Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
10. Permata itu Viona


__ADS_3

Bengkel merupakan awal Ainun akrab dengan Ray. Ainun setiap hari merengek ingin bertemu dengan Ray.


Ainun selalu memuji Ray dimanapun berada, bahkan dirumah pun Ainun selalu menyebut Ray setiap ceritanya.


"Sayang, Om itu siapa?" Tanya Rifal.


"Om baik. Hihihi" jawab Ainun diakhir kalimatnya ia ketawa.


"Idih genit amat ini anak" Goda Viona sambil menggelitik ponakannya itu.


Rifal langsung memberhentikan Viona, "dek, jangan seperti itu. Kalau lama ketawa takutnya menangis nanti" tegurnya membuat Viona berhenti dan menjauhkan tangannya dari pinggang ponakannya itu


"Geli tau bibi" Ucapnya.


"Om baik, selalu ajak Ainun main" Ucap Ainun lagi dengan bangga.


"Oh ya, bibi curiga yang buat kamu badut di Mall om baikmu juga kan?" Tanya viona penasaran.


"Bukan" Ainun menyangkal karena ia sudah janji pada Ray, kalau itu hanya rahasia mereka berdua.


"Bela terus Om baikmu ya, bibi gak usah dibela" Viona pura-pura marah pada Ainun.


"Bibi cantik dan baik kalau Om hanya baik tapi tidak cantik" Jelas Ainun dengan serius tapi itu membuat seisi rumah ketawa.


"Mama, cucumu parah. Om mu itu cowok sayang bukan perempuan jadi wajar dia tidak cantik" jelas Viona, "Haduh, ponakanku makin hari tambah parah" sambungnya lalu pergi.


Marcelea langsung menyuruh Ainun, "sayang kejar bibinya nanti ngembek"


"Gitu ya bibi Lea?" Tanya Ainun.


"Iya sayang" Jawab Marcelea.


Ainun pun langsung lari mengejar Viona sembari memanggil bibinya itu.


"Bibi, tunggu Ainun" ucapnya sembari lari dan ibu Heti mendengar itu langsung menegur Viona.


"Vio, kasian lho Ainun mengejarmu seperti itu" Tegurnya.


"Lagi pura-pura ngambek mam" Jawab Viona lalu kembali jalan menuju kamar.


Ibu Heti heran dengan anak bungsu dan cucunya, setiap hari ada saja tingkah aneh mereka berdua yang bikin sakit kepala.


"Bibi, buka pintu, hiks hiks" Teriak Ainun berakhir menangis.


"Itu tuh, menangis lagi kan" Ucap ibu Heti kepada Rifal dan Marcelea.


"Biarkan mam, tidak lama tuh suara ketawa pecah dikamar Viona" Rifal menanggapi omongan mamanya dan benar saja suara tawa dan lari-lari mulai terjadi sampai Viona lari ke kursi dimana kakak, ipar dan ibunya berada sedangkan Ainun memegang buku untuk melempar Viona pakai buku yang pegang itu.


"Mam, lindungi Vio mam" Ucapnya sambil bersembunyi dibalik punggung mamanya.


"Nenek Ainun" Teriak Ainun.


"Ini mama bibi Viona" Viona tidak mau mengalah kepada Ainun.


"Bibi sudah besar, Ainun masih kecil" Teriak Ainun dengan ekspresi sudah mau kembali menangis lagi.


"Gak bisa dong, mama bibi Viona tetap jadi mama bibi gak bisa berubah. Ainun punya mama dan papa juga" Jelas Viona lagi.


Bug ( buku melayang pas kena kepala Viona)


"Mama sakit" Adu Viona sembari mengusap kepalanya.


"Nenek Ainun" Teriak Ainun lagi.


"Mama Viona"


"Nenek Ainun"


"Mama..." Ucap Viona lagi yang terhenti karena mulutnya ditutup oleh Rifal.


"Hahaha" Ainun tertawa sambil menunjuk Viona, "nenek" panggil Ainun dan langsung berhamburan dipelukan ibu Heti.


Ainun melepaskan pelukannya dari sang nenek dan joget didepan Viona sembari berkata, "aku menang, bibi Viona kalah" Ucapnya lalu menjulurkan lidahnya kepada Viona kemudian lari berbunyi dibelakang Marcelea.


"Bibi Lea, lindungi Ainun dari bibi Viona" Ucapnya sambil memegang pinggir daster Marcelea.


