
1 bulan berlalu, Ray tanpa kabar sedikitpun. Alan pun mulai khawatir dengan keadaan Ray, dugaannya selama ini kemungkinan benar kepergian Ray ke Korea ada alasan tertentu. Alan mencoba menghubungi nomor kontak Ray namun yang terdengar hanya suara operator.
Alan bingung bertanya ke siapa lagi, kedua orang tua Ray tidak ada kontaknya, mau telepon Gladis itu tidak mungkin.
"Sepupu Ra"
Alan tiba-tiba mengingat sepupu Ray, ia mencari kontak tersebut dalam ponselnya hasilnya sama, tidak ada.
"Aku lupa ternyata nomornya aku sudah hapus, apa kabar dia saat ini" Gumam Alan tiba-tiba mengingat perempuan yang ia cintai dulu.
"Sadar Lan, dia sudah menikah" Gumamnya lagi menyadarkan dirinya sendiri.
Alan bernostalgia dengan pikirannya sendiri, sampai lupa kalau hari ini jadwal untuk ke bengkel Ray.
"Astaga, aku hampir lupa ke bengkel Ra" Ujarnya seorang diri sambil mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu ia jalan.
Alan sengaja membawa mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai bengkel. Sekilas Alan menoleh ke gedung sebelum bengkel sahabatnya, ia penasaran dengan gedung yang baru saja di renovasi dan tertulis berinisial huruf V seketika ia teringat dengan Viona.
"Gak mungkin" Batinnya sambil masuk dalam bengkel Ray tersebut.
"Gimana bengkel sahabat saya?" Tanya Alan.
"Aman pak" Jawab orang kepercayaan Ray.
"Ok, apa kamu tau gedung yang tidak jauh dari bengkel ini?, Sepertinya butik baru" Tanya Alan penasaran.
"Iya pak, itu butik katanya bagus-bagus barangnya dan perlengkapan muslimnya juga lengkap" Jelasnya.
"Kenal pemiliknya?" Tanya Alan lagi.
"Tidak pak, kami hanya fokus dibengkel pak tidak kemana-mana selama kerja disini. Tapi..."
"Tapi!" Ulang Alan penasaran dan tidak tau kenapa ia ingat Viona dengan inisial yang digunakan butik itu.
"Tapi kalau lewat tiap pagi dan malam" Lanjutnya membuat Alan seketika malas mendengarnya, "lanjut kerja pak, aku pergi dulu" sambungnya lalu pergi.
"Hehehe, iya pak" Jawabnya.
"Pak Alan.. Pak Alan" Ujarnya sambil jalan.
Alan pulang tepat lewat depan gedung tersebut, ia pelankan mobilnya sambil memerhatikan butik tersebut. Ia melihat dalam butik lumayan banyak pelanggannya.
"Lengkap, kapan-kapan kesini, sekarang ke resto dulu" Ujar Alan lalu kembali melajukan mobilnya.
Disisi lain, Viona disibukkan dengan butiknya, pagi pergi malam baru pulang. Rasa khawatir Ibu Heti kepada putrinya membuatnya tidak tenang. Ia selalu meminta Viona untuk cari pegawai membantunya di butik, tapi selalu Viona menolak dengan alasan ingin menikmati kerjanya saat ini.
Viona sampai lupa makan siang jika pengunjung datang berkelompok. Viona lagi main ponsel, baru saja menikmati kursinya yang empuk itu, tiba-tiba datang ibu-ibu dua orang.
"Mbak, ada Abaya gak?" Tanyanya.
"Ada bu, mari saya antar" Jawab Viona dengan sopan.
Ia mengantar kedua ibu-ibu itu di bagian Abaya.
"Tinggal dipilih bu, mau yang mana?" Tanya Viona lagi sembari senyum.
"Kalau gamis ada gak?" Tanya ibu satunya lagi.
"Ada bu, di sebelah sini. Mari saya antar" Ujar Viona lagi dan meninggalkan ibu yang masih melihat abaya.
"Size L warna sage, ada?" Tanya ibu tersebut.
" Ada ibu, saya ambilkan dulu. Ibu boleh duduk disana" tunjuk Viona dikursi panjang yang sengaja ia sediakan untuk pengunjung butiknya.
"Mbak, ini kepanjangan buat saya?" Tanya ibu yang menanyakan abaya.
"Boleh di coba dulu bu, ada disebelah sini" Ujar Viona.
