
Sepulang Ray dari rumah Viona, ia baru tau kalau kakak Viona adalah suami dari sepupunya. Namun, yang membuat Ray bingung, kenapa Rifal suami sepupunya itu setelah ke rumah seakan-akan tidak pernah kenal sebelumnya.
"Apa aku ada salah, sehingga kak Rifal berubah seperti itu" Batin Ray.
Sedangkan Alan, sejak pulang dari rumah Viona sudah berjanji pada Ray tidak mau ketemu dengan Rifal yang dingin kayak kulkas.
Alan berpikir tidak dua kali ke rumah Viona jika yang buka gerbang rumah masih Rifal. Diwajah Rifal tidak ada senyum-senyumnya setelah bertemu dengannya dan Ray.
Hal lain yang mengganggu pikiran Alan saat ini yaitu wajah Rifal tidak asing baginya, seperti pernah bertemu.
Alan berpikir keras mencoba mengingat dimana ia lihat Rifal.
"Ohh... Mesjid, benar mesjid yang dekat dengan hotel" Gumam Rifal masih tidak percaya.
"Tunggu dulu, bukannya ramah tapi berubah seperti macan yang siap menerkam mangsanya, iiih" Batin Alan seketika mengusap lengannya yang merasa merinding membayangkannya.
Seminggu sudah Ray dan Alan ke rumah Viona dan sampai saat ini juga Viona tidak pernah tanya kabar kepada Ray membuat Ray ragu untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius.
Ray sibuk dengan bengkelnya begitupun dengan Alan sibuk membangun usahanya.
Ray istrahat melihat layar ponselnya berharap disana ada pesan dari Viona.
"Hmmm, gak ada mungkin hanya aku yang serius disini" Gumamnya.
Masih ingat Viona, pintu ruangannya diketuk dan Ray tanpa bertanya langsung mempersilahkan masuk.
"Masuk!" Ucap Ray.
Pintu ruangan pun terbuka dan disana berdiri seorang perempuan dengan paper bag ditangannya.
"Ra, aku datang" Ujarnya dengan senang, "untuk kamu" sambungnya dan menyimpan paper bag itu diatas meja Ray.
Ray seketika menarik napas dan menghembuskannya dengan malas, pikirannya saat ini lagi kacau ditambah dengan kedatangan tamu yang tak diundang.
"Apa ini?" Tanya Ray dengan nada dingin.
"Makanan kesukaanmu, belum makan kan?" Tanya Gladis, "aku tau kamu pasti kangen dengan makanan ini, secara dulu kita sering makan makanan ini di restoran" Sambungnya sembari mengeluarkan makanan itu dalam paper bag.
Ray tidak bohong jika ia kangen dengan makanan itu, tapi karena Gladis yang bawa maka nafsu makannya hilang.
"Selera makan saya sekarang beda Gladis, simpan kembali makanan itu" Ujar Ray dengan sabar.
"Coba aja sedikit, aaaa" Ujar Gladis lagi dengan menyodorkan sendok yang berisi makanan.
"Gladis" Ray menahan sendok itu dengan tangannya, "Jangan lancang seperti ini" peringatan Ray pada Gladis
Gladis acuh tak acuh dengan ucapan Ray itu, "kita lihat saja nanti".
Gladis lalu menyimpan kembali sendok itu diatas kotak makanan itu.
"Aku habis dari korea bertemu dengan Mami kamu" Ujar Viona Gladis seakan memberitahu Ray.
Ray mendengar itu bukan menjawab tapi malah menelfon karyawan kepercayaannya untuk buat kopi dan membawanya ke ruangan.
3 menit kemudian suruhan Ray itu ketuk pintu.
"Masuk" Ray mempersilahkannya dan karyawannya itu masuk dengan secangkir kopi.
"Ini pak" Ucapnya sembari menaruh gelas kopi itu diatas meja.
