
Pemimpin Keluarga Lin kemudian memanggil seseorang dan menyuruhnya mengambil tanaman obat dan juga hasil penjualan Pil tingkat 5 dari 70% bagian Han Shu.
Setelah menunggu selama setengah jam, orang itu akhirnya kembali dengan membawa sebuah kotak kayu dan beberapa cincin penyimpanan. Ia kemudian meletakannya di atas meja.
"Ini tuan. Silahkan Anda cek kembali."
"Terima kasih, kau bisa kembali."
Sebelum pergi, orang itu bertanya pada Pemimpin Keluarga Lin dengan berbisik. Namun, hak itu bisa di dengar oleh Han Shu.
"Mengapa tuan memberikan Koin Emas sebanyak itu? Bahkan jumlahnya sampai ratusan juta Koin Emas, 70% dari penjulan pil tingkat 5. Tanaman obat itu harganya juga sangat mahal. Apa ini tidak apa-apa? Apa tuan sedang diperas olehnya?"
"Sebenarnya itu memang miliknya."
"Oh begitu, bagaimana mungkin." Setelah mendapatkan jawaban, orang itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Namun, ia masih belum sepenuhnya percaya dengan jawaban itu.
"Kau bisa mengeceknya terlebih dahulu benar atau tidak tanaman obat ini yang kau inginkan." Pemimpin Keluarga Lin mempersilahkan.
"Baiklah."
Han Shu kemudian mengambil kotak kayu itu dan membukanya secara perlahan. Dalam sekali lihat ia sudah yakin kalau itu adalah tanaman obat yang sedang ia butuhkan.
"Ini memang benar tanaman obat yang aku inginkan. Lalu apa itu cincin penyimpanan?"
"Benar, di dalamnya ada Koin Emas milikmu. Maaf kalau terlalu banyak cincin penyimpanan untuk menyimpannya." Pemimpin Keluarga Lin merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa."
Han Shu kemudian mengambil cincin penyimpanan itu satu persatu dan mengeluarkan semua Koin Emas yang ada di dalamnya.
Kemudian Koin Emas itu dimasukan ke dalam cincin penyimpanan pribadinya. Kini modalnya telah kembali seperti semula, mungkin lebih banyak dari sebelumnya.
"Aku telah memindahkan semuanya, tapi ini masih milikku bukan?" Han Shu tetap mengambil cincin penyimpanan yang telah kosong.
"Tentu saja itu milikmu. Apa kau akan langsung pergi?"
"Urusanku sudah selesai. Aku harus menyiapkan sesuatu untuk melawan pasukan Ras Iblis." Han Shu bersiap-siap untuk pergi.
"Jadi mereka benar-benar datang... Bahkan teriakan peringatannya sampai ke kota ini." Entah kenapa ekspresi wajah Pemimpin Keluarga Lin murung.
"Ngomong-ngomong, mengapa kau tidak datang ketika Kaisar memanggilmu? Selain Keluarga Lin, tidak ada Keluarga Besar lain yang tidak datang ke Istana." Sebelum pergi, Han Shu menanyakan hal itu.
"Dari mana kau tahu informasi itu?" Pemimpin Keluarga Lin terkeju kalau Han Shu mengetahui perintah itu.
"Kau tidak perlu tahu. Anggap saja aku tahu semuanya."
"Baiklah, kau benar-benar tidak mau mengatakannya. Ngomong-ngomong apa yang sedang kau siapkan?"
__ADS_1
"Tidak tahu, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Walaupun berbahaya, aku akan tetap melakukannya." Han Shu sangat percaya diri.
"Apa kau pikir Kekaisaran ini dapat bertahan melawan mereka?" Pemimpin Keluarga Lin bertanya dengan ekspresi murung.
"Mengapa kau tanyakan itu padaku? Tanyalah pada Kaisar Han, dialah yang memimpin Kekaisaran ini."
"Aku tahu kau bukanlah orang biasa. Kau pasti bisa memprediksinya, bukan?"
"Sayangnya aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri mengenai itu." Setelah mengatakan itu, Han Shu pergi dari Kediaman Utama Keluarga Lin. Pemimpin Keluarga Lin hanya bisa menatap kepergiannya.
Ketika beranjak keluar melawati gerbang, Han Shu dikejutkan dengan kedatangan Lin Yun yang secara tiba-tiba muncul di depannya.
"Han Shu... Apa ini benar kau?" Lin Yun terkejut melihatnya. Ia juga mengira Han Shu sudah mati.
"Hey dari mana kau muncul?" Han Shu ingin menanyakan itu tetapi tidak jadi.
"Mungkin karena di sini terlalu ramai, aku tidak bisa merasakan kehadirannya," gumam Han Shu.
"Hey apa kau benar-benar Han Shu..." Air mata Lin Yun tiba-tiba menetes karena bahagia.
"Seperti yang kau lihat, aku ada di depanmu sekarang." Han Shu meresponnya.
