Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
68. Berusaha Tegar


__ADS_3

Gladis berbisik ditelinga Mami Ray dan seketika Mami Ray mengangguk sembari senyum.


Ray tidak menyadari itu semua. Ia hanya fokus pada Viona saat ini.


"Maafkan aku Vio, ini diluar dugaanku" Batinnya.


Sementara Gebi dan sahabat laki-lakinya belum pindah tempat duduk.


"Berjalan dengan lancar" Ujar laki-laki tersebut.


"Harus, kalau mau cuan rencana harus sukses" respon Gebi sambil mengangkat gelas minumannya.


"Eehh itu, Viona dipanggil" Ujar Gebi sambil memukul-mukul lengan sahabatnya.


Semua mata tertuju kepada Viona yang naik diatas panggung, Mami Ray memanggil Viona untuk mengucapkan selamat secara langsung kepada Ray dan Gladis.


Gladis senyum jahat dengan sok belaga baik depan semua orang tanpa disuruh meminta mikrofon untuk Viona.


"Ini" Gladis memberikan Viona mikrofon.


Viona menyambut pemberian itu sembari senyum.


"Sebelumnya terima kasih kepada Gladis atas mikrofonnya" Ucap Viona sembari senyum dan tenang.


"Kamu pasti bisa, kamu bukan orang lemah karena perasaan, kamu akan dipermalukan ditempat ini jika tidak mampu mengendalikan diri" monolog Viona.


Ray yang berada tidak jauh dengan Viona jadi gelisah, ia tau Mami dan gladis berusaha untuk mempermalukan Viona.


"Mana ucapan selamatnya, gak bisa?" Tanya Mami Ray.


Lagi-lagi Viona senyum mendengar pertanyaan itu.


"Ok, assalamualaikum dan salam sejahtera untuk kita semua" Viona sengaja menyertakan kata sejahtera karena sudah pasti disini bukan hanya muslim tapi non muslim pun ada.


"Seperti yang disampaikan tadi, ternyata saya ini tamu undangan spesial sehingga punya kesempatan untuk berdiri disini menyampaikan sepatah dua kata untuk Gladis dan.." Ucapnya terhenti sejenak.


Ina yang berada tidak jauh dari panggung itupun menyemangati Viona, "Viona semangat" gumamnya.


"Gladis dan Ray. Jujur saya bingung berada disini karena mau ucapkan selamat kepada keduanya tapi ini hanya sebuah perkenalan sebagai calon mantu, belum tunangan ataupun menikah" Lanjut Viona.


Semua orang yang hadir disitu pun mengangguk membenarkan.


Gladis dan Mami Ray merasa dipermalukan diatas panggung mendengar penyampaian Viona. Berbeda dengan Ray, ia merasa lega mampu membela diri didepan banyak orang.


"Tapi, disini aku tetap mengucapkan selamat kepada keduanya karena mungkin tidak akan lama lagi mereka tunangan atau langsung ke pelaminan, meskipun.." Ucapnya lagi ia gantung lalu menoleh kepada Gladis sembari senyum.


"Aku pernah dengar kalau mereka sudah menikah" Lanjutnya membuat orang berbisik satu sama lain.


"Siapa yang berkata seperti itu?" Tanya Mami Ray kepada Viona.


"Sabar saja bu, pasti akan sampai ke ibu berita yang saya sampaikan tadi"


"Ini kelewatan, bagaimana bisa saya menikahkan anakku secara diam-diam" Protes Mami Ray, emosinya sedikit terpancing.


"Viona aku tidak menyangka kamu seberani itu" Ina bangga sama Viona. Senyum tidak luntur dari bibirnya, "kalau seperti ini yang dijaga gak ribet" sambungnya lagi dengan mata terus memantau Viona diatas panggung.


Ina merogoh ponselnya dan merekam Viona yang sedang bicara.


"Aku dengar kamu pernah pacaran dengan Ra, apa itu benar?" Tanya Gladis.


Ray mendengar itu mengepalkan tangannya menahan emosi, dari pertanyaan maminya yang menurutnya aneh sudah membuatnya kesal, sekarang Gladis.


