Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
81. Viona Ngigau


__ADS_3

Tak lagi sama, menatap langit yang dulunya masih bebas berkelana kini sebelah sayap tak sadar telah terikat, membuat cara terbang tak seimbang bahkan sialnya ada kemungkinan untuk jatuh.


Langkah mulai pelan, bukan menyerah hanya sedang merenungi yang telah lalu. Sebotol vodka yang menemani diatas meja bundar yang dulunya jijik melihatnya. Kali ini dengan suka rela sang badan membawanya ditempat yang bernama klub.


"Satu gelas lagi" Pinta Ray kepada Alan.


Alan kembali menuangkan minuman yang memiliki kadar alkohol sebanyak 40 persen itu.


"Lan, apa kamu gak pusing?" Tanya Ray dengan tangan memegang kepalanya, tapi satu tangannya lagi masih pegang gelas.


"Sudahlah, tumben seperti ini?, Gak biasanya."


"Hidupku hancur Lan, hancuuuurrr berantakan" Dengan menyodorkan gelasnya kearah Alan, "satu lagi."


"Gila kamu Ra, ini udah botol yang kedua, kita pulang" Paksa Alan.


"Kemana, Rumah?. Aku gak mau" Ujarnya dengan mabuk.


"Kok lantainya berputar Lan?" Lanjutnya dengan pertanyaan.


"Makanya kalau gak bisa mabuk, jangan coba-coba minum. Kan bisa yang lain, tambah-tambah dosa lu" Alan kayak emak-emak marah di klub sambil membantu Ray jalan menuju parkiran mobil.


Alan sengaja membawa masuk Ray dalam mobil bagian penumpang supaya bisa merebahkan badannya. Namun, kenyataannya Ray malah ngoceh tidak berhenti dibelakang.


"Patah hati atau apa ni?, gak jelas" Gumam Alan.


Alan terus membawa mobilnya menuju apartemen miliknya, karena Ray terakhir bilang tidak ingin ke rumahnya dan Alan menghargai itu.


Tengah malam keduanya sampai apartemen. Alan kembali membangunkan Ray dalam mobil.


Ray bangun pun bangun, efek tidur sejenak dalam mobil menurutnya mampu mengurangi mabuk yang ia alami.


"Aku bantu gak?" Tanya Alan setelah melihat Ray masih diam dalam mobil.


"Hak perlu Lan, emang aku kayak kamu baru minum sedikit langsung mabuk" Ledek Ray.


"Alaaah, udah sadar baru kayak gitu, kalau bukan sahabat udah dari tadi aku lempar di sungai, mana bicara gak jelas. Kirain kesurupan" Ujar Alan lalu pergi meninggalkan Ray yang masih dalam mobil.


Malam ini Ray tidur di apartemen Alan, dengan kepala oleng efek alkohol ia hanya cuci muka lalu kembali tidur.


Berbeda dengan yang jauh disana Viona, ia menggigil kedinginan, selimut tebal tidak mampan di badan Viona. Ia membuka mata terasa semua barang dalam kamar berputar-putar.


"Ya Allah" Batinnya sambil meringkuk dibalik selimut.


Ayat-ayat Al-Quran yang Viona hafal dikeluarkan semuanya dengan harapan rasa dingin yang ia alami berkurang, ayat demi ayat Viona lantunkan membuat matanya mengantuk dan tertidur. Baru beberapa menit tidur, ia mimpi Ray yang sedang memanggil-manggil namanya.


Dalam mimpi itu Viona sedang dalam sebuah kamar lecil penerangnya menggunakan lentera.


Ada seseorang teriak dari luar dekat jendela, setelah ia lihat ternyata Ray.


"Kenapa kamu tidak menolong ku Viona?" Tanyanya lalu menghilang begitu saja.


"Ray, tunggu" Pinta Viona dalam mimpinya, hati Viona bahagia karena kedatangan Ray. Lari kesana kemari mencari keberadaan Ray.


"Ray, Ray tunggu aku, aku ingin ikut denganmu" Teriakan itu dibarengi dengan air mata, perasaan Viona seakan Ray pergi untuk selamanya.


"Ray.. Ray.. Jangan tinggalkan aku" Kalimat itu Viona ucapkan dengan keringat yang bercucuran di dahinya dan cairan bening terus keluar dari matanya.


Ibu Heti melihat Viona sedikit lesu, ia hanya menyuruhnya untuk istrahat. Namum tengah malam muncul rasa khawatir. Ia ingin memastikan keadaan Viona. Begitu terkejutnya ibu Heti melihat Viona terus memanggil nama Ray.


Ibu Heti menyadarkan Viona dengan memanggil-manggil namanya.


"Viona, bangun sayang."