"Iya, tenang bibi akan bela Ainun tapi kalau Ainun yang memulai bibi gak mau bantu" Ucap Marcelea.


Ainun mengangguk cepat. Bagusnya dari Ainun selalu nurut kalau diberi tahu. Ainun seharian main dalam rumah bersama Viona membuat Ainun tidak mencari orang tuanya yang hampir sebulan penuh belum balik terutama ibunya.


Yesi menelfon pun kadang Ainun bicara dengan mamanya tidak lama, ia disibukkan dengan mainan yang selalu Rifal bawa setiap pulang kantor.


"Bibi nyerah, mau istrahat. Jam berapa kursus piano sayang?" Tanya viona.


"Gak suka piano" Jawab Ainun.


"Bukan udah daftar, ini gimana?" Tanya viona.


Lalu pergi mencari mamanya yang berada dibelakang rumah sedang santai, "mam, Ainun gak jadi les piano?"


"Gak mau, dia milihnya ngaji saja katanya" Ucap ibu Heti, "Jadi tempat ngajinya tu di kompleks sebelah sekitar 4 sore nanti" Sambungnya dan Viona langsung melihat jam di tangannya.


"Ok mam, siap-siap dulu sudah mau jam 4 sore" Ucap Viona lalu kembali dalam rumah tepatnya kembali ke kamar.


🌺


Waktu sore hari merupakan waktu orang pekerja untuk melepas penat setelah seharian kerja, kebanyakan orang meluangkan waktunya untuk olahraga atau bersantai ria di pantai sambil menunggu senja. Suasana itu sangat membahagiakan bagi penikmatnya.


Namun berbeda jauh dengan Viona. Dimana sang ponakan Ainun terus menerus memaksa viona untuk ke bengkel Ray.

__ADS_1


Rengekan demi rengekan yang keluar dari bibir Ainun tidak bisa menghilangkan rasa mager dalam diri Viona. Viona sedang merebahkan badannya diatas tempat tidur.


"Bibi, ke bengkel Om baik" Ucap Ainun yang sedang berdiri dipinggir ranjang sambil memegang lengan Viona.


"Ngapain sayang?" Tanya viona.


"Balikin mainan om baik" Jawabnya.


Viona mendengar itu sedikit berpikir, seketika otaknya bekerja, "bagus juga kalau dikembalikan sekarang mainannya, supaya Ainun gak ingat lagi bengkel itu" monolog Viona.


Viona bangkit dari tempat tidur, "hayoo, tapi gimana kalau gak ada om baik?" Tanya viona kepada Ainun.


Seketika wajah Ainun murung dan melepas tangannya dari lengan Viona.


"Kata om baik datang saja di bengkel kalau Ainun mau, tapi sekarang masa tidak ada om baik sih" Ucapnya tidak semangat dan sedikit protes.


Viona kepikiran ada yang menelepon dirinya saat itu menggunakan telepon bengkel dari karyawan Ray.


"Kita coba telepon di bengkel ya" Ucap Viona lalu mencari panggil masuk di ponselnya.


"Alhamdulillah dapat" Ucap Viona lagi lalu menekan tombol hijau tanda memanggil.


Berdering beberapa menit sebelum diangkat terdengar jelas ditelinga Viona.


"Halo, ada yang bisa di bantu?" Tanya orang diseberang telepon itu.


"Itu mirip suara Ray" monolog Viona.


"Apa ada bos kalian?" Tanya viona to the point ditelepon itu.


Ray berpikir, suara ini mirip dengan suara Viona tapi tau dari mana nomor telepon bengkel.


"Mungkin hanya mirip" monolognya.


"Saya sendiri" Jawab Ray ditelepon itu.


Dan seketika mulut Viona terbuka mengeluarkan suara, "haa".


Ucapan itu Ray dengar, "apa ada yang kurang dengan pelayanan dari bengkel kami?" Tanya Ray.


"Bibi, kita pergi di bengkel Om baik" Rengek Ainun.


Rengekan itu lagi-lagi didengar oleh Ray diseberang telepon.


"Maaf, apa ini Viona?" Tanya Ray karena lawan bicaranya ini hanya diam.


"Halo" Ucap Ray lagi membuyarkan lamunan Viona.


"Maaf, ini Ray ya?. Ponakan aku ingin ke bengkel, apa bisa?" Tanya viona dengan hati-hati.


