
Di ruangan yang gelap, tetesan air sesekali terjatuh menimpa air di bawahnya. Yueyin membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Lantainya dipenuhi dengan air, tetapi tubuh Yueyin tidak basah karenanya.
"Di mana aku? Apa aku sudah mati?"
"Apa ini dunia setelah kematian? Ibu, ayah, adik, di mana kalian?"
Yueyin berusaha untuk duduk tetapi tidak kuat untuk melakukannya. Ia terbaring lemas di sana. Ia melihat ke arah perutnya untuk mengecek lukanya tetapi, tidak ada bercak darah di sana.
"Jadi, aku benar-benar sudah mati."
Yueyin teringat kembali dirinya telah menusuk perutnya sendiri dengan belati. Namun, sekarang sudah tidak ada bekasnya sama sekali yang menandakan dirinya sudah mati.
"Ibu, ayah, adik..."
Yueyin kembali memanggil mereka namun, tidak ada jawaban apapun. Yang bisa ia dengar hanyalah tetesan air yang sesekali terjatuh.
"Kukira aku bisa bertemu kalian setelah aku mengakhiri hidupku. Tapi ternyata itu tidak benar. Maafkan Yueyin karena telah meninggalkan kalian waktu itu..."
Yueyin meringkuk dan memeluk tubuhnya yang lemah. Suaranya perlahan semakin pelan. Air matanya mulai menetes membasahi pipinya. Ia sangat menyesal karena meninggalkan mereka tanpa meminta izin.
"Aku rindu kalian..."
Yueyin sangat merindukan mereka. Ia kemudian memejamkan matanya dan terus begitu dalam waktu yang lama hingga ia tidak bisa mengingat berapa lama ia seperti itu.
"Yueyin..."
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang memanggil namanya. Yueyin langsung membuka matanya karena suara itu terdengar tidak asing. Ia sangat merindukan suara itu selama bertahun-tahun ia tidak mendengarnya lagi.
"Ibu!"
Dari kejauhan, terlihat seorang wanita berdiri membelakangi Yueyin. Wajahnya tidak terlihat tetapi Yueyin tahu kalau wanita itu adalah ibunya.
Kemudian muncul seorang pria di samping wanita itu yang juga menghadap membelakangi Yueyin. Ia adalah ayah dari Yueyin.
"Ayah..."
Yueyin bergegas berdiri untuk mendekat ke arah mereka tetapi ia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melakukannya.
Kemudian muncul lagi seorang seorang anak perempuan yang menggandeng tangan mereka berdua. Yueyin benar-benar senang melihat keluarganya kembali.
"Kakak..."
__ADS_1
Anak itu berbalik dan memanggil Yueyin dengan senyuman hangat. Yueyin berusaha sekuat tenaga mendekat ke arah mereka dengan merangkak. Namun, mereka tiba-tiba berjalan menjauh dari Yueyin.
Jarak mereka semakin menjauh dan Yueyin memaksakan diri untuk berdiri dan mengejar mereka dengan berlari.
Namun, Yueyin tidak bisa mengejarnya secepat apapun ia berlari. Hingga Yueyin pun terjatuh karena keseimbangannya goyah dan jarak mereka semakin jauh.
"Ibu! Ayah! Adik!"
Yueyin berteriak dengan seluruh tenaganya memanggil mereka. Mereka tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap ke arah Yueyin.
Mereka tersenyum hangat pada Yueyin tanpa berkata apapapu. Yueyin pikir mereka akan berjalan ke arahnya. Namun, mereka berbalik dan berjalan lagi menjauh dari Yueyin. Hingga, mereka tidak dapat dilihat lagi oleh Yueyin.
"Aku minta maaf..." Yueyin kembali meringkuk dalam kesendiriannya dan tidak berpikir untuk bangun lagi.
.........
Tiba-tiba Yueyin terbangun kembali dengan perut yang dibalut oleh sebuah kain baju. Di sampingnya ada Han Shu yang sedang menyerap Batu Spiritual.
Batu Spiritual yang sebelumnya menumpuk, memenuhi ruangan, sekarang hanya tersisa seperempatnya saja.
"Apa aku masih hidup? Bagaimana bisa?"
Yueyin akhirnya benar-benar tersadar dari pingsannya. Namun, ia masih kebingungan dengan kejadian yang ia alami barusan.
Yueyin memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya untuk melihat situasi kota melalui jendela.
Yueyin berjalan pelan menuju jendela ruangan itu secara perlahan. Ia sangat terkejut setelah melihat pancaran cahaya berwarna merah menjulang tinggi ke langit.
