Kaisar Iblis

Kaisar Iblis
Battle Between Two Gods


__ADS_3

Yi Fan dan Dai Mee saling pandang, mereka berdua menujukan niat membunuh yang begitu jelas di mata mereka. Dai Mee tidak pernah menyangka bahwa dirinya dipaksa bertarung oleh seseorang yang asal usulnya tidak jelas.


“Sebelum pertarungan ini dimulai, aku ingin mengetahui berapa usia monster dengan kekuatan luar biasa sepertimu ini,” Dai Mee jelas penasaran dengan perawakan Yi Fan yang masih menunjukan anak muda, dia tentu bisa membedakan mengenai orang yang merubah wujudnya atau tidak, tapi memastikan dari orangnya sendiri lebih baik.


“Oh, aku cukup muda, usiaku setidaknya masih belum mencapai 100 tahun, sedangkan putriku itu masih 18 tahun, usia yang cukup muda bukan untuk menjadi seorang ayah sepertiku?” Yi Fan tertawa lepas.


Mengingat usianya dan putrinya tidak terpaut terlalu jauh bahkan jika dirinya berjalan dengan Yi An, maka orang-orang akan kebingungan mengenai bagaimana dirinya bisa menjadi seorang ayah, sebab Yi An sendiri nampak lebih dewasa darinya. Hal ini adalah faktor alami bahwa perempuan lebih cepat dewasa daripada seorang laki-laki sepertinya atau mungkin saja dirinya yang terlalu tampan serta awet muda.


Dai Mee meneteskan keringat dingin, “Di usiamu yang semuda ini, kamu sudah memiliki kekuatan yang sangat besar? Dari mana asalmu?”


“Aku berasal dari tempat yang kalian anggap sampah, kalian biasa menyebutnya sebagai Alam Fana sedangkan kami menyebutnya Dunia Fana, tidak ada bedanya juga sih antara kedua sebutan itu, tapi seperti keren saja jika disebut Dunia Fana,” Yi Fan menahan tawanya melihat reaksi Dai Mee yang terlihat terkejut akan perkataannya.


“Sejak kapan Alam Fana mempunyai orang sekuat dirimu?!”


“Sejak aku bernafas, ayolah… tidak usah terkejut bergitu, kalian menganggap tempat tinggal manusia lemah seperti kami sebagai sampah karena itu kalian tidak mau mengakui bahwa ada orang sepertiku bukan?” Yi Fan menunjuk dirinya sendiri.


"Orang-orang menyebutku sebagai monster jenius tak tertandingi selama ribuan tahun lamanya, aku yang telah hidup sangat lama saja tidak bisa mencapai tahapan Dewa Sejati, orang-orang pasti akan menertawakanku karena kalah dengan pemuda yang usianya bahkan belum menyentuh 100 tahun, apalagi dia berasal dari Alam Fana, tempat rendahan yang hanya berisikan orang-orang lemah," Fakta ini menjadi pukulan keras bagi Dai Mee, dia adalah jenius di antara para jenius, tapi jika dibandingkan dengan Yi Fan maka dirinya hanyalah seekor semut yang bermimpi menjadi bapaknya semut.


"Aku harus melenyapkannya saat ini agar orang-orang tidak tahu mengenai sosok monster sepertinya," Batin Dai Mee. Dia percaya bahwa Yi Fan mengatakan yang sebenarnya, karena saat dirinya memukul Yi Fan tadi, dia juga memeriksa tulang di tubuh Yi Fan, tulang tidak bisa berbohong dalam menunjukan usia seseorang.


“Baiklah, sudah cukup basa basinya, sudah siap kamu mati bocah sombong?” Dai Mee menunjuk Yi Fan, auranya merembes keluar dari tubuhnya.


“Kematian adalah hal yang masih belum tercapai dalam kehidupanku, aku sudah siap mati sejak aku dilahirkan, malah aku yang harus bertanya kepadamu,” Yi Fan menunjuk Dai Mei lalu melanjutkan perkataannya “Kakek peyot tua sepertimu ini sudah siap mati atau tidak? Akan kuberi kamu 1 menit lagi untuk hidup, kamu bisa menikmati 1 menit perpanjangan usiamu itu, aku akan dengan sabar menanti di sini,” Yi Fan menyilangkan kedua tangannya seraya menunjukan senyuman mengejek.


