainya terlebih dahulu. " nyonya Raudha meninggalkan Retno dan Gendis menuju Ruang Tamu tempat adat berinai yang sebentar lagi akan dilakukan.


" Mbakyu, Rey dan Zahra kemana? di kamarnya gak ada? " tanya Gendis.


" Biar mbakyu telpon Rey dulu." Nenek Retno menelepon Rey, panggilan pun terhubung.


" Rey kalian di mana? "


" Di jalan nek, ini bentar lagi juga sampai rumah." jawab Rey.


" langsung pulang ya, jangan kemana mana lagi karena kalian harus mengikuti adat berinai ini permintaannya nyonya Raudah."


" Iya nek. "


" Ya udah hati hati dijalan ya. " Sambungan terputus.

__ADS_1


__ADS_2