Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan

Jodoh Terbaik Pilihan Tuhan
Part 71 Perdebatan Mama 1


__ADS_3

Mama dan Papa duduk santai di ruang keluarga, mereka berdua baru saja berbicara dengan putri kesayangannya Zahra melalui telepon.


" Pa, besok kan hari kerja, pasti Zahra masih ngantor, apa gak sebaiknya biarkan saja Zahra gak usah pulang." Ucap Mama memulai perbincangan.


" Mama ini gimana sih, yang nikah itu kan anak dari adiknya Papa, sepupunya Zahra masasih Zahra gak datang, apa kata orang nanti?"


" Mama tahu pa, tapi masalahnya Lili itu 2 tahun lebih muda dari Zahra sekarang usia Lili masih 19 tahun tapi dia uda nikah sementara Zahra yang 21 tahun belum menikah Pa, pasti nanti saudara-saudara papa bakal nanyain Zahra ini itu, mama gak mau kalau Zahra sedih lagi, mama fikir lebih baik Zahra gak datang aja."


" Mama gak usah berfikir yang nggak-nggak, gak bakal ada yang berani nanya macam-macam ke Zahra."


" Pa,.."


" Ustadz Abdul akan datang bersama Salim, ini kesempatan kita untuk menjodohkan mereka berdua. Mama ingin melihat Zahra segera menikah kan?". Papa memotong pembicaraan Mama.


" Kalau Papa berniat mau menjodohkan Salim dan Zahra, Papa bisa kan undang mereka ke rumah gak mesti besok, lagian apa Papa yakin kalau Salim belum punya calon istri. Papa juga harus ingat keponakan Papa si Sesil dari dulu suka sama Salim mama gak mau ya gara-gara ini mbak Yanti buat masalah lagi."


" Mama ini kenapa sih ngomong kayak gitu, sepertinya tidak suka dengan keluarga Papa, lebih baik Mama jangan suuzhon, mereka itu tak seburuk yang Mama pikirkan.


" Pa yang gak suka itu bukan Mama tapi mereka, buka matahati Papa."


" Neha, sebenarnya apa salah kami kenapa kamu sangat tidak suka dengan kami, kamu selalu mengatakan yang buruk pada Aeman tentang kami." tanya Yanti yang baru saja masuk ke ruangan itu.


" Mbak Yanti." Ucap Mama dan Papa bersamaan.


" Mbak baru datang? silahkan duduk mbak, mas, Syahril, Sinta." kata Papa lagi.


" Kami di sini aja Man, sepertinya istri kamu ini tidak senang melihat kami di sini."


Mama hanya diam saja.


" Man aku da pernah bilang ke kamu kan bawa Zahra ke orang pintar untuk membuang kesialan di dalam dirinya, tapi kamu gak pernah dengerin cakap mbak."


" Zahra gak perlu di bawa kemana- mana dia sehat dan tidak sakit." sambar Mama marah.


" Neha kamu sadar kan kalau dari Dalam kandungan anak mu Zahra itu pembawa sial. saat syukuran 7 bulan, mama kami meninggal, saat Zahra dilahirkan anak Sinta juga meninggal dan saat Zahra di aqikahkan perusahaan papa kami bangkrut,, musibah itu semua terjafi karena Zahra. kamu juga inggatkan anak kamu Zahra itu dua kali gagal menikah dia udah buat malu keluarga kita Neha, mau sampai kapan anakmu itu menjadi benalu apa kamu juga gak kasian sama dia, kelak dia akan menjadi perawan tua jika kesialan di dalam tubuhnya gak dibuang bisa bisa kita semua ikut jadi korbannya."

__ADS_1


" Cukup mbak? berhenti menyalahkan Zahraku, semua itu udah di takdirkan Allah hanya saja waktunya yang kebetulan bertepatan jadi aku pinta jangan sangkutpautkan musibah itu dengan anakku,dan aku jangan pernah kalian sebut anak ku pembawa sial, karna tak ada anak pembawa sial di dunia ini, mereka semua Malah pembawa rezeki."


