Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
19. Merasa Diabaikan


__ADS_3

"Oh" respon Ahmad sembari mengangguk., "Mau aku ajak keliling resto ini, disudut sana ada meja makan menghadap air mancur" tunjuk Ahmad.


"Bisa coba gak? Tapi ada satu permintaan, boleh?" Tanya Viona dengan hati-hati.


"Santai aja kali, kita ini bestie" Ucap Ahmad dengan ramah.


Ray mendengar itu, menghela napas kasar.


"Bilang aja, suka. Dasar" Gumamnya dengan kesal dan tidak sengaja kulit kerang jatuh mengenai piringnya.


Ahmad dan Viona spontan melihat Ray. Ray menatap Ahmad sekilas dengan tatapan tajam.


Ahmad langsung mengajak Viona dengan Ray untuk melihat apa yang ia tunjukkan tadi.


"Ayo kita kesana" Ajak Ahmad.


"Ekhem, masih makan. Berdosa buang-buang makanan" Ucap Ray asal tapi dalam hati panas dan seakan tanduk sudah mau keluar.


"Kayak punya resto saja" Gumamnya lagi.


Viona baru menyadari perubahan Ray setelah menyinggung makanan.


"Kapan-kapan saja aku lihat, gak baik meninggalkan makanan" Tolak Viona dan tidak enak kepada Ray.


"Oh iya. Masukkan kontak aku di ponselmu supaya tinggal telfon" Ucap Ahmad lagi sambil memperagakan orang menelfon.


"Aku hampir lupa, 0822 xxxx xxxx" Ucap Viona sambil memasukkan nomor Ahmad dalam ponselnya, "makasih ya" Sambungnya.


"Iya, sama-sama. Aku harus lanjut kerja. Assalamualaikum" pamit Ahmad.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Viona.


"Wa'alaikumussalam, iya biaya nikah sekarang mahal jadi harus rajin kerja" Jawab Ray dengan sedikit menyinggung.


Ahmad mengabaikan ucapan Ray, baginya itu tidak penting karena bertemu dengan Viona saja sudah bahagia.


Ahmad lanjut kerja dan disini karena ia pemilik restoran itu, maka ia hanya memantau kinerja karyawannya.


"Untuk meja nomor 20 jangan bayar ya, bilang saja sudah ada yang bayar" Ucap Ahmad lalu ia pergi.


Sementara Viona dan Ray melanjutkan makan, tapi mood Ray yang sempat terganggu sehingga sampai sekarang ia memilih untuk diam.


"Ray, kamu suka seafood?" Tanya Viona karena melihat Ray makan tanpa henti.


"Iya.. mentahnya saja aku makan" jawab Ray malas.


Viona membulatkan matanya, "Benar Ray?" Tanyanya dengan serius.


"Iya Viona" jawab Ray lagi sambil melanjutkan makan.


"Serius?"


"Aku dua serius malah"


Viona memilih untuk diam setelah mendengar jawaban Ray, karena menurutnya jawaban itu tidak masuk akal.


"Cepat, baru kita pulang" Ujar Ray lagi.


"Nanti habis nasi satu bakul baru pulang"


"Buset, kamu aja. Aku sudah makan kerang kerang dari tadi"


"Saling membantu"


"Habiskan, aku mau cuci tangan dulu" Pamit Ray lalu pergi cuci tangan.


Viona mencari akal agar makanan itu cepat habis.


"Bodohnya, aku punya kontak Ahmad. Minta tolong saja sama dia" Ucap Viona sambil mengetik di ponselnya, "selesai" sambungnya setelah ia tekan tombol send di ponselnya.


Ray baru duduk diseberang meja dengan Viona, suruhan Ahmad sudah datang.


"Ada apa ini?" Tanya Ray bingung.


"Mereka mau habiskan ini seafood" Jawab Viona, "silahkan duduk dan eksekusi" Sambungnya kepada empat orang tersebut.


Ray melihat itu hanya pasrah, ia menyuruh Viona untuk menghabiskan seafood tersebut hanya main-main tidak sampai dari hati.


Empat orang tersebut setelah dipersilahkan oleh Viona langsung memakan makanan tersebut tanpa henti sampai habis dan menurut Viona itu hebat.


