
" Orang pelit itu nampak walau di sembunyiin coy, loe fikir hidup loe bakal bahagia, kalau loe masih pelit......
belum lagi minta duet loe,cuma ngasih like doang aja loe gak mauh, waduh......, gua gak maksa loe suka ma cerita gua tapi kalau emang gak suka ya udah gak usah di baca.... kan gak repot....
Masa terbaca 300 lebih, semalam malah 700 tapi jumlah yang gak pelit gak sampe 50 orang.ππ. Readers kejam.......
Tapi tak lupa Author ucapkan Terimakasih buat yang udah selalu dukung Author, βΊπyang udah setia kasih like dan vote nya yang banyak. Maaf Author belum bisa crazy up,ππ, tapi Author usahain agar bisa up tiap hari, Semoga kalian Sehat dan bahagia selalu. aku padamu......πππ
...........................................................
Happy Reading
.............................................................
" Tentu bisa, di sini aku bosnya jadi wewenangku ingin berbuat apa saja." Rey berdiri kemudian berjalan keluar." Ikutlah denganku sekarang!" perintahnya.
Rey dan Zahra sudah berada di depan kantor, mobil Rey sudah terpakir tepat di depan mereka sekarang. Seorang satpam memberikan kunci mobil kepada Rey.
" Masuk!" Rey membuka pintu mobil menyuruh Zahra masuk.
" Kita mau kemana pak?"
" Berjumpa Mama dan Papamu."
" Ha.., kita mau pulang ke desa, kan semalam bapak bilang jam 3, ini masih jam dua belas kurang sepuluh."
" Udah jangan banyak tanya, cepetan masuk." Perintah Rey lagi, ia hendak berjalan menuju kursi pengemudi tapi Zahra menghalanginya.
" Pak, apa gak bisa habis makan siang aja kita perginya."
" Ya udah kalau gitu kita makan dulu nanti baru berangkat."
" Tapi pak."
" Apalagi Zahra?" tanya Rey kesal.
" Tapi aku ada janji makan siang sama pak Verry, kan kasian kalau nanti dia balik ke kantor akunya malah gak ada."
" Oh jadi kamu lebih milih makan sama Verry dari pada aku suami mu, Ingatya Zahra dalam agama kita diajarkan istri itu harus nurut sama suami, dan tidak boleh pergi tanpa seizin suaminya.Haraaam." Tegas Rey
__ADS_1
" Pak jangan kuat- kuat ngomongnya nanti ada yang denger." ucap Zahra pelan sambil melihat kanan-kiri sekitarnya memastikan tidak ada orang yang mendengar mereka.
" Cepat masuk." Kesal Rey lalu berjalan masuk ke dalam mobil.
" Dasar orang aneh ujung-ujungnya pasti ngancam pake ngingetin dia suamiku segala. Itu saja yang di jadikannya senjata agar aku nurut sama dia." Gerutu Zahra mencebikkan bibirnya.
Ten....ten....
Rey membunyikan klakson mobilnya.
" Iya,iya." Dengan terpaksa Zahra masuk ke mobil.
Di dalam mobil Zahra hanya diam saja, Ia merasa kesal pada Rey yang selalu saja berbuat seenaknya. Sedangkan Rey fokus mengemudi mobil membelah jalanan menuju arah desa tempat tinggal Zahra, sesekali Rey melirik Zahra yang masih terlihat kesal mungkin karena batal makan siang dengan Verry fikir Rey dalam hati.
Beberapa menit berlalu Rey memarkirkan mobil di parkiran Rumah Makan. Mereka berdua turun untuk makan siang.
Rumah makan cepat saji menjadi pilihan Rey siang ini. Seketika Rey dan Zahra duduk, para pelayan langsung menghidangkan sejumlah makanan khas Rumah Makan itu di atas meja. Sebelum sempat menyuap makanan ponsel Zahra berdering, panggilan dari Verry. Dengan cepat Zahra menjawabnya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, Ra, kamu dimana, aku keliling kantor nyariin kamu tapi gak ada." kata Verry yang terdengar melalui perantaraan ponsel di genggaman Zahra.
" Maaf pak, sebenarnya saya lagi diluar."
" Tadi pak Rey maksa saya ikut dengannya, maafya pak saya gak bisa nepati janji dan maaf juga karna saya belum sempat ngabari bapak." Jawab Zahra merasa bersalah.
" Ya udah tapi lain kali kamu harus bayar janjimu ini ya Ra,"
" Insyaallah pak."
" Aku tutup telponnya ya Ra, Assalamualaikum."
" WaalaikumSalam." Panggilan dari Verry telah terputus. wajah Zahra masih terlihat sangat kesal.
" Kamu kenapa?" tanya Rey.
" Tidak apa- apa." Jawab Zahra tak melihat wajah Rey ia pun memulai makan siangnya dan tak ada sepatah kata lagi yang terdengar keluar dari mulut Zahra.
Rey makan dengan sesekali memperhatikan Zahra." Zahra sepertinya sangat kecewa tidak jadi makan dengan Verry apa jangan -jangan Zahra juga menyukai Verry." tanya Rey dalam hati. Ada rasa tak Rela jika Zahra membalas cinta verry.
