
Deg-degan!
Itu yang dirasakan oleh Ray saat ini dengan membawa kue bolu rasa pandan kesukaan keluarga itu. Namun, ada inisiatif dari Ray sendiri maka ia menambahkan dengan bolu kukus tiramisu.
Ray sudah duduk diruang tamu menunggu Alan, Alan sampai langsung ketuk pintu dan memanggil Ray dari luar.
"Ra, gak masuk ya tunggu diluar malas buka sepatu" Teriak dari pintu.
"Bergaya, mau ke rumah Viona pakai sepatu segala, banyak tingkah di sana aku tinggal nanti" Ancam Ray setelah membuka pintu rumah dengan paper bag ditangan kirinya.
Alan melihat Ray dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kenapa lu?" Tanya Ray. Ia merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya sore ini.
"Santai amat mau kesana, cincin mana?" Tanya Alan lagi dengan menyodorkan tengahnya didepan.
"Cincin apa?, Aneh kamu" Ucap Ray lalu pergi menuju mobilnya.
Ray masuk dalam mobil dan Alan ikut masuk dalam mobil.
"Aku aja yang nyetir Ra" Alan menawarkan diri kepada sahabatnya itu.
"Ok lah" Ray malas memperpanjang cerita disore ini.
Alan yang mengemudi mobil dan Ray terlihat duduk anteng tapi hati deg-degan.
Beberapa kali menghela napas kasar untuk menetralkan perasaannya yang tidak tenang.
"Lan, kok aku deg-degan ya!" Ujar Ray.
"Santai aja. Lagian sudah siapkan semua kan?" Tanya Alan dengan mata fokus didepan
"Siapkan apa?, Ini kue bolu yang aku bawa" Jelas Ray menunjuk kebelakang tanpa menoleh dimana bawaannya disimpan.
Alan mengangguk, "Oh, ini bukan mau datang mengatakan kalau kamu serius?" Tanya Alan dengan menoleh sekilas lalu kembali fokus nyetir.
"Tau kan, gimana aku dan Viona?" Tanya balik Ray pada sahabatnya itu.
Ray diam sejenak lalu kembali berkata, "Sebenarnya aku belum siap hari ini Lan" Ujarnya membuat Alan rem mendadak.
"Astaga" Ucap Ray seketika kaget karena mobil tiba-tiba berhenti, "Lan, hati-hati!" Sambungnya lalu menoleh ke belakang melihat nasib paper bag yang berisikan bolunya.
"Apa kamu bilang, gak siap?, Gila ini, udah setengah perjalanan baru bilang gak siap" Alan heran pada sahabatnya itu.
"Ragu Lan" Ujarnya dengan lemah.
"Kamu laki-laki kan?" Tanya Alan dengan cepat Ray mengangguk.
Alan melihat ekspresi Ray seketika pecah suaranya. Ia merasa lucu melihat ekspresi Ray seperti anak kecil yang polos.
"Hahaha. Aduh perut aku" Ujar Alan dengan memegang perutnya yang kram karena lama ketawa.
"Ya Allah, ternyata masih ada orang seperti ini di muka bumi yang luas ini.. hahaha" Alan sungguh tidak sanggup menahan tawa karena melihat sahabatnya saat ini.
"Gimana sih pengalaman kamu dengan Gladis?, Bukan kalian udah akrab, malah dulu kalau gak salah sering ke rumahnya" Alan kembali mengingat kisah Ray saat pacaran dengan Gladis.
Ray bukan hanya dekati anaknya melainkan orang tuanya juga.
"Berbeda lah, masa sama" Jawab Ray dengan malas.
"Bayangkan saja saat melihat wajah keluarga Viona itu wajah orang tua Gladis" Jelas Alan sedikit tidak masuk akal dan aneh.
"Masa dulu pacaran berani sekarang tidak" Ujar Alan lagi dan kembali mengemudi.
"Beda dulu dengan sekarang, dulu pacaran sekarang serius. Hati-hati bawa mobil" Ray mengingatkan Alan.
"Iyaaa.. Ra, emang beda ya pacaran dengan serius? Bukan kebanyakan orang pacaran berakhir pernikahan, itu kan serius juga. Gak terima aku" Jelas Alan dengan pernyataan Ray tadi.
