
Hari yang mendung membuat sebagian orang terhalang aktivitasnya. Matahari yang seharusnya sinarnya sudah menerangi alam seakan muncul pun malu-malu. Awan yang seharusnya biru putih kini semakin lama jadi abu pekat. Suara gemuruh di langit seakan seperti nyanyian dan denting hujan perlahan semakin ramai. Dengan burung berkicau ria kini mereka melebarkan sayap pun seakan malas.
Hal itu, sama yang terjadi dengan Mami Ray. Sudah berpakaian rapi dan siap berangkat agar tidak berburu dengan waktu sehingga ia harus ulur waktu.
"Pi, kita batal aja berangkat nanti besok" Ujarnya dengan menatap keluar rumah yang begitu gelap tertutup awan disertai angin kencang.
"Biasa kalau ada angin, tidak lama hujan berhenti dan langit langsung cerah" Respon Papi Ray tetap semangat keberangkatan hari ini.
"Bahaya Pi, berangkat dengan cuaca yang tidak bagus kayak gini" Ucap Mami Ray lagi mencoba membujuk suaminya.
"Kamu parnoan, ini kalau cuaca buruk pasti penerbangan itu ditunda atau diundur waktunya. Mereka juga mengingat keselamatan penumpangnya"
"Iya" Jawab Mami Ray mengalah.
20 menit kemudian langit sudah cerah bahkan hawanya panas. Dengan semangat Mami Ray mengangkat tasnya begitupun dengan suaminya dimasukkan kedalam mobil.
Ray melihat itu langsung lari menghampiri orang tuanya, "kenapa gak panggil untuk angkat tas"
Papi Ray mengangkat tangannya dan memperlihatkan ototnya.
"Masih kuat kan?" Tanya Papi Ray.
"Sudah lemah Pi" Canda Mami Ray.
"Terserah lah" Jawab Ray.
"Jangan lupa ucapan Mami ya, by" pamit Maminya kepada Ray setelah masuk dalam mobil.
"Maksudnya, Mi?" Tanya Ray
"Hhmmm, anak muda sekarang suka lupa" Timpal Papinya sambil membuang napas kasar.
"Iya.. iya" Ray paham maksud kedua orang tuanya.
Ray merogoh ponselnya dalam saku jaket untuk menelfon orang yang dimintai khusus oleh orang tuanya.
Sebelum dijawab teleponnya Ray terlebih ponselnya menambah volume agar kedua orang tuanya ikut dengar.
"Halo" ucap Ray lewat telepon.
"Iya, ada apa?" Tanya Viona dibalik telepon itu.
Ray mendengar pertanyaan Viona jadi ragu untuk menyampaikan tujuan menelfon.
"Cepat" perintah Papinya.
Viona mendengar suara Papi Ray samar-samar sehingga ia tidak bisa dengar dengan jelas.
"Ada apa nih menelfon?" Tanya Viona lagi diseberang telepon.
Mami Ray melihat pergerakan anaknya lambat, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil alih ponsel tersebut.
"Sini itu ponsel" ucapnya sambil mengeluarkan tangannya di jendela mobil.
"Untuk?" Tanya Ray.
"Kamu lama, keburu datang supir" Ucapnya lagi.
Ray langsung menjauh dari Maminya seketika dan memberanikan diri.
"Gini, Mami aku minta kamu datang mengantarnya ke bandara" Ucapnya dengan hati-hati.
"Emang harus?" Tanya Viona kurang yakin dengan apa yang ia dengar.
"Siap-siap aku jemput sekarang" Ucap Ray lalu mematikan sambungan telepon dan lari menuju dimana motornya berada.
"Itu Alex kemana?" Tanya Maminya, "dan ini juga, supir mana? Dari tadi belum muncul" Sambungnya sudah mulai mengeluh.
"Maaf pak bu, saya tadi ke toilet" Ucap supir mobil setelah masuk dalam mobil.
