Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
34. Hypermart


__ADS_3

Cerah, satu kata yang terucap dikala membuka mata tepat di jendela kamar. Mentari semakin menyingsing menandakan bahwa makhluk bumi harus terus semangat menjalankan aktivitas harinya.


Memang mentari pagi tidak akan terus dikatakan mentari jika sudah meninggi melainkan matahari. Dari matahari kita belajar bahwa semakin bertambah usia maka jiwa semangat untuk memperjuangkan hidup semakin membara karena ada kalanya kita seperti senja, akan mulai meredup setelah umur menua. Semilir angin sebagai penyejuk saat menikmati itu semua.


Semilir angin pagi lewat jendela kamar itulah yang saat ini Ray nikmati. Ia sekali-kali memejamkan mata sembari menghirup udara segar dipagi itu.


Ponsel Ray berdering.


"Siapa yang menelepon sepagi ini?" Ray bertanya-tanya seorang diri sembari jalan menuju nakas tempat ponselnya berada.


"Mami!" Ucap Ray lagi setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.


Ray segera menjawab telepon Maminya.


"Hallo Mi, tumben telepon pagi?" Tanya Ray ditelepon itu dengan posisi kembali ke jendela kamarnya.


"Hanya cek saja, sudah bangun atau belum ternyata udah" Jawabnya diseberang telepon.


"Aku bukan anak kecil Mi" Ujar Ray lagi memberitahu Maminya, "Pasti ada unsur lain nih?" Tanya Ray lagi. Ia sudah tau kalau Maminya menelfon pasti ada yang ditanyakan.


Diseberang telepon terdengar suara tertawa, siapa lagi kalau bukan sang Mami.


"Mami mau tanya nih, tentang hubunganmu dengan Viona gimana?" Tanya Mami Ray lagi, ia ingin memastikan percintaan anaknya.


"Seperti biasa Mi" Jawab asal Ray.


"Seperti biasa gimana?, Mami tidak mengerti" Tanya Maminya lagi.


Ray terlebih dahulu duduk dibibir ranjang, "Seperti dulu Mi, hanya.." Ucap Ray terhenti seketika, ia hampir keceplosan sama Maminya.


"Hanya?, jangan setengah-setengah Lex" Ucap Maminya lagi penasaran.


"Hanya begitu Mi, tanya Viona aja Mi" Ujar Ray lagi membuat Maminya yang mengerutkan keningnya bingung.


"Kok tanya Viona?, Pasti Mami tanya kamu. Sudah dulu yaa Lex, sepertinya kamu masih mengantuk, by" Ujar Mami Ray lalu ia matikan sambungan telepon.


"By Mi, aku juga gak tau bagaimana kedepannya" Gumam Ray setelah Maminya mematikan sambungan telepon.


Ray memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas diluar rumah.


Berbeda dengan Viona, dipaksa harus pintar memasak. Viona sudah beberapa kali menghapus air mata yang keluar gara-gara mengupas kulit bawang.


"Huf" Viona duduk menghembuskan napas dengan kasar.


"Kenapa dek?" Tanya Yesi.


"Mata aku itu kayak per.." Jawabnya dipotong langsung oleh Yesi lagi.


"Tolong dek tumis sayur ini habis itu buat sambal yaa" Perintah Yesi membuat Viona bangkit dari duduknya dengan terpaksa.


"Apa dulu ini kak?" Tanya Viona.


"Panaskan dulu minyaknya lalu masukkan bawangnya tapi ingat jangan sampai gosong tu bawang" Yesi mengingatkan Viona lagi.


"Siap kak" Viona mulai memasak seperti arahan dari kak Yesi.


Beberapa menit kemudian sayur tumis Viona sudah masak dan langsung memindahkan di piring lalu membawanya di meja makan.


"Wah, sepertinya enak ni!" Puji Rifal setelah sampai di meja makan.


"Iya dong" Jawabnya dengan bangga, "Coba kak, sudah pas atau belum" sambungnya dengan bangga.


Rifal langsung mengambil sendok dan menyendok sedikit sayur masakan Viona itu. Rifal baru buka mulut mau memasukkan sayur tumis tersebut Viona langsung berteriak senang.


"Yeeee, aku bilang apa, pasti enak" Ujarnya lagi.


"Belum dirasa" Jawab Rifal.


"Coba dong, aku gak deg-degan kok jadi aku percaya seratus persen pasti rasanya pas, mmuach" Ujar Viona lagi diakhiri mencium jari telunjuk dan ibu jarinya yang ia tautkan.


Viona tanpa menunggu pendapat Rifal tentang sayurnya itu langsung kembali di dapur.


"Aku lanjut buat sambal ya kak" Izin Viona pada Rifal.