"Pacaran belum tentu serius Lan, apalagi lihat cara pacaran sekarang makin aneh kelakukannya, kayak kamu" Ujar Ray membuat Alan menoleh seketika.
"Eh eh, enak benar ya kalau ngomong. Aku serius kalau ketemu dengan wanita yang serius" Alan membela diri.
"Dari mana mau dapat yang serius kalau tempat mencarinya itu ditempat yang suka main-main, memang otak kamu aneh" Tunjuk Ray lalu ia menggelengkan kepalanya heran kepada sahabatnya.
"Ada tuh kata yang cocok buat kamu saat ini, pernah aku dengar RUQIAH, iya benar kamu perlu di Ruqiah" Ulang Ray kata ruqiah untuk sahabatnya.
"Itu bagi yang sakit ya, bukan seperti aku yang sehat ini" jawab Alan tidak terima.
"Jiwamu yang sakit ragamu yang sehat" Gumam Ray lalu menoleh kesamping melihat pemandangan luar, ia sudah malas berdebat dengan sahabatnya itu.
Tidak terasa mobil Ray berhenti tepat di depan pagar rumah Viona.
"Ra, telepon Viona supaya dibukakan gerbang" Alan menyuruh Ray.
"Telepon atau kirim pesan?" Tanya Ray mendadak kosong otaknya saat ini.
"Tidak, kirim burung merpati untuk membawa pesan mu Ra. Ya ampun Ra kenapa jadi oon kayak gini sih" Kesal Alan karena sudah menunggu di depan rumah tapi gerbang rumah belum dibuka juga sampai sekarang.
"Ponsel kamu mana, heran aku" Minta Alan lalu menelfon Viona.
"Assalamualaikum Viona" Ucap Alan ditelepon
"Wa'alaikumussalam tumben beri salam?" Tanya Viona heran karena selama ini Ray tidak pernah beri salam kepadanya.
__ADS_1
"Bisa saja, emang gak bisa?" Tanya Alan lagi membuat Ray menatap tajam Alan.
"To the point saja" Bisik Ray.
"Suka-suka aku" Jawab Alan tidak kalah kecil suaranya dari Ray.
"Itu ponsel aku" Tunjuk Ray.
"Bodoh amat" Jawab Alan malas pusing.
"Oh iya Viona, aku dan Ra depan rumah kamu nih" Ucap Alan kepada Viona dan diseberang telepon terdengar suara "haa" karena kaget.
"Serius? Kenapa gak bilang" Ujar Viona dalam telepon itu dan Alan seketika melihat Ray seakan tidak dengar.
"Bukan sahabat aku ini udah beritahu kamu atau gimana sih?, Pusing aku urus kisah percintaan kalian berdua, kalau memang siap menikah, menikah aja secepatnya agar tidak bingung kayak gini" Ucap Alan panjang lebar dalam telepon itu membuat Viona merasa lucu dan syok seketika.
Viona baru tau kalau Alan bisa banyak bicara kayak emak-emak.
"Tunggu ya, aku beritahu kak Yesi yang bukakan gerbang" Ucap Viona lagi dan terdengar jelas ditelinga Ray dan Alan lewat telepon genggam itu kalau Viona menyuruh ponakannya.
"Sayang, bibi minta tolong beritahu ibu Ainun untuk buka gerbang. Bilang sama ibunya Ainun ada tamu bibi Viona didepan" tuturnya kepada sang ponakan.
"Baik bibi" Jawab Ainun dan lari mencari keberadaan ibunya untuk menyampaikan seperti yang dipesankan oleh bibinya.
Rifal yang sedang istirahat mendengar suara Ainun langsung keluar kamar.
"Ainun mau kemana?" Tanya Rifal.
Ainun yang sudah sedikit jauh dari Rifal langsung membalikkan badan dan lari kearah Rifal.
"Cari ibu. Ada teman bibi didepan" Ujarnya dengan ngos-ngosan.
"Teman bibi udah didepan?" Tanya Rifal lagi sama ponakannya itu.
Ainun menggelengkan kepala, "gak tau Om kata bibi buka gerbang" Jawabnya begitu polos.