"Boleh, biar bagaimanapun Ainun sudah aku anggap seperti ponakan sendiri, jadi datang saja tapi lebih bagus telepon terlebih dahulu" Ucap Ray dengan tujuan Viona mengerti maksudnya.


"Oh, iya nanti aku simpan nomor telepon ini" Jawab Viona ditelepon lalu menoleh kearah Ainun yang sedang menunggu di sampingnya.


"Apa Ainun tidak masuk sekolah?" Tanya Ray.


"Bibi, om baik bertanya" Ucap Ainun mendengar ucapan Ray karena Viona memegang ponselnya.


"Oh, maaf" Viona baru sadar ternyata teleponnya belum berakhir, "bisa diulang pertanyaan, Ainun bilang tadi bertanya" Ucap Viona ditelepon itu.


Diseberang telepon hanya diam tidak merespon apa-apa, bukan Ray tidak mau tapi Alan masuk dalam ruangannya dan duduk santai di dalam.


Ray didepan Alan tidak pernah membahas atau menyebut nama Viona dan Ainun, karena Ray rasa Alan selalu perhatian pada Ainun apalagi Alan selalu memuji Viona depannya. Ia melihat sendiri bagaimana Alan di Mall bersama Viona saat Alan membelikan Ainun baju.


"Bro siapa yang menelepon, pelanggan baru?" Tanya Alan.


"Pelanggan baru, hanya pegang saja sudah lama juga kan gak pernah digunakan" Kilah Ray lalu menutup telepon sepihak.


"Maaf Viona, semoga saja gak jadi datang" Monolognya lalu menghampiri Alan dikursi.


"Tumben setiap hari ke sini, apa gak cari mangsa?" Tanya Ray yang sudah duduk disamping sahabatnya itu.


"Udah insaf, semenjak bertemu dengan seseorang yang akan bakal jadi istri nanti" Jawab Alan semangat sembari senyum dan menoleh ke arah Ray, "cari gih cepat, nanti pestanya bersamaan, mengurangi biaya" Sambungnya.


"Enak saja, pernikahan mana bisa seperti itu. Gak, aku gak mau. Pernikahan itu sakral sekali seumur hidup. Ngaco kamu" respon Ray mengundang tawa lagi Alan.


"Hahaha, kayak sudah punya calon saja. Bro zaman sekarang kalau gak gesit gak dapat bro. Untuk mendapat permata harus berjuang tapi kalau mau cari kerikil di pinggir jalan aja nemu" Jelas Alan membuat Ray sedikit mendapat pencerahan.


Ray manggut-manggut paham, "Permata itu adalah Viona" monolognya.


Ray berdiri lalu pergi sedangkan Alan hanya menatapnya sejenak dan kembali santai sambil main hp.


Ray memutuskan untuk duduk depan bengkel, bukan tanpa alasan melainkan menunggu Viona dan Ainun.


10 menit kemudian, motor Viona berhenti didepan bengkel dan Ainun langsung lari menghampiri Ray yang tengah duduk.


"Om baik, main yuk" Ajak Ainun.


"Istrahat dulu dong" Ucap Viona dan menoleh kearah Ray yang sudah berdiri juga, "maaf atas ponakan saya yang selalu merepotkan" sambungnya tidak enak pada Ray.


Ray langsung menjawab, "dia ponakan saya juga, jadi gak masalah".


Orang yang berada disitu hanya senyum-senyum mendengar itu, takut untuk menggoda sang bos.


"Semoga bos segera menikah" Ucap salah satu diantara anak buahnya dengan nada kecil dan satunya dengan nada yang sama mengaminkan.


"Aamiiin".


Viona mendengar itu mencoba untuk abaikan sedangkan Ray tidak dengar karena ia sibukkan dengan Ainun.

__ADS_1


"Lihat tuh bos sudah cocok menikah, suka anak kecil" Ucap salah seorang anak buah yang sedang memperbaiki motor.


"Iya, cocok aku rasa daripada mantannya tuh gak sopan" Respon salah satu diantara mereka.


Viona mengabaikan omongan anak buah Ray, ia fokus memperhatikan Ainun yang sedang bermain dengan Ray di selingi dengan canda tawa.


"Aku kira hanya perempuan yang suka ghibah ternyata cowok juga" Gumam Viona.


Viona larut dalam kesendiriannya tanpa sadar dihampiri Ray dan Ainun.


"Viona" Panggil Ray.


"Viona" panggil Ray lagi.