"Mengapa dia malah menangis?" batin Han Shu bertanya-tanya.
"Syukurlah, aku kira waktu itu kau telah terbunuh." Lin Yun mengusap air matanya. Ekspresi wajahnya langsung bersinar dengan senyuman.
Lin Yun menggelengkan kepalanya pelan dan berkata, "Aku tidak apa-apa. Aku hanya senang masih bisa bertemu denganmu lagi."
"Memangnya kenapa kalau aku mati?"
"Kau adalah teman keduaku. Kau tidak boleh pergi secepat itu. Aku ingin bersamamu lebih lama lagi."
Han Shu sudah tahu kalau pengawal yang sebelumnya adalah teman pertamanya, tetapi ia tidak menyangka kalau dirinya adalah teman kedua Lin Yun.
"Aku tidak akan kemana-mana."
Sebenarnya Han Shu tidak mengerti maksud perkataan Lin Yun, tetapi ia mencoba menjawabnya dengan itu.
"Janji ya?" Lin Yun berharap.
"Kurasa."
"Heeeh, kau tidak mau berjanji padaku!" Lin Yun merasa kecewa.
"Aku tidak bisa."
Janji adalah hal yang harus ditepati. Ketika Han Shu berjanji akan sesuatu, ia pasti akan menepatinya bagaimanapun dan apapun itu. Walaupun sampai membahayakan nyawanya, ia tetap akan menepatinya.
__ADS_1
Tetapi untuk kali ini, ia tidak bisa menjanjikan hal itu pada Lin Yun. Karena cepat atau lambat ia harus pergi, baik ke Dunia Immortal ataupun mati ketika melawan Ras Iblis.
"Baiklah, tidak apa-apa kalau kau tidak mau. Tapi, karena kau tidak bisa berjanji padaku, kau harus mengantarku berbelanja." Lin Yun dengan wajah bahagianya memberikan rencana lain.
"Apa akan lama?" Sebagai orang yang tidak pernah melakukan hal semacam itu, Han Shu harus menanyakannya.
"Tenang saja, tidak akan lama." Lin Yun mendahului berjalan keluar.
"Tapi Lin Yun, aku tidak pernah menganggapmu sebagai temanku ataupun hubungan lainnya. Kau adalah orang berharga yang bisa dijadikan alat untuk mengendalikan Keluarga Lin," batin Lin Yun menatap datar ke arah Lin Yun yang berjalan di depannya.
.........
Mereka pun akhirnya pergi ke tempat-tempat perbelanjaan di kota Emas, Ibu Kota Kekaisaran Han. Kota ini sangat ramai dipadati oleh penduduk asli dan juga para pedagang dari dalam maupun luar kota.
Berbagai macam barang bisa di temui di penjuru kota Emas. Lin Yun satu persatu memasuki toko-toko di sana dan membeli semua barang yang disukainya.
Sedangkan Han Shu hanya mengikutinya saja sembari membawa sejumlah barang yang sudah dibeli oleh Lin Yun.
Hingga 2 jam telah berlalu, Lin Yun masih belum cukup puas dalam berbelanja karena masih banyak toko yang belum ia datangi.
Sedangkan Han Shu, entah kenapa merasa kelelahan mengikutinya. Ini lebih melelahkan dari pada bertarung selama beberapa hari.
"Kapan ini akan selesai?" tanya Han Shu dengan ekspresi lesu.
"Ini sudah 2 jam, benar-benar tidak terasa, yah... Oh ya aku lupa, kau belum membeli apapun. Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Lin Yun.
"Tidak ada, aku hanya ingin ini segera selesai."
"Baiklah, sepertinya kau sudah kelelahan. Kalau begitu antar aku pul–"
"Wah! Apa itu!"
Pandangan Lin Yun tertuju pada sebuah toko yang memajang sesuatu yang langsung disukai Lin Yun. Lin Yun langsung masuk ke dalam toko dan membelinya.
Ketika sudah selesai, Lin Yun terkesima kembali dengan sesuatu yang dijual pada toko di sabelahnya. Dan ia langsung masuk dan membelinya.
Hingga 1 jam kembali berlalu. Lin Yun benar-benar lupa segalanya. Yang ada di dalam pikirannya aaat ini ia hanyalah pergi berbelanja.
Han Shu sudah tidak kuat lagi menahan kekesalannya tetapi, entah kenapa ia tidak bisa mengutarakannya pada Lin Yun.
"Maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan." Tiba-tiba Lin Yun menghampiri Han Shu dan meminta maaf.
"Apa sudah selesai?" Han Shu berharap ini sudah selesai.
"Ya, sekarang antar aku pulang."
"Aku tidak tahu aku menikmatinya atau tidak. Aku juga tidak tahu ekspresi apa yang saat ini aku buat. Tapi, satu pelajaran berharga bagiku. Wanita benar-benar mengerikan disaat seperti ini." batin Han Shu.
__ADS_1