"Iya, langsung jalan ya pak takutnya nanti terlambat" Jawab Mami Ray.
"Baik bu" Jawabnya dan membawa mobil menuju bandara.
Sedangkan Ray masih menjemput Viona. 15 menit kemudian sampai depan rumah balik pagar.
Ray langsung mengirimi Viona chat dan Viona langsung menuju depan rumah dengan sedikit berlari.
"Ada apa?" Tanya Viona lagi.
"Naik, udah telepon tadi masih bertanya lagi" perintah Ray tidak memperdulikan pertanyaan Viona.
"Kemana?" Tanya Viona lagi yang masih bingung.
"Ke bandara. Oh Tuhan" Ray bingung dengan Viona seakan diajak mendadak, padahal sebelum sampai sudah ditelepon duluan.
"Lho" Ucap Viona kaget.
"Gak masalah, oke" Ucap Ray sengaja karena ia tahu dengan siapa Viona akan bertemu nanti.
"Ambil tas dulu kalau gitu, tunggu!!" Ucap Viona lalu membalikkan badannya untuk kembali masuk dalam rumah.
"Tidak usah, soalnya buru-buru"
"Aku kayak gembel, mana pakai sendal jepit lagi" Ucap Viona melihat penampilannya saat ini.
"Tidak masalah, ayo naik cepat nanti keburu masuk ruang tunggu" desak Ray lagi.
"Iya.. iya" Viona mengalah dan naik diatas motor dan Ray langsung memberikan helm, "ini"
"Aow.. lihat-lihat dong" Ucap Viona sambil mengusap kepala yang dikena helm tersebut.
"Gak benjol kan? Pakai cepat dan pegangan nanti jatuh"
"Oke" Jawab Viona, "ayo jalan" Sambungnya lagi karena Ray tidak menjalankan motornya.
"Yakin kayak gini?" Tanya Ray lagi.
"Iyaaaa" jawab Viona yang sudah memegang besi dibelakang tempat duduknya.
Ray pun menancap gas, baru beberapa meter Viona sudah menepuk pundaknya.
"Mau aku mati mendadak?, Aku rasa mau terbang tadi" Viona mengomel dengan menarik napas dan mengeluarkan dengan teratur sembari mengusap dada.
Ray mendengar itu tersenyum simpul, bukan ia takut mendengar Viona marah-marah malah merasa lucu.
"Makanya pegangan" ulang Ray, tapi dalam hati ia sangat senang. Serasa dunia milik berdua.
Viona memejamkan mata terlebih dahulu, "oke".
__ADS_1
Ray pun membawa motornya dengan kecepatan tinggi, kadang selap selip membuat Viona kadang menutup mata. Viona tidak mau melihat Ray balap.
Viona menutup mata itu tanpa sengaja Ray melihat lewat kaca spion motornya. Ray langsung mengurangi kecepatan motornya dan seketika Viona mengatur napasnya dan buka mata perlahan.
"Gak mau bilang kalau takut" monolog Ray sembari senyum simpul dibalik helm tengkoraknya.
15 menit motor Ray sampai diparkiran bandara. Viona jalan beriringan dengan Ray. Viona melihat sekeliling orang semua pada rapi tinggal dirinya yang berpakaian santai dengan pakai sendiri jepit rumahan.
"Maaf pak bu, sudah menunggu lama" ucap Viona tidak enak hati.
Alan yang tidak dilihat sejak tadi tiba-tiba terdengar suaranya dibelakang orang tua Ray.
"Iya" Jawabnya sembari senyum dan itu sangat tidak disukai oleh Ray.
"Kapan sampai, kok aku baru lihat?" Tanyanya Ray.
"Belum lama juga" Jawab Alan seadanya.
Orang tua Ray hanya senyum melihat penampilan Viona hari ini. Jauh dari kata dress seperti bertemu di restoran, ditangannya hanya ada ponsel, muka pun tanpa sentuhan bedak sedikit pun.
Viona merasa diperhatikan oleh orang tua Ray terutama Maminya.