"Viona, kamu demam tinggi" ujarnya lagi lalu melihat jam beker diatas meja Viona.


Disana menunjukkan pukul 1 dini hari. Ibu Heti bingung, menggendong anaknya itu hal tidak mungkin selain berusaha membangunnya dengan perlahan.


"Kenapa gak bilang kalau sakit nak?" Tanya ibu Heti lagi.


Viona terus ngigou nama Ray sejak tadi dengan air mata yang terus keluar.


Ibu Heti dengan terpaksa menelfon Ahmad, diangkat dengan tidaknya urusan belakangan.


Berdering, perasaan ibu Heti sedikit lega, dan teleponnya dijawab.


"Assalamualaikum nak Ahmad, maaf sudah mengganggu jam begini" Ujar ibu Heti.


"Wa'alaikumussalam tidak apa-apa Tan, ada apa Tan, kedengarannya panik?" Tanya Ahmad berusaha menormalkan perasaannya.

__ADS_1


"Viona sakit nak Ahmad, ibu minta tolong ya, tidak tau minta tolong ke siapa malam-malam seperti ini" Ujar Ibu Heti dalam telepon.


"Tunggu ya tan, assalamualaikum"


Ahmad mematikan sambungan telepon, dengan pakaian tidur berlapis jaket menuju kediaman ibu Heti. Jalan raya sunyi sehingga membuat Ahmad sedikit ngebut.


20 menit kemudian sampai di rumah Viona, ia menekan bel rumah dan ibu Heti langsung berjalan cepat membuka gerbang rumahnya.


Masuk dalam rumah bersama Ahmad. Ahmad membawa masuk mobilnya dihalaman rumah.


"Gimana Tan keadaan Viona?" Tanya Ahmad khawatir setelah keluar dari dalam mobil.


"Ibu juga bingung, masih tidur dan demam tinggi" Jelas Ibu Heti.


Ahmad dan ibu Heti masuk dalam kamar Viona, Ahmad berdiri bagian kaki Viona sedangkan ibu Heti duduk disamping Viona.


"Sayang bangun, kita ke rumah sakit sekarang."


Ibu Heti terus mengusap keringat didahi Viona. Sementara Ahmad hanya diam seribu bahasa, ia bingung kalau dihadapkan dengan orang sakit.


"Jadi gimana Tan?" Tanya Ahmad.


"Tunggu ya."


Ibu Heti menepuk-nepuk pipi Viona sembari memanggil-manggil namanya. Perlahan mata Viona terbuka.


"Mama" Panggilnya lirih.


"Iya, bisa bangun kan?"


"Bisa, hanya demam bukan sakit kaki" Jawabnya dengan sedikit bercanda.


"Kita panik, kamu malah bercanda" Respon ibu Heti sambil menarik selimut Viona dari badannya.


"Mama" panggil Viona dengan manja. Ia sampai sekarang belum sadar kalau Ahmad duduk di kursi bagian kakinya.


Ahmad bernapas lega mendengar suara Viona yang begitu manja kepada ibunya. Ia menghampiri keduanya.


"Gimana, kita pergi sekarang?"


"Lho, Mad ada disini juga?" Tanya Viona tidak percaya, "coba sini" lanjutnya sambil melambaikan tangan memanggil Ahmad.


Viona seketika menarik lengan jaket Ahmad, "benar."


"Sudah sadar kan?, Kita ke RS sekarang" Ujar Ahmad.


Viona langsung diam, senyum diwajahnya seketika luntur. Ia menunduk sembari meremas tangannya sehingga nampak jelas buku-buku jarinya. Takut jika ada orang yang menyebut rumah sakit.


"Mama ke kamar sebentar" Pamit Ibu Heti.


Kepergian ibu Heti menjadi sunyi seketika. Ahmad sedikit canggung pada Viona, ingin memulai kata lagi sulit baginya.


Viona memilih diam, sembari komat kamit, dan itu samar-samar Ahmad dengar.


"Baca apa?"


"Istighfar Mad" Jawaban Viona itu membuat Ahmad mengulum senyum karena lucu.


"Takut?"


Viona menghela napas kasar mendengar pertanyaan Ahmad. Bagaimana bisa bertanya seperti itu sedang jawabannya Ahmad sendiri sudah tau.


"Perlu kah?"


Pertanyaan singkat itu membuat Ahmad bungkam seketika. Ia memilih diam.


"Mad, kok tau kalau aku sakit?" Tanyanya.


"Mama kamu menelepon tadi"


Ahmad memilih untuk menjawab sesuai pertanyaan, ia harus bisa mengontrol diri.


"Mad, kenapa banyak diam?"


Ahmad senyum seadanya, "perasaanmu aja."


"Itu" Ujar Viona sembari memanyunkan bibirnya.


