
"Ya, aku akan keluar. Tapi sebelum itu, bisakah kau ceritakan padaku kehidupanmu ketika di dunia ini dan bagaimana caramu sampai ke dunia ini?" tanya Han Shu.
"Itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk menceritakannya."
"Kalau begitu aku tanya satu hal saja, racun apa yang ada pada tubuhmu?" tanya Han Shu serius.
Seketika Jing Tian terdiam, kemudian ia menjawab, "Aku terkena Racun Kristal Mawar Hitam."
"Apa!? Bukankah racun itu mudah untuk di sembuhkan? Tapi, aku tidak pernah melihat gejala yang ada pada tubuhmu. Apa benar itu Racun Mawar Kristal Hitam?" Han Shu sedikit terkejut.
Racun Mawar Kristal Hitam adalah racun yang berasal dari bunga mawar yang memiliki warna seperti kristal hitam. Racun itu dapat menghambat dan menghilanhkan energi dalam tubuh seorang kultivator.
Akan tetapi, efeknya hanya berpengaruh sedikit saja pada tubuh dan obatnya mudah dibuat oleh siapapun yaitu dengan bahan bunga itu sendiri.
"Ini benar Racun Mawar Kristal Hitam. Aku terkena racun ini ketika melawan seseorang di Dunia Fana ini seratus tahun yang lalu," jawab Jing Tian.
"Jadi kau sudah ada di sini seratus tahun lalu. Lalu mengapa kau tidak membuat obatnya?" tanya Han Shu kembali.
"Bunga itu tidak ada di Dunia Fana ini. Aku telah mencarinya bahkan sampai mengelilingi dunia ini tapi masih belum menemukannya," jawab Jing Tian sembari melempar pancingannya lagi.
"Tanpa sadar, kakiku tiba-tiba menghitam dan sampai saat ini sudah menghitam hingga perut," lanjut Jing Tian.
"Lalu, sejak kapan kau terbaring lemah di sini?"
"Sudah sepuluh tahun aku di sini. Muridku selalu melindungiku dan dia juga berusaha mencari obat untukku tetapi itu hal yang mustahil."
"Apa benar dia mencari obatnya? Yang aku tahu dia menjadi buronan kekaisaran karena membuat banyak kerusuhan." Han Shu memberitahu sebuah kebenaran.
"Ternyata begitu... Dia pasti berusaha membalaskan dendam ke orang yang meracuni—"
Dan sekali lagi, kail pancing Jing Tian tertarik oleh ikan. Ia langsung menariknya pancingannya. Tetapi yang di dapatkannya hanya ikan kecil, ia kemudian melepaskannya kembali.
"Siapa yang berani meracunimu? Bagaimana orang itu bisa mendapatkan racun itu sedangkan di dunia ini tidak ada bahan pembuat racunnya?" tanya Han Shu dengan wajah serius.
"Dia—"
Tiba-tiba angin bertiup kencang diserati ombak yang menerjang pulau kecil itu. Hingga membuat pakaian mereka basah kuyup.
__ADS_1
Tak berhenti hanya di situ saja, sebuah ombak besar jauh dari pulau terlihat dan akan segera menghantam pulau kecil itu.
"Sepertinya aku tidak bisa mempertahankan tubuh dan alam bawah sadarku lagi. Sebaiknya kau segera keluar dari sini," pinta Jing Tian.
"Apa kau tidak bisa menahannya sedikit lebih lama lagi? Aku akan mencarikanmu obat." Han Shu sedikit sedih dengan keadaan Jing Tian yang akan segera tiada.
"Aku tidak bisa."
Langit yang tadinya biru cerah menjadi gelap dan semakin gelap. Ombak pasang yang jauh kini semakin dekat.
Tiba-tiba Jing Tian menjentikkan jarinya pada kening Han Shu.
"Itu hadiah perpisahan kita. Tolong jaga muridku dengan baik. Dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Selamat tinggal, Xin Feng." Jing Tian tersenyum senang.
Seketika Han Shu kembali ke dunia nyata. Ketika ia membuka matanya, tubuh Jing Tian perlahan mulai menghilang.
Han Shu melihat jiwa Jing Tian meninggalkan tubuhnya dengan senyuman yang berseri-seri.
