
Tanpa menoleh laki-laki yang mengganggu Viona seketika tertawa.
"Ternyata sekarang sudah punya pengawal juga!" Ujarnya mengusir rasa takut.
Viona semakin berani setelah mendengar teriakkan dari anak buah Ray.
"Kenapa?" Tanya balik Viona dengan tatapan tajam, "sepertinya kamu ini hanya berani sama perempuan" lanjutnya.
"Heii, kata siapa?" Laki-laki tersebut terpancing emosinya.
"Hmm, bawa mawar juga?" Tanya Viona lagi.
Karyawan dibengkel Ray itu sudah berada di samping Viona.
"Kamu siapa?, Berani datang disini" Tanya Tono dengan nada pelan tapi menusuk.
"Ciiihh" Laki-laki tersebut membuang ludah disamping.
Teman Tono melihat itu, seketika amarahnya memuncak, ia langsung melayangkan pukulan bagian perut.
Laki-laki tersebut langsung terduduk dilantai. Setelah terjatuh, iwan kembali menarik kerah baju laki-laki tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu mengganggu mbak Viona?"
"Santai bro.." Ujarnya sembari menaikkan tendangannya, alhasil iwan jatuh.
"Iwan" panggil Tono spontan lalu membantu iwan berdiri.
"Ternyata tendangan mu kuat juga" Lanjut Tono sembari melayangkan tinjunya kepada laki-laki tersebut bagian rahang.
"Kamu sudah menendang temanku dan mengganggu mbak Viona, kamu berani main-main dengan kami" Ujar Tono dengan tenang. Ciri khas Tono meskipun marah tapi terlihat tenang namun berbahaya.
"Nyawamu tidak berharga bagi saya" Lanjutnya.
Iwan dan Viona saling melihat saat dengar ucapan Tono. Kaget, itu yang mereka alami. Sedangkan si cowok teman Gebi, menelan ludah dengan susah payah. Kalimat itu bagaikan melihat malaikat maut yang hendak mencabut nyawa, takut namun ia berusaha untuk tidak nampakkan.
"Apa dia pembunuh berdarah dingin?" Viona membatin dan seketika bergidik ngeri.
"Ngaku, siapa yang suruh kamu atau mau hidung mu aku patahkan" Paksa Tono lagi.
Laki-laki tersebut menunduk sembari memegang perutnya hasil pukulan dari Iwan. Ditambah pukulan Tono bagian rahang.
"Kurang aja, kenapa Gebi tidak cek terlebih dahulu butik ini. Terjebak kan aku jadinya" Batinnya.
"Jawab!" Bentak Iwan.
"Buka topinya Ton" pinta Iwan lagi.
Toni langsung mengarahkan tangannya di topi laki-laki tersebut, tapi seketika Gebi masuk dan langsung heboh untuk mengalihkan perhatian Iwan dan Tono.
"Astaga, ada apa ini?" Tanya Gebi pura-pura kaget sembari melihat sahabatnya dengan ekor mata. Gebi memberi kode lewat gerakan mata menyuruh temannya untuk kabur.
"Apa ada keributan disini?" Tanya Gebi lagi, "Astaga kenapa ada mawar juga?" Lanjut Gebi sembari mengambil mawar yang sudah berada dilantai. Kelopak bunga mawar tersebut sudah rusak entah sudah berapa kali diinjak sehingga kembangnya hancur.
"Bodoh, kenapa tidak kabur" Umpat Gebi dalam hati.
Sudah mencoba mengalihkan tapi sahabatnya masih berdiam diri ditempat, "Kenapa mendadak oon si banteng hitam ini" lagi-lagi Gebi mengumpat dalam hati, saking kesalnya sama temannya.
Iwan terus memantau gerak gerik Gebi, ia merasa ada yang aneh. Iwan menatap Gebi dan melangkah mendekati pria itu.
"Apa ini yang suruh kamu?" Tanya Iwan to the point.
Seketika Gebi merespon dengan cepat, "aku gak kenal dia, baru aja datang. Oh aku lupa, aku sahabat Viona nama aku Gebi"
"Wanita seperti kamu itu licik" Timpal Tono seketika, "Aku pernah lihat kamu" Sambungnya membuat Gebi gelisah.
"Wan, patahkan tulang rusuknya, pastikan napasnya sampai rumah sakit" Ucapan Tono itu membuat Gebi merinding.
"Cepat Wan" pinta Tono lagi.
"Tunggu dulu, kasian kan kalau tulang rusuknya patah" Ujar Gebi.
"Orang yang tidak dikenal, dikubur disini pun tidak ada yang tau" Ucapan Tono sejak tadi seakan horor semua.
"Mbak Viona, disini ada cctv?" Tanya Iwan.
"Ada, tapi diluar"
__ADS_1
"Bagus, ini tinggal dibungkus kalau sudah mati" Ujar Tono lagi membuat Gebi dan laki-laki tersebut membulatkan mata.
"Gak kasihan?" Tanya Gebi lagi.
