Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
95. Pernikahan Ray


__ADS_3

Warna langit mulai berubah perlahan terang, sinar mentari nampak malu-malu. Dihalaman rumah sudah berjejer mobil terparkir dengan rapi. Sedangkan disebuah kamar, tukang rias sedang menunjukkan kebolehannya dengan berbagai peralatan make-upnya menari sesuai arahannya diwajah Gladis.


Wajah Gladis tampak cantik dalam balutan busananya. Ayu sangat menonjol dalam dirinya kali ini. Wajahnya berseri-seri menampakkan kebahagiaan.


"Akhirnya.. selamat yaa" Ucap Gebi menghampiri dalam kamar makeup.


"Makasih, tolong jangan biarkan dua orang sahabatmu itu berkeliaran disini" Pinta Gladis sambil memperhatikan pantulan wajahnya didepan cermin.


"Kenapa?, bukan mereka sahabat mu juga?" Tanya Gebi penasaran.


Baru saja Gladis mau menjawab pertanyaan sahabatnya itu, tiba-tiba pintu terbuka. Orang tuanya datang ke kamar make-up, sebagai ibu pasti bahagia jika anaknya sudah menemukan tambatan hatinya. Tapi tidak dengan wajah keduanya, agak sedikit murung dan senyum diwajahnya pun seperti dipaksakan. Itu yang Gladis lihat saat ini.


"Anak ibu cantik" Pujinya dengan posisi berdiri dibelakang Gladis.


Gladis menatap ibunya lewat pantulan cermin didepannya. Ia dapat merasakan keterpaksaan dalam hati ibunya. Ia bangkit dari kursinya, dengan sigap ibunya memegang lengan Gladis.


"Hati-hati dong" Tegurnya.


Gebi hanya menganggap biasa omongan ibu Gladis.


"Bikin khawatir ibumu saja. Aku ke depan dulu yaa" Pamit Gebi dan Gladis mengangguk sembari senyum kepada Gebi.


Gebi melangkah meninggalkan kamar itu, baru sampai pintu kamar, Gladis kembali memanggil.


"Geb, ingat pesanku kan?" Ucapnya mengingatkan dengan tanya.


Gebi seketika mengangkat tangannya menautkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O.


"Beres" Jawabnya lalu ia pergi.


🌺


Seperti yang dikatakan ayah Gladis, mereka melakukan pemberkatan nikah di gereja terdekat. Terlihat biasa dari luar, namun setelah masuk begitu mewah. Ini hasil kerja keras Mami Ray dan tim dekornya. Penataan bunga yang begitu indah sangat mencolok di gereja tersebut.


Acara pemberkatan nikah lancar tidak ada kendala sama sekali hanya saat pagi sebelum ke gereja, sempat heboh karena Ray tidak ada di kamarnya. Mami Ray menelepon Ray berkali-kali tapi tidak diangkat, akhirnya menelfon Alan sebagai teman putranya. Karena dari Alan pasti bisa mendapatkan informasi keberadaan anaknya. Dan saat itu Alan mengatakan kalau Ray sedang tidur di apartemennya. Setelah mengatakan itu tidak lama ada bunyi ketukan pintu ternyata suruhan Maminya menjemput Ray. Sedangkan Ray saat itu, tidak ada pilihan selain nurut.


Keduanya sudah sah suami istri, keluarga Gladis dan keluarga Ray seketika teriak menyuruh Ray mencium Gladis.


"Cium, cium" Ucap mereka.


Ray melihat saja Gladis sebenarnya ogah-ogahan apalagi disuruh mencium perempuan itu.


"Lakukan demi keluarga kita" pinta Gladis dengan sedikit berbisik.

__ADS_1


Ray mendekat dan mencium Gladis sekilas.. Fotografer baru mau mengambil gambar langsung ia urungkan niatnya.


"Ulang...ulang" Ujar mereka lagi dan tangan mereka sudah menyalakan kamera ponsel.


Dengan terpaksa Ray kembali melakukannya, "Jangan berbangga diri, setelah ini cari ayah anakmu" Kalimat itu terdengar jelas ditelinga Gladis lalu Ray cium kening Gladis untuk kedua kalinya. Acara pemberkatan selesai.


Pengantin baru langsung pulang untuk mempersiapkan resepsi malam nanti. Ray dan Gladis satu mobil yang sama, dengan berani tangan Gladis meraih tangan Ray.


"Ra, aku panggil mas atau hubby?"


Ray melepas tangannya dari genggaman Gladis, "panggil seperti biasa saja" Jawabnya.


Bibir Gladis menyunggingkan senyum, bahagia karena pertanyaannya ditanggapi oleh Ray meskipun dengan keterpaksaan.


"Tapi aku pengennya aku panggil hubby" Ujarnya lagi dengan manja.


"Bisa diam, kepala aku sakit" Balas Ray membuat Gladis diam seketika.


"Menyebalkan" Batinnya, lalu menoleh kearah samping. Gladis memilih melihat diluar jendela mobil daripada membujuk Ray.


