Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
51. Kerja sama


__ADS_3

Cincin Ray, Viona sudah kembalikan membuatnya merasa lega. Rasa lega dan kehilangan seakan datang silih berganti, disatu sisi ia senang mendapat cincin dari orang yang ia cintai tapi disisi yang lain tidak bisa menerima cincin tersebut.


Berat untuk mengambil keputusan disaat rasa saling mencintai itu ada.


"Godaan-godaan" Gumam Viona sembari mengeringkan rambutnya pakai handuk.


Hari ini ia rencana untuk ke pantai seorang diri, memang tidak biasa pergi seorang diri ditempat yang lumayan jauh dari rumah tapi untuk menenangkan hatinya yang sedang butuh refreshing, maka ia memberanikan diri.


Dengan kunci motor ditangannya, menuju ruang tengah untuk minta izin.


"Udah rapi aja, mau kemana dek?" Tanya Yesi dengan segelas susu ditangannya untuk Ainun.


"Mau keluar sebentar, mama mana?" Tanya balik Viona kepada kakaknya.


"Kamar mungkin"


"Bukan diruang tengah?"


"Nggak, ke kamar saja" Arah Yesi kepada adik bungsunya.


Viona pun mengangguk dan menuju kamar ibunya, sesampainya depan kamar Ibunya, ia langsung mengangkat tangan hendak mengetuk pintu.


"Gimana kalau ajak ponakanmu, makan malam dirumah" Ucap ibu Heti dalam kamar tersebut.


"What?, Mama aneh deh" gumam Viona kesal dan meninggalkan kamar ibunya.


"Kapan rencana?" Tanya ibu Heti lagi dalam telepon.


"Kapan-kapan saja, lebih cepat lebih bagus kan?" Ucap ibu Heti lagi dalam telepon.


Asyik teleponan dengan temannya membahas tentang perjodohan Viona dengan laki-laki ponakan temannya itu.


"Sudah dulu ya, nanti kita sambung lagi, assalamualaikum" ibu Heti mengucapkan salam sebelum mematikan sambungan telepon.


Sementara Viona duduk diam diruang tengah sambil mengotak-atik ponselnya, entah apa yang ia cari dalam ponsel tersebut.


"Dek, udah minta izin?" Tanya Yesi.


"Astaghfirullah kak, bikin kaget deh" Ujar Viona sambil mengusap dada menetralkan perasaannya.


"Kamu sih terlalu fokus dengan ponsel, kenapa lagi?"


Yesi sangat mengenal adiknya itu, jika ada masalah selalu diam tidak mau bicara dengan kakak-kakaknya kecuali ditanya terlebih dahulu.


"Gak kok kak, ini kenapa rapi?" Tanya Viona melihat Yesi dan Ainun.


"Ke pantai, ini kami sudah punya topi pantai, iya kan nak?" Tanya Yesi kepada anaknya.


"Iya bibi, bosan dirumah" timpal Ainun sembari senyum kepada bibinya.


"Izin sama nenek kalau gitu, bibi tidak jadi minta izin tadi" Ungkap Viona pasrah. Ia gagal jalan-jalan di pantai seorang diri.


"Yeee" Ainun senang dan langsung lari menuju kamar neneknya dan minta izin ke pantai.


Setelah diizinkan, Ainun kembali dan memberitahu ibu dan bibinya.


🌺


Mereka sampai pantai setengah jam yang lalu, Viona menikmati pemandangan pantai yang begitu indah ditemani Yesi dan Ainun yang sedang main pasir.

__ADS_1


"Ini rumah Ainun, ini rumah bibi" Ujar Ainun sambil membentuk pasir persegi panjang.


"Ini pintunya" Ujar Ainun lagi.


"Bibi..bibi.. Ainun sudah buat rumah untuk bibi, suka gak bibi?" Tanya Ainun.


"Suka dong, rumah bagus kayak kandang sapi" Jawab Viona spontan membuat Ainun menangis.


"Huhuhu, bibi Viona tidak baik. Masa rumah buatan Ainun kayak kandang sapi. Ainun tidak mau bicara lagi dengan bibi" Kesal Ainun, "humm" Sambungnya lalu buang muka dan lanjut main pasir sendiri.


"Kenapa sih dek?, gak biasanya" Tanya Yesi penasaran dengan adiknya itu.


"Enggak, hanya ingin liburan aja. Menikmati pantai seperti ini terasa hati itu damai"


"Yakin?, Aku tuh tau banget kamu kalau lagi bahagia atau sedih"


Yesi masih berusaha menggali lebih dalam lagi.


"Menurut kakak sekarang aku lagi bahagia atau sedih?" Tanya balik Viona.


"Lebih ke kesal sih kakak lihat, Ainun saja sampai kesal tadi kamu bilang rumah-rumah yang dia bikin penasaran seperti kandang sapi"


"Kak Yesi sok tau. Tadi tu bercanda" Kilah Viona.


"Ohh" Respon singkat dari Yesi dan pembicaraan pun putus.


"Maafkan aku kak, belum bisa cerita. Lagi gak mood" Batin Viona sembari menghembuskan napas dengan kasar.


Yesi memilih untuk menemani putrinya main pasir yang membuat Viona tertarik untuk melakukannya juga. Seseruh itu mereka bertiga main di pantai, cukup main pasir sekali-kali ambil gambar untuk mengabadikan momen.