"Salah anakmu, ajak ke bandara kayak ajak ke pasar" Monolog Viona dan melihat tempat lain karena tidak nyaman dengan keadaannya saat ini.
Jujur, dirinya pun sebenarnya tidak nyaman dengan penampilannya tapi mau bagaimana Ray tidak memberi waktu tambahan meskipun satu hanya untuk cuci muka.
"Boleh bicara sebentar?" Tanya Mami Ray.
"Mi, kita mau cek in" Ucap Papi Ray.
"Bentar, 5 menit saja"
"Ok, silahkan" Papi Ray mengalah dan menoleh kearah putranya itu, "bahaya Mami mu Lex" sambungnya lalu melihat Mami Ray dan Viona jalan beriringan menjauh dari yang lain.
Alan menyaksikan itu hanya senyum dan lagi-lagi perasaannya sakit. Ia datang ke bandara untuk mengantar orang tua sahabatnya, tapi malah dapat bonus yang menyakitkan dengan keakraban ibu sahabatnya dengan wanita yang ia sukai.
"Akrab ya!!" Ucap Alan dengan senyum paksa mencoba untuk memperlihatkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.
Ray diam tanpa menjawab sedikit pun. Sedangkan Papi Ray yang tidak tau apa-apa.
"Begitulah Alan, kalau sudah nyambung susah dipisahkan" Responsnya membuat Alan menoleh ketempat lain sembari menjawab, "Oh... Benar tu Om"
Seusai janji lima menit Viona dan Mami Ray kembali dan kali ini bukan jalan beriringan tapi bergandengan tangan. Semua mata tertuju pada mereka terutama Ray, Alan dan Papi Ray.
Ray senyum terlebih dahulu melihat itu, "makin akur aja nih, yang penting jangan lupa anak ya" Sindirnya.
Alan pun agar tidak terlihat terluka saat ini, mencoba untuk mengukir senyum di bibirnya.
"Wah, tante makin akrab dengan Viona"
"Papi bilang apa" Timpal Papi Ray.
Viona dan Mami Ray merespon semua itu hanya dengan seulas senyum.
Ray melihat Mami dan Viona silih berganti, sorotan matanya seakan meminta penjelasan.
"Kenapa?" Tanya Mami Ray kepadanya.
"Gak Mi, ayo cek in" Ucap Ray.
"Ayo sayang" Ajak Viona.
"Harapan Mami ada sama kamu sayang, ini kontak saya. Jangan lupa telepon" Ucapnya sembari memberikan kartu namanya.
"Tan, aku gak?" Tanya Alan.
"Nanti kalau sudah fix baru mami kasih tau" Jawab Mami Ray seakan ada sesuatu yang serius dibicarakan oleh Maminya dan Viona.
🌺
Orang tuanya masuk dalam pesawat sedangkan yang mengantar mereka pun pulang. Dalam perjalanan pulang dari bandara karena mereka buru-buru berangkat tidak sempat makan.
"Gimana kalau kita makan dulu" Ajak Ray, "dan semoga Viona bisa cerita" Sambungnya dalam hati.
"Lanjut saja, takutnya Ainun nyariin aku" tolak Viona.
"Viona, kamu itu harus punya waktu untuk dirimu sendiri sebelum jadi emak-emak berekor, hahaha" Ucap Ray diakhir kalimatnya ketawa lucu mengingat ucapannya.
"Enak saja" Jawab Viona tidak mau kalah, "iya deh, warung depan ya" Sambung Viona asal.
"Itu kuburan, hahaha" Ray lagi-lagi ketawa.
"Mana?. Oh iya, benar. Aku tidak perhatikan jalan tadi" Jawab Viona tidak mau kalah.
"Iya, kamu yang menang" Ray mengalah.
"Berdebat seperti ini.. hanya seperti ini membuat hati aku bahagia. Makasih kak Marcel berkat paper bag aku bertemu dengan Viona" monolog Ray.