"Terima kasih, silahkan duduk dulu, tolong periksa apakah bahan-bahan yang akan dibeli sudah lengkap atau tidak" Ujar Ray lagi sembari memberikan selembar kertas yang berisi alat-alat untuk perlengkapan bengkelnya.
"Tapi pak.." Ucapnya sedikit bingung sambil menatap wajah bosnya itu, karena baru kali ini ia disuruh seperti itu.
Ray paham, langsung memberikan kode kepada karyawannya, "Duduk dulu, saya yakin kamu pasti bisa"
"Baik pak" Diapun nurut, ia sengaja kasih lama-lama diruangan itu sesuai perintah Ray kepadanya.
Disisi lain, di rumah Viona sedang istrahat, karena seminggu ini disibukkan acara tujuh bulanan Marcelea dan hari ini acara intinya. Karena rumah Rifal dan rumah orang tua istrinya jauh maka saudara dan ibunya suruh pulang duluan, sampaikan rumah tepar semua selain si kecil Ainun.
"Mama suruh kita macam-macam disana" Ujar Viona sembari memijit lengannya sendiri, "pegal-pegal aku" Sambungnya
"Kalau ikhlas dapat pahala Vio, tapi kalau gak yah dapet capek aja" Ungkap Yesi sembari menutup mata, sebenarnya tidak kalah capek dengan adiknya itu.
"Souvernir itu lho kak, buanyak banget gak kira-kira orang tua kak lea dan mama" Ujar Viona lagi.
"Namanya anak semata wayang dek, jadi wajar dong" Jelas Yesi membela keluarga adik iparnya itu.
"Benar juga sih, kalau aku nanti pengajian aja cukup, gak usah ribet" Ucapnya lalu menghela napas dan bangkit dari duduknya, "ke kamar dulu aku kak" Pamitnya.
"Istrahat disini aja dek, sambil berbagi cerita sekaligus tunggu Rifal dan istrinya" Kilahnya hanya untuk melarang Viona pergi karena dirinya saat ini malas untuk bergerak.
"Istrahat dikamar lebih enak kak, ayo istrahat dikamar kak" Ajak Viona
__ADS_1
"Disini enak"
"Kamar saja kak"
"Disini"
Masih dalam mode membujuk, Rifal dan Lea beri salam.
"Assalamualaikum" Ucap Rifal sembari masuk dalam rumah bersama istrinya.
"Wa'alaikumussalam kak" Jawab Viona dan kembali duduk di sofa samping kakaknya Yesi.
Wajah capek Viona dan Yesi tergambar jelas, membuat Marcelea tidak enak pada iparnya itu.
"Maaf ya kak, dek. Acara tujuh bulanan Lea membuat kakak dan adek capek" Ujar Marcelea merasa bersalah, apalagi melihat iparnya itu duduk tidak berdaya diatas sofa.
Viona sebenarnya capek sekali tapi ini bukan gara-gara kakak iparnya tapi ibunya yang bikin.
"Mama yang suruh kak bukan kak Lea jadi gak usah diambil pusing. Kakak kalau capek istrahat dikamar" Viona mengalihkan pembicaraan.
"Iya, ayo" Rifal membenarkan ucapan adiknya itu.
Namun, sebelum pergi Rifal terlebih dahulu menoleh kearah adiknya.
Viona yang tidak mengerti hanya menaikkan lalu ia mengerutkan alisnya.
"apa Kak?" Tanya Viona bingung.
"Sampaikan permintaan maafku pada Ray" Ucapnya dan saat itu Lea langsung mendongak melihat suaminya.
"Ray siapa bang?" Tanya Marcelea pada suaminya.
"Alex, sepupu mu" Jawab Rifal lagi.
Yesi yang masih menutup mata langsung terbuka lebar mendengar itu, "sepupu Lea?, Aku baru tau."
"Haaa, Ray sepupu kak Lea" Viona mengulang ucapan kakaknya itu dengan ekspresi kaget, "kok bisa?" Tanya Viona tidak percayalah.