Air mata mulai membendung di kedua mata Han Shu. Namun, Han Shu tetap menahannya agar tidak menangis.
"Aku akan membalaskan dendammu!" ucapnya penuh tekad. Kedua tangannya mengepal kuat seperti ingin memukul sesuatu.
Hadiah perpisahan yang diberikan oleh Jing Tian adalah beberapa ingatannya ketika berada di Dunia Fana.
Ketika Jing Tian ingin kabur dari kejaran Xin Feng, ia menggunakan jurus terlarang Pemecah Dimensi. Ketika ia membuka mata, ia sudah berada di Dunia Fana. Kultivasinya juga ikut menurun drastis.
Ia berkelana mengelilingi dunia untuk mencari cara kembali ke Dunia Immortal. Namun, saat ia berkelana di kekaisaran Han, seseorang yang mengenal dirinya datang dan menyerangnya.
Orang itu menggunakan racun pada senjatanya. Jing Tian terkena beberapa sayatan pada tubuhnya sehingga racun itu masuk ke dalam tubuhnya.
Setelah Jing Tian terkena racun, orang itu pergi meninggalkannya dengan senyuman bahagia seperti sudah memenangkan pertempuran.
"Sudah pasti orang ini juga berasal dari Dunia Immortal. Tapi aku tidak mengenalinya dengan jelas karena ingatannya buram."
"Tapi yang pasti, dia berada di Kekaisaran ini. Aku pasti akan membunuhnya! Pasti!" Han Shu bertekad.
Sementara, Xue Jian yang melihat tubuh gurunya menghilang merasa kebingungan dan juga merasa sangat sedih.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada guru!?" Ia turun dari atas batu tempatnya duduk dan berjalan merangkak ke tempat gurunya yang menghilang.
Ia berusaha mendekat dengan seluruh tenaganya.
"Apa yang terjadi pada guru!?" Xue Jian menanyakannya lagi.
"Dia sudah melepaskan penderitaannya selama ini. Aku harap kau tidak menangisi kematian gurumu. Itu adalah permintaan terakhirnya." Han Shu berbohong.
Namun, ia tetap menangisinya. Air mata terus keluar hingga membasahi pipinya dan juga sampai pada pakaiannya.
Han Shu hanya terdiam menunggu Xue Jian selesai menangisi gurunya. Hingga tanpa sadar darah pada tangannya mulai mengering.
"Sampai kapan kau akan menangis?"
"Ini semua pasti karena kau!" Xue Jian menuduh Han Shu yang membunuh gurunya.
"Ya, ini salahku."
Han Shu mengiyakannya. Tetapi, secara tidak langsung, pengakuan Han Shu adalah kebenaran. Kalau bukan karena dia, Jing Tian tidak akan datang ke dunia ini dan mengalami kejadian ini.
"Ini memang salahku, tapi aku tidak akan meminta maaf," lanjutnya.
Xue Jian menggertakan giginya dan berniat membalas dendam kepada Han Shu tetapi ia tidak memiliki tenanga apapun untuk melakukannya.
"Terserah mau kau menyalahkanku atau tidak, aku tidak peduli. Aku akan pergi dari sini sesegera mungkin untuk mencari pelaku yang meracuninya." Han Shu beranjak pergi dari gua meninggalkan Xue Jian.
Di luar gua Han Shu berhenti. Hari sudah menjelang pagi, Ia melihat ke belakang karena mengira Xue Jian akan mengikutinya tetapi kenyataannya tidak.
"Sepertinya dia sudah memutuskan rencana ke depannya. Kalau begitu aku akan kembali ke camp."
Setibanya di camp, ia bertanya tempat Yueyin beristirahat pada para prajurit. Kemudian ia segera menemuinya. Sebelum itu, ia menyuruh salah satu prajurit untuk menjemput Xue Jian.
Ketika memasuki camp tempat Yueyin beristirahat, ia mendapati Yueyin yang sedang mengobati luka-lukanya.
"Apa kau sudah tidak apa-apa?" tanya Han Shu.
"Aku tidak apa-apa, tuan." jawab Yueyin datar sembari membalut luka pada lengannya dengan menggunakan kain.
__ADS_1