Semua kejadian itu dilihat langsung oleh Alan. Sakit hati, pasti ia sedang rasakan tapi ia dihadapkan dengan sahabatnya yang baik padanya.
"Ray kenapa harus Viona?" Gumamnya seorang diri sembari melihat Ray dan Viona bercerita diatas motor sekali-kali mereka ketawa. Entah apa yang mereka ceritakan sehingga tawa diantara mereka tidak bisa jauh-jauh dari keduanya.
Alan klakson dan Viona menoleh kebelakang.
"Kenapa Alan?" Tanya Viona.
"Aku duluan yaa" Pamitnya dan langsung menancap gas melewati motor Ray.
"Laah, baru mau diajak makan" ucap Viona diatas motor sembari melihat motor Alan semakin menghilang ditutupi kendaraan lain dibelakangnya.
15 menit, mereka baru menemukan restoran dimana saat itu Viona belum pernah kesana sebelumnya.
"Kok disini" heran Viona.
"Kenapa?, Turun"
"Iya, sensitif amat sih teman" Ucap Viona membuat Ray masuk duluan dalam restoran itu.
"Heee" Ucap Viona lalu lari mengejar Ray, "sensitif banget kayak perempuan haid saja"
Ray mengambil tempat duduk agak pojok dan Viona hanya mengikut dan duduk didepan Ray.
"Ini menu" Ucap Ray memberikan buku menu itu kepada Viona.
Viona malas buka dan mencari maka ia mengembalikan buku menu itu kepada Ray.
"Mengikut, soalnya aku gak bawa uang" Ucap Viona.
Ray memicingkan matanya, "terus kalau makan disini siapa yang bayar? Aku gak bawa uang juga" Ray pura-pura.
__ADS_1
"Serius?" Tanya Viona dengan muka paniknya.
"Iya" jawab Ray santai tapi menurut Viona itu wajar serius.
"Terus gimana dong?"
"Mana aku tau"
"Sok ajak makan gak bawa uang. Gak mau warung pinggir jalan kecuali restoran,. Iihh menjengkelkan" Viana mengomel dalam hati.
"Pulang bikin malu sudah duduk juga" Gumam Viona pusing dan Ray hanya melihat menu-menu sambil menahan tawa karena melihat ekspresi Viona sudah tidak bersahabat.
"Mau pesan apa mbak, mas?" Tanya pelayan restoran itu dengan membawa selembar kertas dan pulpen untuk menulis menu yang dipesan.
Viona mendengar suara yang menurutnya tidak asing baginya. Ia menoleh dengan cepat.
"Ahmad" Ucap Viona kaget.
"Iya, gak nyangka kita ketemu disini" Responnya.
"Kebetulan" Ucap Viona sembari senyum, "minta tolong...." Sambung Viona dipotong oleh Ray.
"Aku mau pesan seafood tumpah dan minumannya air mineral ditambah pakai nasi" Ucap Ray dan langsung ditulis oleh Ahmad.
"Ahmad maksud seafood gelar meja itu gimana?" Tanya Viona.
"Ditumpah diatas meja, jadi kamu bisa makan sepuasnya" jelas Ahmad.
"Ekhem,, secepatnya dibawa karena Viona sudah lapar" kode Ray agar si waiters Ahmad cepat pergi.
"Oh iya, ditunggu yaa" Ucapnya lalu ia pergi.
Kepergian Ahmad itu tidak terlepas dari bibir Viona pujian demi pujian untuknya.
"Memang Ahmad selalu tau dimana aku berada, terima kasih lho Ray udah membawa aku disini, sehingga bertemu dengan Ahmad" Ucap Viona panjang lebar.
"Aku gak tega sebenarnya dulu menolak cintanya tapi gimana lagi aku sudah terlanjur berprinsip untuk tidak pacaran"
"Oh ya!!" Respon Ray malas dan diangguki cepat oleh Viona.
Pesanan Ray pun datang dan disajikan oleh khusus oleh Ahmad dimeja Viona. Ahmad tumpahkan seafood tersebut diatas meja.
"Coba rasa, enak apa gak!!" Ucap Ahmad.
Viona menunjuk dirinya sendiri, "aku?" Tanyanya.
"Iya, siapa lagi. Kalau enak bilang dan kalau tidak enak kasih tau juga, apa yang kurang" Jelas Ahmad.
"Oke" Jawab Viona
Ray disitu seperti obat nyamuk yang membuatnya jengkel adalah Ahmad perhatian sekali kepada Viona dan itu dilakukan didepannya sendiri.
"Enak" Ucap Viona sambil mengangkat jempol.
"Terima kasih" Ucap Ahmad dan mengangkat tangannya memanggil waiters lagi.
"Tolong bawakan menu spesial untuk sahabat saya disini" Ucap Ahmad.
"Baik"
Ray kebakaran jenggot melihat itu. Seakan selera makannya hilang seketika.
"Viona kita makan baru saya antar pulang" Ucap Ray dan Viona mengangguk.
"Aku makan dulu Ahmad nanti kita sambung cerita" Ucap Viona kepada Ahmad.
Ray menatap Ahmad seakan mau telan hidup-hidup dan Viona juga merespon Ahmad sampai segitunya.
"Aku tandai mukamu Ahmad, ini juga Viona kecuali bilang sambung cerita, gak bisa apa tamat saja" Ray marah-marah dalam diam, hatinya seakan panas saat ini.
"Aku pergi dulu, selamat menikmati" Ucap Ahmad lalu pergi.
Ray yang mendengar itu, "baguslah, bikin mood rusak saja" Batinnya.
Mereka makan tanpa mengeluarkan kata sedikit pun dan Viona tidak sengaja menggigit cabe.
"Air minum Ray, pedes" Ucap Viona sembari menyodorkan tangannya.
Ray tidak langsung memberikan botol mineral, ia main-main dalu Viona.
"Ambil sendiri, kualat sih.. hehehe" respon Ray.
"Aku kepedesan Ray" Ucap Viona lagi dan hendak bangkit dari duduknya untuk mengambil sendiri botol mineralnya disamping Ray.
"Ini" Ucap Ahmad.
Entah darimana ia sudah dimeja Viona dan Ray.
Viona dengan cepat menerima botol tersebut yang Ahmad sudah bukakan terlebih dahulu. Viona meminumnya hampir habis satu botol.
"Ahmad, kenapa seafoodnya ada cabainya" Protes Viona yang masih kepedesan.
"Gak berubah, ini favorit kamu kan? Tanyanya sambil senyum.
Viona yang melihat es krim berbagai varian rasa dalam satu kotak langsung membukanya cepat.
"Aku tau, pasti kamu yang kasih tau penjual es krimnya di mix seperti ini" tebak Viona kepada Ahmad.
"Memang seperti itu, ada menunya disini" Jawab Ahmad lagi.
Viona yang sedang menikmati es krimnya.
"Kok gak bilang, kalau aku tau tiap hari aku disini makan es krim"
"Makan Viona nanti Ainun cari" Ucap Ray lagi.
"Enak aja aku diabaikan disini" Gumam Ray lagi.
"Bentar Ray" Ucap Viona sembari mengangkat tangannya.
"Nama restoran ini?" Tanya Viona.
"Seafood Ahmad.V"
"Waoow, bagus" Puji Viona, "tapi V itu siapa, pacar kamu ya? Atau istri atau anak?" Sambung Viona lagi.
"Aku belum menikah" Jawabnya, "itu siapa, maaf dari tadi aku datang belum memperkenalkan diri, saya Ahmad" Sambungnya sambil mengulurkan tangan.
Ray terlebih dahulu membersihkan tangannya lalu menyambut uluran tangan Ahmad.
__ADS_1
"Aku Ray, teman Viona" Ucapnya dan Ahmad hanya mengangguk sembari ber oh ria.