
Viona masuk dalam rumah dengan mambawa paper bag. Menaruh Pape bag tersebut diatas meja makan, lalu ia masuk kamar. Badan dan hatinya capek lebih capek dari biasanya. Ia baru kali ini adu mulut dengan orang tua, yang selama ini ia sangat hormati. Tidak ada niat untuk mengusir Ray dan kedua orang tuanya di butik, tapi ucapan yang dilontarkan begitu sakit sehingga mau tidak mau harus ia lakukan.
"Kenapa sih manusia sekarang, dihargai tapi malah ngelunjak" Kesalnya sembari menggantung tas selempangnya.
Membuka kerudung lalu mengambil handuk dan ia mandi. Ritual mandinya tidak lama karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Viona memakai daster panjang sebetis dengan lengan pendek. Keluar kamar menuju meja makan, ia sudah tidak sabar mencicipi kue yang dibelinya tadi.
"Vio, baru pulang?" Tanya ibu Heti.
"Iya, mama dari mana?" Viona bertanya sembari melihat mamanya yang berpakaian rapi.
"Dari rumah teman mama" Jawabnya, "sini kita duduk dulu, mama mau bicara serius," Sambungnya sembari jalan menuju ruang TV.
"Dimeja makan saja mam, aku lapar," Ujar Viona.
"Ya udah."
Duduk sambil makan kue sembari menimpali cerita ibunya. Viona menyimak dengan baik mendengar cerita ibunya, ia menceritakan keseruan kebersamaannya dengan teman-temannya.
"Jadi rindu sama teman-teman kuliah Vio" Ujar Viona lalu ia ketawa hambar.
"Sekali-kali ketemu dengan teman-teman" Ibu Heti mengingatkan anaknya itu. Ia tidak ingin anaknya hanya rumah dan butik sehingga tidak ada waktu untuk dirinya sendiri.
"Iya mam, kalau tidak sibuk" Jawab Viona, "mama mau cerita apa ke Vio?" Sambungnya dengan pertanyaan, ia rasa tidak mungkin ibunya hanya mengajaknya untuk menceritakan kebersamaan dengan teman-temannya tanpa ada kaitan dengannya.
Ibu Heti seketika meraih tangan Viona, lalu menatap lama wajah putrinya itu. Wajahnya serius
Viona yang melihat itu seketika ketawa, "mama bikin deg-degan deh, ada apa sih kok kayaknya serius amat?" Tanya Viona lagi tidak sabar.
"Boleh gak mama minta satu permintaan sama kamu?"
"Iyy-iya boleh, ada apa sebenernya mam?"
"Tadi ada teman mama bawa anak cowoknya" ujar ibu Heti.
"Terus?"
"Mama dan ibunya si cowok itu ingin menjodohkan kalian berdua" Kalimat itu membuat Viona perlahan melepaskan tangannya dari genggaman ibunya.
"Maaf mam, Vio gak bisa" Tolak Viona.
"Setidaknya ketemu dulu sebentar, baru kamu tolak" Bujuk ibu Heti.
Viona memejamkan mata, perasaannya saat ini lagi campur aduk. Belum sepenuhnya melupakan Ray tapi malam ini ibunya kembali mencarikan jodoh untuk dirinya lagi.
"Aku takut akan terjadi seperti Ahmad, mam" Kilahnya.
"Gak akan, mama jamin pilihan kali ini gak salah" Ujarnya dengan semangat, "besok makan siang kita akan ketemu dengan mereka" lanjut ibu Heti.
__ADS_1
"Itu bukan terlalu cepat mam?, Terus siapa yang jaga butik?. Mama buat janji gak tanya Vio dulu."
Viona lebih mementingkan usahanya dibandingkan pertemuan mendadak itu.
"Mama aja yang bertemu dengan mereka, bilang aku gak mau dijodohkan. Trauma" Ujar Viona sambil menuang air minum dalam gelas.
"Kalau mama yang pergi pasti langsung terima, itukan secara tidak langsung terserah mama, iya kan?."
"Gak bisa dong mam, besok tempatnya dimana?"
Viona terpaksa mengalah, lebih baik ia ikut daripada ibunya bertindak sendiri dan diluar dugaan, kan bikin repot. Cukup perjodohannya dengan Ahmad yang bikin pusing jangan terulang kedua kalinya.
"Viona ke kamar dulu ya mam, kirimkan saja alamatnya ke ponsel Viona besok" Ucap Viona lalu pergi.
Ibu Heti pun mengambil tasnya yang ia simpan diatas kursi sampingnya dan ke kamarnya.
🌺
Pagi ini Viona bangun lebih awal dari biasanya, tidak tau kenapa tiba-tiba ingat kepada Ahmad.
"Astaghfirullah, bangun hanya gara-gara Ahmad" Gumamnya sembari menggelengkan kepala.
Viona kembali menutup mata, "tidur Vio, kamu itu akan sibuk di butik" monolognya lalu ia lanjutkan dengan istighfar sebisanya sampai ia tertidur dan terbangun setelah dengar adzan subuh.
Viona bangun dengan badan yang terasa berat, matanya masih dikuasai rasa kantuk tapi kewajiban seorang muslim sudah memanggil.