"Mad kembali kayak dulu, aku rindu sahabat ku" Ujarnya dengan lirih.

__ADS_1


Ahmad lagi-lagi diam mendengar kalimat itu, diapun demikian. Tapi untuk menjaga kesehatan hati maka ia harus sedikit menjauh.


"Mad!" Panggil Viona dengan nada tegas karena tidak ada respon dari Ahmad.


"Iya"


Jawaban singkat itu membuat Viona kesal, tatapan matanya penuh dengan kekesalan dan turun dari tempat tidur.


"Ehh, mau kemana?" Tanya Ahmad tiba-tiba.


"Terserah aku dong, dasar sahabat gak peka" hmm" Jawabnya sembari membuang muka dan pergi meninggalkan Ahmad seorang diri.


Ahmad mengejar Viona yang sudah sampai pintu kamar.


"Nanti kamu jatuh, badanmu masih lemah" Ahmad langsung lari menghadang Viona untuk melanjutkan langkah.


"Yang tau kesehatan ku seperti apa, diriku sendiri Mad"


"Gak, kenapa sih sedikit saja gak keras kepala" Nada Ahmad sedikit membentak.


Viona menatap dalam mata Ahmad, menarik napas untuk menormalkan perasaannya, ia kaget dengan bentakan Ahmad. Ia menunduk dan seketika air matanya jatuh. Ia membalikkan badan kembali keatas tempat tidur tanpa mengeluarkan satu kata pun.


"Salah lagi" Batin Ahmad.


Ahmad kembali mengikuti belakang Viona.


"Maaf Vio, aku peduli makanya aku seperti itu tadi" Jelas Ahmad yang dibelakangi oleh Viona.


"Gak ulangi lagi. Janji" lanjut Ahmad sembari mengangkat kedua jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.


Viona ingin membalikkan badan dan memaafkan sahabatnya itu, tapi gengsi dalam dirinya menguasai. Ia memilih diam.


Ahmad pusing melihat Viona hanya bergeming.


"Viona, benar nih gak dimaafin, terancam gak makan eskrim dong" Bujuk Ahmad. Ia tahu kelemahan Viona dieskrim.


"Oh gak mampan" Batin Viona yang masih membelakangi Ahmad.


"Asal dimaafkan, aku akan kembali seperti dulu" Ujar Ahmad, ia sudah bingung dengan cara apa lagi membujuk Viona.


"Tuan putri... duyung" panggil Ahmad dengan pelan.


Seketika Viona membalikkan badan, "Mad masih ingat?"


Ahmad seketika mengangguk sembari senyum.


"Ok, aku maafkan, jadi kita buka lembaran baru, sahabat terbaik Viona."


"Sepertinya aku gak perlu ke rumah sakit, udah sembuh dijenguk sahabat" Tutur Viona penuh bahagia.


Ahmad menanggapi itu dengan senyum seadanya.


"Jika terbaik seperti ini aku ikhlas, hatiku biarkan jadi urusanku sendiri tanpa dibalas dengan hati tidak masalah asalkan tidak kehilangannya" Batinnya sembari menatap sahabatnya itu dengan hangat.


Viona pun ikut bersenyum melihat sahabatnya Ahmad. Viona tidak jadi dibawah di rumah sakit dan itu membuat ibu Heti yang melihat dua sejoli itu membuatnya senang.


Ibu Heti memilih memantau dari luar kamar Viona.


"Laki-laki seperti apa lagi yang kamu cari nak, nak Ahmad sebaik dan sesabar itu menghadapimu kamu malah tolak" Batin Ibu Heti.


Ibu Heti pura-pura masuk kamar dengan selimut ditangannya.


"Gimana?"


"Gak perlu mam, Vio udah sembuh. Pagi aja beli obat. Eh gak jadi, ada obat aku di laci meja" Jelas Viona.


"Tapi aneh, aku gak pesan tapi di plastik obat itu ada nama dan alamat butik" lanjutnya.


"Gak udah dipikirkan, yang terpenting istrahat. Saya pulang sudah setengah tiga pagi" Ujar Ahmad sembari melihat jam dipergelangan tangannya.


"Mari saya antar" Ujar ibu Heti.


"Pagi aja baru pulang" Larang Viona.


"Aku harus ke restoran pagi ini" Kilah Ahmad.


Ia tidak ingin orang sekitaran rumah Viona salah paham gara-gara dia disitu karena dirumah itu hanya ada ibunya dan Viona.


"Oh gitu. Hati-hati Mad" Viona melambaikan tangan kepada Ahmad lalu ia kembali merebahkan badannya diatas tempat tidur dengan selimut ia tarik sampai batas dada. Sedangkan ibu Heti mengantar Ahmad sampai gerbang rumah.

__ADS_1


__ADS_2