
"Ayo" Ajak Ray.
Mereka pun menuju mushola terdekat dari restoran itu. Ray hanya mengantar sampai depan musholah.
"Aku sampai disini saja" Ucap Ray dan mencari tempat duduk yang tidak jauh dari situ.
"Gak shalat?" Tanya Viona, ia kira Ray adalah muslim.
"Tidak, aku non muslim" Jawab Ray dan Viona menanggapinya dengan senyum seadanya.
"Maaf kalau gitu, Aku dan Ainun shalat dulu" Pamit Viona dan Ainun melambaikan tangan kepada Ray.
"Ainun shalat dulu Om baik" Pamit Ainun dan Ray pun menjawab, "Om tunggu disini ya"
"Iya om" Jawab Ainun.
Viona dan Ainun jalan beriringan sembari Ainun memegang tangan bibinya.
"Bagaimana mungkin Ray, menginginkan hubungan lebih dari teman bahkan serius jika kami saja berbeda, ya Allah kuat hati hambamu, teguhkan pendirian hamba diatas agamamu" Viona berdoa dalam hati sembari jalan masuk mushola.
Ray pun melihat Viona semakin jauh melangkah, ia juga terus berpikir bagaimana hubungan mereka ke depannya, karena bukan hanya tentang restu yang ia perjuangkan kedepannya melainkan perbedaan mereka yang sulit untuk dipecahkan secara logika.
20 menit kemudian Viona dan Ainun keluar dari mushala menghampiri Ray yang tidak berpindah duduk sejak Viona pergi.
Sedangkan Alan pun demikian baru keluar dari mesjid tempat dia melakukan shalat dzuhur.
"Sudah?" Tanya Ray.
"Iya Om" Jawab Ainun.
"Maaf ya Ray, apa bisa kita langsung pulang?" Tanya viona.
"Bisa, tapi saya minta jangan terus minta maaf, kamu gak ada salah sama saya" ujar Ray. Ia tidak suka setiap memulia percakapan Viona terlebih dahulu minta maaf.
"Iya, kita pulang" Ulang Viona lagi.
"Oke, jadi teman yaa" Ucap Ray.
"Oke" Jawab Viona setuju.
"Amanlah kalau hanya sekedar teman, lagian kita gak ada larangan berteman dengan siapapun yang penting bukan urusan akidah" monolog Viona.
Viona memang tidak menggunakan hijab hanya saja untuk pemahaman agamanya tidak jauh beda dengan saudaranya yang lain. Sebelum meninggal pun ayahnya berpesan kalau Viona harus mengenakan hijab layaknya wanita muslimah pada umumnya. Tapi, entah kenapa amanah itu ia belum lakukan sampai sekarang.
Mereka pun pulang menuju bengkel dimana motor Viona berada. Dengan waktu lumayan lama ditambah macet akhirnya mobil Ray berhenti tepat depan bengkel dan kebetulan mobil Alan pun baru masuk di halaman bengkel Ray.
"Ray baru pulang, enak ya keluar gak bilang-bilang" Gumam Alan.
Alan mematikan mesin mobilnya dan hendak keluar dari mobilnya, tapi terhenti seketika setelah melihat yang keluar dari mobil Ray.
"Jadi maksud dari anak buah Ray tadi itu Viona dan Ainun" Gumam Alan lagi.
"Ray tega ya, menikung sahabat sendiri" Ucap Alan lagi sedikit kecewa pada sahabatnya itu.
Alan memperhatikan mereka turun dari mobil sesekali mereka melempar senyum satu sama lain. Alan sedih melihat itu tapi kembali lagi laki-laki yang ia lihat saat ini sahabatnya sendiri dan perempuan yang ia kagumi.
Alan turun dari mobil lalu menghampiri Ray dan Viona.
"Hai, apa kabar semua?" Tanya Alan seramah mungkin. Meskipun hatinya ingin bertanya kepada sahabatnya.
"Alhamdulillah baik" jawab Viona.
"Baik" Jawab Ray heran kepada Alan, "Tumben tanya kabar, gak biasanya" Sambungnya.
"Hahaha, ayo kita ngobrol-ngobrol didalam" Ajak Alan lagi.
"Aduh, minta maaf banget lain kali ya, soalnya mau temanin kakak ipar" tolak Viona dengan sopan sambil mengatupkan tangannya.
"Jangan seperti itu, aku tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta pada cewek yang sopan" ucap Alan secara gamblang membuat Ray menatapnya tajam. "Kenapa tatapannya seperti itu?" Sambung Alan lagi kepada Ray.
