
Kembali beraktifitas seperti biasa. Pagi ini Viona ke butik menggunakan mobil dikarena ibunya ikut.
"Mam, yakin gak bosen di butik nanti?" Viona memastikan ibunya setelah mereka dijalan menuju butik.
"Kan ada kamu, dirumah juga sendiri. Bosen!"
"Ok" Jawab Viona lagi.
Sesampainya di butik satpam menyambut mereka, Viona heran karena baru kali ini pak satpam datang di butiknya.
"Alhamdulillah mbak Viona sudah datang" Ujarnya.
"Emangnya kenapa pak?" Tanya Viona tiba-tiba perasaannya tidak enak.
"Iya, ada apa pak?" Ibu Heti menimpali, ia penasaran.
"Itu lho mbak" Jawabnya sambil menunjuk tembok butik Viona bagian samping.
Viona jalan menuju tembok tersebut sembari bertanya kepada satpam, meskipun ia akan segera lihat tapi rasa penasarannya ingin tau saat itu juga.
"Emang kenapa pak?"
"Liat aja dulu" Ujar ibu Heti membuat Viona diam.
Viona sampai tembok tersebut dan ia baca tulisan yang berisikan ancaman.
"SEMUA GARA-GARA KAMU, TUNGGU PEMBALASANKU, DASAR WANITA MURAHAN"
Ibu Heti marah setelah membaca tulisan itu. Yahh siapa yang tidak marah, jika anaknya dikatai wanita murahan.
Ia mengeluarkan ponsel dalam tasnya dan mengarahkan kameranya ke tulisan tersebut.
"Gak usah ma" Larang Viona.
"Gak bisa gitu dong Vio, mama mau laporkan tulisan ini di kantor polisi" Jelasnya dengan ponsel mengambil gambar tulisan tersebut beberapa kali.
"Emang polisi mau menyelidiki tulisan ini?, kita gak punya bukti kuat mam selain tulisan ini" Jelas Viona lagi.
"Tapi mama gak terima" Ujarnya.
"Mama sabar yaa" Ucap Viona dengan lembut lalu beralih ke satpam disampingnya itu.
"Maaf pak, apa lihat orang yang tulis ini pak?" Lanjut Viona kepada satpam tersebut.
"Maaf mbak, saya jaga pagi. Saya sampai sudah lihat tulisan ini" Jawabnya.
Viona mengangguk paham, "makasih ya pak" Ucapnya dengan tulus.
"Sama-sama mbak Viona, kalau begitu saya pamit dulu" Jawabnya lalu pergi.
Viona dan ibunya masuk dalam butik. Viona terlebih dahulu keliling dalam butiknya, ia khawatir jangan sampai ada yang menyelinap masuk.
"Alhamdulillah gak ada" Batinnya.
Seketika ia berpikir, kok bisa berpikiran seperti itu sementara butiknya ia kunci.
"Otak-otak" Gumamnya sambil jalan menuju dimana ibunya berada.
Viona mengambil posisi duduk disamping ibunya, sambil melihat pakaian dalam butiknya.
"Mama suka gak butik ini?" Tanya Viona, ia penasaran dengan respon ibunya.
"Suka, bagus" Jawabnya.
__ADS_1
Masih asyik cerita, tiba-tiba Ina sudah dalam butik dan berdiri tidak jauh dari Viona.
"Vio" Panggilnya.
Viona menoleh ke sumber suara bersamaan dengan ibunya.
Ina langsung menyapa ibu Heti.
"Assalamualaikum Tan, pasti ibu Viona, iya kan tan? Tanya ramah.
"Wa'alaikumussalam, iya benar. Teman Viona?" Tanya balik ibu Heti.
"Benar tante, senang bertemu dengan Tante"
"Tante juga.. yuk duduk disana kita cerita atau mau datang belanja?" Tanya Ibu Heti memastikan Ina.
"Ayo tan, kebetulan lewat dari daerah sini, jadi sekalian singgah" Kilah Ina.
"Oh gitu" Respon ibu Heti.
Mereka duduk dikursi panjang bertiga, berbagi cerita di pagi hari sebelum kedatangan pembeli sangat menyenangkan.
"Udah lama kenal Viona?" Tanya ibu Heti. Ia ingin tau teman Viona kali ini, karena ia tau Viona tidak hati-hati memilih teman. Asal ajak bicara, nyambung saat ngobrol sudah dianggap teman.
"Kebetulan aku kesini tan, dan kebetulan saat itu ada cowok yang lancang sama Viona" Jelas Ina membuat ibu Heti yang awalnya duduk menyamping ke arah Ina, sekarang merubah posisinya menghadap Ina.
"Orang yang lancang, lancang seperti apa?" Tanya ibu Heti.
Viona langsung menepuk jidat dan melirik Ina.
"Viona berpikir" Batinnya.
"Ekhem"
"Ina ini gak jaga rahasia" Batin Viona lagi.
"Minum Vio kalau batuk" Ujar Ina. Ia tidak mengerti maksud dari deheman itu.