Urat di wajah dan leher Dai Mee menonjol keluar, sejak tadi dia telah menahan emosi tapi kali ini emosinya telah berada di puncaknya, dengan penuh amarah dia langsung melesat maju ke arah Yi Fan.


“Sudah diberi perpanjangan usia malah tidak mau!” Yi Fan tentu tidak tinggal diam, dia menciptakan 5 buah pedang Qi yang melayang di atas kepalanya.


Pedang itu satu persatu melesat ke arah Dai Mee. Dai Mee sama sekali tidak kesulitan mengatasi pedang-pedang tersebut, dia hanya mengarahkan tangannya ke depan dan pedang-pedang tersebut hancur ketika bersentuhan dengan tangannya.


“Pertahanan tubuh macam apa itu?” Yi Fan sekali lagi menciptakan pedang Qi, tapi kali ini bertambah menjadi 7 dan juga kekuatannya lebih kuat beberapa kali lipat daripada yang sebelumnya. Yi Fan melesatkan 7 pedang Qi tersebut bersamaan dengan dirinya yang juga ikut melesat dari belakang.


Dai Mee menjadi siaga, instingnya mengatakan bahwa jika serangan Yi Fan kali ini dapat melukainya, "Sebaiknya aku tidak meremehkan serangannya kali ini," Dai Mee segera membentuk pelindung di depannya guna menangkis 7 pedang Qi tersebut.


Terdengar suara ledakan yang cukup keras saat 7 pedang Qi itu bertabrakan dengan tubuh Dai Mee. Asap mengepul di udara, terlihat sosok Dai Mee melesat maju menembus kepulan asap.


“Tidak berhasil?” Yi Fan melapisi tubuhnya dengan Qi dan menambah kecepatan terbangnya.


Tabrakan tak terlerakan, mereka berdua sama-sama terpental ke belakang. Udara dipenuhi oleh aura merah dan hitam yang saling mendominasi satu sama lain, mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain, keduanya sama sekali tidak menyembunyikan nafsu membunuhnya, keinginan untuk melenyapkan keberadaan lawan sangatlah kuat.


Yi Fan mengeluarkan sebuah pusaka pedang dari cincin semestanya. Begitu juga dengan Dai Mei, kedua tangannya kanan dan kirinya kini masing-masing memegang pusaka berbentuk pedang bergerigi dan sebuah suling berwarna hitam.


Mata Yi Fan tertuju pada seruling hitam di tangan kanan Dai Mee, “Pantas saja aku tidak bisa menemukan suling iblis itu, ternyata pusaka itu berada di tanganmu pak tua,” Diam-diam Yi Fan mengalirkan Qi-nya ke dalam pusaka pedangnya.


“Oh … kamu mencari suling ini? Pastinya-”


?!


Ucapan Dai Mei terhenti karena pedang Yi Fan tepat berada di depan wajahnya. Dengan reflek tangan kanannya bergerak menangkis menggunakan suling iblisnya.


Prank…

__ADS_1


Suling itu pecah berkeping-keping tetapi nyatanya masih belum mampu menghentikan pedang Yi Fan yang masih tetap melaju secara vertical mengarah ke wajah Dai Mee.


Dai Mee kelabakan, dia bergerak ke belakang menghindari tebasan tersebut. Pedang Yi Fan menghantam tanah dengan sangat keras dan menghasilkan serangan lain berbentuk sebuah tebasan tipis berwarna merah.


?!


Mata Dai Mee terbuka lebar, dia memegang pedangnya dengan kedua tangannya berusaha untuk menahan serangan tersebut, tapi ternyata serangan itu terlalu kuat sampai membuat pedangnya terbelah menjadi 2.


!!


Dai Mee yang panik langsung melapisi tubuhnya dengan Qi-nya saat sebelum serangan Yi Fan berhasil mengenainya.


