
Sesampainya di depan gua, mereka berhenti.
"Guru ada di dalam tapi, aku tidak bisa menghilangkan Formasi ilusi yang kupasang karena kondisiku saat ini," kata Xue Jian.
"Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Han Shu.
"Aura kehidupannya sangat kecil dan semakin memudar. Dia seperti sedang sekarat," batinnya.
"Kau akan tahu ketika melihatnya nanti. Beri aku waktu tiga hari untuk memulihkan lukaku," jawab Xue Jian dengan air mata yang tiba-tiba mengalir. Namun, ia segera mengusapnya.
Han Shu mendekat ke arah gua dan mengecek formasinya. Beberapa saat setelah mengecek, Han Shu memusatkan energi Qi pada tangan kanannya.
"Tiga hari terlalu lama untukku, aku ingin cepat menemuinya. Aku bisa menghancurkannya, walaupun cara ini butuh pengorbanan," batinnya.
Setelah energi Qi yang dikumpulkan telah cukup, Han Shu langsung menghantamnya dengan keras.
Boom!
Sesaat setelah pukulan itu mengenainya, formasi itu langsung hancur. Dibarengi dengan banyak darah yang keluar dari mulut Han Shu.
Whuekk!
Ia memuntahkan darah itu hingga tidak tersisa di mulutnya. Tangan kanannya juga patah dan mengeluarkan banyak darah.
"Apa yang kau lakukan!?" Xue Jian yang melihatnya sangat terkejut sekaligus tertekan dengan yang dilakukan oleh Han Shu.
"Mengapa kau memaksakan diri? Padahal aku bisa membukanya tiga hari lagi."
Namun, Han Shu tidak mempedulikan perkataan Xue Jian. Ia langsung masuk ke dalam gua dan melihat keadaan teman lamanya, Jing Tian.
Terlihat seorang kakek tua dengan rambut putih panjang sedang terbaring lemah di atas sebuah batu dengan alas kain.
Tubuhnya kering keriput namun, ia masih bernafas.
"Apa yang terjadi padanya!!!"
Amarah Han Shu meluap-luap, energi Qi nya keluar tidak terkendali hingga membuat gua itu bergetar.
"Apa yang terjadi di sini? Bos, kita keluar saja dari sini. Sepertinya gua ini akan runtuh." Prajurit yang menggendong Xue Jian panik.
"Tidak, kita tetap di sini. Kalau kau ingin pergi turunkan saja aku." Xue Jian menolak.
__ADS_1
Prajurit itu kemudian menurunkan Xue Jian di atas batu yang tidak jauh dari sana dan kemudian ia berlari keluar dari gua. Xue Jian duduk bersila di atas batu itu.
"Maaf bos, aku masih sayang dengan nyawaku..."
"Tuan, tenangkanlah dirimu. Aku akan menceritakan kejadian yang menimpa guruku," pinta Xue Jian. Karena dirinya pernah kalah, ia menjadi sopan ketika berbicara.
Han Shu meredakan amarahnya secara perlahan dan gua berhenti bergetar.
"Kau tidak perlu menceritakannya, aku akan menanyakannya langsung," kata Han Shu.
"Tapi bagaimana caramu bertanya? Padahal guru sudah sepuluh tahun tertidur." Xue Jian bertanya-tanya.
Sementara, tanpa mendengarkan perkataan Xue Jian, ia memeriksa tubuh Jing Tian.
Ketika ia membuka pakaian Jing Tian, setengah tubuhnya berwarna hitam pekat. Hanya kepala dan dada yang masih belum berwarna hitam.
"Ini... Racun. Tapi ini racun apa? Aku tidak tahu sama sekali." Han Shu terkejut setelah memeriksa tubuh Jing Tian.
"Aku akan menanyakannya."
Han Shu kemudian menekan kening Jing Tian dengan jari telunjuknya dan setelah itu ia memejamkan mata. Sinar cahaya berwarna kuning muncul dari jari telunjuk Han Shu dan masuk ke dalam kepala Jing Tian.
"Ini alam bawah sadarnya, tapi di mana orangnya?"
Han Shu mencarinya dengan mendatangi gubuk itu. Terlihat di belakang gubuknya, Jing Tian sedang memancing ikan. Ia duduk di atas sebuah batang kayu sebari memegang pancingannya.