Berbeda jauh dengan gadis yang masih mencintai Ray yaitu Gladis. Ia bukan lagi mendekati Ray melainkan orang tua Ray sendiri.


"Tante, Gladis bawa oleh-oleh dari indo". Ujar Gladis setelah dipersilahkan masuk dalam rumah.


"Terima kasih ya" ujar Mami Ray kepada Gladis.


"Sama-sama tan" Jawab Gladis.


"Kapan sampai dari Indonesia?"


"Kemarin tan, apa Tante gak ada rencana pulang indo?"


"Rencana dalam waktu dekat ini"


"Asyik dong Tan" Ujar Gladis lagi.


"Kamu sering gak ketemu Viona selama di Indonesia?"


"Malas banget sih bahas Viona disini, tapi demi Ra aku lakukan" Batin Gladis.


"tidak Tan sepertinya Viona sibuk, mungkin cari kerja" Jawab Gladis seadanya yang direspon cepat oleh Papi Ray.


"Bagus itu, tapi kenapa Alex gak pernah bilang sama kami kalau Viona cari kerja. Papi bisa hubungi teman-teman kantor Papi, kerja saja disana Viona" Jelas Papi Ray dan Mami Ray mengangguk setuju sementara Gladis kalau bukan dengan orang tua Ray sudah lama teriak.


"Setuju pi, telepon Viona" Ujar Mami Ray sudah tidak sabar untuk memberikan kabar itu kepada Viona.


"Kenapa sih dimana-mana Viona terus, gak ada yang lain apa?, Kesal dengarnya" Batin Gladis.


"Nanti malam saja" Ujar Papi Ray. "Nak Gladis sering ke Korea. Apa ada urusan?" Tanya Papi Ray to the point.

__ADS_1


Gladis bingung menjawab pertanyaan tersebut, ia tidak mempersiapkan jawabannya dan itu diluar dugaan Gladis.


"Rencana om seperti itu" jawan Gladis dengan sungkan.


"Di Indonesia atau disini?"


"Indonesia"


"Kenapa tidak disini?"


"Lebih dekat dengan keluarga"


"Semoga sukses" ujar papi Ray.


"Terima kasih om"


"Sama-sama, sepertinya saya keluar dulu" Pamit Papi Raya kepada Gladis dan istrinya.


Papi Ray pergi tinggallah Mami Ray dan Gladis. Gladis semakin dekat dengan Mami Ray sehingga membuat Mami Ray sedikit berbagi kisah Ray waktu kecil. Namun, Gladis tidak membutuhkan itu, ia hanya ingin bagaimana Mami Ray mendukung dirinya untuk kembali kepada anaknya bukan sama Viona.


"Tan, boleh bertanya tapi jangan marah atau tersinggung ya" Ujar Gladis dengan hati-hati.


Mami Ray hanya senyum dan mengangguk paham, "bertanya saja, apa yang mau ditanyakan?"


"Apa Viona itu sama dengan kita Tan?" Tanya Gladis membuat Mami Ray berpikir sejenak.


"Mami rasa seperti itu, pernah ketemu sebelum balik ke sini"


"Bukan apa sih Tan, takutnya Viona dan Ra tidak seiman" Ujar Gladis lagi sedikit prihatin, "Mudah-mudahan ya Tan" sambungnya.


"Iya, Mami selama ini gak pernah tanya juga ke Viona maupun Alex. Apa alex pernah cerita?" Tanya Mami Ray.


Gladis menggeleng pelan, "maaf nih Tan, tapi kata sepupu aku, Ra pernah ketemu dengan wanita pakai jilbab"


Mami Ray langsung menoleh kearah Gladis sempurna, "maksudnya perempuan itu Viona?"


"Gak tau juga sih Tan, tapi aku dapat foto ini" Ujar Gladis sambil memperlihatkan sebuah gambar perempuan pakai kerudung.


"Mirip Viona, tapi itu benar Viona?" Tanya Mami Ray masih ragu tapi kalau dilihat dari wajahnya mirip dengan Viona.


"Belum jelas juga sih Tan, karena sepupuku itu belum pernah ketemu dengan Viona" Jelas Gladis.


"Mami boleh minta bantuan kamu?"


"Apa itu Tan?" Tanya Gladis dalam hati senang luar biasa.


"Cari tau tentang Viona, pastikan dia sama dengan kita atau tidak"


"Siap Tan, aku bantu tante sebisa mungkin. Tante tinggal tunggu kabar dari aku saja, Gimana Tan?" Tanya Gladis.


"Oke, terima kasih" Ujar Mami Ray sembari senyum dan Gladis pun membalas senyum itu.


"Dengan begini aku dengan mudah bersama Ra tiap hari" Batinnya sembari senyum kemenangan untuk hasil kinerjanya beberapa minggu ini.


"Gimana kalau aku pulang dulu Tan, mau siap-siap balik indo takutnya kita ketinggalan informasi" Ujar Gladis.


"Oh gitu, hati-hati dijalan. Kabarin Mami apapun informasi yang kamu dapat"


"Siap, by Tan" Pamit Gladis dan cipika cipiki dengan Mami Ray.

__ADS_1


"Camer" Batin Gladis.


__ADS_2