Mobil yang membawa mereka sudah sampai depan rumah Gladis. Keduanya turun, Ray keluar dari mobil langsung masuk dalam rumah tanpa menunggu Gladis yang jalan sambil mengangkat gaunnya.


Mami Ray yang sudah sampai duluan di rumah besannya itu langsung menegur Ray.


Ray tanpa protes langsung membalikkan badan menghampiri Gladis dan memegang gaun Gladis bagian belakang dan menyuruhnya jalan pelan.


"Gitu dong" Ujar Maminya lagi sembari senyum lalu ia kembali masuk dalam rumah untuk melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda karena kepergiannya memantau anak dan mantu.


Alan yang sudah duduk dalam rumah Gladis, ia sudah sampai sebelum Ray dan Gladis sampai rumah. Ia menghampiri sahabatnya itu setelah masuk ruang tengah.


"Selamat" Ujar Alan sambil memeluk dan menepuk-nepuk punggung Ray, "Berarti Viona, fix buat aku" Lanjutnya.


Ray seketika melepas pelukan Alan, matanya seketika tajam dan dingin, "Apa maksud mu Lan?"


"Kan udah nikah bro" balas Alan lagi, "gak mungkin dong menduakan istrimu dan Viona juga pasti gak mau" sambung Alan.


Gladis mendengar itu seketika menyunggingkan senyum senang.


"Terima kasih Lan, sudah mengingatkan suamiku" Ujar Gladis dengan lembut kepada Alan.


"Sudah sewajarnya mengingatkan sahabat dalam kebaikan.. Eh kapan honeymoon nih, supaya cepat ada Ra, junior?" Tanya Alan lagi dengan senyum diwajahnya sembari melihat Ray dan Gladis bergantian.


"Kapan?, supaya aku ikut" Ulangnya. Ia sengaja berkata seperti itu karena melihat pengantin baru itu tidak menanggapi pertanyaannya.

__ADS_1


"Mending nikah, baru honeymoon" Ucap Ray lalu menepuk pundak Alan, "aku istrahat, tau kan semalam gak cepat tidur" sambungnya lalu pergi.


Gladis pun mengikuti belakang Ray, dengan pelan. Kembali ditegur oleh ibunya.


"Gladis, ibu sudah pernah bilang hati-hati kamu sedang mengandung" Ucap ibunya lalu membantu Gladis memegang gaungnya, "ibu antar dikamar" Lanjutnya.


Gladis dikamar sendiri yang seharusnya ditemani sang suami. Sementara Ray malah duduk diluar sambil merokok, tanda ia sedang ada masalah. Pernikahan ini masalah besarnya. Satu batang rokok sudah habis, ia mengeluarkan rokok lagi dari pembungkusnya. Baru ia bakar, tiba-tiba ada tangan yang menahannya.


"Jangan Ra" Ucapnya.


"Kamu siapa, berani urus hidupku?" Ray tidak terima apabila Gladis melarangnya.


"Ra sudah lupa kalau kita ini sudah menikah, setidaknya hargai perasaanku, Ra."


"Kamu tidak ada hak melarang aku, ini hidup aku kalau tidak suka pergi saja" respon Ray itu membuatnya heran. Ia tidak menyangka Ray yang ia kenal dulu berubah drastis.


Pemarah, kasar dan dingin. Itu yang Gladis lihat dan rasa saat ini. Namun, bukan Gladis kalau gampang menyerah.


"Aku rindu Ra yang dulu" Ujarnya lalu pergi meninggalkan Ray.


Gladis melangkah dengan mata sudah basah, sesekali mendongak keatas agar tidak kentara kalau sedang menangis.


"Semua ini gara-gara Viona, makanya Ra berubah" Geram Gladis.


🌺


Foto beredar luas dan makin heboh di media sosial tentang pernikahan Ray dan Gladis. Banjir pujian dan ucapan selamat dari teman-teman masa putih abu-abu keduanya. Viona dan Marcellea masuk salon untuk make-up. Di make-up sambil main ponsel, Viona memilih buka Twitter sore ini.


"Mbak sepupu Marcel?" Tanya tukang rias wajah Viona.


"Mirip ya kak?" Tanya balik Viona.


"Iya, sama-sama cantik" jawabnya membuat Viona tertawa.


"Kakak ini mujinya berlebihan. Kak Lea, ipar saya. Dia menikah dengan kakak saya" Jelas Viona dan direspon anggukan oleh mbak tersebut.


"Biasa Marcel pakai jasa make up itu, berarti acara mewah jadi harus tampil berkelas" Ujarnya sambil memoleskan blush on dibagian tulang bibi Viona.


"Oh" Respon singkat Viona.


"Gak tanya Marcel, acara apa gitu?" Tanyanya lagi dengan penasaran. Mbak yang merias Viona tidak henti-hentinya bertanya.


Viona membalas dengan gelengan kepala, membuat mbak tersebut diam dan melanjutkan tugasnya sampai selesai.

__ADS_1


__ADS_2