Papi Ray yang ikut berdiri dari kursinya melarang Ray untuk tetap tenang lewat tatapan mata. Ray menghela napas mencoba untuk menelan semua ucapan itu.


"Pacaran!, Aku dan Ray gak pacaran, kata siapa aku dan Ray pacaran?, Dalam agamaku pacaran diperbolehkan setelah menikah, jadi apapun aktivitas didalamnya bernilai ibadah, bukan dengan suka rela mau dipegang dan dibawa sana sini dengan modal kata-kata manis. Karena aku sadar dan perempuan diluar sana pun setuju dengan pernyataan aku ini, KAMI PEREMPUAN SANGAT BERHARGA DAN ISTIMEWA" Jelas Biona sembari senyum seadanya.

__ADS_1


"Gimana, setuju?" Lanjutnya dengan bertanya yang hadir di acara itu.


Kali ini panggung serasa milik Viona, ia seakan tau cara penguasaan panggung. Entah memang tau caranya atau secara kebetulan.


Dimata Ray dan Ina, malam ini Viona luar biasa. Ada hati yang bangga yaitu Ina, ada hati yang makin jatuh cinta yaitu Ray dan ada hati yang merasa dipermalukan yaitu Gladis dan Mami Ray.


"Dasar sok tau, bicara seakan sudah penghuni surga" Batin Gladis dengan memegang mikrofonnya kuat, ia menyalurkan rasa kesalnya lewat mikrofon tersebut.


Ada rasa benci muncul dari dalam hati Gladis dan Mami Ray.


Berbeda dengan Viona, ia memilih turun dari atas panggung menuju Ina. Sesampainya disana, Ina langsung menyambut Viona dengan senyum bahagia.


"Vio, kamu membuat orang mati kutu. Aku senang" Ujarnya sambil memegang tangan Viona dengan tatapan bangga.


Viona lagi-lagi hanya mengikuti apa yang dilakukan Ina pada dirinya. Senyum tidak luntur di bibirnya karena Ina.


"Kamu pulang naik apa?" Tanya Ina.


"Aku bawa mobil, kamu?"


"Aku juga. Gimana kalau pulangnya sama-sama?"


"Boleh juga, jadi aku aman, hehehe" Jawab Viona dengan candaan.


Ina yang mendengar itu, langsung mengirim pesan kepada seseorang.


"Viona saat ini tidak aman" pesan itu langsung dibalas orang pihak yang menerima.


"Makanya aku suruh kamu Na" balasnya.


"Iya.. iya.. aku antar Viona dulu pulang" pesan Ina lagi.


"Ok" balasnya menutup percakapan mereka lewat pesan.


🌺


"Plaakk" Gladis menampar Viona.


Viona syok sembari memegang pipinya yang panas bekas tamparan tersebut. Pipi Viona memerah dan disana tergambar jelas jari Gladis.


"Plaakk" Ina membalas tamparan itu.


"Kurang ajar kamu yaa" Tunjuk Gladis dengan mata nyalang.


"Kamu berani hanya sama Viona" Ucap Ina dengan nada tinggi, seketika sifat perempuan dalam diri Ina hilang.


"Kamu siapa, berani menampar Viona seperti itu?" Lanjutnya.


Viona menghampiri Ina, "Pulang yuk?"


"Gak apa-apa kan?" Ina memastikan Viona sebelum mengiyakan ajakannya.


"Iya, dikompres langsung sembuh nih"


"Gak apa-apa, pulang yuk!" Ulang Viona untuk kedua kalinya. Ia malas ladenin Gladis, sudah cukup terkuras energinya malam ini. Lagian rasa sakit dipipinya tidak sebanding dengan rasa sakit dalam hatinya.


Viona dan Ina balik badan untuk masuk mobil, seketika dari arah belakang Ray memanggil Viona.


"Maaf Vio, sudah mau pulang? Aku antar ya" Ray menawarkan diri.


Ina yang sudah di mobilnya, terpaksa kembali menghampiri Viona.