Rifal setelah mencicipi sedikit sayur buatan adiknya hanya menaikkan alisnya sebelah tanda responnya lalu menghampiri adik dan kakaknya di dapur yang sedang memasak.


"Dek, buat sambal jangan lupa dirasa yaa" Rifal mengingatkan.


"Sip kak, kak Rifal tumben gak kerja?" Tanya Viona.


"Temanin Lea ke rumah sakit" Jawab Rifal dan pergi meninggalkan dapur.


Setelah selesai ritual masak, mereka semua duduk dimeja makan. Menu yang begitu lengkap dari biasanya.


"Ma syaa Allah, siapa yang masak?, lengkap" Puji Lea sembari duduk .


Viona seketika menunjuk dirinya sendiri, "Siapa lagi, benar gak kak?" Jawabnya lalu bertanya kepada kakaknya Yesi.


Yesi mengangguk membenarkan meskipun hanya sayur tumis dan sambal yang Viona buat.


"Ayo dimakan, kak Lea coba deh sayur tumisnya, enak lho. Kak Rifal gak protes pas coba tadi" Ujar Viona lagi.


"Sudah coba belum?" Tanya Rifal.


Dengan bangga Viona menjawab, "kalau udah jago gak perlu dirasa, kayak chef kak dari aroma saja udah ditau kalau makanan itu pas atau tidak"


"Oh gitu" Jawab Rifal sambil menganggukkan kepala, "Menurut kamu aroma dari sayur tumismu ini udah pas?" Sambung Rifal dengan pertanyaan.


"Hmm, kak Rifal banyak tanya, aku rasa ya" Izinnya sambil menyendok sayur tumisnya itu.


"Silahkan" Jawab Rifal lagi.

__ADS_1


Viona mulai mencicipi makanannya, pertama ia senyum tapi lama kelamaan ekspresinya berubah.


"Kok bisa manis ya, tadi aku taruh garam bukan gula"


Rifal dan yang lainnya seketika menahan tawa.


"Gimana sih bibi, garam dan gula saja gak bisa bedain" Ucap Ainun membuat Viona membulatkan matanya.


"Eskrim rawan nih, bibi gak ajak lagi yaa makan eskrim" Jawab Viona lalu mengambil toples garam didapur.


"Nih" Ucapnya setelah kembali dimeja makan.


"Untuk apa garam dek, campur sambal pas rasanya" Ujar Rifal lagi.


"Hah kok bisa?" Tanya Viona tidak percaya.


"Coba dek" Timpal Yesi.


Viona pun menyendok sambal ia campur disayur tumisnya, "hmm, seperti kita makan sayur gado-gado, hahaha" Ucap Viona lagi sedangkan keluarganya hanya geleng kepala melihat tingkah Viona.


"Besok masak lagi, pokoknya sampai bisa" Ujar Ibu Heti.


"Istrahat bun, sepertinya Viona akan ikut tata boga saja" Tolaknya.


"Bagus itu" Dukung ibu Heti diangguki oleh ipar dan kedua kakaknya tanda mereka setuju.


🌺


Siang ini Viona memutus untuk jalan-jalan seorang diri menggunakan motor keliling kota. Ia sudah siap dengan sweater dan kunci motor serta tas selempang tempat ponsel dan dompet.


Ibu Heti yang sedang duduk diruang tengah melihat Viona dengan pakaian rapi seperti itu langsung bertanya.


"Vio mau kemana siang bolong kayak gini?" Tanya ibu Heti.


"Jalan-jalan bun" Jawab Viona yang sudah duduk disamping ibunya untuk minta izin.


"Jalan-jalan dimana siang hari seperti ini?" Tanya Ibu Heti lagi.


"Keliling kota bun" Jawab Viona lagi.


"Keliling kota siang hari seperti ini?, yang masuk akal dong Vio" Ujar ibu Heti yang masih belum percaya dengan ucapan anak bungsunya itu.


"Benar bun, rencana sih singgah Mall juga" Jawab Viona lagi.


"Benar?" Tanya Ibu Heti.


Seketika Viona menyipitkan matanya, "pertanyaan bunda horor, titip apa bun?" Tanya Viona.


"Kok tau?" Tanya Ibu Heti lagi.


"Ya Allah bun, pesan apa atau kirim pesan aja nanti Vio tinggal lihat listnya di ponsel saja" Jelas Viona lagi dan ibu Heti langsung berdiri, "tunggu sebentar" Ujarnya menuju meja mengambil pensil sang cucu dan selembar kertas.


"Pesanan bunda, apel, anggur, pisang, strawberry kalau ada" Ujarnya sambil menulis.


