
Grab motor datang dan masuk dalam butik dengan kantung kresek ditangannya.
"Oh itu dia" Ujar Ina lalu pergi menghampiri.
"Maaf mas, yang bawa obat ya?" Tanya ina setelah berada tidak jauh dari mas grab tersebut.
"Iya mbak, atas nama Viona" Jelasnya sambil melihat alamat yang tertera di kantung kresek tersebut.
Viona mendengar namanya disebut langsung menghampiri, "maaf nih mas sebelumnya, tapi aku tidak pesan apa-apa."
"Tapi benar nama mbak Viona?" Tanya grab tersebut.
"Iya mas" Viona meng iyakan.
"Berarti benar ini untuk mbak, ini mbak" Ujarnya lalu memberikan kantung kresek kepada Viona.
Viona menerima dan langsung membukanya, ia penasaran dengan isi kantung tersebut.
"Obat, siapa yang belikan aku obat?" Viona bertanya-tanya dalam hati.
"Mas tau siapa yang beli obat ini?, Maksud saya, apa dia sebut namanya sebelum kirim obat ini?"
"Wah itu saya juga tidak tau mbak, soalnya anak kecil yang kasih saya" Jelasnya.
Viona menautkan alisnya, "Haaa" kata itu yang keluar dari Viona. Ia bingung.
"Oh gitu mas, terima kasih ya mas" Ucap Ina setelah lama diam, karena melihat Viona yang terus menerus bertanya kepada mas grab.
"Sama-sama mbak, saya pergi dulu" Pamitnya lalu pergi.
Viona menghela napas, ia belum mendapatkan informasi yang jelas tentang asal obat yang ada ditangannya saat ini, tapi pak grabnya sudah pergi.
"Aku belum selesai tanya, aku masih penasaran. Kenapa malah disuruh pergi masnya?" Tanya Viona sambil menunjuk pak grab.
"Gak kasian, dia tidak menerima orderan gara-gara pertanyaanmu yang banyak" Balas Ina sembari jalan kembali di kursinya semula.
Viona mengikuti belakang Ina, "tapi aku juga butuh informasi lebih jelas, gimana kalau obat ini sudah expired?, Bahaya kan?"
"Tinggal liat tanggal di pembungkusnya" Jawab santai Ina lagi.
"Gimana kalau obat ini ternyata isinya diganti?"
"Pikiranmu saja yang kemana-mana, kurang kerjaan banget tuh apotik ganti isi obat hanya untuk kamu. Hadeh, apa Ahmad gak pusing hadapi Viona yang lagi kumat seperti ini" Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Ina.
"Heee, Ahmad kamu aja yang kayak gitu, kalau Ahmad teman aku baik" Jawab Viona tanpa curiga sedikitpun.
Ina sudah deg degan setelah menyebut nama Ahmad, ternyata Viona tidak menyadari hal itu.
"Teman kamu, Ahmad juga?" Tanya lagi Viona kepada Ina.
"Bersandiwara lebih aman" Batin Ina.
"Iya.. Dia teman aku waktu SMA tapi udah pergi entah kemana. Padahal aku rindu sama dia"
"Sabar ya, semoga nanti bertemu kembali" Ujar Viona dengan iba kepada Ina. Ia merasa bersalah karena gara-gara dirinya Ina jadi ingat sahabatnya dan sedih.
"Sorry Ina" Ucap Viona dengan tulus dan kali ini mengatupkan kedua tangannya didepan.
"Viona gak pantas kamu kayak gitu sama aku. Lupakan" Ujarnya seakan ceritanya tadi benar padahal itu hanya sebatas sandiwaranya agar ia tidak ketahuan dan Viona curiga.
"Maaf Vio, aku tidak bermaksud untuk berbohong" Batin Ina.
"Ini pulang jam berapa?" Ina mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya aku cepat pulang, gak enak badan jadi gak semangat hari ini" Jelas Viona.
__ADS_1
"Kenapa gak cari karyawan?"
"Hmm, seharusnya sih gitu tapi aku takut nanti salah pilih"
"Aku aja, gimana?" Ina menawarkan diri, dan itu salah satu tugas Ina yang belum terealisasikan.
"Hmmmm" Viona berpikir.
"Teman sendiri, mikirnya lama" Protes Ina.
"Soalnya aku pemilik butik ini, jadi kalau terima karyawan itu butuh pertimbangan" Jelas Viona pura-pura membuat Ina jadi gemas sendiri.
"Iya, aku tunggu informasi lanjut, gak masalah juga kalau tidak diterima tetap aku sering datang disini" Ujar Ina, "karena itu tugas aku" Sambungnya dalam hati.
"Makasih ya" Ucapan tulus Viona.
🌺
Ray dan Gladis sementara dalam perjalanan menuju bengkel. Diam seribu bahasa itu yang Ray lakukan diatas motor. Ray sengaja bawa motor dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai bengkel.
"Ra, apa gak ada niat bicara gitu?" Tanya Gladis yang sudah jenuh diatas motor.
Lagi-lagi Ray memilih diam ketimbang jawab pertanyaan Gladis.
"Ra!" Panggilnya sambil menepuk pundak Ray.
Ray memilih berhenti tanpa menjawab. Seketika Gladis terbayang pernah dikasih turun ditengah jalan.
"Tadi itu ada debu" Kilah Gladis.