Boom…


Badan Dai Mee terpental keras, Yi Fan memanfaatkan situasi itu dan langsung menebas tubuh Dai Mee dengan pedangnya. Terdengar bunyi dentingan keras saat pedang Yi Fan bersentuhan dengan tubuh Dai Mee. Namun, hal itu tidak membuat Yi Fan menghentikan serangannya, dia malah mengalirkan Qi lebih banyak ke dalam pedangnya hingga membuat Dai Mee terpelanting bebas menabrak pohon-pohon di belakangnya hingga tumbang.


Krak…


Pedang Yi Fan retak dan beberapa detik setelahnya pedang tersebut hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. “Apa-apaan?!” Yi Fan tentu terkejut, sebab pedangnya itu merupakan pusaka yang ditempa khusus olehnya dengan batu Roh tingkat dewa, yang artinya ketahanan pusaka pedangnya itu setara dengan tubuh dewa abadi.


Tubuh dewa abadi memiliki ketahanan satu tingkat di bawah kursi singasana penguasa ketujuh yang terbuat dari batu roh tingkat tingkat dewa.


“Aku sangat yakin kedua pusakanya itu tidak akan dapat membuat setitikpun retakan di pedangku,” Saat sedang berpikir, Yi Fan dikejutkan dengan ledakan energi Qi yang berasal dari tempat Dai Mee.


“Ah … sial, kurasa aku telah membangunkan naga yang sedang tidur, pantas saja dia dapat membuat hancur kursi singasananya tadi,” Yi Fan akhirnya hanya bisa menghela nafas, kini dia sadar bahwa yang membuat pedangnya hancur adalah saat berbenturan dengan tubuh Dai Mee, itu artinya tubuh Dai Mee sangat keras atau mungkin juga Dai Mee memiliki tubuh langka yang melebihi ketahanan pusakanya.


Yi Fan melihat Dai Mee yang terbang ke udara, “Kekuatannya semakin bertambah? Dia ini monster ya?” Yi Fan terbang menyusul Dai Mee.


Mata Yi Fan terpaku pada warna langit yang berubah menjadi gelap, itu bukanlah langit yang menjadi gelap melainkan jurus Dai Mee yang berbentuk bola hitam berwarna hitam menutupi langit, terlihat petir-petir yang berasal dari bola hitam itu menyambar daerah di sekitarnya.


Yi Fan tidak tinggal diam, dia melesatkan pedang Qi secara terus menerus ke arah Dai Mee. Puluhan, ratusan pedang telah melesat tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menyentuh tubuh Dai Mee, seperti ada sebuah pelindung kasat mata di sekitar tubuh Dai Mee.


Dai Mee menatap Yi Fan dengan dingin, “Hanya itu saja kemampuanmu? Sekarang giliranku menyerangmu,” Dai Mei melemparkan bola raksasa tersebut ke arah Yi Fan.


Boom…


Ledakan yang sangat hebat terjadi ketika jurus itu mengenai tubuh Yi Fan berserta daerah sekitarnya, bahkan sampai membuat Yi An yang sedang menonton dari jarak jauh terhempas jauh ke belakang, array yang dia pasang tidak mampu menahan hempasan angin ledakan tersebut.


Yi An mengatupkan kedua tangannya dan berharap akan keselamatan ayahnya, dia menjadi khawatir dengan kesalamatan ayahnya itu, karena bagaimana pun juga ayahnya itu hanya memiliki satu nyawa saja dan tidak ada cadangan sama sekali.


Dai Mee turun ke bawah, ledakan dari jurusnya itu ternyata menghasilkan kawah sedalam 50 Meter dengan lebar yang mencangkup seluruh wilayah istananya. Terlihat Yi Fan yang terpakar tak berdaya di dalam kawah dengan tubuh yang masih mengeluarkan listrik hitam akibat efek dari jurus Dai Mee.


“Hmph! Dasar bocah sombong, jurus itu bahkan dapat membunuh penguasa sebelumnya dengan sekali serang, sangat mustahil kamu bisa hidup setelah serangan itu,” Dai Mee berjalan menjauh dari kawah tersebut, dia berencana untuk mencari keberadaan Yi An putri Yi Fan.