Han Shu mendekat dan berdiri di belakang Jing Tian.
"Siapa kau? Untuk apa kau masuk ke sini? Keluarlah kalau kau tidak ingin di sini." Jiang Tian marah dan memperingati Han Shu untuk keluar dari alam bawah sadarnya.
"Baiklah, aku akan keluar," kata Han Shu.
Saat Han Shu berbalik dan ingin pergi, Jing Tian menghentikannya.
"Tunggu, aura ini... Apa itu kau, Xin Feng?" tanya Jing Tian. Ia berbalik untuk melihat wajah Han Shu namun, yang dia harapkan tidak menjadi kenyataan.
"Rupanya aku salah orang, auramu mirip sekali dengan musuh lamaku," Jing Tian kembali berbalik dan fokus pada pancingannya.
"Memang siapa musuh lamamu kalau aku boleh tahu?" tanya Han Shu berpura-pura tidak tahu.
"Namanya Xin Feng, dia orang yang kuat dan kejam. Dia selalu menimbulkan masalah dimana pun dia berada. Menghancurkan sekte lah, menghancurkan kekaisaran lah, atau apapun selain itu."
__ADS_1
"Dia selalu mencari musuh di mana-mana. Mungkin puluhan ribu bahkan sampai ratusan ribu kultivator mati di tangannya. Bahkan orang-orang menyebutnya sebagai Kaisar Iblis."
Jing Tian menceritakan tentang Xin Feng.
"Aku sudah pernah melawannya bahkan hingga ratusan kali tetapi selalu kalah dan aku selalu berhasil kabur. Aku tidak tahu dia melepaskanku atau dia memang tidak bisa mengejarku." lanjutnya.
Han Shu kemudian duduk di samping Jing Tian dan merangkul pundaknya.
"Ternyata kau masih ingat denganku, kukira kau sudah melupakanku." Kata Han Shu.
Jing Tian tidak terkejut lagi, ia sangat percaya kalau yang ada di sampingnya sekarang adalah Xin Feng. Tetapi, ia memastikannya terlebih dahulu.
"Ternyata itu benar kau. Yah... Tidak mungkin juga ada orang yang memiliki aura sepertimu. Jadi, apa yang terjadi padamu? Mengapa kau bisa ada di Dunia Fana ini?" tanya Jing Tian.
"Aku sudah mati di Dunia Dewa dan beringkarnasi ke tubuh ini," jawab Han Shu sembari memandang ke tengah laut.
"Kau benar-benar berhasil naik ke alam sana. Aku tidak menyangkanya kau bisa melakukannya. Berapa lama kau bisa naik ke Dunia Dewa?"
"Kurang dari seribu tahun," balas Han Shu singkat.
"Bagaimana mungkin! Kau benar-benar monster!" Jing Tian sangat terkejut dengan jawaban Han Shu.
"Tapi siapa orang yang berhasil membunuhmu? Aku sangat senang kau bisa mati, hahaha." Jing Tian tertawa kecil.
"Tapi sekarang kau ada di sini. Apa kau akan mengubah hidupmu menjadi lebih baik?" tanya Jing Tian dengan penuh harap. Wajahnya berkeringat dingin.
"Kupikir aku akan menguranginya saja," jawab Han Shu setelah beberapa saat memikirkannya.
"Aku tidak percaya dengan bualanmu itu. Tapi aku berharap kau akam menjadi orang baik."
Mereka mengobrol dengan santai dan sesekali mereka sampai tertawa terbahak-bahak mengingat masa lalu.
Tiba-tiba kail pancing Jing Tian tertarik oleh ikan. Jing Tian segera menarik pancingannya dengan cepat dan mendapati ikan yang lumayan besar.
"Mancing mania, mantap!"
Han Shu hanya terdiam saja, wajahnya terkena cipratan air laut dari ikan yang ditangkap Jing Tian.
"Aku tidak bisa terlalu lama berada di sini karena aku masih sangat lemah," kata Han Shu.
"Apa kau ingin pergi?" tanya Jing Tian. Ia berharap Han Shu bisa menemaninya sedikit lebih lama lagi.
__ADS_1