Viona memilih merebahkan badannya disamping sajadah sembari main ponsel. Ia mengumumkan kembali medsos khusus usahanya kalau hari ini akan buka hanya sampai pukul 12 siang saja, jadi kalau yang mau ambil pesanan atau pesan barang akan dilayani diwaktu yang sudah ditentukan, selebihnya akan dilayani esok hari.
"Alhamdulillah, sekarang putar shalawat" Monolog Viona lagi.
Ia putar shalawat sembari ikuti shalawat tersebut. Shalawat yang ia putar terasa damai dihatinya, untuk menikmati lagu tersebut ia memejamkan mata sambil mengikuti lagu tersebut, seketika Viona tertidur.
Tidurnya sangat pulas sampai sinar matahari masuk disela-sela ventilasi kamar dan jendela kamarnya pun dibuka oleh ibu Heti tidak terusik sama sekali.
"Astaghfirullah ini anak tidur pagi, Viona bangun" Ujar ibu Heti sedikit teriak sambil menggoyangkan badan Viona.
"Mmmmm" Respon Viona tidak sadar.
"Ini sudah pagi Vio, jam berapa ke butik atau mau tutup hari ini?" Tanya Ibunya lagi.
Viona masih keenakan tidur, tidak mendengar apa yang diucapkan ibunya. Beberapa menit ia mengeliat dan perlahan membuka mata. Pertama melihat ibunya bertolak pinggang didepannya sembari berdiri.
"Mama udah bilang jangan tidur selesai shalat subuh."
"Maaf mam, ketiduran bukan sengaja tidur." Jelas Viona. Ia langsung bangun dan membuka mukenahnya lalu ia gantung.
"Sarapan dulu baru ke butik" Ibu Heti kembali mengingatkan putrinya itu lalu pergi.
Mengambil langkah seribu dan gerakan cepat, mandi asal basah dan pakaianpun asal pakai. Ia ke meja makan yang sudah ditunggui oleh ibu Heti.
__ADS_1
Ibu Heti melihat Viona, "mau ke butik seperti itu?"
"Iya"
"Yakin?"
"Iya"
"Bawa pakaian untuk lunch nanti?" Tanya ibu Heti lagi.
Viona menggelengkan kepala, "Tidak, pakai ini saja lunch nanti."
"Gak malu?"
"Gak, kalau dia jodoh Vio pasti menerima saya apa adanya" Jawaban itu menutup percakapan mereka pagi ini, karena Viona harus kebutik.
🌺
Siang sudah menjelang dan Viona pun sudah siap-siap keluar tinggal mengunci pintu utama butiknya. Ponselnya kembali bunyi untuk kesekian kalinya, namun iya tidak hiraukan sama sekali.
Memastikan butiknya sudah aman terkunci semua, ia menuju mobilnya. Baru satu kaki masuk dalam mobil, ada suara memanggilnya dari arah belakang dengan napas ngos-ngosan.
"Tunggu" Ujarnya.
Viona akhirnya mengurung niat masuk dalam mobil. Ia sudah berdiri dengan sempurna disamping mobil dengan tangan ia lipat didada.
"Maaf, ada apa?" Tanya Viona dengan nada dingin.
"Saya hanya ingin datang minta maaf atas omongan Mami aku kemarin" Ucap Ray merasa bersalah. Semalam tidak bisa tidur mengingat omongan Maminya dan air mata Viona.
"Aku akan lebih tegas lagi kepada Mami dan Gladis" Ujarnya dengan menunduk. Ia malu menatap wajah Viona kali ini.
"Ray, aku tidak pernah menyuruhmu untuk melawan orang tuamu. Jangan buat aku orang yang paling jahat dimata orang tuamu!" Tegas Viona dengan pandangan ketempat lain.
"Bukan melawan Vio, hanya mengingatkan mereka untuk tidak sembarang menfitnahmu" Jelas Ray, "dan setelah anak Gladis lahir aku akan segera ceraikan. Jangan berubah Vio" permintaan Ray itu membuat Viona kaget. Kok bisa dia berkata seperti itu kepadanya.
"Kamu gila ya. Aku kira kamu laki-laki sejati Ray, ternyata sama dengan laki-laki di luaran sana" Geram Viona mendengar kata-kata Ray, meskipun ia membenci Gladis tapi anaknya tidak bersalah. Dia berhak mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya.
"Orang tua macam apa kalian?, anak itu tidak salah. Jangan egois" lanjut Viona lagi.
"Itu bukan anak saya. Aku korban disini Viona. Aku dan Gladis sudah sepakat setelah anak itu lahir kami akan bercerai," Jelas Ray menggebu-gebu.
Viona acuh tak acuh mendengar penjelasan Ray.
"Terserah kamu Ray, aku pergi dulu" Pamit Viona lalu masuk dalam mobil meninggalkan Ray yang masih berdiri mematung mendengar jawaban Viona.
Menurut Ray, Viona yang dulu telah hilang. Dulu selalu senyum setiap melihatnya, sekarang malah tatapan dingin dan kalimat tidak disangka-sangka.
"Kamu sudah berubah Vio, kamu bukan Viona yang dulu" Gumam Ray sambil mengacak rambutnya, lalu kembali ke bengkelnya dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan.
__ADS_1