"Restoran ini bagus lho Ray, kalau kamu tidak sanggup untuk menghabiskan makanan ada tim khusus untuk membantumu, seperti aku saat ini" Bisik Viona dengan bangga dan Ray hanya menaikkan satu alisnya.


"Mana ada yang seperti itu" Monolognya tidak percaya.


Menurutnya tidak masuk akal ada restoran yang menyediakan jasa khusus untuk membantu menghabiskan makanan, itu hal aneh dan langka.


"Gak tertarik untuk dibahas, karena sudah habis makanya kita pulang" Ucap Ray sambil memegang Aqua botolnya.


Viona hanya memutar bila matanya malas dan bangkit dari duduknya. Mereka jalan menuju kasir.


"Ada uang emang?" Tanya Viona bercanda.


"Ada" Jawabnya kepada Viona, "Berapa semuanya untuk meja nomor 20?" Tanyanya setelah sampai kasir.


"Untuk meja 20 sudah dibayar mas" Jawab pegawai kasir.


"Masa? Aku baru mau bayar ini" Ray lagi tidak percaya.


"Iya mas, udah dibayar" Jelasnya lagi agar Ray percaya dan yakin.


"Terima kasih ya mbak" Ucap Viona.


Ray langsung pergi setelah mendengar ucapan Viona itu menunju parkiran.


🌺


Siang cepat berlalu tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Membuat terkejut kepada para penjelajah, langkah belum usai siang sudah berlalu.


Penikmat malam pun mulai menanti untuk melihat permata kecil di langit hanya untuk sekedar menghibur diri atau sekedar hobi.


Hobi?, Emang hobi seseorang itu berbeda-beda tapi tidak sedikit orang yang sedang dirundung kebingungan dengan menatap langit seakan beban di punggungnya terasa ringan.


Gadis mungil Viona salah satu makhluk bumi penyuka malam, entah apa yang ia lihat tapi rasanya damai hanya melihat bintang di langit.


"Hal yang tidak bisa digapai, tapi bisa ditatap sepuas mungkin yaitu bintang. Aahh, bintang kenapa kau begitu indah dengan kerlap kerlipmu" Lirih Viona sembari menatap melihat bintang-bintang di langit.


Menatap langit memang meneduhkan mata menentramkan jiwa, itulah kenapa Viona suka dengan malam yang sunyi jauh dari kebisingan aktivitas manusia.


Masih menikmati kesendiriannya benda pipih canggih yang ada diatas meja samping kursinya bunyi tanda pesan masuk, Viona abaikan. Tidak lama bergetar tanda ada panggilan masuk, ia pun masih malas untuk menengoknya.


Ibu Heti datang dengan segelas susu dan toples kue nya.


"Ini" Ucapnya sambil menyimpannya diatas meja.


Viona meliriknya sekilas, "makasih mam, tapi aku kue aja yaa lagi malas minum susu"


"Udah dibawakan, bersyukur" Ibu Heti mengingatkan anak gadisnya itu.


Viona pun seketika menyanyi, "Bersyukur kepada Allah"


Ibu Heti langsung menoel kepala putrinya itu.


"Mama serius"


"Sama ma.. eh tau gak mam, kenapa bintang adanya dimalam hari bukan disiang hari?"


"Kalau disiang hari sinarnya ditutupi oleh sinar matahari"

__ADS_1


"Salah"


"Karena bintang penghias langit dimalam hari bukan disiang hari"


Viona sembari menggeleng pelan, "salah ma"


"Oh mama tau, karena kalau siang itu adanya binatang bukan bintang"


"Masih salah tapi sudah menghampiri"


"Ada apa ini?" Tanya Rifal penasaran mendengar ada suara Viona dan ibu Heti yang berada dekat jendela tengah dengan posisi duduk diluar rumah atau balkon rumah.


"Jawab Rifal, mama bingung jawabnya.


Tapi bunda curiga, pasti akal-akalan ini anak" curiga ibu Heti kepada Viona


Viona memajukan badannya agar lebih dekat dengan ibu Heti, "berprasangka buruk itu dosa mam" Ujarnya.


"Ehh.. Ini anak" Jawab ibu Heti dan spontan memukul pelan lengan anaknya.