"Oh iya, lupa aku. Hehehe"
Ibu tersebut masuk dalam ruang ganti tersebut.
"Cocok kah dengan badan ibu?" Tanyanya lagi depan cermin.
"Ma syaa allah bu, cantik dan bagus di badan ibu" Puji Viona.
"Benar?, Biasa penjual seperti itu untuk memancing pembeli" Ujarnya membuat Viona menghela napas.
"Ibu bukan ikan, masa mau di pancing. Hehehe, bercanda bu" Ujar Viona.
__ADS_1
Jujur badan Viona kali ini pegal-pegal, ia rasa lebih capek dari hari-hari sebelumnya.
"Mbak, total semuanya berapa tambah satu dengan kerudung" Ucapnya sambil memberikan Viona kerudung untuk pasangan gamisnya tadi.
"Saya ini yaa, dua" Ucap ibu yang memilih Abaya.
"Baik, mari kita ke kasir" Ajak Viona dan kedua ibu itupun ikut ke kasir.
"500 ribu dengan kerudungnya ya" Ucap Viona.
Ibu itupun membayar menggunakan kartu kredit dan.
"Ibu satu juta seratus yaa" Ujar Viona lagi.
Ibu itu pun maju memberikan Viona kartu kreditnya.
"Sebentar ya bu" Ungkap Viona.
"Iya, mbak ini sudah menikah atau belum?"
Viona terlebih dahulu senyum sebelum menjawab.
"Menurut ibu?" Tanyanya balik dengan bercanda.
"Belum, kalau mau dengan anak ibu. Mau gak?" Tanya ibu tersebut, "tenang anak ibu itu baik, rajin ngaji, pokoknya rajin ke mesjid" Sambungnya.
"Pasti sukanya anak mesjid juga dong kalau gitu" Respon Viona, "ini kartunya ya bu" sambungnya sembari memberikan kartu kredit ibu tersebut.
"Nanti saya bawa anak ibu disini" Ujarnya dan Viona meresponnya dengan seulas senyum.
"Bu, ayo kita pulang, sore nanti arisan" Temannya mengingatkan.
"Saya pergi dulu" Pamitnya kepada Viona sembari senyum, "Alhamdulillah, saya sudah menemukan jodoh anak saya" sambungnya dengan senang.
🌺
9 malam
"Assalamualaikum mam" Ucap Viona sembari membuka helm di kepalanya.
"Wa'alaikumussalam, Alhamdulillah kamu sudah pulang, mama khawatir lho" Ujar ibu Heti kepada Viona.
"Aahaa" Viona membuat napas dengan kasar sembari membanting diri diatas sofa tamu.
"Hari ini, dapat lagi pelanggan yang mau jodohkan aku dengan anaknya, gak tau tu kapan datang di butik"
"Tapi aku rasa itu ibu bercanda kayaknya, masa dengan mudah menjodohkan anaknya dengan orang yang baru ia ketemu, aneh kan?" Lanjut Viona.
"Gak aneh, naluri seorang ibu itu kuat" Jawab ibu Heti.
Viona bangkit dan duduk, "emang kayak gitu?"
"Iya"
"Waduh" Viona panik dan tiba-tiba menemukan ide baru, "ada cara mam" Sambungnya sembari senyum.
"Apa?"
"Pasti Vio ceritain nanti kalau berhasil"
"Kalau sekarang?"
"Gak bisa. Ehh mam, kak Yesi dengan kak Rifal ini kapan balik?"
"Yesi baru satu minggu pergi dan Rifal nanti ambil cuti baru bisa pulang"
"Kalau Hamzah mam?" Tanya Viona lagi, ia kangen dengan ponakannya yang ia lihat masih bayi baru lahir di rumah sakit.
"Hamzah sudah belajar merangkak sekarang" Jawab ibu Heti.
Viona dibikin gemas dengan jawaban ibunya, "kita lihat Hamzah mam"
"Butik gimana?"
"Oh iya.. mam aku bersih-bersih dulu baru makan" pamit Viona lalu pergi menuju kamar.
Berbeda jauh dengan Ray, ia memutuskan untuk ganti nomor ponsel. Ia rasa lebih tenang saat ini karena ia hanya fokus kerja tanpa memikirkan perempuan lagi. Hatinya kembali dingin seperti saat putus dengan Gladis.
"Perempuan di dunia ini sama saja, hanya hadir menggores luka" Gumamnya dengan mengisap sebatang rokok.