"Gak, hanya ucapanmu ngaco" Jawab Ray,. "Mana hp mu?" Sambung Ray kepada Viona.
"Untuk?" Tanya Viona bingung.
"Ini" Ucap Ray lagi memberikan ponselnya pada Viona dan Viona hanya menatap hp itu lalu kembali melihat Ray dengan bingung.
"Masukkan nomor hp mu" Ucap Ray lagi, seakan tau kebingungan Viona.
"Oh" jawab Viona lalu mengetik nomor ponselnya di ponsel Ray.
"Ini, sudah kan. Aku pulang, assalamualaikum" Pamit Viona.
"Wa'alaikumussalam" jawab Alan dengan senyum getir.
__ADS_1
🌺
Malam hari biasanya keluarga ibu Heti kumpul hanya untuk berbagi cerita. Tapi berbeda dengan malam ini, seakan kegiatan hari ini padat membuat seisi rumah cepat tidur.
Rifal masuk kantor sore baru pulang. Marcelea sore jalan santai di temani oleh Viona dan Ainun.
Sedangkan ibu Heti, kebiasaan di rumah hanya memasak dan kadang menemani mantu jalan pagi.
Viona santai dikamar Ainun, karena Ainun tiba-tiba malam ini ingat mamanya. Ia ingin mamanya ada dirumah menemaninya tidur. Dan disinilah Viona mengeluarkan bakat ibu-ibu dalam dirinya untuk menangani ponakannya sekaligus membacakan dongeng sampai Ainun tertidur.
"Gak mudah jadi ibu" Gumam Viona sebelum negara tidur menyerang.
"Haaoomm" Viona menguap.
Viona merasa matanya tidak bisa dikondisikan lagi, ia mencoba menggeser tubuh ponakannya lalu ia tidur disamping Ainun.
"Ternyata lebih nyenyak tidur disini" Batin Viona sembari memperbaiki posisi tidurnya, dengan ponsel ia simpan diatas meja samping tempat tidur Ainun.
1 jam berlalu Viona tidur dikamar Ainun sembari memeluk ponakannya itu. Namun, dari setengah jam yang lalu juga Ray menelepon, ia telepon sudah puluhan kali.
Viona mendengar ponselnya bergetar, "alarm, berarti sudah pagi" gumam Viona gelagapan dan bangkit dari tidur tidak lupa mengikat rambutnya dan keluar dari kamar Ainun.
Viona menoleh kiri kanan betapa sunyinya dalam rumah tidak ada suara sedikit pun bahkan mesjid yang biasa waktu subuh shalawat sebelum adzan kali ini tidak kedengaran.
Viona menuju jendela rumah untuk melihat diluar, "masih gelap, apa alarm saya jam 4 subuh ya" gumam Viona.
Viona memutuskan untuk duduk dulu menunggu adzan subuh karena kalau kembali dikamar ia takut tertidur dan terlambat shalat.
20 menit berlalu Viona sudah berkali-kali menguap, "ini kenapa gak adzan ya" Gumam Viona.
"Ambil air wudhu dulu kali ya, supaya gak ngantuk" Batin Viona sembari jalan.
Dan saat itu juga, Rifal keluar kamar mengambil air minum untuk sang istri.
Rifal sempat berhenti melihat bayangan yang lewat.
"Apa dirumah ini ada hantu?" Ucap Rifal dan sedikit mengintip, "astaghfirullah dek" Sambung Rifal saat mengintip bertepatan dengan Viona menoleh karena merasa ada orang dibelakangnya.
"Kakak sendiri yang ngagetin Vio" bela Viona.
"Aku kira hantu, tumben belum tidur"
Rifal heran melihat adiknya sudah jam 11 malam belum juga tidur. Biasanya jam seperti itu sudah tidur semenjak selesai kuliah.
Rifal mengira kalau adiknya itu shalat sunnah.
Waktu begitu cepat, selesai shalat Viona mengambil al Qur'an nya sambil menunggu terbit matahari. Sudah satu juz mengaji tapi diluar tambah sunyi dan kendaraan dijalan semakin berkurang.
"Apa aku terlalu cepat bangun atau gimana nih?" Ucap Viona lagi seorang diri dan sekarang ia penasaran untuk melihat jam beker diatas nakas.
Viona melihat jarum panjang jam menunjuk angka satu dan jarum pendek menunjuk angka 12.
"Ah gak benar nih" Viona tidak percaya, ia mengucek matanya lalu kembali melihat jam beker tersebut tapi tetap sama, "rusak nih" sambungnya tidak percaya dan berpindah ke ponselnya.