Rifal melihat adik dan ibunya asyik cerita, dia pun memutuskan untuk gabung. Ia jarang gabung cerita semenjak sibuk kerja.


"Kurang Yesi ya!" Ucap Ibu Heti.


"Iya, kapan balik kak Yesi, ma?" Tanya Viona. Ia sudah tidak sabar menunggu kepulangan kakaknya itu.


"Minggu depan"


"Baguslah, aku tunggu janji kak Yesi" Ucap Viona.


"Janji apa dek?" Tanya Rifal.


"Rahasia" jawab Viona dan menoleh ke ibunya, "aku masuk dulu ya" Pamitnya.


"Iya" jawab ibu Heti.


"Bagaimana Lea?" Tanyanya kepada putranya itu.


"Lea, sudah dekat acara 7 bulanan bun"


"Kapan?" Tanya bunda Heti antusias.


"Bulan depan dong mam"


"Oh, rencana diadakan dimana acara tujuh bulanan Lea?"


"Disini, dimana lagi?" Tanya balik Rifal.


"Mungkin dirumah Lea sendiri"


Rifal berpikir sejenak, "iya juga yaa, nanti aku tanya Lea mam, maunya dimana"


"Iya, benar tuh. mama tunggu"


"Ok bun, masuk dalam mam" ajak Rifal.


"Iya"


Mereka pun masuk dalam rumah.


🌺


Mentari pagi sudah nampak dari arah terbitnya, seperti biasa tanda makhluk bumi siap untuk kembali beraktivitas.


"Ainun, bangun nak. Mandi lalu sarapan sebelum ke sekolah" ibu Heti membangunkan cucunya.


"Nek, ibu kapan pulang?" Tanya Ainun setelah bangun dari tidurnya.


"Minggu depan"


Ainun langsung berdiri lalu loncat-loncat diatas tempat tidur, "Yee, ibu balik"


"Mandiin nek" Minta Ainun kepada neneknya dengan manja.


Ibu Heti langsung ke kamar mandi memandikan Ainun. Setelah Ainun selesai mandi, Ibu Heti langsung mengeringkan rambut cucunya itu menggunakan handuk kecil. Lalu memakai seragam sekolahnya dan tidak lupa dipakaikan bando.


"Sayang, ke meja makan ya, disana ada bibi Lea, nenek ke kamar bibi Vio dulu" Ucapnya memberi tahu sang cucu.


"Iya nek" jawab Ainun lalu keluar dari kamarnya.


Ibu Heti ke kamar Viona dan disana sang empu masih tidur bergelut dengan selimut tebalnya.


"Ya ampun ini anak" Gumam ibu Heti sembari menarik selimut Viona itu.


"Viona, bangun. Ini sudah siang lho" Ucapnya.


"Lagi mager ma" Jawab Viona dengan posisi yang belum berubah dan mata masih tertutup.


"Ainun udah menunggu tuh dimeja makan."


Viona memperbaiki posisi tidurnya dengan membelakangi bundanya.


"Mager ma, mama dulu yang antar Ainun hari ini" Ucapnya dan kembali terlelap dalam tidurnya.


"Ya Allah sudah tidur lagi" Ucap ibu Heti mendengar deru napas Viona yang teratur.


Ibu Heti pun keluar dari kamar anak bungsunya itu menuju meja makan. Dan disana terlihat Ainun belum makan.


"Lho kenapa belum makan sayang?" Tanya ibu Heti kepada cucunya itu.


Ainun memanyunkan bibirnya dengan mendorong nasi goreng itu agar jauh darinya.


"Bibi suap?" Tanya Lea.


Ainun menggelengkan kepala.


"Maunya nenek yang suap ya?, Sini sendoknya bibi Lea" Ucap Ibu Heti lagi dengan diakhir kalimat suaranya ia ubah seperti anak kecil membuat Ainun ketawa.


"Aaaa" Ucap ibu Heti dengan sendok nasi goreng mengarah ke Ainun.


Ainun malah mengatupkan mulutnya dan menggeleng tidak mau.


"Ainun, mau om yang suap?" Tanya Rifal dan Ainun kembali menggelengkan kepala.


"Pusing aku ma" Rifal menyerah.


"Maunya Ainun siapa yang suapin?" Tanya Lea dengan lembut.


"Ibu" jawab Ainun cepat.