"Apa yang telah terjadi di sini!? Apa Pengorbanan Jiwa sudah selesai!?" Yueyin terkejut dan bertanya-tanya.
"Tuan! Tuan! Apa yang telah terjadi di sini selama aku pingsan!? Berapa lama aku pingsan?" Yueyin membangunkan Han Shu yang sedang menyerap Batu Spiritual.
Karena fokusnya terganggu, Han Shu menghentikan penyerapan Batu Spiritualnya. Ia kemudian menanyakan alasan Yueyin membangunkannya karena sebelumnya, ia benar-benar fokus pada penyerapan.
"Mengapa kau membangunkanku!?" Han Shu sedikit kesal.
"Tuan, apa yang sebenarnya telah terjadi!? Berapa lama aku pingsan!?" tanya Yueyin dengan panik.
"Seharunya ini sudah tiga hari. Memangnya ada apa?" Han Shu tidak mengetahui alasan kepanikan Yueyin.
"Lihatlah keluar!"
__ADS_1
Han Shu melihat ke arah luar jendela dan ia sedikit terkejut melihat pancaran cahaya merah yang menjulang tinggi ke langit. Sesegera mungkin ia kembali tenang.
"Sudah dimulai kah...
Fenomena itu telah terjadi beberapa menit yang lalu. Semua orang di Kekaisaran Han takjub dengan fenomena itu.
Ada yang mengira kalau fenomena itu adalah munculnya harta berharga namun ada juga yang mengganggap fenomena itu akan membawa petaka.
Kaisar Han yang sedang duduk di tahtanya tiba-tiba terkejut karena merasakan energi yang tidak mengenakan.
"Energi apa ini!? Energi kebencian yang sangat kuat! Dari mana ini berasal?"
Kaisar Han keluar dari istana untuk mencari tahunya. Setelah keluar, ia melihat pancaran cahaya merah di arah selatan. Ia merasa akan ada kekacauan di Kekaisaran.
Kaisar Han bergegas masuk ke dalam istana lagi dan memanggil semua orang-orang penting di Kekaisaran.
Setelah menunggu beberapa menit, mereka berkumpul di dalam ruang utama istana Kekaisaran. Namun, ada juga yang tidak datang karena kesibukan yang mengharuskan tidak berkumpul.
"Terima kasih karena kalian sudah datang. Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kirimkan pesan ke seluruh panatua sekte di Kekisaran ini untuk berkumpul di sini! Gunakan Titahku!"
"Memangnya ada apa yang mulia? Apa ada keadaan darurat?" tanya salah seorang dari mereka.
"Aku merasakan Energi kebencian yang sangat kuat di wilayah selatan. Itu Energi yang sangat kuat bahkan tubuhku bergetar saat merasakannya."
"Apa Energi itu berasal dari pancaran cahaya merah itu? Apa yang mulia bisa menebak dari mana Energi itu berasal?" Orang itu kembali bertanya.
"Itu benar, aku merasakannya dari pancaran cahaya itu. Aku hanya bisa menebak kalau itu berasal dari Ras Iblis." Kaisar Han menjawab dengan ekspresi serius sekaligus khawatir tebakannya benar.
"Apa! Bagaimana mungkin! Bukannya Ras Iblis sudah di segel di tempat yang bahkan tidak kita ketahui! Bagaimana bisa mereka kembali!" Orang itu terlihat begitu terkejut.
"Tenangkan dirimu, itu hanya tebakanku saja. Aku juga berharap kalau itu bukan mereka. Tapi, menurut buku catatan yang kubaca, Energi Kebencian seperti ini berasal dari mereka."
Kaisar Han merasa sangat yakin setelah mengingat buku tentang Ras Iblis yang ia baca puluhan tahun yang lalu. Tetapi, sekarang buku itu telah hilang entah kemana.
"Kalian lakukan tugas kalian, aku akan pergi untuk memeriksanya. Jika mereka sudah berkumpul, suruh mereka untuk pergi ke arah pancaran cahaya itu."
"Dan juga, beritahu seluruh orang di wilayah ini untuk kembali ke rumahnya secepat mungkin. Jangan sampai ada orang yang menuju pancaraan cahaya itu!"
Setelah mengatakan itu, Kaisar Han melesat dengan cepat menuju pancaran cahaya itu.
"Baik Yang Mulia."
__ADS_1
Semua orang penting di istana menunduk memberikan penghormatan kepergian Kaisar Han. Kemudian mereka mulai mengerjakan tugas mereka.
Namun, banyak orang di Kekaisaran Han yang sudah beranjak pergi menuju pancaran cahaya itu karena rasa penasaran dan juga harapan akan kemunculan harta berharga.