Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
106. Secarik kertas


__ADS_3

Mami Ray segera ke kamar anaknya itu, semenjak Ray pergi tidak ada suara yang terdengar dari kamar, seperti sunyi tidak berpenghuni.


"Tuhan" histeris Mami Ray, "Pi... Papi."


"Gladis kamu kenapa?" Tanya Mami Ray sambil menggoyang-goyangkan bahu Gladis, "Gimana ni?, gak mungkin tinggalkan Gladis sendiri dikamar" sambungnya.


Suara panik Mami Ray membuat Gladis tersadar perlahan dari pingsannya, ia membuka mata perlahan.


"Mami" panggilnya.


"Iya, kamu sudah sadar?" rasa lega dalam hatinya melihat mantunya sadar dari pingsan.


"Kita ke rumah sakit" Ajak Mami Ray, "Mami takut, kalian kenapa-napa" sambungnya dengan memegang lengan Gladis.


"Waduh gawat, pasti disana Mami pasti banyak bertanya sama dokter" batin Gladis sembari berpikir keras.


Untuk menenangkan hatinya yang selalu terguncang mendengar kata rumah sakit, ia tersenyum terlebih dahulu tanda baik-baik saja.


"Mi, Gladis baik-baik saja, mungkin tadi kelelahan saja, cukup istirahat" tutur kata Gladis dengan lembut sehingga ibu mertuanya percaya.


"Ya udah, istrahat kalau gitu. Mami keluar dulu, panggil Mami kalau ada apa-apa" Pesan Mami Ray lalu keluar setelah Gladis menganggukkan kepala dan tidak lupa Mami Ray menutup pintu kamar agar Gladis istrahat dengan tenang.


Ibu mertuanya pergi, Gladis kembali menelepon bos preman seakan-akan tidak pernah kapok dengan tindakannya.


"Aku minta teror orang yang ada digambar, lakukan sekarang" Perintahnya lalu ia matikan sambungan telepon.


Ia merebahkan badannya ditengah-tengah tempat tidur sembari menunggu pesan dari suruhannya.


"Awas aja kalian bego lagi" Gumam Gladis lagi lalu menutup mata untuk tidur siang kali ini.


Berbeda dengan Ray, ia sudah direstoran Alan saat ini. Yang membuat Alan bingung, Ray tidak punya bukti sama sekali tapi langsung menuduh Gladis kalau kekacauan dalam hidupnya penyebabnya adalah dia.


"Cari bukti dulu, Ra" Ujar Alan.


"Dia itu licik, Lan."


Alan mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang sahabatnya itu ucapkan.


"Licik gimana?"


"Dia itu perempuan bermuka dua" Jelas Ray lagi.


"Makanya aku bilang, cari bukti dulu."


"Kamu kira bukti datang begitu saja tanpa dicari, kadang rada aneh juga kamu ini Lan" Kesal Ray lalu menarik jaketnya keluar dari restoran.


"Eh.. Tunggu" Panggil Alan sembari menyusul Ray diluar.


"Sepertinya kamu gak mau bantu aku kali ini, jadi aku cari orang lain saja" Ujar Ray sembari menyalakan mesin motornya.


"By Lan."


Alan hanya geleng kepala melihat tingkah Ray, ia rasa Ray gampang terpancing emosi akhir-akhir ini, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit club dan parahnya jika tidak didengar maka akan pergi begitu saja.

__ADS_1


Menurut Alan, Ray yang dulu tidak seperti itu, perubahan itu semenjak menikah dengan Gladis. Alan sempat sependapat dengan Ray tapi tidak ada bukti jadi menurutnya sulit. Dan jika benar seperti yang dikatakan sahabatnya kalau Gladis licik, maka satu-satunya harus bertindak dengan hati-hati agar tidak dicurigai, tapi boro-boro mau dikasih tau, eehhh langsung jalan begitu saja.


Alan kembali masuk dalam restorannya, ia kepikiran dengan sahabatnya. Siapa yang Ray minta bantuan atas kesulitannya saat ini?, Apakah orang itu mau atau tidak?, Atau mungkin bayar orang?. Masalah Ray kali ini menyita pikiran Alan.


"Maaf pak, ada telepon" Ujar pelayan memberitahu Alan.


"Oh, makasih."


"Sama-sama pak."


Alan menjawab telepon dari ibunya.


"Wa'alaikumussalam bu, iya Alan di resto" Jelas Alan dalam telepon dan baru saja melanjutkan kalimatnya, ibunya kembali berkata.


"Cepat pulang yaa, ibu ajak ibu Heti dan Viona ke rumah. Besok pagi ibu rencana balik di sulawesi" Jelasnya lagi.


Rasanya Alan ingin menolak tapi ibunya mengatakan akan balik dan rasanya itu sangat mendadak.


"Bu, kenapa mendadak?, bukan disini beberapa hari lagi?"Tanya Alan.


"Ada sedikit masalah toko ibu disana" Ujar ibu Nisa.


"Gak bisa ditangani orang lain dulu bu?, cepat amat baliknya" Alan protes seperti anak kecil.


Terdengar diseberang telepon tertawa, membuat Alan mengerutkan keningnya, heran dengan ibunya. Dimana-mana jika anaknya masih kangen, pasti menunda dulu penerbangannya, ini responnya malah tertawa.


"Iya, iya. Alan balik sekarang. Assalamualaikum" Alan mengalah lalu matikan sambungan telepon setelah ibunya menjawab salamnya.