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk" Ray batuk karena baru kali ini ia merokok.
Maminya mendengar Ray batuk langsung menghampirinya.
"Lex, kenapa kamu merokok sayang?" Tanya Maminya.
Ray tertawa kecewa mendengar pertanyaan itu, ia kadang kesal dengan Maminya karena disuruh memilih antara mereka dan Viona, sementara bagi Ray mereka adalah orang berharga dalam hidupnya dan sangat tidak mungkin memilih salah satunya.
"Bukan ini Mami mau?" Tanya Ray lagi.
"Maksudnya?, Mami gak mengerti. Apa kamu tertekan kerja di perusahaan Papimu?" Tanyanya bertubi-tubi.
Mami Ray khawatir dengan keadaan anaknya melihat perubahan Ray dalam sebulan ini. Kantor, rumah, merokok dan diam hanya itu yang Ray lakukan.
"Coba cerita ke Mami" Bujuk Maminya.
"Tidak penting Mi untuk dibahas" Jawab Ray sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
"Mi, apa yang Mami lakukan jika Alex pergi?"
"Pergi kemana?" Tanya balik Maminya.
"Kemana aja yang membuat hati tenang" Jawab asal Ray lagi.
"Kok gitu sih ngomongnya"
Mami Ray jadi sedih mendengar kalimat anaknya itu.
"Bercanda Mi" Ucap Ray sembari senyum terpaksa agar Maminya tidak sedih dengan kalimat terakhirnya tadi.
"Mi, apa bengkel dan rumah di indo dijual aja ya?" Tanya Ray lagi.
"Sudah betah di Korea dengan Mami, hayoo"
"Dibentah-betahkan aja Mi. Mi aku istrahat ya" Pamit Ray setelah Maminya mengangguk kepalanya.
Mami Ray masih menyimpan rasa khawatir dengan keadaan Ray, ia berinisiatif menelfon Gladis.
"Halo" Ucap Mami Ray saat teleponnya dijawab oleh Gladis.
"Halo juha tante" Jawab Gladis ditelepon itu dengan ramah.
"Ada kabar baru gak?"
"Ada dong Tan, Viona tidak akan lama lagi menikah dengan Ahmad sahabatnya sendiri" Jelas Gladis.
"Terus?" Tanya Mami Ray lagi.
"Ternyata Viona itu sudah hamil Tan. Untung Ra cepat kesitu, kalau tidak gak tau kan Viona minta pertanggung jawaban dari Ra secara Viona suka sama Ra"
Mami Ray kaget mendengar berita itu, ia tidak menyangka Viona seperti itu. Dimatanya Viona anak baik-baik.
"Kapan pernikahannya?"
"Dengar kabar menikah secara diam-diam sih Tan, jadi Gladis juga gak tau"
"Oh, makasih ya informasinya" Ucap Mami Ray.
Mami Ray lega mendengar laporan Gladis tadi sehingga ada alasan kuat lagi untuk menolak Viona jika Ray kembali memaksa.
Sementara dibelahan bumi tepat dikediaman Gladis, Gebi dan teman-teman yang lain lagi berpesta ria, merokok dan minum beralkohol itu kerjaan mereka selagi tidak ada perintah dari Gladis.
"Aman Geb, Mami Ra percaya"
Gladis sangat bahagia sehingga ia ekspresikan lewat minuman yang memabukkan.
"Apa nanti gak ketahuan?" Tanya Gebi memastikan.
Gladis sudah dipengaruhi alkohol sebelum menjawab ia tertawa terlebih dulu.
"Dengar aku baik-baik, dengar pasang telinga" Ujarnya sambil menunjuk telinganya dengan gayanya yang setengah mabuk.
"Ra, sekarang ganti nomor ponsel, aku aja yang rindu dengan suaranya ini tidak bisa meneleponnya. Ra itu benar-benar ingin menjauh dari Viona dan aku yakin setelah Ra mendengar ucapanku tadi, percaya sama aku di bakal gak balik indo" tutur Gladis.
"Huueekk" Gladis muntah.
"Akhhh, ini yang aku tidak suka dari Gladis, selalu muntah kalau minum" Kesal Gebi karena muntahan tersebut mengenai kakinya.
"Urus tu bos kalian, aku mau cuci kaki dulu" Ujar Gebi lagi lalu pergi menuju kamar mandi.
__ADS_1