Mata Viona terbuka lebar melihat jam dilayar ponselnya, "benar, baru jam 12 sekarang. Ini lagi siapa yang menelpon sampai aku kira alarm" ucap Viona seorang diri dengan hati kesal, "gak tau apa kalau saat ini waktunya istirahat" Sambungnya dengan melempar HP-nya diatas tempat tidur.
"Ehh.. siapa yang menelepon" Gumam Viona penasaran dan kembali mengambil ponselnya dan memperhatikan nomor hp yang meneleponnya.
"Ray, kenapa menelfon sebanyak ini?, Gara-gara dia nih, aku kira sudah subuh ternyata sekarang tengah malam" kesal Viona sambil mengetik dilayar HP-nya itu. Entah apa yang ia kirim kepada Ray.
Dirumah Ray, ia masih membaca kitabnya. Kebiasaan Ray selalu membaca kitab sebelum tidur.
Hpnya bunyi tanda ada pesan masuk. Ray tidak biasa ada pesan masuk tengah malam seperti ini.
"Sia..pa, Viona" Ucap Ray cepat setelah melihat nama yang tertera. "Tumben, ditelepon gak diangkat" Sambungnya sambil membuka pesan itu.
Ray membacanya seketika tertawa lucu, "enak aja main salahkan orang, salah sendiri gak lihat jam" Ucap Ray seorang diri lalu menekan tombol hijau dilayar HP-nya tanda menelfon.
"Hallo" Ucap Ray ditelepon dengan wajah senyum menahan ketawa.
"Apa halo-halo" Jawab Viona sedikit kesal diseberang telepon.
"Kenapa bisa shalat subuh jam segini? Aku non muslim tapi aku tau waktu shalat subuh itu waktu subuh bukan tengah malam" Jelas Ray. Ia sebenarnya ingin tertawa tapi ia coba untuk tahan karena mendengar suara Viona sepertinya sangat kesal.
Viona menguap berkali-kali, "jadi menelfon ini, tujuannya apa?" Tanya Viona.
"Memang kalau menelfon harus ada tujuan?" Tanya balik Ray. Karena ia menelfon sebenarnya hanya untuk pastikan Viona sudah kembali tidur atau belum.
"Biasanya kalau laki-laki seperti itu" jawab asal Viona yang membuat Ray mendengar itu langsung bertanya.
"Viona sebelum kita akhiri telepon ini, aku bertanya satu hal" Ucap Ray dan sedikit menarik napas, "apa pernah dikecewakan?, Kalaupun pernah, move on. Aku bukan seperti itu Viona" sambungnya.
"Hahahaha, heee, aku belum menjawab ya. Kenapa kamu menyimpulkan sendiri?" Tanya Viona setelah ketawa.
__ADS_1
"Viona aku serius, kenapa kamu malah ketawa?" Tanya Ray, ia sedikit tidak terima jika bertanya dengan serius malah dijawab dengan tawa.
"Maaf sebelumnya, tapi..." ucap Viona dan dipotong langsung oleh Ray ditelepon.
"Sudah berkali-kali aku bilang, jangan minta maaf Viona" Kesal Ray.
"Ngambek nih?" Tanya Viona semakin mengganggu Ray.
Ray yang sudah menahan rasa kesal dihatinya, sedangkan Viona yang awalnya kesal berubah jadi senang karena berhasil balas.
"Viona jawab dulu pertanyaanku, ini sudah malam nanti kamu terlambat bangun shalat subuh" Ucap Ray masih mencoba untuk terus sabar dan mengingatkan Viona.
Viona seketika tertegun mendengar ucapan Ray. Bagaimana tidak, Ray seorang non-muslim tapi masih ingat kalau ia terlambat tidur akan membuatnya terlambat bangun shalat subuh.
Sementara diseberang telepon, Ray diam menunggu Viona bicara tapi tak kunjung bersuara.
"Apa ucapanku tadi ada yang salah, apa ucapanku menyinggung perasaannya?" monolog Ray dengan pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya dan berusaha kembali mengingat apa yang dia ucapkan dari awal sampai terakhir tadi..
"Maaf, kalau ucapan saya menyinggung perasaanmu" Ucap Ray lagi ditelepon.
Viona mendengar suara Ray, tersadar dari lamunannya. Dan disana terdengar suara tarikan napas Viona.
"Kalau sudah ngantuk, tidur saja" Ucap Ray lagi.
"Eeemmm, apa tadi. Gak kok" Jawab Viona asal entah nyambung atau tidak. Viona bersikap bodoh amat.
