
Viona sampai rumah langsung melempar tasnya diatas sofa.
"Kesal.. kesal" Gumamnya sembari duduk disofa.
"Tumben cepat" Ibu Heti heran melihat Viona yang belum lama pergi sudah kembali.
"Taulah mam, dunia bikin pusing" Jawabnya dengan pasrah. Dengan perlahan menarik tasnya lalu izin ke kamar sejenak.
"Ma, ke kamar dulu" Pamitnya.
Ibu Heti hanya menatap punggung Viona yang berlalu pergi. Ia ingin banyak cerita banyak hari ini, tapi melihat sang putri sepertinya lagi tidak mood maka ia memilih untuk lanjut nonton. Mata fokus di layar tv tapi pikirannya melalang buana.
"Siapa yang mau dengan Viona, Ahmad yang awalnya mau tiba-tiba berubah. Siapa lagi ya" ibu Heti mulai berpikir kembali tentang perjodohan anaknya.
"Teman-teman pengajian aku, ada putranya gak ya yang cocok dengan Viona" pikirnya.
Ibu Heti mulai larut dalam pikirannya, tayangan tv sudah tidak menarik lagi baginya.
Sementara Viona, ia memutuskan untuk memantau postingan video jualannya. Matanya seketika melotot menatap layar ponselnya. Ia tidak menyangka ada netizen yang menjatuhkan kualitas barang jualannya. Ia membuka akun tersebut dan disana tidak menemukan postingan yang menunjukkan identitas pemilik akun.
"Apa ini akun fake?" Tanyanya dalam diri.
Ia kembali scroll komentar sampai bawah, tak henti-henti hatinya sakit dan ingin memaki akun-akun yang berkata tidak benar tentang butiknya.
Ia bingung, kepada siapa untuk minta pendapat. Mulai berpikir.
"Kak Yesi" Gumamnya dan langsung menelepon Yesi.
Sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Viona, teleponnya tidak dijawab. Berkali-kali menelepon tapi tetap tidak ada jawaban beralih ke Rifal pun sama.
"Kemana kak Yesi dengan kak Rifal, lagi butuh juga" Gumam Viona.
🌺
Warna langit berubah perlahan, lembayung senja nampak indah. Dihalaman rumah terparkir indah sebuah mobil yang sangat dirindukan seorang ibu. Siapa lagi, kalau bukan kepulangan sang anak ke rumah dimana ia tumbuh sejak kecil.
Suara tawa anak kecil menghiasi rumah itu, lari-larian dalam rumah suatu momen terindah bagi sang nenek.
"Hamzah, peluk nenek yuk" Ujar Marcellea sambil menunjuk ibu Heti yang sudah menunggu kedatangan cucunya.
Gelengan kepala yang Marcellea dapat dari sang putra.
"Nenek rindu sayang" Bujuknya lagi.
"Mau lali" Ujar Hamzah dan kembali lari. Kali ini mengajak Viona untuk main bersama.
"Bibi" Panggilnya diajar oleh Rifal.
"Main" lanjut Hamzah dengan sendirinya.
Sekeluarga bersorak ria mendengar Hamzah bicara cepat dan benar, meskipun masih ada huruf yang belum bisa disebut dengan benar.
Hamzah main dengan Viona, sedangkan Marcellea dan ibu Heti memasak di dapur. Sementara Rifal, ia sedang istrahat dikamar.
Makan malam pun sudah tiba waktunya, di meja makan sudah siap berbagai menu. Sebagai Ibu, ibu Heti memanggil anak dan cucunya untuk makan sementara Marcellea sudah menunggu dimeja makan.
Dari kamar memanggil Rifal lanjut Viona dan Hamzah yang sedang main.
"Vio, ajak hamzah makan malam dulu" Ujar ibu Heti.
"Tidak mau, mau main" Jawab Hamzah dengan mainan ditangannya.
"Nanti lanjut main lagi ya sayang, makan dulu" bujuk ibu Heti sembari menghampiri cucunya Hamzah.
Hamzah dengan cepat lari, menjauh dari neneknya.
"Mau main" Ulang Hamzah.
"Besok lagi aja sayang, besok kita main di halaman rumah" Kali ini Viona yang bujuk.
"Oke bibi" Jawab Hamzah sembari senyum dan lari menuju meja makan.
Makan malam berlangsung dengan santai diselingi dengan coloteh Hamzah yang minta lauk pauk untuk dimakan.
"Ayam golengnya Ham habis" Ucapnya kepada sang ibu.
"Oh iya, ibu lupa."
__ADS_1
Marcellea mengambilkan sepotong ayam goreng untuk Hamzah lalu ia suwir-suwir kecil dan menaruhnya dalam piring anaknya.
"Ibu, kenyang" Hamzah menaruh sendoknya dalam piring.