Ibu Heti langsung mengeluarkan ponselnya dan menelfon anaknya.


"Yesi, kapan balik?" Tanya ibu Heti ditelepon.


Terdengar jelas langkah kaki Yesi ditelepon itu, "minggu depan ma"


"Tidak bisa dipercepat? Ainun gak mau makan ini" Ucap ibu Heti lagi, "lihat?" Sambungnya setelah beralih ke Video Call.


Yesi melihat wajah murung anaknya itu, yang ia tinggalkan beberapa bulan ini.


"Sayang makan yaa, ibu pulang besok" Ucap Yesi melihat anaknya itu yang tidak mau melihat layar ponsel neneknya.


"Haaoommm, mama" Panggil Viona yang tidak tahu menahu yang terjadi dimeja makan.


Viona sampai di meja makan, melihat ponakannya masih diam dan beralih kearah Rifal dan Lea.


"Gak ke kantor kak?" Tanya viona.

__ADS_1


"Pergi, ini udah mau siap-siap" Jawab Rifal, assalamualaikum" pamit Rifal diikuti oleh Marcelea.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab Viona dan bunda Heti bersamaan.


Sampai pintu utama Rifal pamit kembali pada istrinya.


"Abang kerja dulu yaa, jangan capek-capek" Rifal mengingatkan istrinya.


Marcelea mengangguk sembari senyum, "Iya bang, Abang hati-hati dijalan yaa"


"Iya, assalamualaikum" pamit Rifal.


"Wa'alaikumussalam" jawab Marcelea.


Rifal masuk mobil dan Marcelea kembali ke meja makan.


🌺


Ainun baru sampai sekolah diantar oleh bunda Heti dan Viona. Karena berbagai drama Ainun lakukan dari tidak mau makan sampai diantar pun harus nenek dan bibinya, kalau tidak maka ia menangis.


"Kali ini mama aja yang antar Ainun ya" Ucap Viona dibagian kemudi.


"Iya, tunggu disini ya?"


"Iya mam" Jawab Viona.


Ibu Heti mengantar Ainun sampai depan kelas, ternyata sampai depan kelasnya pun mode ngambeknya masih ada.


"Masuk sayang" Ucap Ibu Heti kepada cucunya.


Ainun tidak ada respon sedikit pun. Diam ditempat, itu yang dia lakukan.


"Ainun, teman-teman kamu sudah masuk kelas lho" Ucap Ibu Heti lagi.


Ainun melihat neneknya lalu kembali matanya melihat dalam kelas.


Ibu Heti melihat itu langsung kembali bertanya kepada cucunya lagi.


"Kenapa sayang?" Tanya Ibu Heti lagi dengan pelan dan lembut.


"Temanin Nek" Ucapnya setelah lama diam.


"Iya, masuk dalam kelas yaa, nenek tunggu diluar" Ucap Ibu Heti dan Ainun pun mengangguk sembari senyum lalu masuk kelas.


Ibu Heti mencari kursi yang tidak jauh dari kelas Ainun. Ia duduk disana sembari menelfon anaknya Yesi untuk segera pulang.


Disisi lain, Viona menunggu bodoh dalam mobil. Kapan-kapan ibunya keluar dari gerbang sekolah Ainun.


"Mama keasyikan cerita atau gimana ini? Telepon aja kali yaa" Ucapnya sambil menelfon sang Bunda.


"Lah kok sibuk" Ucap Viona lagi, "kirim pesan aja kali" sambungnya lagi.


"Ainun belum masuk kelas mam? Capek nih" pesan Viona untuk ibundanya.


Tidak begitu lama pesannya langsung dibalas oleh bunda Heti.


"Mama tunggu Ainun diluar, gak mau ditinggal" Balasan Bunda Heti.


Viona membaca pesan dari bundanya.


"Kak Yesi, betah banget gak ingat anak apa" Ucap Viona sambil mencari kontak kakaknya.


"Assalamualaikum kak Yesi, kapan pulang?" Tanya Viona to the point ditelepon.


Terdengar jelas ditelinga Viona kalau Yesi saat ini sedang sibuk.


"Ini lagi siapkan oleh-oleh untuk dibawa pulang" Jawab Yesi diseberang telepon.