"Lanjut!" Pinta Ibu Heti lagi.
"Pokoknya aneh tan, pernah Viona jatuh dari motor kan?" Tanya Ina lagi membuat Viona kali ini langsung berdiri membuat Ina dan ibunya menoleh memperhatikan Viona sejenak lalu ibu Heti minta untuk lanjut cerita.
Viona mondar-mandir namun tidak dihiraukan. Ibu Heti tidak menghiraukan Viona, ia malah fokus ke Ina.
"Ma, anakmu ini belum siap nikah" teriak Viona dalam hati.
Disisi lain, Tiara menagih janji Ahmad untuk menemui Viona di butik.
"Kakak, kapan pergi?"
"Bentar lagi"
"Berapa menit?" Tanya Tiara dengan terus menatap adiknya.
"5 menit" jawab Ahmad sambil mengangkat lima jarinya.
"Ok, aku hitung ya" Responnya lalu ia tinggalkan kakaknya menuju salah satu kursi restoran.
Ahmad yang sedang bertemu dengan pihak suplai seafood di restorannya, merasa tidak enak hati gara-gara adiknya.
"Maaf pak, atas tingkah laku adiknya saya tadi" Ujarnya dengan sopan.
"Gak apa-apa, namanya anal kecil suka kayak gitu. Awalnya saya kira anak bapak tadi ternyata pas datang panggilnya kakak" Ungkapan jujur seorang supplier mengenai hati Ahmad.
__ADS_1
"Oh, hehehe. Dia adik saya, pak" Ulang Ahmad.
Ahmad kembali melanjutkan pembahasan mereka, dan Tiara kembali datang dengan cara berbeda kali ini.
Duduk diam disamping kakaknya lalu bertopang dagu sambil Ahmad dan teman Ahmad itu silih berganti.
"Mau makan?" Tanya Ahmad setelah melihat adiknya diam.
Tiara menggelengkan kepala pelan.
"Maaf pak, sepertinya nanti kita bahas lewat via telepon kelanjutannya"
"Baik pak" Responnya dan berjabatan tangan sebagai tanda berakhirnya meeting kecil mereka kali ini.
Supplier tersebut pergi, Tiara dengan santainya melirik kakaknya.
"Kita pergi sekarang?" Tanya lagi.
"Makan siang dulu, baru kesana"
"Kakak banyak alasan"
Tiara mulai kesal, ia jalan dengan menghentakkan kakinya dilantai meninggalkan Ahmad.
Ahmad langsung mengikuti adik kecilnya.
"Tiara mau kemana?" Tanya Ahmad melihat sang adik menuju pintu keluar restoran.
"Mau pulang" Jawabannya dengan cuek setelah membalikkan badan.
"Huuff" membuang nafas lalu ia lanjut jalan.
"Gak ikut ke butik Viona?" Pancing Ahmad setelah beberapa paper bag makanan sudah ditangannya.
Tiara tidak menjawab meskipun dengar, malah lanjut jalan.
"Keras kepala juga ini anak" Gumam Ahmad. Dengan terpaksa Ahmad menyusul sang adik di parkiran.
Awalnya ingin mengambil kunci mobil, tapi mood Tiara sudah tidak bersahabat, akhirnya ia langsung menyuruh pelayan restorannya untuk mengambil kunci dimeja tempat dimana dia dan supplier duduk.
Tiara berdiri dipinggir mobil tanpa mengeluarkan kata satu pun. Biasanya protes kalau kunci mobil belum ada, sekarang tidak sama sekali Tiara lakukan.
"Tunggu, kunci mobil masih diambil" Ujar Ahmad memberitahu sang adik.
Tiara lagi-lagi tidak menjawab malah menoleh ke tempat lain, kesal pada kakaknya. Ia sudah mulai marah baru kakaknya bertindak.
"Aku adu sama kak Viona nanti" Batinnya sambil menatap kakaknya dengan tajam.
"Heii, gadis kecil santai saja liat kakak. Kita akan ke butik Viona sekarang" Ujar Ahmad, ia mengangkat paper bag berisi makanan, "Lihat ini, kita akan makan disana" Lanjutnya sembari senyum.
Tiara mendekat kearah Ahmad lalu menunjuk pintu mobil tanpa bersuara.
"Sabar dong" Ujar Ahmad lagi, ia mengerti maksud Tiara.
Tidak lama pelayan datang membawa kunci mobil, ia serahkan ke Ahmad. Ahmad langsung membuka pintu mobil dan menyuruh adiknya masuk.
Tiara bergeming sambil menatap Ahmad. Hati Tiara masih kesal pada kakaknya.
"Aku tinggal nih" Ancam Ahmad bercanda.
"Bibit perempuan yang mengesalkan sudah mulai muncul dalam diri Tiara, gimana dengan Viona" Batin Ahmad membuat ia memijit kepalanya.
"Bikin pusing hadapi perempuan" Gumamnya lalu masuk dalam mobil. Ia memilih untuk menunggu sang adik dalam mobil.
__ADS_1