Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 91. Sports Jantung


__ADS_3

Keesokan harinya, Rey terbangun lebih dahulu, Rey keluar kamar untuk mengambil pakaiannya dan Zahra yang di keringngkan Soviah tadi malam.


Rey mandi kemudian melaksanakan Shalat subuh. Selesai Shalat Rey melihat Zahra yang masih terlelap. Perlahan Rey mendekati Zahra dan membanggunkan Zahra.


" Ra, bangun, udah hampir setengah 6 ni, shalat dulu." Ucap Rey lembut.


Zahra membuka mata. Rey adalah pandangan pertama yang ia lihat. Kepalanya masih sedikit pusing.


Zahra bangun dengan perlahan. Selimutnya turun ke pinggang Spontan terlihatlah kulit putih yang hanya tertutup lingeri sexi. Dengan cepat Zahra menarik selimut untuk menutupinya.


" Gak usah panik gitu, aku da puas kok ngelihatnya tadi malam." Ucap Rey tersenyum mencibir. " Udah sana cepatan mandi. bentar lagi waktu subuh habis." Rey menuju kursi untuk duduk memainkan ponsel.


" Pak apa yang terjadi tadi malam?" tanya Zahra karena ia tak mengingat apa2, kepalanya saja masih pusing.


" Apa kamu gak mengingatnya?" tanya Rey.


Zahra menggeleng.


" Ah, masa sih kamu gak ingat Ra, atau sengaja melupakannya, hayooo minta di ulang pagi ini biar bisa ingat, gitu kan?" sambung Rey mendekati Zahra.


Zahra memejamkan mata mencoba mengingat kejadian tadi malam tetapi ia tetap tak menhingat apa- apa.


" Pak kumohon jangan becanda, Bapak harus beri tahu aku sebenarnya apa yang terjadi antara kita tadi malam." Tanya Zahra lagi mulai kesal tetapi penuh harap agar Rey memberi tahu.


" Kamu beneran ingin tahu."


Zahra mengangguk mengiyakan.


" Ya tadi malam sudah terjadi hal yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri." jawab Rey santai kembal memaikan ponsel. sebenarnya Rey sudah ingin tertawa melihat reaksi wajah Zahra, tetapi di tahannya.


" Gak mungkin, kita gak mungkin melakukannya kan pak? "


" Kenapa gak mungkin? kitakan suami istri jadi melakukan hal itu tidak berdosa Zahra, malah ibadah." Jawab Rey enteng.

__ADS_1


" Pak Rey, kita udah menandatangani kontrak bahwa kita gak akan melakukan itu, kenapa Pak Rey tega. Pak Rey jahat. Kukira kata janda hanya sekedar kata tanpa harus kehilangan keperwananku tetapi sebentar lagi aku akan jadi janda beneran." Zahra mulai menangis meratapi nasibnya yang tragis.


" Yah dia malah nangis. padahal akukan cuma mau menggodanya." batin Rey ia menjadi bingung harus berbuat apa agar Zahra gak nangis lagi.


Zahra kemudian menghapus air matanya.


" Pak Rey pasti bohongkan? Pak Rey kan tidak tertarik dengan ku, mana mungkin pak Rey mau melakukan hal itu padaku." Ucap Zahra lagi.


" Hei Ra, aku ini lelaki normal, jika ada wanita berpakaian sexi di depanku aku pasti khilaf, apalagi yang memakai pakaian sexi itu istriku sendiri, kan mubazir kalau diangguri."


" Gak mungkin, gak mungkin, itu gak mungkin." Teriak Zahra Lalu ia berlari ke kamar mandi dengan memakai selimut."


Gebruak... pintu kamar mandi di tutup kuat oleh Zahra.


" Ra, jangan lupa mandinya keramasya trus baca doa." kata Rey lagi tertawa meledek Zahra.


" Gak mau, Pak Rey Brengsek." Jawab Zahra dari dalam kamar mandi.


Rey tersenyum lebar melihat kepanikan Zahra yang baginya sangat menggemaskan. Rey mengambil selimut yang dijatuhkan Zahra di depan pintu kamar mandi, melipat dan meletakkan kembali di atas kasur.


" Gak ada tanda apa pun," Zahra terus melihat dari cermin, " gak ada rasa sakit juga kok, katanya kalau malam pertama itu kan sakit, ini biasa saja gak sakit sama sekali. Berarti aman tak terjadi apa-apa. Pak Rey sialan dia ngerjain aku." Gerutu Zahra kesal.


" Eh tapi kok aku kesal ya seharusnyakan aku senang pak Rey gak macem-macemi aku. Syukur-Syukur." Zahra mengelus dada tanda ia merasa lega.