" Tapi berbeda dengan anakmu Neha." kata Yanti lagi


" Ku bilang cukup, mungkin selama ini aku diam jika kalian menghujatku tapi tidak dengan anakku. kalau Papanya mungkin diam melihat anaknya di hina, tidak dengan aku mamanya. Kuingatkan kalian sekali lagi jangan pernah mengatakan hal buruk tentang anak ku Zahra apalagi sampai melukai hatinya karena dia masih punya mama yang slalu berada di depan untuk membelanya." Mama menatap mereka dengan amarah, begitu juga dengan suaminya yang hanya diam mendengar perkataan buruk dari kakaknya itu. Mama kemudian pergi meninggalkan mereka menuju kamar Zahra.


" Neha kamu mau kemana?" panggil Papa yang tak di hiraukan oleh Mama.


" Kau lihat istrimu, tidak pernah mau terima jika di nasehati."


" sudahlah mbak, dia terlalu menyayangi anaknya jadi seperti itu.duduklah sebenarnya ada pa kalian kemari bersamaan." Tanya Papa


Mereka berempat pun duduk mendekati Arman papanya Zahra.


" Begini man, kita mau minta bantuan kalian, tolong pinjami Sahril dan Sinta uang untuk nebus si Zidan."


" Iya bang, tolong pinjami kami uang, tadi malam Zidan di tangkap lagi, kita harus keluarin dia paling lama besok ya kan pa?" shinta menatap Sahril suaminya yang merupakan adik dari Arman.


" Iya bang tolongi kami, kami butuh Dua ratus juta aja bang aku pasti akan ganti secepatnya."


" Aku akan bicara dulu sama Neha karena semua uang Neha yang menyimpannya."


Papa berjalan mendatangi Mama dikamar.


 


***


Rey dan Zahra masih berada dalam perjalanan mereka belum juga sampai.


drrtt.....drrtt.....drrtt....


Ponsel Zahra kembali bergetar, Zahra mengeluarkan ponsel dari dalam tas.


" Mama, kenapa mama telpon lagi ya." gumamnya pelan masih berfikir.

__ADS_1


Rey mengambil ponsel di tangan Zahra secara tiba-tiba lalu memencet tombol jawab dan meloudspekerkan, memberi tanda kepada Zahra untuk berbicara dan jangan mematikan loudspekernya, Zahra pun menurut.


" Assalamualaikum Ma." sapa Zahra.


" Waalaikumsalam."


" Ada pa ma?" Tanya Zahra lagi.


" Zahra kamu besok kerja aja nak gak usah kemari nanti kalau ada yang nanyain kamu Mama yang urus sayang."


" Loh Mama gak ingin Zahra pulang ya, apa mama gak kangen Zahra." ucap Zahra sedih gak biasanya Mama seperti ini, melarang Zahra pulang.


" Bukan begitu sayang, Mama cuma gak mau kalau pekerjaan kamu terhambat hanya karena menghadiri pernikahan Lili. Nanti bos kamu marah lagi kalau keseringan cuti, yakan?"


" Tapi gimana dengan Papa, tadi Papa nyuruh Zahra pulang."


Sejenak Mama diam mengusap airmata yang menetes ke pipinya.


" Ma, Mama nangis ya?" tanya Zahra mendengar suara pelan seperti menghela tangis.


" Nggak kok sayang Mama gak nangis mama cuma flu sikit, kalau masalah jumpa sama Salim nanti Mama atur waktunya tapi kalau seandainya Zahra gak bisa pulang besok gak apa nak, Zahra kerja aja, nanti Mama belikan kado untuk Lili, dan mama sampaikan salam maaf Zahra karena gak bisa datang. Tapi kalau memang bisa cuti ya gak apa kamu pulang cuma jangan di paksain ya nak."


" Iya ma nanti Zahra tanya dulu sama bos Zahra."


" Udah dulu ya nak jaga kesehatan, Mama sayang Zahra emmuah.."


" Zahra juga sayang mama emmuahc.. . Assalamuaalaikum "


" Waalaikum salam."


Panggilan terputus.


Zahra masih melihat layar ponselnya.


" Biasanya Mama paling senang kalau aku pulang tapi ini Mama sepertinya malah melarang aku pulang, pasti ada yang gak beres. Pak, besok kita ke desa ya aku harus cari tahu sebenarnya apa yang terjadi sama Mama, Mama gak biasanya seperti ini." kata Zahra pada Rey.

__ADS_1


Rey menganguk kemudian tersenyum tipis ia senang akhirnya Bisa mengantarkan Zahra pulang besok.


bersambung.......


__ADS_2