
Di tempat Han Shu, ia sedang dilema dengan perkataan yang ia dengar sebelumnya. Ia sedang memikirkannya dengan serius.
"Mengapa aku terus memikirkan perkataan itu... Sadar Han Shu, Sadar!" Hingga kepalanya terasa pusing.
Tiba-tiba, bayangan yang mirip dirinya muncul di depannya. Ia memiliki kesadaran kepribadian gandanya.
"Kau adalah Xin Feng, sejak kapan namamu berubah?! Kau tidak akan pernah bisa berubah, mau itu namamu ataupun perbuatanmu. Apa kau melupakan penderitaanmu waktu itu? Puluhan tahun kau merasakan rasa sakit setiap hari, setiap saat, setiap waktu. Apa kau akan melupakan semua itu?!"
"Berisik kau! Kau bukan siapa-siapa bagiku!"
"Aku adalah kau dan kau adalah aku. Kita adalah satu kesatuan. Kita berbagi penderitaan selama ini. Berjuang bersama dalam kegelapan. Apa kau akan melupakan hal itu? Aku yang terus ada bersamamu, bukan orang lain."
"Diamlah!" Han Shu memukul bayangan dirinya dan seketika menghilang.
"Kau tidak akan pernah bisa berubah, sekeras apapun usahamu, kau akan tetap seperti dulu."
Bayangan dirinya kembali muncul di belakangnya. Han Shu kemudian berbalik dan melesatkan pukulannya kembali.
"Lakukan lah seperti dulu, jadilah seperti dirimu yang dulu, Xin Feng." Bayangan dirinya terus muncul sekeras apapun ia berusaha menghilangkannya.
Han Shu akhirnya menyerah, ia berdiri sembari menundukkan kepalanya karena terus memikirkan hal yang sebaiknya ia lakukan.
"Tidak ada kebahagiaan dalam takdirmu. Takdirmu hanyalah sebagai kehancuran! Selamanya akan tetap seperti, berapa kalipun kau dilahirkan kembali."
"Sekarang bukan waktunya memikirkan perubahan, lakukan saja seperti yang biasa kau lakukan." Perkataanya terus menerus muncul tanpa henti.
Namun, Han Shu tidak membalas apapun perkataannya. Ia berusaha menutup semua indranya agar tidak merasakan apapun. Ia membayangkan dirinya berada dalam kegelapan untuk menenagkan diri.
Tetapi, ketika Han Shu membuka mata, tiba-tiba di sekelilingnya menjadi gelap, tidak ada yang bisa ia lihat, tidak ada yang bisa ia rasakan.
"Di mana ini?"
Tiba-tiba nampak seberkas cahaya di depannya dan mulai membentuk gambaran kenangan. Itu adalah kenangan Han Shu di masa lalu.
Berbagai kenangan ketika ia dalam siksaan hingga ketika ia dewasa disaksikan langsung olehnya. Satu persatu kenangan silih berganti.
Tiba-tiba ia terkejut, tubuhnya gemetar ketika melihat dirinya membuat kekacauan yang menyebabkan ribuan manusia mati dalam penderitaan yang amat pedih.
Jeritan, tangisan, dan teriakan ribuan orang, ia dengar secara bersamaan seperti menyaksikan langsung ditempat kejadian.
__ADS_1
Puluhan bahkan ratusan kenangan telah Han Shu saksikan. Wajahnya berkeringat dingin, ia ingin menghilangkan kenangan dirinya yang ada di depannya.
"Hentikan!" Han Shu melesatkan pukulan ke arah kenangan itu tetapi tidak bisa mengenainya. Ia melesatkan pukulan ke segala arah namun, tetap tidak memberi efek apapun.
Han Shu mencoba keluar dari tempat itu dengan segala cara juga tidak bisa. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia terjebak di dalam sana, mungkin selamanya.
"Mengapa aku tidak bisa keluar!"
"Siapa orang yang menjebakku di sini!"
Han Shu melepaskan energi yang begitu kuat dan berniat menghancurkan seluruh tempat itu. Ia menyerang setiap sudur dengan kekuatan penuhnya tetapi tetap saja serangannya tidak berpengaruh apapun.
"Sialan!"
Kenagan dirinya terus muncul dan ia menyaksikannya terus menerus tanpa hneti. Ia bahkan tidak bisa tidur sengantuk apapun dirinya.
Satu tahun kemudian, kenangan dirinya terus menerus muncul dan belum berhenti sampai sekarang. Mata Han Shu terasa terbakar karena tidak bisa tidur selama setahun penuh. Juga karena air mata yang keluar karena menangis.
Han Shu tidak menyadari kalau kekacauan yang ia perbuat di masa lalunya akan membuat hatinya bergetar dan menangis berhari-hari karena rasa bersalah.
Han Shu terus menerus menghabiskan waktunya melihat kenangan dirinya yang membunuh ratusan ribu jiwa.
Siapa yang menjebaknya? Mengapa dia melakukannya padanya? Pertanyaan itu tidak penting lagi baginya.