"Ohh,. Om aja yang buka ya, kembali main-main saja tidak usah cari ibu" Jelas Rifal yang diangguki Ainun lalu lari kembali dimana biasa Ainun main-main.
Rifal langsung bergegas menuju gerbang pagar rumah, ia langsung membuka gerbang. Pertama Rifal lihat adalah sebuah mobil yang parkir tepat depan rumah. Menunggu beberapa menit orangnya tidak muncul, akhirnya Rifal berinisiatif mengetuk kaca mobil.
Dalam mobil gelagapan karena Ray dan Alan ketiduran didalam mobil.
"Kakak Viona" Ujar Alan saat menoleh kearah kaca yang di ketuk.
"Itu?" Tanya Ray yang masih mengantuk.
"Iya" Jawab Alan lalu bergegas keluar dari mobil menemui Rifal.
"Wa'alaikumussalam" Jawabnya sambil melihat Alan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu temannya Viona yang pernah datang itu hari kan?" Tanya Rifal lagi.
"Iya" Jawab Alan sembari senyum.
Ray keluar dari mobil dengan santai mengeluarkan paper bag dibelakang lalu menyapa Rifal.
"Saya teman Viona, saya Ray" Ucap Ray mengulurkan tangannya didepan.
Rifal menyambut tangan itu, "saya Rifal kakak Viona. Silahkan masuk"
Rifal duluan diikuti oleh Ray dan Alan dibelakang.
"Ada maksud apa kalian datang disini?" Tanya Rifal dengan nada dingin.
"Tidak bersahabat orangnya" Batin Ray.
"Jalan-jalan kak" Jawaban singkat dari Alan membuat Rifal membalikkan badan melihat Alan dan Ray bergantian.
Ray hany senyum canggung melihat sorotan mata Rifal.
"Sejak kapan saya jadi kakak kamu?" Tanya Rifal lalu kembali jalan dan masuk dalam rumah lalu mempersilahkan Ray dan Alan duduk.
Rifal pamit kepada Ray dan Alan.
"Saya kedalam sebentar, kalian cerita berdua saja dulu" Ungkapnya.
Rifal kedalam, Ray dan Alan bernapas lega.
"Kalau bukan kamu aku gak mau masuk kandang macan" Bisik Alan, "Semoga Viona datang" Sambungnya dengan pelan.
5 menit sudah berlalu Rifal belum kembali ke ruang tamu, Ray dan Alan kembali menguap karena mengantuk.
"Ya Allah Ra, cobaan apa lagi ini!" Ujar Alan dengan mengucek sedikit matanya karena mengantuk.
"Sabar" Jawaban singkat dari Ray.
"Makan aja tuh bolu" Canda Alan dianggap serius oleh Ray.
"Enak aja" jawab Ray bertepatan dengan Rifal datang fan dibelakangnya seorang perempuan yang memegang talang berisi air minum dan kue.
Ray senang karena ia kira itu Viona. Namun seketika Ray menunduk lemah karena yang keluar bukan Viona melainkan Yesi.
Yesi menaruh air minum dan kue diatas meja sembari berkata, "silahkan diminum ya" Ucapnya sembari senyum ramah.
__ADS_1
Ray mengangguk sembari senyum kepada Yesi, "terima kasih, hampir lupa, ini sedikit oleh-oleh semoga suka" Ucap Ray dengan memberikan paper bag kepada Yesi.
Yesi menerima itu dengan senyum dan bau bolu pandan itu keluar sehingga bisa tercium oleh Yesi.
"Bolu pandan yaa?" Tanya Yesi kepada Ray.
Ray mengangguk, "Iya, semoga suka" ulang Ray lagi, namun dalam hati senang karena Viona benar-benar memberi tahukan kue favorit keluarganya.
"Dan ini?" Tanya Yesi karena bau coklat.
"Itu, bolu kukus tiramisu, semoga suka karena belinya sesuai feeling saja" Jelas Ray dengan sedikit ragu, apalagi melihat tatapan Rifal kepadanya membuatnya menciut seketika.
"Ini salah satu bolu favorit juga disini. Terima kasih ya.. Ehh silahkan di minum, jangan malu-malu" Ujar Yesi mempersilahkan Ray dan Alan lagi untuk minum.