Boom…


Kawah itu meledak, keluar sebuah sinar merah yang membumbung tinggi sampai ke langit. Dai Mee tentu langsung menjadi siaga kembali, dia sangat yakin bahwa tidak ada tanda-tanda akan kehidupan Yi Fan, tapi melihat sinar merah barusan membuat dirinya ragu, meskipun dia tidak percaya tetapi sinar merah itu memancarkan aura yang sama persis dengan milik Yi Fan.


Sinar merah itu meredup dan perlahan-lahan menampakan Yi Fan yang sedang mengambang di udara. Yi Fan melirik Dai Mei, mata mereka berdua bertemu dan tiba-tiba saja Yi Fan menghilang begitu saja.


Dai Mei menjadi siaga maksimal, dia menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan Yi Fan, ‘Dimana dia?’ Dai Mee kebingungan sebab dia tidak bisa merasakan hawa keberadaan Yi Fan sama sekali.

__ADS_1


Dari langit muncul sebuah pedang raksasa tepat di posisi Dai Mee. Dai Mee yang merasakan adanya tekanan kuat di atasnya lantas menoleh. Dia melebarkan matanya ketika melihat sebuah pedang raksasa terjun bebas di atasnya.


Dai Mee lantas bergerak sejauh mungkin hingga keluar jangkauan pedang tersebut.


Boom...


Pedang raksasa itu menghantam tanah hingga menghasilkan getaran begitu hebat ditempat itu. Baru saja Dai Mee menghela nafas, tiba-tiba saja sebuah pedang raksasa kembali muncul dan jatuh tepat di atasnya.


Dai Mee berhasil menghindari serangan tersebut untuk yang kedua kalinya. Namun, akhirnya dia dibuat kewalahan, sebab pedang raksasa itu secara terus menerus bermunculan tanpa memberinya waktu untuk beristirahat.


“Sial! Darimana pedang raksasa ini muncul?! Jika terus begini cepat atau lambat aku akan kehabisan tenaga.” Teriak Dai Mee yang mulai frustasi. Karena terlalu fokus menghindar, dia sampai tidak menyadari keberadaan Yi Fan yang berada tepat di belakangnya.


Slebbb…


Dai Mee menundukan kepalanya, terlihat sebuah tangan menembus tepat di jantungnya, “Khhhkk... ba-bagaimana bisa?!” Dai Mee sangat yakin bahwa tubuhnya tidak dapat dilukai oleh apapun karena dia memiliki tubuh dewa abadi, bahkan pedang Yi Fan sendiri saja tidak mampu menembus kulitnya.


“Aku hanya memusatkan seluruh Qi yang ku punya ke telapak tanganku dan juga pernahkah kamu mendengar bahwa terlalu fokus pada satu hal dapat membuatmu melupakan hal yang lainnya?” Yi Fan menarik kembali tangannya yang membuat tubuh Dai Mee terjatuh ke tanah.


Yi Fan melangkah tepat di depan Dai Mee lalu menjambrak kepala Dai Mee dan memaksanya untuk menoleh ke arahnya, “Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku, orang lain juga tidak akan bisa,” Yi Fan menatap Dai Mee dingin dan melanjutkan perkataannya, “Inilah kesenjangan antara aku dan dirimu.”


Yi Fan duduk di dekat Dai Mee, dia menggerak-gerakan tubuhnya yang masih terasa sakit akibat serangan Dai Mee sebelumnya, ‘Serangannya tadi benar-benar hampir membunuhku, bahkan setelah mengorbankan pusaka pertahanan dewaku saja serangan itu masih menimbulkan efek sebesar ini.’


“Yi Fan, aku mengaku kalah darimu, tapi apa kamu pikir ini sudah berakhir?” Tangan Dai Mee merogoh ke dalam jubahnya, terlihat sebuah bola kecil berwarna hitam di tangannya,


Tiba-tiba seluruh energi Qi di sekitar tempat itu terhisap habis dalam waktu singkat masuk ke dalam bola hitam tersebut. Tanpa bisa bereaksi, bola itu meledak dan melahap seluruh wilayah istana bersama dengan Yi Fan di dalamnya.


Setelah ledakan berhenti, terlihat Yi Fan yang berada jauh dari lokasi ledakan, dia terlempar keras akibat ledakan tersebut.