"Bisa saja to dek" Jawab Rifal.
"Kok abang gak kasih tau Lea kalau Alex datang" Protes Marcelea, "terus gimana bang waktu datang, tanyakan Lea gak?" Tanya Marcelea lagi pada suaminya.
"Mau tanya gimana kak, Ray hanya diam saja. Takut sama kak Rifal" Jelas Viona lagi, karena saat itu Viona sendiri tidak suka dengan cara Rifal melayani temannya.
"Alex orangnya suka kepikiran, pantas gak datang acara tujuh bulanan Lea" Ungkap Marcelea lagi.
"Pasti Alex merasa ada yang dia buat salah sama abang, makanya begitu dan biasanya dia itu akan menyibukkan diri dengan kerja" Jelas Marcelea membuat Viona berpikir mendengar itu.
"Oh iya, seminggu ini Ray tidak pernah chat atau telepon saya" Batinnya.
Viona kemudian mengambil ponselnya dalam tas dan mengirim pesan kepada Ray.
Viona : Ray, apa kabar?
Ray : Baik
Viona melihat itu hanya mengerutkan kening, "gak nanya balik" Gumamnya.
Viona kembali mengirim pesan
Viona : Dimana?.
Ray : Bengkel
"Kok satu kata saja" Gumam Viona lagi heran dengan Ray.
"Sibuk amat dek" Tegur Yesi.
"Biasa" Jawab asal Viona dan pergi meninggalkan kakak dan iparnya.
Marcelea masih penasaran dengan suaminya kenapa minta maaf ia sampaikan ke Viona bukan secara langsung, kan bisa minta kontaknya baru ditelepon.
"Bang, apa Alex akrab dengan Viona?" tanya Marcelea.
"Sepertinya, nanti aku jelaskan dikamar" Jawab Rifal.
"Eh, disini saja. Saya juga penasaran" Timpal Yesi.
"Kita duduk dulu" Ujar Marcelea lalu mereka duduk dan Rifal langsung menjelaskan semuanya.
"Sejak kapan bang?" Tanya Marcelea lagi.
"Iya, sejak kapan?" Timpal Yesi juga penasaran.
__ADS_1
"Kalau itu, abang juga gak tau dan Ainun pun akrab dengan Alex"
"Terus kenapa abang pasang wajah dingin padanya?" Tanya Marcelea lagi.
"Masih ingat kan Abang pernah bilang tentang black list?" Tanya Rifal dan Marcelea seketika mengangguk.
"Datang dengan itu, ternyata namanya Alan. Jadi aku sengaja pasang ekspresi tidak bersahabat hanya ingin lihat Alan itu, dan ternyata Alex salah paham kayaknya" Tutur rifal panjang lebar.
"Siapapun pasti salah paham, aku saja ibaratnya sudah kenal tiba-tiba pas ketemu lagi kayak orang belum pernah kenal. Itu dalam hati, 'apa aku pernah buat salah atau salah bicara gitu' iya kan?" Tutur Yesi berakhir dengan pertanyaan.
"Iya, pasti" Dukung Marcelea.
Rifal merasa bersalah mendengar penuturan dua wanita didepannya itu.
"Maka dari itu, minta Viona untuk sampaikan permintaan maaf ku sama Alex" Jelas Rifal lagi.
"Dek, apa Viona dekat dengan Alex?" Tanya Yesi to the point karena baru kali ini ada tamu laki-laki kerumahnya meskipun itu sepupu adik iparnya.
"Saya juga tidak tau" Jawab Rifal seadanya, "tapi jika itu benar yah gak bisa" Sambungnya dengan hati-hati karena disitu ada hati yang ia jaga.
"Kenapa?, Aku lihat sopan dan baik kecuali temannya itu sih sedikit kayak belut orangnya" Yesi mengutarakan yang ada di kepalanya.
"Dia berbeda dengan kita kak" Jawab Marcelea dengan pelan.