"Nanti aku panggil Viona kesini, sahabat Viona kan?" Tanya Yesi lagi.
"Iya" Jawab Ray lagi.
"Iya kak, aku dan Ra teman Viona" Timpal Alan.
"Viona sibuk, jadi gak bisa ketemu dengan kalian berdua" Ujar Rifal setelah lama ia diam.
"Macan tutul nih" Batin Alan.
Untungnya Yesi masih ada disitu, "masa teman datang gak bisa ketemu biar sebentar, tunggu yaa aku panggil dulu Viona" Ujarnya lalu pergi.
Viona lagi menemani Ainun main dihampiri oleh Yesi.
"Temuin tu teman-teman mu, datang teman bukan disambut malah gak muncul" Tegur Yesi.
"Kak Rifal yang larang" Jawab Viona apa adanya.
"Jangan dengar dia, pergi temui sebelum mereka pulang" Perintah Yesi lalu lanjut masuk ke dalam membawa talang-talang tempat air minum tadi.
Viona ke kamar mengambil kerudungnya lalu menemui Ray dan Alan diruang tamu bersama Ainun.
Seketika Ainun lari berhamburan dipelukan Ray, "Om baik datang tidak bilang" Protes Ainun dengan pura-pura marah.
"Maaf ya sayang, Om lupa" Jawabnya lembut kepada Ainun.
Sedangkan Alan, memperhatikan Viona karena baru kali ini melihat Viona pakai kerudung dan gamis.
"Masyaallah" Ucap Alan begitu saja. Ia sangat mengagumi Viona.
"Ekhem" Rifal menyadarkan Alan.
"Aamm.. maaf" Ucapnya malu dan Ray pun langsung minta maaf karena sibuk dengan Ainun.
"Maaf, saya sibuk dengan Ainun tadi" Ujar Ray.
"Bukan kamu, tapi temanmu ini tidak bisa menjaga pandangannya" Tegur Rifal lagi membuat Alan keringat dingin.
Rifal mukanya tidak bersahabat kali ini.
"Dek, duduk disini" Ajak Rifal sambil menepuk sofa disampingnya.
Viona akhirnya duduk disamping Rifal sehingga Alan maupun Ray tidak bisa melihat Viona karena dipele oleh kakaknya.
"Om sering datang disini ya temanin Ainun main" Ucapnya Ainun kepada Ray lalu menoleh melihat Alan, "Dan om juga" sambungnya.
"Siap cantik" Jawab Alan lupa kalau dia dimana sekarang.
"Telepon saja, om akan datang sebelum restoran om buka" Jelas Alan membuat Ray menatap Alan.
Alan seketika mengedipkan matanya tanda kode kepada Ray.
"Kamu tidak ada maksud tertentu dengan ponakan saya kan?" Tanya Rifa lagi.
"Astaghfirullah, tidak ada" Jawab Alan lagi.
Alan tidak sekaku Ray didepan Rifal. Ia takut jika kakak Viona ketika berbicara tapi jika menjawab ceplas-ceplos seakan tidak ada takut-takutnya.
Tidak ada perbincangan antara Ray dan Viona, penjagaan ketat dari Rifal membuat Ray susah untuk menelan ludah.
Alan melihat jam tangannya baru setengah jam mereka dirumah Viona, sangat tidak enak hati jika pamit pulang sekarang.
"Mau pulang?" Tanya Rifal lagi.
"Tidak, masa baru setengah jam udah mau pulang" Kilah Alan dengan senyum terpaksa.
"Oh, kalau mau jalan-jalan kesini lagi datang saja" Ujarnya membuat Viona seketika melihat kakaknya itu.
"Benar?" Tanya Viona tidak percaya.
"Terima kasih kak" Ucap Alan dan Ray bersamaan.
"Sama-sama, tapi sekarang pulang saja dulu ya. Udah sore" Ucap Rifal lagi membuat Viona membulatkan matanya kepada kakaknya itu.
"Kakak usir mereka?" Bisiknya.
"Tidak" Jawabnya singkat kepada adiknya itu.
Ray dan Alan bangkit dari kursi mereka lalu pamit pulang diikuti oleh Rifal dibelakang untuk mengunci gerbang pagar rumah.
__ADS_1