"Gak nyambung nih" Ucap Ray lagi ditelepon.
Viona seketika mengeluarkan unek-uneknya lewat benda pipihnya itu.
"Gara-gara kamu Ray, saya shalat subuh jam 12 malam, mana aku dikira hantu sama kak Rifal belum jaga Ainun. Tau gak Ainun tu ingat ibunya jadi tidur pun ingin ditemani. Jiwa ibu-ibu ku itu keluar sebelum waktunya" Ucap Viona tanpa jeda seperti tidak bernapas.
"Bernapas juga kali Viona, disini hanya kita berdua jadi mau bicara lambat pun tetap aku dengar" respon Ray sembari senyum.
"Ternyata akrab dengan Viona tidak sesulit yang aku bayangkan" Batin Ray.
"Masih ada yang mau diceritakan?" Tanya Ray lagi ditelepon dan seketika diseberang telepon, Viona menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Kenapa Ray seperti ini? Apa benar dia serius? Tapi kami berbeda" Viona bertanya kepada dirinya sendiri dalam hati.
"Gak ada" Jawab Viona singkat dan kembali sunyi bagaikan dua orang asing yang baru saling mengenal.
Ray menyadari perubahan sifat dingin Viona seketika. Ray menarik napas terlebih dahulu, rasanya begitu sedikit sulit menjalin hubungan dengan sosok yang memiliki keyakinan berbeda, tapi ia juga tidak terima kalau nanti Alan dekat dengan Viona.
"Viona tolong jawab pertanyaan aku, please" Mohon Ray.
Viona memejamkan mata, "Oke, aku tidak tau Ray, karena aku belum pernah pacaran jadi jika ada yang ajak pacaran aku bingung sendiri"
Ada rasa bahagia dilubuk hati Ray, "Viona aku tidak mengajak mu pacaran tapi berkomitmen untuk lebih serius" Ucap Ray penuh yakin.
"Ray, aku tidak mau mematahkan harapanmu, tapi kita berbeda Ray" Jelas Viona dan Ray seketika diam diseberang telepon.
"Bukankah kita akan bahagia karena kita direstui dua Tuhan?" Tanya Ray mencoba meyakinkan Viona.
"Aku tidak tau Ray, entah Tuhan siapa yang akan marah nanti" Jawab Viona membuat Ray lagi-lagi diam dengan jawaban dari orang yang ia suka.
"Viona, jadi kamu meragukan saya?" Tanya Ray lagi memastikan.
Viona menghela napas terlebih dahulu. Jujur saat ini hatinya bimbang. Satu sisi ia yakin cinta Ray begitu tulus padanya, tapi disisi lain, ia juga tau penghalang mereka sangat tidak mungkin. Penghalang mereka ibarat benteng kokoh yang menjulang tinggi.
"Viona" panggil Ray diseberang telepon.
"Aaammm" Viona bingung, "Perbedaan kita yang membuat ku ragu" jawabnya Viona lalu ia diam.
"Kita sama-sama berdoa, Tuhan paling tau mana yang terbaik untuk hambanya" Ucap Ray lagi ditelepon.
"Maaf Ray, aku jawab sekarang. Tapi kita tau Tuhanku maupun Tuhanmu tidak akan mengizinkan hal itu. Kita berbeda Ray" Jelas Viona membuat Ray sejenak berpikir.
"Lagian Ray, di negara kita tidak mengizinkan menikah beda keyakinan" Ucap Viona lagi.
Ray mendengar itu, sedikit ada setitik cahaya harapan baginya.
"Kita menikah di luar negeri" respon Ray dengan cepat. "Yang penting kita masing-masing meyakini kalau Tuhan itu ada" sambungnya dengan penuh yakin.
Viona tersenyum getir sebelum menjawab dan melihat jam beker diatas nakas sudah menunjukkan pukul 1 pagi.
"Ray, dalam agamaku tidak mengizinkan menikah berbeda keyakinan" jelas Viona. Ia lebih baik menjelaskan semuanya sebelum melangkah terlalu jauh.
"Jadi apa yang aku harus lakukan, agar kamu benar-benar percaya, aku serius sama kamu" Ucap Ray melemah. Ia tidak mau kecewa untuk kedua kalinya dalam urusan cinta.
"Keputusan ada di tanganmu Ray, sepertinya aku sudah mengantuk, by" Ucap Viona lalu mematikan sambungan telepon.
Viona merebahkan badannya sambil mengingat ucapannya ditelepon dengan Ray, begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Keduanya tidak bisa tidur, membalikkan badan kiri kanan itulah gaya Viona dan Ray malam ini.