"Nasinya masih banyak Ham, habiskan dulu nasinya" Bujuk Marcellea.
"Tidak mau" Jawabnya sembari geleng kepala, "bibi, minum" lanjutnya sambil menunjuk gelas yang berisi air.
Viona langsung mengambilkan gelas yang berisi air dan Hamzah menerima itu langsung minum.
"Lain kali, pakai gelas Hamzah sendiri ya"
Marcellea mengingatkan putranya, mengingat anaknya masih kecil dan belum tau barang pecah yang bisa mencelakai dirinya sendiri. Jadi, Marcellea menyediakan gelas plastik untuk anaknya.
"Tidak mau lagi" Jawab Hamzah membuat ibu Heti pengen mencium cucunya itu.
"Hamzah udah besar kan?" Tanya Viona ikut nimbrung.
"Iya" Jawabnya singkat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bibir senyum dan berakhir menjulurkan lidahnya kepada Viona.
"Bibi, jelek" Ujar Hamzah lalu lari meninggalkan meja makan.
Viona mendengar itu seketika melototkan matanya, "haaa". Ia tidak menyangka kalau sang ponakan bisa mengejeknya.
"Kak Rifal anakmu" Adu Viona.
"Namanya anak kecil Vio, jangan diambil hati" Rifal sengaja mengatakan itu untuk mengantisipasi pertengkaran yang terjadi malam hari.
Viona meskipun sudah besar tapi jika dikatakan jelek sama anak kecil pasti kesal, karena menurutnya anak kecil itu makhluk yang paling jujur. Dan benar, baru saja Rifal bicara Viona langsung menjawab.
"Yeee bocah, lebih cantik bibi tau daripada ibumu."
Viona tidak mau mengalah, ia menggoda Hamzah dengan menoel pipinya.
"Coba liat wajah bibi" lanjut Viona dan Hamzah nurut saja.
Hamzah menatap wajah Viona lama, seakan sudah mengerti kata cantik. Tanpa disuruh ia menoleh melihat ibunya. Jari telunjuk naik menunjuk ibunya.
"Tantik ibu."
Mulut Viona seketika terbuka tanpa disengaja dengan mata tidak berkedip mendengar ucapan ponakannya.
Suara tawa pecah di meja makan, tidak ada yang bisa tahan melihat tingkah Hamzah dan Viona.
"Ya Allah" Ujar ibu Heti sembari memegang perutnya.
Rifal terlebih dahulu menghapus air matanya karena terlalu lama tertawa.
"Saya sudah bilang, jangan diambil hati" ulang Rifal mengingatkan Viona.
Viona hanya memanyunkan bibirnya, ia kesal tapi untuk berlarut-larut menurutnya sangat lucu dan aneh.
"Iya deh" Viona mengalah.
🌺
Malam menyapa dengan indah, langit yang cerah menampakkan bintang-bintang yang menghiasi. Bulan sabit pun muncul diantar bintang-bintang itu.
Malam itu ada insan yang sedang menatap langit yang sama, terasa indah untuk menghibur diri yang sedang bingung menghadapi gejolak dunia.
"Lagi-lagi aku iri pada bintang" Gumam Viona.
Ia tidak tau kenapa?, setiap mendongak ke langit melihat bintang, ia merasa iri. Muncul dengan waktu yang telah ditentukan dan tidak merasa sakit hati diabaikan.
Masih menatap langit, bayangan Ray dan Ahmad muncul dalam pikirannya.
"Maafkan aku Mad, aku masih mencintai Ray sampai saat ini" Gumamnya kembali.
Baru saja mengeluarkan isi hatinya seorang diri, tiba-tiba ia merasa dipundaknya ada tangan yang memegangnya.
"Sabar, kalian berdua baik tapi Allah punya rencana lain" Ujarnya yang membuat Viona seketika senyum hambar karena kepergok menyebut nama orang yang spesial dalam hatinya. Meskipun kakak iparnya itu tau, tapi untuk mengatakan secara gamblang dan penuh makna baru kali ini.
"Kak Lea, kirain siapa?"
Viona menggeser posisi duduknya, untuk memberi ruang kepada kakak iparnya duduk.
"Ada apa?" Tanya Marcellea.
__ADS_1
Viona seketika memaksa bibirnya untuk melengkung keatas, "biasa kak."
"Maksudnya?"
"Gak kak. Ehh, kak dengar-dengar kak Lea balik disini karena ada acara keluarga. Siapa kak?" Tanya Viona dan berharap acara itu bukan pernikahan Ray.
"Sepupu kakak, resepsinya di hotel Manullang."
"Manullang" Ulang Viona, "aku baru dengar nama hotel itu, apa hotel baru kak?" Tanyanya lagi.
"Iya, belum lama dibuka, anaknya akan resepsi disitu" Jelas Marcellea lagi.