"Urus tuh calon istrimu" Ujar Ina sambil menunjuk Gladis.


Ray menatap Gladis dengan tajam, "Apa yang kamu lakukan sama Viona?" Ujarnya.

__ADS_1


"Gak ada" Bohong Gladis, "lihat nih" lanjutnya sambil menunjuk pipinya yang memerah. Ia mengadu pada Ray.


"Kamu buat ulah lagi?" Tanya Ray dengan dingin.


"Mereka yang buat ulah bukan aku, aku kesini hanya untuk berterima kasih pada Viona" Ungkap Gladis dengan percaya diri.


"Aku pamit pulang, sampai jumpa" Ucap Viona setelah beberapa menit tertunda karena kedatangan Ray.


Viona dan Ina membawa mobil masing-masing, Ina sengaja mengikuti mobil Viona dari belakang.


Sedangkan Ray kembali menemui orang tuanya yang diikuti oleh Gladis.


"Ya ampun Lex, dari mana?" Tanya Maminya, "oh lagi bicara sesuatu dengan Gladis ya?" Lanjutnya lagi dengan pertanyaan.


"Iya Tan, Ra so sweet banget" Puji Gladis.


Ray menatap wanita itu dengan tajam dan dingin, lalu ia masuk dalam mobil tanpa meninggalkan kata sedikit pun.


"Ikut, tante dan om saja" tawar Mami Ray lagi.


"Boleh?" Tanya Gladis dengan hati bahagia.


"Tentu boleh dong"


Mereka susul Ray masuk dalam mobil, Mami Ray sengaja menyuruh Gladis duduk didepan tepat samping Ray.


Bagi Ray protes kali ini percuma, tidak akan membuahkan hasil. Diam-diaman dalam mobil.


"Ekhem" Mami Ray berdehem.


Gladis menoleh kebelakang.


"Kenapa Tan?"


"Tuu" jawab Mami Ray tanpa suara sambil menunjuk putranya itu.


"Ra, Mami.." Panggil Gladis.


Ray menempelkan jarinya depan bibir.


"Tapi Mami kamu yang panggil" Ujar Gladis dengan manja. Dengan berani memegang lengan Ray.


Seketika Ray langsung memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, lalu melihat Gladis sejenak.


"Bisa diam gak tu tangan, atau mau turun disini tengah malam" Ujar Ray kepada Gladis.


Gladis anggap itu hanya sebuah candaan, ia abaikan begitu saja.


"Ra, santai dong. Kita tidak akan lama lagi akan menikah, jadi gak masalah kalau pegang-pegang"


"Oh ya, kasian sekali kamu" Ujar Ray lagi dan kembali melajukan mobilnya membela jalan kota. Ia tidak perduli orang tuanya mendengar ucapannya.


"Kasian" Ulang Gladis tidak mengerti.


"Kasian. Sangat mudah mendekat dengan laki-laki, padahal laki-laki suka wanita yang jika ingin memilikinya harus melewati berbagai tantangan. Bukan, dengan suka rela seperti ini" Jelas Ray sedikit menohok.


Gladis mengepalkan tangannya mendengar kata yang merendahkan dirinya itu. Kalau bukan orang yang cinta mungkin sudah melayangkan tamparan diwajahnya. Ia menarik napas pelan untuk mengontrol perasaannya sembari menarik tangannya pelan dari lengan Ray.


"Jijik aku dengarnya, seakan sudah menjadi manusia yang paling suci di dunia ini. Aku buat perhitungan padamu Viona, sudah berani merubah Ra ku yang dulu begitu nurut padaku" Batin Gladis.


Orang tua Ray yang berada dibelakang hanya diam mendengar itu, Mami Ray ingin membela Gladis tapi Papinya menggelengkan kepala tanda ia larang.


"Tapi Pi..?"


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri"

__ADS_1


"Anak Papi itu sudah berlebihan"


Kali ini Mami Ray setelah mengucapkan kalimat terakhirnya langsung menoleh ke samping. Ia kesal pada suaminya.


__ADS_2