"Makanya bunda tambahkan cadangannya itu buah salak, ehh hampir bunda lupa yang utama kurma. Bunda tulis pakai huruf besar tandanya ini yang paling penting"


"Sayur juga sepertinya, bunda cek dulu di kulkas, tunggu bentar" Ujarnya dan kembali meninggalkan Viona diruang tengah.


"Aku ini sebenarnya jalan-jalan atau belanja, kok bunda banyak banget pesanannya kayak mau belanja bulanan saja" ucapnya seorang diri dengan kesal, "nah ini list bunda" Sambungnya lalu melipat kertas itu ia masukkan dalam tas dan menghampiri ibunya.


"Bunda, Viona pamit yaa, assalamualaikum" Pamitnya dan dengan cepat mencium tangan ibunya lalu ia lari.


"Ehh, itu anak" Kaget ibu Heti karena Viona mendadak datang lalu pergi dengan buru-buru.


Viona sepanjang jalan ngedumel diatas motor. Klakson motor ataupun mobil membuatnya kesal. Sensitif itu suasana hati Viona siang ini.


Rencana awal ingin jalan-jalan terpaksa ia batalkan karena pesanan ibunya begitu banyak, ia sampai Hypermart yang berada Mall tersebut langsung mengambil keranjang dorong untuk menaruh semua belanjaannya.


Buah-buahan dan sayur sudah masuk dalam keranjang semua. Belanjanya Viona semua ada campur tangan karyawan Hypermart sendiri karena ia kadang pesanan ibunya ia tidak tau.


"Beli apa lagi ya" Viona bingung sambil mendorong Keranjangnya.


"Mie instan kali yaa, sepertinya enak nih dicampur dengan sayur sawit" Gumamnya sambil mendorong kembali keranjangnya menuju etalase berbagi Mie.


Awalnya ingin mengambil hanya beberapa mie instan, tapi pas sampai ditempat Viona lapar mata, semua jenis Mie mengambil lima bungkus. Keranjangnya hampir full dengan Mie.


"Banyak juga ya" Batin Viona sambil memperhatikan isi keranjangnya.


"Gak baik kalau sering makan mie insan" Tegur seseorang yang sudah berada di depannya.


"Ahmad, ngapain kesini?" Tanya Viona kaget.


Entah kapan Ahmad berada di Hypermart yang sama, yang penting Viona dan Ahmad tidak menyangka mereka ketemu selain di restoran.


"Belanja kayak kamu, banyak juga belanjaanmu ya" Ujar Ahmad lagi.


"Bunda yang suruh, tapi kalau mie instan inisiatif sendiri" Jelas Viona lagi, "Kamu gak masuk kerja?" Tanya Viona karena ia tahu kalau restoran itu masuk kerja tiap hari kecuali masuknya per shift.


"Aku shift malam" Jawab Ahmad dan Viona mengangguk paham.


Sedang berbicara dengan Ahmad, tiba-tiba ponsel Viona berdering tanda ada panggilan masuk.


Dengan menghela napas, ia mengambil ponselnya dalam tas.


"Kenapa?" Tanya Ahmad.


"Biasa bunda, entah pesan apalagi nih" Jawab Viona lalu mengangkat telepon.


"Wa'alaikumussalam bun" Jawab Viona ditelepon itu.


"Tolong belikan bunda kecap asin ya, assalamualaikum" Ucap Ibu Heti diseberang telepon

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam bun" Jawab Viona lalu ibu Heti mematikan sambungan telepon.


Viona kembali memasukkan ponselnya dalam tas, ia pamit kepada Ahmad untuk segera mencari kecap asin pesanan ibunya.


"Mad, kayaknya aku harus cari kecap asin deh sekarang" Ujar Viona lalu mendorong keranjangnya lagi.


Ahmad hanya mengangguk mengiyakan, tapi tanpa Viona sadari ia mengikuti belakangnya.


Viona sampai disana bingung, dan salah satu kebiasaan buruk Viona tidak membudayakan membaca.


Bingung mau ambil yang mana. Ia berdiri depan etalase dan berpikir bagaimana caranya agar ia tidak salah ambil.


"Video call bunda aja kali ya" Gumamnya lalu kembali membuka tasnya untuk mengambil ponsel.


"Ekhem" Ahmad berdehem tepat dibelakang Viona.


"Kamu ada disini juga?" Tanya Viona lagi sambil menunjuk Ahmad setelah membalikkan badan kebelakang.


"Ada yang aku cari tapi tidak tau kenapa mataku melihat orang yang sedang kebingungan" Ledek Ahmad.


"Gak kok hanya mau telepon bunda" Viona tidak mengaku kalau ucapan Ahmad itu benar.


Ahmad hanya melihat Viona sekilas sembari menaikkan alisnya sebelah lalu maju lebih dekat dengan etalase.