“Sial, sudah mau mati masih nyusahin juga,” Wajah Yi Fan pucat, dia ambruk ke tanah karena Qi di dalam dantiannya terkuras habis, belum lagi sebelumnya dia secara paksa melapisi tubuhnya dengan Qi, tentu saja itu membuat semua meridian yang ada ditubuhnya rusak parah, terlebih lagi efek racun Dai Mee tadi kembali mengikis tubuhnya.


Yi Fan sebenarnya tadi hanyalah menekan racun Dai Mee dengan Qi dan bersikap seolah-olah dia kebal akan racun, tapi yang sebenarnya terjadi adalah dia hanya menekan racun itu untuk sementara waktu, karena jika dia memperlihatkan kelemahannya sedikit saja maka itu akan menjadi kekalahannya.


Mata Yi Fan menyapu daerah di sekitarnya, dia merasakan ada orang yang mengawasinya dan orang itu bukanlah Yi An.


Yi Fan mengusap darah di bibirnya lalu berdiri, “Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa jarak membuat hati semakin dekat …” Yi Fan menoleh ke belakang dan melanjutkan perkataannya, " Berhati-hatilah ketika mendekati seseorang, karena hatimu bisa saja hilang tanpa kamu sadari,” Yi Fan menggunakan sisa-sisa Qi-nya agar dapat terdengar jelas ke telinga orang tersebut.


Yi Fan tersenyum lebar saat tidak merasakan lagi keberadaan orang tersebut. Dia sebenarnya hanya mencoba menakut-nakuti orang tersebut, dia sudah tidak sanggup lagi meladeninya bahkan dia harus memaksakan diri untuk berdiri, jika saja ada binatang buas, maka dia tidak akan mampu mengatasinya karena saat ini hampir seluruh meridiannya rusak serta Qi di tubuhnya terkuras habis.


Yi An terlihat mondar mandir mencari keberadaan Yi Fan, dia panik karena tidak bisa merasakan hawa keberadaan ayahnya tersebut, tapi tiba-tiba saja telinganya mendengar suara seruan yang tidak asing baginya, seruan itu merupakan seruan dari ayahnya yang ternyata berada di luar wilayah istana dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.


“Yi An, tolong carikan tubuh Dai Mee dan bawakan kemari,” Dia cukup yakin bahwa yang meledak tadi bukanlah tubuh Dai Mee melainkan sebuah benda berbentuk bola kecil di tangan Dai Mei dan juga dia sangat yakin bahwa tubuh keras Dai Mee dapat mengatasi ledakan tersebut.


Yi An mengangguk, “Em … baik.”


Beberapa saat kemudian, Yi An kembali lalu mengeluarkan tubuh Dai Mee dari cincin semestanya. Yi Fan cukup terkejut karena ternyata Dai Mee masih hidup, itu terlihat dari matanya yang menoleh ke arahnya.


“Kakek tua, untung saja kamu belum mati, setidaknya kematianmu masih berguna untukku,” Yi Fan memegang kepala Dai Mee, “Hisap!”


Tubuh Dai Mee menjadi kering menyisakan kulit dan tulangnya sedangkan tubuh Yi Fan malah sebaliknya, sebab luka-luka di tubuh Yi Fan terlihat berkurang walaupun tidak signifikan. Yi An sendiri hanya memasang wajah acuh dan tak acuh, dia sudah terbiasa akan kekejaman ayahnya itu. Mungkin orang-orang melihat ayahnya sebagai mesin pembunuh yang sempurna tetapi tidak dengannya, baginya Yi Fan adalah seorang yang istimewa baginya.


Mata Yi Fan tertuju pada Jubah hitam di mayat Dai Mee, “Jubah ini tidak hancur?” Yi Fan mengambil jubah hitam itu, lalu mengenakannya.

__ADS_1


Angin berhembus kencang yang membuat jubah itu berkibar memperlihatkan Yi Fan yang sedang berdiri gagah bersama dengan Yi An di belakangnya, sekarang dia resmi menyandang sebagai penguasa ketujuh di alam surgawi.


__ADS_2