"Sayang gimana nih? Bibi Viona gak dengar dipanggil" Ucap Ray pada Ainun.


"Nanti Ainun om" Jawab Ainun.


Ainun mendekati Ray, "Om gendong"


Ray pun menggendong Ainun.


"Om dekatkan Ainun dengan bibi Viona, Ainun mau cium pipi bibi supaya kaget" ucap Ainun lagi dan Ray mengikut saja apa yang diucapkan oleh anak kecil itu.


"Cup" Ainun mencium pipi Viona.


"Astaghfirullah" Ucap Viona kaget, "lho, Ainun nakal sama bibi nih?" Sambungnya sambil menunjuk Ainun.


"Hahaha" suara tawa Ainun kegirangan.


Viona langsung menggelitik Ainun, sehingga Ainun bergerak-gerak digendong Ray. Ray mengatur keseimbangan karena gerakan Ainun.


"Ainun nakal sama bibi nih" Ucap Viona dengan bercanda.


Ray terus menatap wajah Viona yang bercanda dengan Ainun. Suara tawa mereka membuat anak buah Ray menoleh.


Sementara Viona dan Ainun ketawa, Ray bertanya, "Kriteria suamimu nanti seperti apa?".


"Kenapa?" Tanya Viona.


"Bisa minta waktunya, tapi ke taman" Tanya balik Ray lagi.


"Boleh" Jawab Viona singkat.


"Turun dulu ya, kita ke taman" Ucap Ray dan Ainun mendengar taman langsung teriak senang.


"Horee. Ke taman, ayo Om, Bibi"


Ainun jalan di depan diikuti oleh Ray dan Viona. Ainun hendak menuju motor dan Ray ke arah mobilnya.


"Ainun ikut siapa?" Tanya Ainun bingung.


"Bibi dong" Ucap Viona


"Om dong" Timpal Ray.


Ainun melihat Ray dan Viona silih berganti. Si kecil Ainun tidak tau harus ikut siapa. Ia ingin ikut Ray tapi bagaimana dengan bibinya.


Dari kejauhan ada sepasang ibu bapak sedang menuju bengkel Ray sambil menuntun motornya.


Dengan penuh keringat si bapak itu berhenti karena melihat Ainun kecil yang berdiri seorang diri sedangkan Ray dan Viona berada di kendaraan masing-masing yang tidak jauh dari Ainun.


"Mbak dan mas kalau ada masalah jangan marah depan anak, kasihan anaknya kebingungan antara ikut ibu atau ayahnya" Ucap si bapak tersebut dengan maksud menasehati.


"Iya, ingat mental anaknya mbak, mas" Timpal istri si bapak itu.


"Tapi pak..." Ucap Viona sembari datang menghampiri Ainun dan pasutri tersebut.


Sedangkan Ray, langsung menggendong Ainun, "sayang, masuk mobil ya".


"Baik suaminya mbak, susah lho mbak dapat suami yang baik" Ucap ibu itu lagi.


"Tapi bu, itu ponakan saya bukan anak saya" jelas Viona.


"Oh, lagi program hamil. Gak boleh stres lho mbak kalau program hamil" Ucap ibu itu lagi.


"Kenapa makin runyam kayak gini, mending aku pergi cepat-cepat" Gumam Viona.


"Ikut suaminya aja mbak, kasihan lho suaminya sudah menunggu dalam mobil" Ucap si bapak itu.


"Terima kasih ya pak, bu" Ucapnya dengan senyum terpaksa.


Baru beberapa langkah Viona meninggalkan ibu itu, ia kembali berkata, "pasangan mudah sekarang suka marah-marah".


"Bumbu-bumbu dalam rumah tangga bu, kayak ibu gak pernah marah" jawab si suaminya.


Viona terus melangkah, masuk dalam mobil dengan muka malas dan tatapan mata ke depan.


Ray menoleh kearah Viona yang berada disampingnya, "jalan nih?" Tanyanya memastikan.


"Silahkan" Jawab Viona lagi lalu diam.


"Kenapa?" Tanya Ray sambil membawa mobilnya dengan pelan.


"Tidak" Jawab Viona singkat.


"Perempuan kalau sudah gak mood, kena omelan semua orang" Monolog Ray.


"Kenapa bapak dan ibu tadi?" Pancing Ray lagi.

__ADS_1


"Gak tau, ke taman kan?" Tanya viona.


"Oke" Jawab Ray singkat dan fokus membawa mobil


__ADS_2