
Pria itu berusaha untuk bergerak dengan sekuat tenaga dan perlahan ia mulai melangkah.
"Sudah kubilang berhenti!" Han Shu masih dalam posisi duduk dengan kepala menunduk meningkatkan aura penekanan pada pria itu hingga membuatnya terjatuh dan tergeletak di tanah.
Namun, pria itu tetap bersikeras bangun dan pergi dari sana. Han Shu lagi-lagi meningkatkan aura penekanan padanya hingga lantai menjadi retak karena kuatnya penekanan.
Sekali lagi, pria itu tetap keras kepala, bersikeras untuk melangkah. Han Shu kembali meningkatkan aura penekanannya hingga membuat lantai di ruangan itu terjatuh ke bawah.
Boom!
Debu beterbangan di sekeliling ruangan. Walaupun jatuh dari lantai atas, Han Shu masih duduk di kursinya tanpa merusaknya sedikitpun. Ia masih duduk dengan posisi yang sama.
"Sekarang, bisa kau berhenti berusaha untuk pergi dariku?" Han Shu melepaskan aura penekanan pada pria itu.
pria itu terbaring di lantai karena tubuhnya yang masih lemah akibat tekanan yang besar. Ia tidak mampu untuk berdiri.
"Tolong biarkan aku tetap seperti ini. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan," kata pria itu sembari berbaring di lantai.
Tiba-tiba tubuh pria itu kembali merasakan tekanan tetapi tidak terlalu berat. Pria itu langsung meminta Han Shu menghentikannya.
"Tolong hentikan, aku akan duduk, aku akan duduk."
Han Shu menghentikannya, dan pria itu langsung duduk menghadap ke arah Han Shu. Ia tidak tahu apa akan terjadi padanya.
"Apa alasanmu menjadi seorang pembunuh?" Tanpa berlama-lama Han Shu langsung mengajukan pertanyaan.
"Untuk apa kau menanyakan tentang itu?"
"Jawab saja. Kalau kau tidak mau aku akan mencari orang lain yang bisa menjawabnya."
"Ya ya, aku akan menjawabnya. Alasanku menjadi pembunuh... Untuk mencari kekuatan," kata pria itu sembari menatap langit-langit. Ia terlihat sedang mengingat masa lalunya.
Mendengar jawaban itu, Han Shu langsung tahu alasan ia membutuhkan kekuatan. Ia ingin membalas dendam, hanya itu jawaban yang ia tahu. Sama halnya dengan Yueyin yang ingin balas dendam.
"Mengapa kau tidak bergabung dengan sekte untuk mencari kekuatan?"
"Karena... Aku tidak menyukainya. Bisa dibilang aku membencinya. Membenci orang-orang yang ada di sekte. Mereka membuatku kehilangan satu-satunya hal yang berharga dalam hidupku."
__ADS_1
"Apa kau memiliki keyakinan bisa membalas dendam?"
"Sayangnya... Keyakinanku hanyalah 10%."
Han Shu sedikit puas dengan jawaban pria itu. Ia tidak terlalu percaya diri dengan kekuatannta. Dengan bakatnya, ia tidak akan bisa mencapai kekuatan yang besar.
"Baiklah, aku akan mengganti topik lain. Apa kau percaya, ada orang yang tidak pernah melakukan kebaikan sedikitpun?"
"Kau memberikan pertanyaan yang ane—" Pria itu terkejut ketika melihat tatapan tajam Han Shu.m dan menghentikan perkataannta. Kemudian ia langsung menjawab pertanyaan itu.
"Aku tidak pecaya. Orang itu pasti pernah melakukan kebaikan tanpa ia sadari. Contohnya saat dia lahir, orang tuanya pasti akan bahagia karena melahirkannya. Membuat orang tua bahagi juhaga merupakan kebaikan bukan."
"Seandainya dia tidak punya orang tua, dipungut oleh orang lain dan dijadikan sebagai kelinci percobaan, bahan siksaan, bahan eksperimen hingga dewasa. Hanya ada kegelapan dan rasa sakit yang orang itu rasakan. Apa kau masih percaya orang itu melakukan kebaikan?" Han Shu bertanya lagi dengan ekspresi serius.
"Tentang itu... Kepercayaanku berkurang menjadi setengahnya."
"Mengapa begitu?"
"Jika itu aku, aku pasti akan membencinya dan akan membunuhnya jika ada kesempatan. Tapi sepertinya jika aku yang benar-benar menjadi dia, aku lebih memilih untuk mati."