"Cari kecap apa, soalnya kecap itu banyak jenisnya" Jelas Ahmad dengan santai sambil melihat jejeran kecap yang berada di etalase.


"Oh gitu, aku taunya kecap manis" Jawab Viona cepat.


"Salah satunya kecap manis, kecap manis pun banyak merknya ada kecap bango, abc, sedaap, indofood dan tropicana slim"


"Kalau gak salah tadi kamu bilang kecap asin. Kecap asin ada merknya juga, ada kecap asin Indofood, cap hati angsa, khas.." Ucap Ahmad terhenti karena Viona memotongnya.


"Cap hati manusia ada gak?" Tanya Viona sudah capek berdiri dan mendengarkan Ahmad bicara, makanya ia mulai bicara ngawur.


"Sayangnya hanya hati angsa yang bisa dicap, kalau hati manusia tidak bisa" Ujar Ahmad.


"Ada kecap asin ABC gak?"


"Ada"


"Tolong ambilkan satu"


"Yang besar atau kecil?" Tanya Ahmad serius.


"Kalau ada yang jerigennya, aku mau belik jerigen saja supaya gak bingung aku" Jawab Viona tidak sengaja.


"Katanya tadi gak bingung, sekarang bingung" Ujar Ahmad sembari geleng kepala, "jujur kenapa sih!" Sambungnya dan mengambilkan kecap asin dengan botol ukuran sedang.


"Makasih Mad" Ucap Viona sembari senyum, "eh Mad, aku udah utang budi lho sama kamu, kalau nikah nanti undang ya" sambungnya.


Ahmad berhenti mendorong keranjangnya dan menoleh kesamping melihat Viona sembari mengerutkan keningnya.


"Kita gak bahas nikah lho tadi" Ujar Ahmad lagi.


"Yaaa, aku tau tadi bahas kecap sekarang baru bahas nikah, lanjut dorong keranjangnya, antrian semakin banyak tuh" Ucap Viona menunjuk kearah kasir.


"Benar" Ujar Ahmad.


Baru beberapa langkah, Viona terhenti kembali karena melihat seseorang yang sepertinya ia kenal.


"Alan" Gumam Viona.


Viona menghampiri Alan dengan menyimpan keranjangnya disamping Ahmad. Dan karena Ahmad memiliki dua keranjang jadi harus menunggu Viona menemui Alan baru kembali melanjutkan membawa keranjangnya ke kasir.


"Lan, disini juga?" Tanya Viona setelah sampai dibelakang Alan.


"Iya, dari tadi malah" Jawab Alan.


Alan melihat Viona yang sudah memakai kerudung, jikalau ia bisa jujur depan Viona saat ini maka ia akan bilang 'cantik sekali'.


"Belanja?" Tanya Alan lagi.


"Iya, sana keranjang belanjaan ku" tunjuk Viona kearah Ahmad.


Ahmad pun merespon dengan senyum seadanya.


"Teman kamu?" Tanya Alan.


"Iya, Lan sepertinya aku harus ke kasir sekarang takut nanti banyak antrian" Ujar Viona dan membalikkan badan.


"Kenapa sama Ra jaga jarak sedangkan dengan dia belanja bareng?" Tanya Alan.


Ia tidak terima kalau sahabatnya dikhianati untuk kedua kalinya dan ia tau juga kalau seandainya Ray tau pasti akan kecewa dan sedih.


"Kebetulan Lan" Jawab Viona dan kembali membalikkan badan menghadap Alan.


"Lan, tau kan aku dan Ray bagaimana?, Aku bukan orang jahat Lan yang mau merebut dia dari tuhannya" Jelas Viona, "Hanya ini satu-satunya cara agar Ray bisa melupakan aku" Sambungnya dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Maksudnya, dengan cara jalan dengan laki-laki lain? Kamu perempuan yang berkerudung Vio" Alan mengingatkan Viona.


Viona geleng kepala dengan tuduhan Alan itu, "dia itu sahabat aku Lan, jangan berpikir macam-macam. Aku pergi dulu assalamualaikum" Pamit Viona lalu membalikkan badan sembari menghapus air matanya.


Setelah Viona pergi, Alan langsung menelpon Ray.


"Halo Ra" Ucap Alan ditelepon itu.


"Iya, ada apa?" Tanya Ray diseberang telepon.


"Ra aku hanya ingin ingatkan, percepat langkahmu jika tidak mau kecewa lagi" Ucap Alan lagi.


Ditelinga Ray terdengar ambigu, "maksudnya lan?" Tanya Ray yang masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Halalkan atau ikhlaskan, by" Ucap Alan lalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya itu.


__ADS_2