__ADS_1
Β
Β
Β ***
Mobil masih melaju di jalan, setelah makan siang dan melaksanakan Shalat Zuhur perjalanan di lanjutkan.
Kali ini Rey tidak menggunakan jalur tol, ia malah menggunakan jalan lintas yang bisa memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan, bahkan bisa lebih jika jalanan macat.
Zahra melihat keluar jendela " kok tumben pak Rey mau menempuh jalan macet gini kan jadinya lambat." gumam Zahra dalam fikirannya. Sebenarnya ia ingin menanyakan langsung pada Rey tapi berhubung Zahra masih kesal Zahra malah memilih diam saja.
Rey memang sengaja melalui jalan lintas, karena Rey ingin menghabiskan waktu berdua lebih lama bersama Zahra. Seharusnya mereka akan berangkat sekitar jam setengah tiga, menghindarkan Zahra bersama Verry sehingga Rey membawa Zahra lebih awal tidak sesuai yang direncanakan kemaren.
Selama perjalanan Zahra tak banyak bicara, Tidak seperti biasa Zahra hanya berbicara seperlunya saja itu pun bila di tanya Rey, Nampaknya Zahra beneran kesal pada Rey yang sering berbuat sesuka hati tampa meminta pendapat Zahra terlebih dahulu.
Perjalanan sudah cukup lama mereka sudah hampir sampai. " Pak nanti kita kerumah ku dulu ya, baru kerumah sepupuku." Ucap Zahra.
" Kamu mau ngapain kok gak langsung kerumah sepupumu saja?"
" Aku mau mandi dulu pak trus ganti baju, masak mau kepesta kucel gini." jawab Zahra masih ketus.
" Emangnya kamu mau ketemu siapa, sampai mau ganti baju segala, gitu juga udah cantik."
" Pak Rey, yang nikah itu sepupuku, jadi aku mau pakai gamis pesta dong bukan baju kantor gini."
" Udah gitu aja, di mana alamat sepupumu itu, kita langsung ke sana aja."
Zahra menghela nafas panjang." Percuma ngomong sama monster galak gak punya hati bagusan aku tadi gak ngomong sama sekali." Zahra ngedumel pelan yang masih terdengar jelas oleh Rey.
" Apa aku gak salah dengar, Zahra sebut aku monster galak gak punya hati? dia gak tahu kalau hatiku satu-satunya udah diambil olehnya, sekarang enak saja dia mau dandan cantik di depan orang banyak. Jangan harap aku biarkan itu terjadi." Batin Rey juga merasa kesal.
Zahra akhirnya mengalah, seperti biasa Zahra pasrah mengikuti yang di katakan Rey. memberikan alamat rumah Lili, adik sepupu Zahra yang sedang melaksanakan resepsi pernikahan.
Mobil yang di naiki Rey dan Zahra sudah sanpai di lokasi pesta.
" Ini beneran tempatnya?" kok pestanya gak di gedung?" tanya Rey heran.
" Ini desa Pak, bukan kota, rumah-rumah di sini punya halaman yang luas jadi gak perlu sewa gedung seperti di kota.Cukup panggil WO, halaman rumah akan di sulap jadi tempat hajatan ahli bait, ya cukup mewahlah untuk kalangan pesta kampung. Kalau bapak merasa gak nyaman dengan tempatnya bapak bisa kok nunggu dalam mobil atau gak langsung cari hotel aja besok kita jumpa di kantor pak adi atau di....." Belum selesai Zahra berbicara Rey sudah turun dari mobil. Zahra pun ikut turun tak lupa ia mengambil sebuah bingkisan untuk sepupunya Lili yang tadi di beli di sebuah toko Rumah Kado di dekat sebuah Masjid saat shalat Zuhur.
__ADS_1
Zahra dan Rey masuk ke lokasi resepsi pernikahan anak dari adik papanya Zahra.
Di depan pintu gerbang masuk, Zahra di sambut ramah dengan adik Papanya yaitu Tante Ita mamanya Lili. Sedangkan bude Yanti dan tante Sinta yang juga ada di dekat Tante Ita memandang Zahra dengan pandangan sinis, apalagi ketika melihat Zahra datang bersama seorang lelaki tampan yang dari tampilannya tampak seperti pria mapan dari kalangan berada. Mereka semakin merasa tak suka. jiwa kepoan diantara keduanya juga meronta-ronta, Pingin tahu siapa sebenarnya lelaki yang bersama Zahra. Karena tak biasanya Zahra pergi berdua dengan seorang lelaki. Dulu saja mereka tak pernah melihat Zahra pergi berdua dengan calon suami sebelumnya. Tapi sekarang Zahra malah datang berdua dengan cowok ganteng mereka semakin penasaran, apa yang akan di lakukan Arman papanya Zahra ketika tahu anak Gadis kesayangannya bersama seorang lelaki di saat Dia sendiri ingin menjodohkan anaknya itu dengan anak temannya Ustadz Abdul yaitu Salim yang juga sudar datang yang kini lagi menikmati hidangan. Yanti dan Sinta saling berpandangan dan melempar senyuman licik.