"Gak" Jawab Viona cepat, "Dia udah berani datang disini, berarti keluar dari sini antara hidup atau mati" Lanjutnya seakan mengikuti cara Tono.
Dalam masa negosiasi dengan Gebi, laki-laki tersebut memanfaatkan kesempatan untuk kabur. Dengan perut sakit ia berusaha untuk lari sejauh mungkin.
"Kok bisa kabur" tunjuk Viona.
Iwan hendak mengejar laki-laki tersebut namun Tono melarangnya.
"Tenaganya sedikit, biarkan saja. Satu bulan meninggal itu" Jelas Tono membuat Gebi susah biar hanya menelan ludah. Bagaimana bisa mulai hari ini, ia akan menghitung hari terakhir sahabatnya di dunia ini.
Tono menatap sekilas Gebi lalu ia melangkah keluar butik dan tidak lama kembali lagi.
"Kenapa?" Tanya Viona heran kepada Tono.
"Saya sudah memiliki foto laki-laki tadi, jadi kalau butuh sebelum dia mati, tinggal minta saya akan kirimkan" Ujarnya lalu menoleh kearah sahabatnya, "Wan, kita balik"
Tono dan Iwan pergi begitupun dengan Gebi, ia pamit dengan alasan keluarga.
Dijalan pulang, Iwan dan Tono terus saling mengejek. Kadang kala tertawa mengingat kejadian di butik.
"Kata-kata mu bikin merinding!" Ujar Iwan
Tono tersenyum kecil hanya menampakkan lekukan disudut bibirnya, "Kalau tidak begitu, dia gak takut."
"Benar juga, tapi kok bisa kenal Gebi?" Tanya Iwan lagi penasaran.
"Aku pernah melihatnya beberapa kali bertemu dengan Gladis di sebuah restoran" Jelas Tono.
"Letak mencurigakannya dimana?" Iwan tidak paham dengan jawaban Tono.
"Gebi dan Gladis, kemungkinan mereka kerja sama untuk mengganggu mbak Viona, kalau tidak percaya pantau saja"
"Hee, kita kerja Ton. Gak mungkin kita diizinkan" ujar Iwan dan seketika Tono sadar mereka karyawan Ray bukan Viona.
"Iya benar" Tono membenarkan lalu mereka masuk bengkel dan kembali kerja seperti biasa.
Sedangkan Viona senang melihat orang jahat itu pergi meskipun calon pembelinya beberapa ibu-ibu pulang sebelum belanja.
"Pak Tono, memberiku referensi yang bagus untuk hadapi orang jahat" Sambungnya lagi sembari senyum-senyum sendiri.
Menurutnya, kejadian hari ini merupakan pengalaman baru bagi dirinya, meskipun awalnya takut tapi setelah ia lewati ternyata seru.
"Ternyata benar juga yaa, hal yang menakutkan belum tentu semenakutkan yang dibayangkan" Batin Viona.
Berbeda dengan Gebi dan sahabat laki-lakinya itu, lebam dan butuh perawatan.
"Ini ke rumah sakit atau gimana?" Tanya Gebi sambil nyetir mobil.
"Menurut kamu dengan keadaan seperti ini harus kemana?" Tanyanya balik dengan pasrah.
"Heee banteng, kalau aku tau gak mungkin aku bertanya" Gebi kesal dengan pertanyaannya malah dijawab dengan pertanyaan pula.
"Edwan bukan banteng, aku hanya butuh kehangatan" Jawabnya membuat Gebi mengerutkan kening.
"Maksudmu?" Tanya Gebi.
"Kalau otak tidak sampai mending diam, tolong teleponkan Gladis" Pintanya kepada Gebi.
"Untuk?"
"Untuk mengobati aku dan merawat aku" Jawabnya, "merawat plus" Sambungnya sembari senyum menampilkan deretan giginya.
"Gak ingat pasangan kalian nanti melakukan hal demikian, kasian lho mereka dapat sisa.. Ops, emang benar sih, sisa harus bersama sisa" Ujar Gebi. Entah kenapa tidak suka mendengar sahabatnya yang sering dipanggil banteng itu bersama Gladis.
"Tidak ada yang menolak surga dunia Geb, tanya tuu teman kita yang kamu beri julukan jerapah, nolak atau tidak?" Ujar Edwan.
"Lagian salah sendiri" Lanjut Edwan lagi.
"Seharusnya kalian yang nolak, kita itu sahabat lho" Gebi mengingatkan Edwan.
"Ingat, Gladis bukan hanya mau sama aku dan Hendra. Gak jamin tu sama cowok lain, mungkin Ra laki-laki yang dipuja-puja juga pernah tidur bersama dia, gak ada jaminan bagi perempuan seperti itu" Penjelasan itu membuat Gebi merinding, ia tidak menyangka jika Gladis sejauh itu melangkah dalam hidupnya.
"Gimana kalau dia hamil?" Tanya Gebi masih penasaran.
__ADS_1
"Ini sudah sampai dimana Geb?" Tanya Edwan melihat kiri kanan, "kok sunyi!" Lanjutnya lagi.