" Aku keramas gak ni ya,? kan gak terjadi apa pun tadi malam, kayaknya gak perlu keramas tapi kalau yang dibilang Pak Rey benar gimana, gak sah dong nanti shalatku??." Zahra galau bertanya pada dirinya sendiri.


" Bodoh ah, keramas Aja," Akhirnya Zahra pun mandi.


Selesai mandi Zahra baru ingat ia lupa membawa baju yang sudah di keringkan kak Sofi.


" Aduh gimana ni, mana aku lupa bawa baju lagi. gimana ni ya." Pikir Zahra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Zahra melihat ada baju handuk tergantung di pintu. Baju yang tadi malam tidak ada tetapi sekarang ada, saat tadi pagi Rey mengambil baju mereka pada Soviah, Soviaj memberikan baju handuk itu, Soviah takut kalau handuk yang di kasihnya malam tadi basah karena sudah di pakai.

__ADS_1


Zahra pun memakai baju handuk yang tergantung lalu handuk yang satunya ia lilitkan ke rambutnya yang basah.


" Pak Rey, apa bapak ada di situ?" Tanya Zahra tetapi tak ada sahutan.


" Pak Rey, bisakah bapak ambilkan baju saya.!" kata Zahra lagi, Rey yang duduk di kursi memainkan ponsel dengan menggunakan henset sehingga Rey tak mendengar Zahra memanggil.


" Pak Rey, Saya lupa bawa baju, tolong ambilkan pak.!" Kata Zahra lagi tetapi tetap tak ada jawaban. Zahra tak melihat Rey karena posisi kursi itu ada di samping dinding kamar mandi tidak kelihatan dari pintu.


" Sepertinya Pak Rey di luar, sebaiknya aku keluar saja mengunci pintu dulu baru ganti baju." Gumam Zahra.


Zahra pun melangkahkan kaki langsung menuju pintu kamar, Zahra bermaksud mengunci pintu karena Zahra takut kalau Rey tiba-tiba masuk.


Saat Zahra berjalan Rey melihat Zahra yang hanya memakai baju handuk di atas lutut. Rey pun melepas hensetnya berdiri berjalan di belakang Zahra. Zahra mengunci pintu.


" Aman." kata Zahra menghela nafas lega.


" Kamu sedang apa Ra?." Tanya Rey yang kini tepat di belang Zahra.


Sontak Zahra terkejut mendengar suara Rey. Seketika Zahra membalikan badannya ke arah sumber suara di belakangnya. Karena terburu-buru berbalik, handuk yang melilit di kepala Zahra terlepas jatuh kelantai sehingga rambut Zahra yang panjang dan masih basah pun terurai.


Bukan hanya Zahra yang terkejut, Rey juga terkejut takjub melihat Zahra yang tidak mengenakan hijab. Ini pertama kalinya Rey melihat Rambut indah Zahra. Zahra terlihat berkali lipat sangat cantik.


" Masyaallah cantiknya ciptaanMu Ya Allah." Batin Rey menatap Zahra tak berkedip. Dengan Jarak yang sangat dekat mereka berdua saling bertatapan. Jantung keduanya berpacu sangat cepat, mereka berdua saling mendengar deru nafas masing-masing.


Bagian Rambut depan Zahra yang masih basah menutupi sebagian mata Zahra. Sehingga pandangan keduanya terhalang oleh helaian Rembut Zahra. Perlahan tapi pasti Rey membelai lembut rambut Zahra, menyibak kebelakang telinga. Jantung Zahra kini sudah mau copot, Sentuhan lembut dari Rey membuatnya memejamkan mata. Kini mata Rey tertuju pada bibir imut Zahra. Rey mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra ingin merasakan manisnya bibir Zahra. Hanya sekitar beberapa inci lagi, Rey tersadar bahwa dia gak boleh mengambil kesempatan seperti ini. walaupun Rey sangat ingin tapi Rey tidak mau membuat Zahra kecewa dengan sikapnya. Akhirnya Rey menjauhkan dirinya dari Zahra. Membuka kunci pintu Sehingga Zahra membuka matanya.


" Cepatlah sholat waktu subuh tinggal sedikit lagi." ucap Rey lalu keluar dari kamar. Rey berusaha menetralkan dirinya begitu juga dengan Zahra. Kedua tangan Zahra menyilang ke dada merasakan detakan jantung yang masih tak beraturan.


" Ya Allah kalau begini terus aku benaran bakal mati kena serangan jatung, masih subuh lagi da sports Jantung.fiuh...." Zahra membuang nafasnya.


Zahra mengambil baju kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengenakannya. Setelah itu baru ia melaksanakan Shalat subuh yang waktunya sudah sebentar lagi mau habis.


 

__ADS_1


 😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2