🌺


Jarum jam sudah menunjukkan waktu makan siang, Viona seperti biasa pesan makanan dan langsung diantar di butik. Kali ini yang bawa sedikit aneh, biasanya tidak pakai masker tapi kali ini memakai masker dan bahkan dilengkapi dengan topi, seakan-akan tidak ingin dikenal.


Viona melihat laki-laki tersebut dari kepala sampai kaki.


"Kok aneh" Batinnya, ia langsung menepisnya dengan cepat sambil mengibaskan tangan diudara.


"Mungkin diluar terlalu panas" Batinnya.


"Total semuanya berapa pak?" Tanya Viona sembari mengeluarkan dompet.


"Seperti biasa" Jawabnya.


Viona mengerutkan kening, matanya kembali menatap laki-laki itu. Tapi laki-laki itu malah menoleh kearah luar seakan melakukan konfirmasi dengan orang diluar gedung.


"Pak, ini menu baru yang aku pesan? jadi mana mungkin harganya sama dengan seperti biasa" Jelas Viona.


"Oh, hari ini gratis karena sudah langganan" Jawabnya lalu pergi.


"Haaa" Viona makin bingung, tapi ia minggirkan semua pikiran anehnya saat ini, yang ia tau makan dan makan.


Ia mengeluarkan makan tersebut dari dalam kantung kresek dan didalam kantun terdapat secarik kertas. Ia penasaran dan membuka lipatan kertas itu.


SEMOGA CEPAT TENANG SETELAH MAKAN

__ADS_1


Pesan singkat ditulis dengan huruf kapital semua, membuat Viona seketika menjauhkan makanan tersebut darinya. Rasa lapar hilang seketika, setelah membaca isi secarik kertas itu. Ia mengedarkan pandangannya kearah luar, ia baru sadar ada mobil hitam baru saja pergi.


"Apa itu orangnya?" Gumam Viona dan keluar dari butik lari dari arah mobil tersebut setidaknya bisa mengambil gambar DT mobilnya.


Mobil itu secepat kilat hilang dari pandangan, "lah kok cepat banget" Gumam Viona kembali dalam butik.


Kembali dalam butik, kali ini ia menelepon dirumah dan ibunya sendiri yang kirim dari rumah.


Viona tidak ingin berpikir aneh-aneh tentang kejadian tadi. Ia jauhkan dari pikiran kejadian aneh awal buka butik. Ia mencoba untuk cuek.


Sedangkan mobil suruhan Gladis itu, menyuruh anak buahnya untuk mendorong mobil mereka yang masuk lorong kecil dan jalannya rusak.


"Saya kira sudah tidak ada lorong kecil dan jalannya rusak kayak gini" Ujar bos preman tersebut.


"Yang penting kita aman dulu bos" balas supir bosnya itu sedangkan yang lain mendorong dari depan. Mobil mereka dipaksa mundur, tidak bisa putar balik selain mundur.


"Aman, hanya takutnya nanti DT mobil diam-diam gadis itu foto, kita bisa-bisa jadi buronan" jelasnya kepada supirnya sekaligus anak buahnya, ia hanya mengangguk paham.


"Ternyata bos takut juga polisi" Batinnya.


Sementara Viona udah gelisah menunggu makanan dari rumah tak kunjung datang juga, sedangkan perutnya sudah mulai konser.


"Mama, lupa atau gimana sih ini" Mondar-mandir sambil menelepon Ibu Heti.


"Assalamualaikum mam, makanannya sudah sampai dimana?" tanya Viona dalam telepon.


"Wa'alaikumussalam, mama lupa Vio, ternyata hari ini kita diundang makan di apartemen teman mama" Jelasnya dalam telepon.


Viona seketika tepuk jidat, udah gemetaran tunggu makanan ternyata tidak jadi diantar.


"Terus mam, gimana?" Tanya Viona lagi. Sangat tidak mungkin sampai rumah teman ibunya langsung minta makan.


"Kita kesana, tutup aja dulu butik nanti besok lagi baru buka" Ucap Ibu Heti lagi dalam telepon.


"Mam, gak bisa gitu dong. Ini udah Alhamdulillah kembali lancar, banyak pembeli masa seenaknya buka tutup" Jelas Viona.


"Kan untuk hari ini saja, Vio."


"Maafkan Vio, Mam. Sepertinya aku gak bisa ikut" Tolak Viona, namun ia penasaran siapa teman ibunya itu. Ia berpikir sejenak, seketika matanya melebar, ia tahu pasti ibu Alan.


"Jadi benar gak ikut nih?" Tanya ibu Heti lagi memastikan.


"Iya mam, dan sampaikan maafku pada Alan. Jujur mam, aku gak bisa terima Alan sebagai suami Viona. Batalkan niat mama untuk terus jodohkan Vio dengan laki-laki manapun" Jelasnya membuat ibu Heti hanya menghela napas berat diseberang sana.


"Baiklah, mana baiknya. Sekarang mama hanya ikut kamu saja. Nanti mama kirim makanan, assalamualaikum" Ucap ibunya lagi.


"Terima kasih mam, wa'alaikumussalam."


Telepon keduanya berakhir, ia lebih memilih untuk menunggu makanan dari rumah daripada pesan diluar. Ia harus mulai hati-hati jika terjadi hal yang mencurigakan.


Ingatannya kembali waktu di teror lewat tulisan di dinding butik, diikuti dijalan sampai dibuat jatuh sehingga berakhir di rumah sakit dan bahkan dengan nekatnya didatangi di butik untung saat itu ada anak-anak yang kerja di bengkel Ray. Seketika bahu Viona bergidik ngeri.


"Semoga Allah jauhkan dari mara bahaya, aamiiin ya Allah" Lirih Viona lalu mengusap wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2