"Kapan, bisa ikut gak kak?" Tanya Viona dengan menampilkan senyum lebarnya, "mau ya kak" Bujuknya lagi dengan mengatupkan tangannya.
Marcellea menganggukkan kepalanya dan seketika Viona memeluk Marcellea dengan girang.
"Makasih ya kak" Ucapnya dalam pelukan iparnya.
"Iya, nanti disana jaga Hamzah ya" Godanya sambil menepuk punggung Viona.
Viona melonggarkan pelukannya dan berdehem sebelum menjawab. Memperbaiki posisi duduk sebagai tanda keseriusannya untuk mengeluarkan unek-uneknya.
"Sebelumnya saya minta maaf kakak iparku yang baik hati, tapi tolong maklumi lah diri Viona yang lagi sedih ini, dari dulu selalu jaga anak kecil. Tolong beri Viona kebebasan" Ungkap Viona yang dapat membuat Marcellea mengulum senyum.
"Hatinya apa kabar?" Tanya Rifal tiba-tiba dari belakang keduanya.
"Tidak baik, hancur berkeping-keping tak tersisa lagi" jawab Viona asal.
"Dikumpulin dong, siapa tau bisa di satukan lagi" Ujar Rifal lagi.
"Susah, hati perempuan itu seperti kaca. Meskipun disusun kembali tapi sudah tidak sama lagi" Jawab Marcellea, membuat Viona mengacungkan jempolnya.
"Mantap" Sambung Viona.
"Lanjut ceritanya, aku masuk dalam rumah dulu" Pamit Rifal.
Rifal pergi, Viona dan Marcellea lanjut cerita berdua dari hati ke hati.
Berbeda dari belahan bumi sebelah, disana Ahmad menatap langit seorang diri. Mengingat momen bersama Viona membuatnya tanpa sadar menyunggingkan senyum.
"Sampai saat ini aku belum menemukan cara untuk melupakanmu" Gumamnya.
Kembali menatap langit, "Bintang yang mengingatkanku padamu Vio, kenapa kamu menyiksaku dengan tidak sengaja?"
"Dulu perasaan ini ku abaikan begitu saja karena mengingat dulu masih sekolah dan kamu sahabatku, tapi saat dijodohkan aku senang luar biasa dan kamu malah terang-terangan mengatakan menyukai Ray. Apa dayaku jika hanya berjuang sendiri, bukan semua itu percuma?" Lanjut Ahmad, ia merasa tenang mencurahkan semua perasaannya yang terpendam seorang diri, meskipun kalimat itu hanya dirinya sendiri yang dengar.
Air mata Ahmad jatuh begitu saja, tanda ia sangat dalam mencintai Viona.
Ahmad sangat nyaman duduk sendiri sehingga tidak sadar, ada sosok ibu yang sangat peduli pada keadaannya.
"Sabar nak, ternyata seperti itu" batinnya lalu pergi.
Awalnya ingin menanyakan lebih detail tentang pembatalan perjodohan kepada putranya itu. Namun, sebelum bertanya, ia sudah mendapatkan jawaban dan mungkin jika bertanya langsung bukan jawaban seperti yang dia dengar seperti saat ini yang keluar dari bibir Ahmad.
Ibu Ahmad malam itu juga mengemas pakaiannya dan dimasukkan dalam tas, besok pagi akan balik. Ia merasa sudah lama meninggalkan anak bungsunya.
Sedangkan Ray, yang seharusnya mempersiapkan diri untuk pernikahannya besok pagi, tapi ia malah mabuk-mabukan di klub.
"Ra, stop. Ini sudah botol ke dua" Alan mengingatkan Ray yang sudah mabuk berat.
Dengan mata sayu karena mabuk dan mengangkat tangan.
"Stttt, diam Lan. Aku pusing Lan" Ujarnya dan kembali mengangkat gelasnya lagi.
"Ra, kalau muntah aku buang kamu di gorong-gorong supaya tidak ada yang lihat" kesal Alan.
Ray menanggapi dengan bibir tersenyum namun matanya memancarkan kesedihan.
"Sepertinya itu lebih baik" Jawaban itu membuat Alan dongkol.
"Jadi tetap disini atau balik?, aku sudah ngantuk!" Tegas Alan sembari bertolak pinggang.
Ray sedikit mendongak melihat Alan dengan mata sayu lalu menepuk kursi disampingnya.
"Duduk sejenak, temani saya" pintanya lalu mengangkat jarinya membentuk huruf v, "janji tinggal satu gelas lagi lalu kita pulang" Lanjutnya.
Alan kesal dan kasihan melihat sahabat satu-satunya, Ray tidak segila ini jika masalahnya tidak berat. Tapi masalahnya Ray kali ini, Alan belum tau.
__ADS_1
"Ok" Alan mengalah.