
Setelah selesai membuat pil, Han Shu menyamankan dirinya dengan duduk di kursi yang ada di kamarnya. Ia merasa cukup lelah karena dua hari berfokus untuk membuat pil.
"Besok adalah waktunya untuk berperang. Aku sudah mempersiapkan semua yang kubutuhkan. Tinggal bagaimana caraku untuk melakukannya secara langsung," batin Han Shu memikirkan.
"Oh aku hampir lupa. Satu hal yang belum aku lakukan."
"Yueyin, kemarilah." Han Shu memanggil Yueyin yang sedang berjaga di luar.
Yueyin kemudian masuk ke dalam kamar Han Shu setelah mendengar panggilannya, "Ada apa tuan memanggilku?" Yueyin berhenti beberapa meter di depan Han Shu.
"Kemarilah."
Yueyin maju beberapa langkah lagi dan berhenti kembali. Namun, jaraknya masih tidak diinginkan Han Shu.
"Hadeh... Kau masih terlalu jauh." Han Shu memutuskan untuk berdiri dari kursi dan mendekatinya.
Han Shu berhenti tepat di depan Yueyin. Yueyin hanya berekspresi datar menanggapi kedekatan Han Shu. Ia masih tidak tahu apa yang akan dilakukan Han Shu.
"Apa yang akan dilakukannya?" batin Yueyin bertanya-tanya.
Han Shu mulai menggerakan tangannya ke arah Yueyin secara perlahan. Bahangan telapak tangan Han Shu mulai tampak di wajah Yueyin. Tubuh Yueyin bergetar karena waspada. Ia menanggapinya dengan memejamkan matanya.
"Apa yang tuan lakukan!" Yueyin berpikir yang tidak-tidak.
Ternyata telapak tangan Han Shu menyentuh kepala Yueyin. Setelah menyadarinya, Yueyin langsung membuka matanya.
"Apa yang..."
"Aku hanya melepaskan perjanjian darah yang aku lakukan padamu. Sekarang kau bebas untuk pergi. Lakukan apapun yang kau inginkan." Han Shu berkata dengan sedikit senyuman di wajahnya setelah selsai melepasnya.
"Apa yang tuan katakan! Mengapa tuan melakukannya!? Apa alasan tuan melakukannya!?" Yueyin benar-benar terkejut dengan pernyataan itu. Ia belum sepenuhnya percaya.
"Bukankah kau senang karena telah terbebas dariku. Sekarang kau tidak perlu mengikutiku lagi." Han Shu heran dengan Yueyin yang merasa tidak senang.
"Apa sekarang tuan membuangku?" Ekspresi Yueyin langsung berubah murung. Ia menundukkan kepalanya ke bawah karena kekecewaan.
"Tidak, bukan itu maksudku." Han Shu benar-benar tidak tahu mengapa Yueyin bersikap seperti itu. Ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkannya.
"Lalu apa?"
"Aku hanya tidak ingin kau pergi bersamaku."
"Yah, mungkin inilah jawaban yang tepat," batin Han Shu.
"Jadi benar tuan membuangku?" Ekspresi Yueyin menjadi semakin murung.
"Baiklah, aku akan pergi. Selamat tinggal, tuan. Terima kasih karena telah menjagaku selama ini." lanjutnya. Ia kemudian beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
"Ternyata tidak," batin Han Shu kecewa dengan pilihan katanya.
"Tunggu, sepertinya kau salah paham." Han Shu menarik tangan Yueyin untuk menghentikannya. Namun, Yueyin langsung melepas tangan Han Shu dan melanjutkan kepergiannya.
"Ahh sialan, dia salah paham denganku. Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikannya? Tunggu, mungkin itu bisa membantu." Han Shu mengingat sesuatu.
Han Shu kembali menarik tangan Yueyin dan membalikkan tubuhnya. Kemudian ia angsung memeluknya dengan erat sembari mengelus kepala Yueyin.
"Dari buku yang pernah kubaca, pelukan bisa memberikan rasa nyaman pada orang lain. Aku tidak tahu ini benar atau tidak tapi, aku harus mencobanya," batinnya.
Yueyin benar-benar terkejut dengan yang dilakukan Han Shu. Ia berniat melepaskan diri tetapi rasa nyaman tiba-tiba ia rasakan dalam pelukannya.
"Aku teringat kembali dengan pelukan ibuku," batinnya merasa nyaman.
"Tolong biarkan aku seperti ini sebentar lagi." Yueyin berkata dengan nada yang kecil. Namun masih bisa di dengar oleh Han Shu.
"Sepertinya ini berhasil, dia menjadi tenang kembali," gumam Han Shu.