"Aku akan membawamu ketempat tante-tante yang membuat kamu cepat sembuh tanpa aku menelfon Gladis sahabat kita" Ujar Gebi menekan kata sahabat diantara mereka. Namun itu bertolak belakang dengan perasaannya, ia sangat jengkel jika ia menyebut nama Gladis.
"Gebi" Bentaknya, lalu menghela napas kasar dan menghembuskannya dengan pelan.
"Aku gak sembarang juga kali, bisa kena penyakit aku" lanjutnya.
"Bagus dong, biar cepat mati orang yang tidak berguna"
"Heeii, kata siapa?, Aku sangat berguna bagi Gladis" Edwan tidak mau kalah sama Gebi.
Gebi, Edwan dan Hendra selalu bersama, berbeda dengan Gladis, dia datang saat hanya membutuhkan bantuan, meskipun demikian mereka tetap bantu dan kadang Gladis menawarkan imbalan diluar nalar jika tugas mereka kerjakan lebih dari yang ditargetkan. Itu khusus Edwan dan Hendra. Sedangkan Gebi, ia diberi uang lebih dibandingkan teman cowoknya.
"Turun udah sampai apotik nih, ambil obat apa ke, tanya saja sama penjaga apotik" Ujar Gebi dan menyuruh Edwan urus sendiri obatnya.
"Geb, gak bantu?" Tanyanya sembari meringis sakit bagian perut.
"Sama Gladis sembuh, beli obat sendiri gak bisa" Sindir Gebi, "Pergi beli sendiri, sebelum saya pulang dan aku simpan kamu disini" Lanjut Gebi dengan tegas.
"Ihh jadi perempuan galak amat. Tunggu bentar disini"
Edwan pergi, Gebi langsung menelepon Gladis. Awalnya ia malas pusing dengan perkataan kedua sahabatnya cowok, tapi lama-kelamaan muak dan hati Gebi kadang kesal sendiri mendengarnya.
"Halo Dis, dimana?" Tanya Gebi dalam telepon.
"Di rumah, gimana?" Tanyanya santai dalam telepon tersebut.
"Kenapa tidak kasih tau dulu kalau disana ada yang jaga Viona, banteng jadi babak belur untung gak mati dibutik" Jelas Gebi dengan menggebu-gebu dan marah.
"Tolong dong Dis, kalau menyuruh itu liat dulu kondisinya" Lanjut Gebi.
"Biasanya aku langsung suruh, dan kalian yang liat keadaan disana. Jadi si Banteng mana?" Tanya Gladis lagi.
"Di apotik beli obat. Apa lagi yang kamu janjikan sama Edwan, Dis?, Itu merusak dirimu sendiri."
"Gak ada, beri tahu Edwan datang dirumah selepas dari apotik" Ujar Gladis lalu mematikan sambungan telepon.
Gebi menatap layar ponselnya, lagi-lagi Gebi tidak menyangka jika sahabatnya Gladis seperti itu. Dengan kesal ia melempar ponselnya ke kursi penumpang.
🌺
Berbeda dengan Viona, masih duduk santai seperti biasa. Ponselnya berdering.
"Halo Ray, ada apa?" Tanya Viona ditelepon itu.
"Gimana hari ini?" Tanya balik Ray, karena ia dengar dari karyawannya Tono dan Iwan, jika Viona didatangi orang yang tidak dikenal lagi.
Seketika dikepala Viona terlintas dengan cepat, bagai kaset yang diputar ulang. Viona mulai menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir dengan semangat.
"Makanya aku suka Tono, kapan datang lagi di butik?" Tanya Viona membuat Ray diseberang telepon mengerutkan keningnya.
"Suka Tono, gak bisa" Batin Ray.
"Tono sepertinya sibuk, jadi Iwan saja yang datang di butik" Jelas Ray lagi.
"Iwan, gak masalah sepertinya Iwan itu orangnya baik" Puji Viona membuat Ray pusing seketika.
"Iwan yaa, ohh ini Iwan ada tugas baru memperbaiki motor pelanggan yang harus segera diambil"
"Jadi gimana dong?" Tanya Viona.
Pura-pura Ray berpikir, "terpaksa aku yang temanin di butik, mau gimana lagi tidak ada jalan keluarnya"
"Mad, gak usah kalau gitu.. ehh sorry, maksud aku, kamu Ray"
Ray tertawa miris diseberang telepon, "lagi mikirin Ahmad ya sampai salah sebut nama"
"Bukan kayak gitu, yang bikin aku kesal itu biasanya Ahmad bukan kamu, makanya seketika ingat Ahmad. Maaf ya, gak bermaksud Ray."
Viona berusaha menjelaskan ke Ray karena sudah salah menyebut nama.
"Aku tau perbedaan kita yang begitu jauh" Ucapnya sendu sembari menghela napas.
"Ahmad sabahat aku gak lebih" Jelas Viona.
"Ya Allah salah aku berharap sama Ray" Viona membatin.
__ADS_1
Ray diam sejenak mendengar penuturan Viona, "boleh aku minta jauh dari Ahmad?"
"Caranya?" Tanya Viona.