Ray langsung kembali melanjutkan perjalanan. Sesampai bengkel, Gladis turun dari motor lalu Ray. Ia masuk dalam bengkel tanpa kata sapa sekalian pada karyawannya. Hatinya lagi kacau.
"Kenapa tu bos?" Karyawan saling berbisik-bisik melihat perubahan bosnya pagi menjelang siang ini.
"Lagi diikuti tu" Tunjuk salah satu yang ikut gabung disitu.
"Kebetulan rasa kesalku belum tersalurkan" Batin Gladis.
"Kenapa tunjuk aku kayak gitu, mau aku pecat?" Tanya Gladis lalu menatap laki-laki tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki, "baru karyawan sok belagu tunjuk-tunjuk" Lanjutnya.
Gladis berbalik badan membelakangi orang-orang tersebut, sambil bertolak pinggang.
"Dengar semuanya" menggunakan nada keras agar semua bisa dengar, "aku disini calon istri bos kalian, jadi harus perlakuan aku seperti bos" Pintanya.
"Jelas?" Tanya Gladis.
"Iya bu" Jawab mereka serentak lalu semua karyawan lanjut kerja dan Gladis melangkah menuju ruangan Ray dengan senyum yang tidak luntur disudut bibirnya.
Hati Gladis begitu bahagia saat mengumumkan dirinya calon istri Ray.
"Memang Gladis itu selalu beruntung dalam hal apapun" Batinnya dengan bangga sembari membuka pintu ruangan Ray dan melangkah masuk.
"Ra, aku bahagia.." Ujar Gladis dengan diakhir kalimatnya melambat setelah melihat kursi Ray kosong.
Gladis langsung keluar dari ruangan itu mencari keberadaan Ray, ia melihat satu karyawan langsung memanggilnya menggunakan tangan.
Karyawan tersebut langsung lari kecil menghampiri Gladis.
"Ada yang saya bisa bantu mbal?" Tanyanya.
"Aku tanyakan bos kalian dimana, lihat dia kemana?" Tanya Gladis.
"Oh, bos keluar tadi"
"Kemana?"
__ADS_1
"Kurang tau mbak, hanya saja sepertinya dekat karena tidak menggunakan kendaraan" Jelasnya.
Mendengar kalimat itu, pikiran Gladis langsung mengarah ke Viona, karena saat itu ia pernah ke butik Viona dan dekat dari bengkel Ray.
Gladis pergi sambil menghentakkan kakinya yang memakai heels.
"Akan ku buat perhitungan. Tunggu saja!. Kamu selalu merusak kebahagiaanku" Batinnya dengan mengembuskan napas kasar.
Sementara karyawan yang ditanya Gladis hanya geleng kepala heran.
Dugaan Gladis benar, Ray ada dibutik Viona. Ia memutuskan masuk dalam butik dengan santai.
"Lagi asyik cerita ni?, Sampai lupa ada yang datang" Sindir Gladis.
Tangannya langsung mengibaskan tangan diudara sembari senyum menanggapi omongan Gladis.
"Perasaanmu saja. Aku lihat kamu dari tadi kok, malah sebelum masuk dalam butik" Jawab asal Viona.
"Silahkan duduk" Lanjut Viona mempersilahkan Gladis untuk gabung duduk.
Gladis terpaksa duduk karena ada Ray.
"Kalian bahas apa sih?" Tanya Gladis tidak tahan untuk tidak mengetahui pembicaraan ketiganya.
"Penasaran?" Tanya Ina.
"Gak juga, hanya bertanya" Kilah Gladis sembari melihat pakaian dalam butik Viona.
Kembali perbincangan mereka bertiga dengan santai tapi serius.
"Jadi kesimpulannya aku harus jual online juga?" Tanya Viona kepada Ray.
Ray menggangguk dengan pelan, "tapi bagusnya punya karyawan."
"Iya juga sih" Jawab Viona sembari berpikir, "nah" lanjutnya sembari senyum menoleh kearah Ina dan mengulurkan tangan.
"Apa?" Tanya Ina bingung.
"Sambut dulu, pegal ini" Ujar Viona sambil menggoyangkan tangannya.
"Iya"
Ina mengalah dan menyambut uluran tangan Viona.
"Selamat, anda diterima kerja disini" Ucap Viona.
"Ok, terima kasih" Jawab Ina biasa-biasa saja.
Viona yang antuasias direspon seperti itu langsung melepaskan tangannya dari genggaman Ina.
"Gak peka. Peluk atau apa gitu?" Protes Viona.
"Selamat ya, sekarang sudah jadi bos" Ray mengucapkan kalimat itu dengan ikhlas.
Gladis mendengar itu tidak suka, ia memutar bola matanya malas.
"Boleh aku lihat baju-bajunya?" izin Gladis, "Sepertinya bangus nih untuk kamu Ra?" Lanjutnya.
"Aku bisa pilih sendiri" Jawab Ray dengan cuek.
"Jangan kayak gitu, biar bagaimana pun aku ini calon istrimu dan aku tau kok size bajumu, secara tadi pagi kan.." Ucapnya ia gantung.
"Pasti paham kan Viona?" Tangan Gladis.
Dengan senyum terpaksa Viona tampilkan, "Iya, aku paham. Namanya pasangan harus saling tau" Jawabnya sembari melirik Ray, lalu ia bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Mau yang size berapa?, Aku bantu!" Lanjutnya lalu pergi.