"Seandainya selama dia dijadikan kelinci percobaan banyak orang yang menyaksikannya tetapi tidak pernah berpikir untuk menyelamatkannya sedikitpun. Menurutmu apa yang akan dia lakukan?"
"Lalu bagaimana jika dia terbebas dari mereka dan bisa membunuh semua orang itu. Apa yang akan dia lakukan terhadap dunia luar yang tidak dia kenal?"
Han Shu terus menerus memberikan pertanyaan yang ingin ia ketahui. Sementara, pria itu sebaik mungkin menjawab semua pertanyaan Han Shu.
"Itu pertanyaan yang sulit karena sulit membayanhkannya. Tapi menurutku, dia akan membenci seluruh dunia itu. Dia sudah terlanjur terjerumus dalam kegelapan dan tidak pernah mendapatkan cahaya, mungkin dia akan berpikir untuk menghancurkan dunia itu."
Han Shu nampak sedikit tersenyum pada wajahnga. Ia merasa cukup puas dengan jawabannya.
"Ngomong-ngomong, mengapa kepercayaanmu tadi hanya berkurang setengah saja. Dari jawaban tadi, bukankah seharusnya kau percaya orang itu tidak akan melakukan kebaikan?" tanya Han Shu lagi.
"Karena aku percaya... Dia akan mencari tahu tentang kebaikan. Aku juga percaya akan ada seseorang yang datang mengajarkannya tentang kebaikan entah itu kapan datangnya."
"Bagaiamana jika kebaikan yang dikatakan orang lain tidak sesuai dengan yang dilihat olehnya? Terus bagaimana jika orang itu tidak pernah muncul sampai akhir hayatnya?"
"Kupikir dia hanya salah paham. Dia salah menilainya karena tidak pernah mengetahuinya. Lalu jika orang itu tidak muncul, dia akan selamanya terjerumus dalam kegelapan."
__ADS_1
"Bagaimana jika ada orang asing yang menyuruhnya untuk berubah kemudian meninggalkannya tanpa mengajarinya?"
"Dia pasti tidak akan menghiraukannya. Jika orang itu ingin dia berubah, seharusnya dia mengajarinya juga."
"Yah benar, itu sudah pasti."
Han Shu cukup puas mendengar pendapatnya. Ia mengetahui, kalau yang dilakukannya benar-benar ada dipikiran orang lain.
"Apa dari tadi kita sedang membicarakanmu?" Pria itu penasaran sekaligus curiga mengapa Han Shu menayakan hal itu padanya. Ia memberanikan diri bertanya.
"Tidak, aku hanya berandai-andai saja." Han Shu menolak mengakuinya. Ia tidak ingin mengumbar masa lalunya.
"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Pria itu berdiri setelah energinya sedikit pulih.
"Tidak ada, ini ambil hadiahmu karena sudah menjawab pertanyaanku. Sekarang kau bisa pergi." Han Shu melemparkan sebuah cincin penyimpanan padanya.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" Pria itu terkejut. Seharusnya, semua cincin penyimpanan dan senjata yang dimiliki orang lain sudah diambil semuanya.
"Tidak usah banyak tanya!"
"Bukannya malah kau yang banyak tanya tadi," batin pria itu heran.
"Setidaknya kau harus mengucapkan terima kasih padaku. Tapi ya, sudahlah." Pria itu menerimanya dan bernajak pergi.
Dalam batinnya, Han Shu bertekad, "Sekarang aku sudah memutuskan! Aku tidak akan pernah berubah!"
Namun, sebelum pria itu pergi, tiba-tiba ia berhenti dan berkata, "Tapi aku masih tetap percaya bahwa dia akan berubah. Aku pernah mendengar cerita kalau kehidupan selanjutnya benar adanya."
"Jika dia hidup untuk kedua kalinya, berarti dia masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Dia pasti akan bertemu orang yang mau mengajarinya berubah."
"Jika masih tidak ada, aku harap dia mau berinsiatif meminta tolong pada orang lain untuk mengajarinya."
"Oh ya, tentang balas dendamku... Sepertinya aku sudah kehilangan minatku. Aku tidak bisa lagi mencari kekuatan karena aku akan kehilangan dua jariku."
"Jika aku masih hidup dalam keadaan seperti ini, aku akan berhenti dari pekerjaankui dan mencari sebuah desa yang tenang untukku tinggal."
Setelah mengatakan hal itu, pria itu tersenyum dan pergi meninggalkan Han Shu menuju ke tempat Yueyin berada.
__ADS_1
Sementara, Han Shu benar-benar tersentak dengan perkataan pria itu tadi.
"Aku benar-benar bingung."