"Baiklah." Han Shu menyetujuinya.
"Kau tahu, besok kita harus pergi berperang melawan Ras Iblis dan aku memiliki tugas untuk mengalahkan Raja Iblis yang kekuatannya tidak bisa kau bayangkan."
"Aku tidak tahu apakah aku akan kembali atau tidak. Jika aku mati, kau akan mati karena terikat dengan perjanjian darah."
"Karena itulah aku membebaskanmu dari perjanjian darah. Aku tidak ingin membawamu mati bersamaku." Dengan masih memeluk Yueyin, Han Shu mengatakan maksudnya.
"Waktu kita pertama kali bertemu, aku sudah berjanji akan selalu mengikutimu dalam hidupku. Aku tidak akan pernah melupakan janji itu."
"Jadi kumohon, biarkan aku mengikutimu. Aku tidak akan pernah menghianatimu." Yueyin memohon dengan suara memelas. Matanya memancarkan tekad yang kuat.
"Sepertinya dia bersungguh-sungguh. Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja. Tapi..." Han Shu melihat ke arah mata Yueyin.
"Lakukan sesukamu."
"Terima kasih, tuan." Yueyin terlihat senang dengan ekpresinya yang datar.
Setelah semua berlalu, Han Shu tiba-tiba mencari secarik kertas di kamarnya dan menuliskan beberapa kata di dalamnya.
Ia kemudian pergi menemui Kaisar Han untuk memberikan kertas itu padanya.
Secara kebetulan, mereka bertemu di jalan. Han Shu langsung memanggilnya.
"Ayah!" Han Shu berlari mengejarnya.
Kaisar Han melirik ke arah Han Shu, "Ada apa kau menemuiku lagi, Han Shu?"
"Tolong kirimkan kertas ini dalam bentuk surat ke wilayah lain. Ini sebagai peringatan rencana yang akan aku lakukan." Han Shu memberikan kertas itu padanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera melakukannya. Apa ada yang lain? Aku sangat sibuk sekarang."
"Tidak ada."
Setelah mendengar jawaban Han Shu, Kaisar Han langsung pergi karena masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan terutama mengungsikan penduduk ke Kekaisaran Meng yang hampir selesai.
"Sepertinya dia benar-benar sibuk."
"Sekarang, aku tinggal menunggu esok hari. Aku harus beristirahat lebih awal untuk persiapan besok. Aku tidak mau kelelahan menghampiriku lebih cepat." Han Shu memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.
..........
Keesokan harinya.
Puluhan ribu pasukan berhasil dikerahkan dari berbagai kalangan. Mulai dari prajurit Istana, murid sekte beserta para panatuanya, tentara bayaran dan banyak lagi yang lainnya. Mereka sudah bersiap menuju medan tempur dengan rasa percaya diri mereka.
Sebelum berangkat, Kaisar Han berpidato dengan lantang menyemangati seluruh pasukannya.
Dengang gagahnya Kaisar Han memberikan pidato kepada mereka agar tidak takut dengan kematian yang akan mengampiri mereka.
Setelah selesai, Kaisar Han langsung memberikan perintah untuk berangkat.
"Semua pasukan! Berangkat!" Kaisar Han mengawali di depan.
"Hya!!!!"
Mereka bergerak secara serentak menuju medan peperangan. Banyak pasukan yang terbang dengan menggunakan pedang dan masih banyak juga yang menggunakan kuda maupun berlari untuk pergi ke sana.
Sementara itu, Han Shu masih duduk santai sembari mengamati kepergian mereka. Dan Yueyin juga masih ada di sana.
"Mengapa kau tidak mengikuti mereka?" tanya Han Shu yang menyadari Yueyin yang sedang menghampirinya.
"Lalu, mengapa tuan juga masih di sini?" Yueyin bertanya balik.
"Jika aku mengikuti mereka, aku akan sampai di sana cukup lama. Aku akan menunggu mereka lebih lama lagi sebelum pergi ke sana."
"Tuan, ada satu hal yang ingin kutanyakan."
"Tanyakan saja. Selama aku bisa menjawabnya, aku akan menjawabnya."
"Mengapa tuan yang harus mengalahkan Raja Iblis?"
"Pertanyaan yang bagus. Karena hanya aku yang bisa. Jika puluhan atau bahkan ratusan panatua yang memiliki Kultivasi yang tinggi melawannya, mereka masih tidak cukup untuk mengalahkannya."
"Bagaimana denganmu tuan? Kekuatanmu bahkan sangat jauh di bawah mereka."
"Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Aku mengatakan yang sebenarnya. Bahkan, para panatua akan kesulitan melawan Jenderal Iblis yang berjumlah 10."
__ADS_1