Marcelea senang jika Ray menyukai Viona tapi satu hal yang menyadarkannya yaitu keyakinan mereka berbeda.
"Maksudnya, berbeda keyakinan?" Tanya Yesi untuk memperjelas dan disitu Marcelea mengangguk sembari senyum seadanya.
"Kalau itu, jujur saja kakak gak setuju. Biar bagaimanapun dalam keyakinan kita tidak diperbolehkan" Ujar Yesi dengan serius.
"Belum tentu benar, siapa tau mereka hanya sahabat" Rifal tidak mau berpikir aneh-aneh tentang sepupu isterinya itu.
🌺
Malam menjelang, gelap dan semilir angin malam menyertai. Viona berada didekat jendela sambil telponan dengan Ray.
"Mmm, Ray kak Rifal minta maaf" Ucap Viona ditelepon.
"Dalam hal?" Tanya Ray lagi.
"Masa lupa, tentang datang dirumah dengan Alan" Jelas Viona lagi ditelepon, "belum tua udah pikun" Sambungnya dengan nada kecil.
Samar-samar Ray dengar, "apa? Coba ulang gak jelas tadi ngomong apa"
"Istrahat, udah malam" Ucap Viona.
Ray seketika senang dan tidak sadar menyunggingkan senyum mendengar Viona berkata seperti itu.
"Terima kasih udah perhatian" Ujar Ray sangat senang, menurutnya malam ini malam yang paling indah.
Viona memejamkan mata sembari mengigit bibir bawahnya, "Viona kenapa kamu berkata seperti itu, Ray salah paham lagi kan" Batinnya.
Ray mendengar tidak ada respon dari Viona, ia berinisiatif untuk bertanya.
"Aku tidak main-main Viona, aku pernah kecewa dan tidak mau mengulangi hal yang sama, apa kamu serius juga seperti saya?"
Viona bingung mendengar pertanyaan itu, seketika lidahnya kelu.
"Bagaimana bisa Ray, kita berbeda" Ujarnya, tapi itu hanya dalam hati.
"Maafkan aku Ray" Jawab Viona seketika menjeda kalimatnya, "aku seorang muslim Ray" sambungnya walaupun berat.
Ray terdiam sejenak mendengar itu, "Jadi aku harus bagaimana Viona?" Tanya Ray.
"Jangan bahas ini ditelepon Ray" Ucapnya dengan pelan dan lembut.
Kepribadian Viona ini yang membuat Ray tidak berpaling darinya.
"Ray, aku ngantuk, capek mau tidur" Ucap Viona lagi ditelepon.
Ray senang mendengar Viona berkata seperti itu kepadanya. Meskipun sederhana tapi menurutnya sangat berarti.
"Iya, aku pernah mendengar kisah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah" Ujarnya dan Viona hendak mematikan sambungan telepon ia urungkan niatnya.
"Apa Ray diam-diam mencari tahu.. ahh sudah lah aku tidak mau berharap lebih" Batin Viona.
"Dan aku ingin seperti itu Ray, saya muslim tidak meminta lebih selain seperti Ummu Sulaim, aku matikan ya" Jawab Viona lalu ia matikan sambungan telepon.
Viona menuju tempat tidur dan merebahkan badannya disana, ia sangat rindu dengan tempat tidurnya meskipun baru seharian ditinggalkan.
Capek diacara tujuh bulanan kakak ipar membuat Viona baru menyentuh bantal langsung tidur.
Sedangkan di tempat berbeda yaitu Ray, ia merebahkan badannya diatas tempat tidur berbantalkan lengannya. Bahasa Viona terakhir ditelepon selalu terngiang-ngiang ditelinga yang membuatnya senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Akhhh, tidur Ray" Gumamnya lalu menarik bantal dan ia pejamkan mata untuk tidur.
Keduanya berkelana dalam mimpi yang indah sebelum cahaya mentari menyambut.