"Aku mohon... Hentikan itu..."
"Aku mohon... Aku sudah tidak kuat lagi melihatnya..."
Rintihan suaranya terdengar kecil dan semakin kecil. Tidak ada balasan apapun, ia sendirian di sana. Kesadarannya mulai menipis namun, ia tidak bisa pingsan.
Tiba-tiba, semua tempat menjadi terang. Temlat itu berubah menjadi padang rumput yang sangat luas dan di tengahnya terdapat pohon besar yang menjulang tinggi.
Seorang pria tua terlihat berteduh di sana. Han Shu langsung menghampirinya dan bertanya, "Apa kau orang yang menjebakku di sini?" Pertanyaan itu kembali penting karena ada orang yang bisa ditanyai.
Namun, pria itu tidak membalasnya. Ia terleihat sedang tertidur pulas. Han Shu berniat memukul wajahnya untuk membangunkannya tetapi, saat pukulannya hampir mengenai wajahnya, sehelai daun jatuh mengenai pukulannya.
Han Shu langsung terpental kebelakang hingga terjatuh. Pria itu membuka mata dan mulai bangun menghampiri Han Shu.
Ia menawarkan tangannya untuk membantu Han Shu berdiri.
__ADS_1
"Pegang tanganku."
Han Shu meraihnya dan ia berusaha berdiri. Pria itu tiba-tiba langsung mengajukan pertanyaan.
"Apa kau telah sadar apa yang telah kau lakukan selama ini? Jeritan, rintihan, terus menerus kau dengar hingga satu tahun penuh. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Untuk apa kau memperlihatkanku masa laluku?" Han Shu yang tidak ingin menjawab lebih memilih bertanya.
"Terkadang kita melihat seorang penjahat tetapi, ia tidak menyadari kejahatannya. Seperti dirimu, kau termasuk orang seperti itu. Apa sekarang kau telah sadar bahwa dirimu seorang penjahat?"
"Aku sangat tersiksa dengan kenangan itu. Bahkan sampai sekarang aku masih mengingatnya dengan jelas rintihan dan jeritan mereka. Saat ini aku sedang memikirkan itu, apa aku bisa berubah?" Han Shu memperlihatkan wajah memelas akan kenangan yang masih muncul dalam ingatannya.
"Semua orang bisa berubah, tergantung bagaimana kita berusaha. Jika hanya setengah-setengah seperti yang kau lakukan di masa lalu, kau tidak akan pernah bisa berubah. Minta tolonglah kepada orang lain untuk mengajarimu." Pria itu berjalan kembali ke pohon besar untuk berteduh.
"Sayangnya aku tidak bisa mengatakan hal itu. Kata yang sederhana tetapi sangat sulit untuk diucapkan, apalagi dengan ketulusan." Han Shu mengikuti pria itu di belakangnya.
"Kau hanya harus berusaha untuk mengatakannya, orang yang kau mintai tolong pasti sadar dengan ketulusanmu. Sepertinya, sekarang sudah waktunya aku pergi." Pria itu berpamitan.
"Apa kau akan pergi? Lalu bagaimana caraku kembali?" tanya Han Shu.
"Duniamu saat ini akan mengalami kekacauan, karena kedatangan Ras Iblis. Tolong hentikan kekacauan itu, ini juga untuk menebus kesalahanmu di masa lalu. Aku percayakan kedamaian Dunia Fana padamu, Xin Feng."
Pria itu berubah menjadi wujud aslinya dan seketika Han Shu terkejut. Ia adalah Penguasa Dunia Dewa yang membunuh dirinya. Ia terbang ke langit dan keberadaannya semakin menghilang.
"Ternyata itu kau! Walaupun kau membantuku, dendamku padamu akan tetap ada! Ingat itu! Tapi, terima kasih untuk yang tadi." Han Shu tersenyum. Itu adalah rasa terima kasih yang tulus darinya. Ia bahkan tidak menyadarinya.
"Aku nantikan pertemuan kita selanjutnya," kata Penguasa Dunia Dewa.
Ketika ia menghilang, tiba-tiba Han Shu kembali ke dunia aslinya, di tempat dan waktu yang sama.
"Aku kembali!"
Han Shu mengecek keluar untuk memeriksa tetapi, tidak ada hal yang berubah. Ia kemudian berpikir untuk menghentikan kekacauan yang akan terjadi.
"Sekarang aku masih sangat lemah. Bagaimana caraku untuk menghentikan kedatangan Ras Iblis?"
"Walaupun Ras mereka tidak sekuat seperti di Dunia Atas, setidaknya kekuatan mereka di tingkat Soul Formation. Bagaimana aku menghentikan mereka jika jumlahnya banyak?"
"Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah menghentikan Pengorbanan jiwa dari sekarang, atau menutupnya dengan paksa."
__ADS_1
"Kalau kuhentikan sekarang, sepertinya tidak akan bisa. Mereka sudah di tahap akhir. Aku harus menutup paksa ketika Pengorban Jiwa dimulai. Tapi, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyiapkannya."