Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
90. Pamit


__ADS_3

Ibu Ahmad dan tantenya sudah dirumah Viona, disambut ramah oleh ibu Heti. Mereka bertiga memilih duduk di ruang tengah sebelum makan malam di laksanakan. Berbincang bertiga layaknya seperti saudara, ibu Ahmad hanya menimpali.


"Tiara mana?" Tanya ibu Heti.


Ibu Heti rasa aneh jika Tiara tidak ikut makan malam, secara Viona dan Tiara akrab.


"Tiara datang nanti dengan Ahmad."


"Gitu, soalnya Tiara dan Viona akrab banget" Ujar Ibu Heti sembari senyum.


Masih dalam membicarakan Tiara, Ahmad beri salam.


"Assalamualaikum" Ucap Ahmad di pintu utama dengan memegang kotak makanan, begitupun dengan Tiara.


"Wa'alaikumussalam" jawab Ibu Heti sembari bangkit dari duduknya karena mendengar Ahmad beri salam.


Ibu Heti buka pintu.


"Masuk" Ujar ibu Heti lagi lalu menutup kembali pintu setelah Ahmad dan Tiara sudah masuk dalam rumah.


Ahmad dan Tiara jalan beriringan langsung menuju meja makan, ia membuka kotak


makanan itu dan menyimpannya didalam piring. Ahmad dan Tiara kali ini bertindak seperti layaknya rumah sendiri.


Setelah digabungkan makanan diatas terlihat begitu banyak, Tiara sampai bingung mau makan duluan yang mana.


"Dek, tolong panggil ibu, tante dan ibu Viona. Kita makan sekarang, udah pukul 9 malam sekarang" Ujar Ahmad setelah melihat jarum jam dipergelangan tangannya.


Karena sudah biasa di restoran, maka di rumah Viona pun tidak kaku menyajikan berbagai menu makanan yang ia bawa dari restorannya.


Makan malam pun berlangsung dengan santai, namun tidak ada pembicaraan yang dilakukan hanya bunyi dentingan sendok dan piring bertemu.


Sedangkan disisi luar rumah, baru saja mobil Viona masuk. Awalnya Viona ingin putar balik setelah melihat mobil Ahmad di rumah tapi melihat waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, maka ia terpaksa masuk.


Beri salam terlebih dahulu lalu buka pintu, tidak ada yang menjawab salamnya, mungkin karena mereka dimeja makan dan suara Viona tidak sampai disana.


"Alhamdulilah berarti mungkin bisa diam-diam masuk kamar" Batin Viona dengan melangkah pelan dan pasti.


Dengan kaki sedikit jinjit menuju kamar dan napas kadang ia tahan dan dihembuskan seiring dengan kakinya melangkah.


"Ekhem" Ahmad berdehem melihat Viona yang lewat.


Viona menoleh perlahan, matanya bertemu dengan Ahmad. Seketika jari telunjuknya diangkat lalu ia tempelkan di bibir.


"Sstttt"


Viona melarang Ahmad untuk ribut lalu dengan secepat kilat Viona kabur.


Dengan napas ngos-ngosan dan tangan menempel didada.


"Alhamdulillah ya Allah" Gumamnya lalu buang badan diatas tempat tidur. Ia merasa sudah aman sekarang berkat Ahmad juga. Ada rasa bersalah dalam hati Viona melihat Ahmad tadi.


Ahmad membiarkan Viona bertindak sesukanya. Ia bukan tidak ingin tapi sadar tidak ada hak untuk melarang.


Viona mengintip hanya untuk melihat keadaan dimeja makan.


"Kok hening ya, kemana orang-orang?" Batinnya sembari berpikir.


"Oh mungkin ruang tamu" Lanjutnya lagi.


Dengan perlahan melangkah menuju ruang tamu, tinggal beberapa langkah lagi sudah sampai ke tujuan, lagi-lagi Ahmad berdehem di belakang Viona.


"Mad, kok kamu ada disini lagi?" Tanyanya dengan suara berbisik.


"Seharusnya aku yang bertanya, ngapain disini?, Kalau penasaran tinggal gabung saja" tanya balik Ahmad, lalu ia menunjuk kursi yang masih kosong disamping Tiara, "Masih ada yang kosong tu."


Viona hanya senyum lebar dengan terpaksa sehingga menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Kenapa?" Tanya Ahmad lagi.


"Gini Mad, udah terlanjur tidak ditau" Jawabnya asal.


"Ikut aku sekarang" Ajak Ahmad lalu memegang pergelangan tangan Viona.


"Ehh" Viona menarik paksa tangannya, "ngapain Mad?"

__ADS_1


"Jujur, kalau kamu tidak suka perjodohan ini" Ujar Ahmad lagi.


"Kamu dong Mad yang bilang, kalau aku ngak mungkin" tolak Viona dengan lembut sembari melepas pergelangan tangannya dari genggaman Ahmad.


Ahmad menarik alisnya keatas, "yakin aku?"


Viona seketika mengangguk tanpa ragu, "iya Mad, kalau aku gak yakin."


"Ok, tapi ikut"


"Baik"


Viona dan Ahmad jalan beriringan, ada rasa canggung setelah pembahasan tadi di diri Viona terhadap keluarga Ahmad.


"Duduk" Ajak Ahmad lagi.


"Bukan ada janji dengan teman-teman?" Tanya ibu Heti kepada putrinya itu.


"Gak jadi, makanya aku cepat pulang" Kilah Viona.


"Berarti udah lama sampainya ya nak?" Tanya ibu Ahmad.


Viona seketika bingung mendengar pertanyaan itu. Diam bukan hal yang baik, tapi untuk menjawab pertanyaan itu dengan jujur sepertinya sulit.


"Tadi Viona bersih-bersih dulu, makanya lama" Jawab Ahmad.


Ahmad melihat Viona sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Ahmad ingin menyampaikan hal penting" Ujarnya lagi.


Ahmad sangat berat untuk mengatakannya, tapi ia rasa lebih baik disampaikan sekarang selagi lengkap.


"Sebelumnya Ahmad minta maaf, saya tidak ingin mengecewakan siapapun perihal perjodohan aku dan Viona. Saya Ahmad membatalkan perjodohan ini karena kami rasa lebih baik jadi sahabat saja."


"Maafkan Ahmad Tante, sudah menerima perjodohan ini diawal dan pada akhirnya saya sendiri yang membatalkan. Ini semua murni dari saya, bukan dari Viona. Maafkan Ahmad bukan bermaksud mempermainkan tentang perjodohan ini, tapi aku sudah berusaha mencintai Viona tapi sampai saat ini tidak bisa" Lanjut Ahmad dan seketika menunduk diam.


Saat ini hati dan perkataan Ahmad tidak sinkron, tapi demi Viona maka ia lakukan. Tujuannya saat ini, jika memang Viona bahagia bukan bersamanya maka ia ikhlas.


Ibu Heti tidak terima dengan keputusan Ahmad.


"Iya, benar kata ibu Heti." Timpal bibi Ahmad itu.


"Nak, kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, jangan langsung seperti ini" Ibu Ahmad pun ikut bicara.


Viona yang mendengar itu, semua tertuju pada Ahmad.


"Maafkan kami, tapi ini sudah keputusan kami berdua. Adapun kami jodoh, pasti kami bersama" Ujar Viona tiba-tiba.


Kalimat itu mampu membuat Ahmad yang awalnya menunduk seketika langsung mengangkat kepalanya.


Ahmad menghembuskan napasnya kasar sembari menggelengkan kepala, seakan tidak percaya dengan ucapan Viona.


"Jangan berkata seperti itu, kita hanya ditakdirkan sebagai sahabat" Kalimat Ahmad itu untuk mengingatkan hatinya untuk tidak berharap lagi.


"Bagiamana menurutmu, nak?" Tanya ibu Ahmad.


"Aku tergantung Ahmad, bu" Jawab Viona. Ia sudah mulai tidak berani melihat Ahmad, rasa bersalah muncul dalam dirinya. Ia tau itu semua keinginannya.


Ibu Ahmad pun menoleh kearah Ahmad dengan tatapan kecewa, "katakan sekali lagi!" Dengan nada tegas.


Ahmad dengan tenang mengulang kalimatnya.


"Saya dan Viona lebih baik jadi sahabat, sekali lagi saya mohon maaf " ulang Ahmad lalu ia diam dan menunduk.


Makan malam kali ini rasanya tidak bermakna lagi. Rasa canggung mulai terjadi dalam obrolan. Lama dalam diam-diaman, Ahmad kembali membuka kata.


"Saya mengatakan lebih awal karena saya tidak mau Viona menunggu terlalu lama, maka dari itu saya bebaskan" Ujarnya lagi. Ia rasa lebih baik dikeluarkan semuanya.


"Saya besok pagi akan keluar kota, sedikit ada urusan" Lanjutnya.


Semua yang berada disitu kaget dan menatap Ahmad, terutama Tiara mulai cemberut.


"Kok kakak gak bilang dari kemarin" Protesnya.


"Mad, kenapa mendadak?" Tanya Viona tidak percaya.

__ADS_1


"Baru ada pemberitahuan juga."


Viona geleng kepala tidak percaya, "aku tau kamu, Mad. Kamu gak suka berangkat mendadak."


Ahmad tersenyum miris, "ini sudah lama, hanya aku yang lupa" kilahnya.


"Tapi.. aku kurang yakin."


Ibu heti langsung memotong pembicaraan dua sejoli itu.


"Hati-hati dijalan ya nak, berapa lama disana?" Tanya ibu Heti.


"Belum tau juga tan, mungkin sampai tahunan" Jawab Ahmad.


"Lama amat Mad" protes Viona untuk kedua kalinya.


"Itu kayak mau bangun usaha baru saja disana" Ujar ibu Heti lagi, ia mengabaikan ucapan putrinya.


"Sepertinya begitu tan, rencana menetap disana" Jawab Ahmad lagi.


Ada ketidak relaan dalam diri Viona mendengar kalimat terakhir Ahmad, namun untuk protes lagi itu sangat tidak mungkin karena itu hidup Ahmad sendiri. Ia hanya diam, menanggapi kalimat itu.


Ahmad melirik Viona sekilas yang tanpa respon, ia menertawai dirinya dalam hati.


"Ahmad.. Ahmad.. dia itu cintanya Ray bukan kamu, ngapain sudah memutuskan hubungan perjodohan masih kembali berharap. Bodoh kamu, Ahmad" Ahmad mengutuk dirinya sendiri dalam hati.


Ibu Ahmad dan tantenya langsung mengambil alih, terlebih dahulu tante Ahmad yang menjodohkan mereka minta maaf kepada ibu Heti, karena tidak sesuai rencana mereka berdua dan ibu Heti memaafkan. Keduanya sadar, bahwa jodoh itu rahasia Allah hanya manusia perlu ikhtiar saja.


Ibu Ahmad melanjutkan, tapi bukan minta maaf seperti saudaranya melainkan pamit untuk pulang karena melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Sepertinya kami harus pamit, bu Heti dan Viona" Ujar Ibu Ahmad.


"Ya udah, kebetulan aku belum mempersiapkan barang yang akan dibawa" timpal Ahmad.


"Assalamualaikum" pamit Ahmad disertai dengan bangkit dari tempat duduk mereka. Jabatan tangan lalu berpelukan tanda akhir dari semuanya, sedangkan Ahmad dan Viona hanya mengatupkan kedua tangannya.


Ibu Heti dan Viona mengantar Ahmad dan keluarganya sampai depan gerbang, Viona ingin sekali komunikasi dengan Ahmad untuk terakhir kalinya dalam keadaan tatap muka, tapi lidahnya kelu untuk melakukan itu semua.


"Maaf Mad" Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Viona setelah sekian lama ia kumpulkan.


Ibu Heti mendengar itu, langsung jalan mendekati keluarga Ahmad meninggalkan Viona yang berada disampingnya sejak tadi.


Ahmad menoleh ke belakang sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Minta maaf ke aku?" Tanya Ahmad memastikan.


"Iya, kamu belum pergi tapi sudah menyebalkan seperti ini" Ujar Viona kesal dengan pertanyaan Ahmad barusan.


"Memastikan diri Viona, agar tidak berharap."


Jawaban Ahmad itu mampu membungkam mulut Viona, ia tau arah jawaban Ahmad itu.


"Tenang nanti aku pulang dalam versi yang baru" Lanjut Ahmad lagi.


"Versi terbaru, maksudnya?" Tanya Viona lagi.


"Mungkin aku bawa istri dan anak. Dan saat itu kamu pasti sudah punya anak juga dan hidup bahagia bersama Ray" jelas Ahmad lagi.


Ada ketidak relaan Ahmad menyebut nama Ray, tapi biar bagaimanapun ia sadar bahwa laki-laki itu yang dicintai Viona.


"Jangan lupa aku ya" Pinta Viona lagi kepada Ahmad.


"Terbalik Vio, seharusnya kalimat itu dari aku buat kamu" Balas Ahmad.


"Kok gitu" Viona tidak terima.


"Dewasalah, aku selalu memikirkan kamu. Kamunya aja enggak" Jawab Ahamd sembari ketawa dan melihat wajah Viona yang sedang cemberut, "bercanda" Lanjutnya lalu ia diam.


Viona melihat Ahmad kembali diam, ia berinisiatif untuk kembali bicara.


"Mad, lama gak disana?"


"Sudah pasti tapi tenang saja kalau menikah nanti pasti aku datang. Asal di beritahu jauh-jauh hari" Jelas Ahmad lagi.


"Terima kasih ya Mad" Ucap Viona dengan tulus.

__ADS_1


"Iya, sama-sama. Jaga diri baik-baik disini" Pesan Ahmad lalu masuk dalam mobil.


__ADS_2