"Oh iya kak, assalamualaikum" Ucap Viona lalu mematikan sambungan telepon.


Setelah menelepon kakaknya, ia kembali mengirim pesan untuk bundanya.


"Bun, Viona pergi sebentar, nanti kalau Ainun pulang telepon saja."


Viona kembali membawa mobilnya menuju restoran seafood Ahmad.V. 15 menit kemudian, ia sampai di restoran yang di tuju. Viona kembali mencari tempat ternyaman menurutnya yaitu dipojok untuk menghindari suara bising pengunjung lain.


"Aku mau pesan apa ya" Viona kebingungan melihat menu yang banyak.


"Boleh saya beri saran mbak?" Tanya pelayan yang sudah menunggu untuk menulis menu yang akan dipesan Viona.


"Boleh mbak" Jawab Viona dengan senang hati.


"Ini menu baru mbak dan dijamin pasti suka" ucapnya sembari menunjuk gambar menunya


"Tomyam seafood?" Tanya Viona memastikan.


"Iya mbak"


"Oke, pesan itu yaa pakai nasi" Ucap Viona lagi sembari senyum.


"Minumannya mbak?"


"Air mineral saja, tambah eskrim"


"Eskrim, maaf mbak disini gak ada eskrim" Ucap waiter itu.


"Gitu ya, bentar yaa" Ucap Viona lalu mengambil ponselnya dalam tas menelfon Ahmad.


"Assalamualaikum Mad, kok gak ada eskrim?" Ucap Viona ditelepon itu.


"Wa'alaikumussalam, habis Vio" Jawab Ahmad diseberang telepon itu sambil mengetik.


"Gimana sih, aku datang supaya makan eskrim. Eh malah habis" Ucap Viona lagi, "tunggu ya Mad, teman saya menelepon jangan dimatiin, bentar saja" sambungnya lalu mengangkat telepon dari Ray.


"Ada apa Ray?" Tanya Viona to the point karena tidak enak kasih menunggu Ahmad.


Ray yang ada dibengkel langsung mencari tempat duduk ternyaman.


"Kok bertanya seperti itu?" Tanya balik Ray.


"To the point aja" Ucap Viona lagi.


"Dimana?" Tanya Ray.


"Di restoran seafood, sudah dulu yaa, lapar mau makan" Ucap Viona kepada Ray.


"Eehh tunggu.. tunggu.. tunggu.. makan apa?" Tanyanya di telepon.


"Makan orang, pakai nanya lagi. Makan nasi lah. Sudah. By" Ucap Viona lalu ia matikan Sambungan sepihak.


"Mbak itu aja. Kalau bisa dipercepat yaa, soalnya aku lapar" Ucap Viona lagi dan waiter itu langsung buru-buru pergi.


"Mad, udah dulu yaa.. mau makan" Kilah Viona ditelepon.


"Oke, assalamualaikum" Ucap Ahmad lalu ia matikan sambungan telepon dan kembali menghubungi manajer restorannya.


"Bawakan eskrim mix 3 colour untuk perempuan yang baru datang. Secepat mungkin, pelanggan harus dibuat nyaman agar dia terus datang" Ucap Ahmad ditelepon lalu ia matikan.


Sedangkan Ray malah menatap layar ponselnya sejak Viona matikan telepon sepihak.


"Apa gara-gara Ahmad?. Secara kan mereka berteman dengan yang namanya Ahmad itu, kalau benar? masa iya aku diabaikan gara-gara teman" pemikiran Ray kadang kemana-mana kalau tiba-tiba Viona berubah sedikit.


"Berpikir positif Ray" Gumamnya lalu kembali ke ruangannya yang berada dibengkel itu.


"Coba ada Alan, ehh Alan dimana sekarang? Kenapa semenjak dari bandara menghilang?"


"Apa dia sibuk ya makanya gak datang di bengkel" Ray kepikiran sahabat satu-satunya itu yang akhir-akhir ini tidak ke bengkel lagi.

__ADS_1


"Mungkin nanti tiba di rumah, baru aku telepon" Ucapnya lalu mengambil jaket yang biasa ia pakai keluar.


"Jaga bengkel yaa" Ucap Ray kepada anak buahnya dibengkel lalu ia pergi mengendarai motornya.


__ADS_2