Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
92. Sama-sama Kecewa


__ADS_3

Ray mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, menyelip kendaraan lain membuat orang-orang yang ia selip murka padanya.


"Woi kalau mau mati, jangan ajak orang lain" teriak seseorang dari dalam mobil setelah menurunkan kaca mobilnya.


Ray tidak menghiraukan teriakan itu, pikirannya hanya fokus bagaimana caranya agar cepat sampai dirumah Gladis.


"Bang, kalau stress jangan buat bahaya orang lain" tegur salah satu pengendara motor lainnya setelah berhenti dilampu merah.


Ray menoleh dan menurunkan kaca helmnya, "Maaf bang, saya buru-buru dalam keadaan darurat."


"Oh, hati-hati kalau begitu bang" jawab pemuda pengendara itu lagi dan Ray hanya menganggukkan kepala.


Setelah lampu hijau menyala, semua pengendara melanjutkan perjalanan. Motor Ray kembali laju dengan cepat dan tidak menunggu waktu lama motornya sampai dihalaman rumah orang tua Gladis.


Sebagai orang tua, marah dan kecewa sudah tentu. Tapi sebagai orang tua bijak, marah bukan lagi waktunya melainkan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Orang tua Gladis menyambut Ray dengan baik.


"Masuk nak, Gladis ada dikamar lagi istrahat" ujar ayah Gladis.


Ray menghela napas sebelum merespon dengan senyum terpaksa.


Sebagai perempuan yang super peka, ibu Gladis melihat keterpaksaan dalam diri Ray saat tersenyum, tapi ia pikir mungkin takut karena sudah melakukan kesalahan besar.


"Kami tidak akan marah selagi tidak mempersulit keadaan" ujar Ibu Gladis.


"Silahkan temui Gladis, mungkin cucuku tidak ingin jauh-jauh dari ayahnya" Lanjutnya.


Ray hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab, bukan tidak bisa menjawab hanya saja ingin Gladis sendiri yang klarifikasi kehamilannya kepada kedua orang tuanya.


Ray melangkah dengan cepat ke kamar Gladis dan disana melihat Gladis sedang tidur. Ia memilih untuk menunggu sampai Gladis bangun. Main ponsel itu keputusan Ray agar tidak bosan menunggu.


15 menit sudah berlalu, tapi Gladis belum bangun juga. Orang tua Gladis, yang menunggu Ray di ruang tamu langsung menuju ke kamar Gladis.


"Ya Tuhan" Ujar ibu Gladis.


Ia tidak menyangka kalau putrinya sedang tidur dan Ray menunggunya, lalu ia berjalan menuju tempat tidur Gladis.


"Sayang bangun, ada Alex" Ujarnya sambil menggoyangkan tangan Gladis.


Dengan perlahan mata Gladis terbuka, ia mengedarkan pandangannya kesegala arah dan menemukan Ray sedang main ponsel.


"Ra" Batinnya senang.


Ia bangun dengan senyum lebarnya, ia buru-buru turun dari atas tempat tidur menghampiri Ray.


"Hati-hati Gladis" Ujar ibunya.


"Iya bu" Jawabnya.


"Ra" Panggil Gladis lagi setelah berdiri didepan Ray.


Orang tua Gladis langsung pergi, ia memberi ruang kepada anak dan calon mantunya untuk bicara.


Kepergian para tetua itu, tidak disia-siakan oleh Ray. Ia meletakkan ponselnya diatas meja lalu menatap Gladis dengan intens.


"Siapa ayah dari anakmu itu?" Tanya Ray to the point.


"Kenapa tanyakan itu, aku kira kamu datang untuk menanyakan kesiapan besok berangkat ke Korea" Ujar Gladis dengan tatapan kecewa kepada Ray.


"Itu tidak penting" Jelas Ray lagi.


"Itu penting Ra, bukannya kita akan menikah di Korea?"


"Kata siapa?" Tanya balik Ray lagi.


"Kata orang tua kita" Jawab Gladis, "Ra.. aku mohon" Pinta Gladis dan matanya sudah berair.


Ray tersenyum miris, "orang tuaku mengira aku yang menghamilimu, jadi jelaskan kepada mereka kalau anak dalam kandunganmu itu bukan anak aku" Ray menunjuk perut Gladis.


Gladis bersimpuh didepan Ray, "Ra, aku dijebak, tolong nikahi aku."


Ray menjauh dari Gladis, "kamu sudah gila, kenapa tidak bilang sama orang tua kamu kalau dijebak, kenapa tidak jujur?. Katakan siapa orangnya, aku yang akan cari laki-laki brengsek itu."


"Cukup Ra, aku takut bertemu dengan dia. Dia sudah pergi"


"Pergi kemana?" Ray sudah emosi mendengar drama yang dibangun oleh Gladis.


"Luar negeri" Jawab Gladis lagi dengan posisi masih duduk di lantai.


"Sebut negaranya Gladis, jangan berbelit-belit seperti ini" Bentak Ray, ia tidak sadar posisinya saat ini ada dikamar Gladis.


Orang tua Gladis sampai mendengar suara bentakan Ray dari dalam kamar.


"Apa mereka bertengkar, yah?" Tanya ibu Gladis.


"Kita cek" ujar ayah Gladis.


"Aku tidak akan pernah bertanggung jawab yang bukan aku lakukan" Ujarnya lagi dengan nada pelan,tapi menusuk ditelinga Gladis.


Air mata Gladis makin berderai mendengar kalimat yang keluar dari bibir Ray.


"Aku tidak mau menikahi wanita kotor sepertimu" Lanjut Ray.

__ADS_1


"Apa maksudmu Alex, bilang seperti itu kepada anak saya?, Sudah menghamili anak saya bukannya merasa bersalah tapi malah mengatakan perkataan yang membuat kami kecewa" Ayah Gladis tidak terima mendengar kalimat terakhir dari Ray.


Ia merogoh ponselnya dan menelepon orang tua Ray.


"Halo pak, saya tidak terima perlakuan Alex kepada putri saya" Ujarnya dengan marah.


Gladis masih melantai sambil menangis, ia rela seperti ini asalkan tidak didesak oleh Ray untuk mengakui siapa ayah dari bayinya.


"Ada apa ini pak?" Tanya Papi Ray dalam telepon.


"Tanyakan saja kepada anak bapak, apa yang dilakukan terhadap putri saya. Jangan hanya habis manis sepah dibuang" Ayah Gladis menggebu-gebu mengatakan itu dengan emosi.


Ray yang mendengar itu, jika saja didepannya saat ini bukan orang tua mungkin sudah melayangkan pukulan.


"Saya cukup pernikahan tertutup, lalu mereka bercerai" Minta ayah Gladis, "saya masih mampu menafkahinya tanpa bantuan orang lain" Lanjutnya lagi di telepon.


"Pak, undangan pernikahan Alex dan Gladis sementara dicetak. Jadi sangat tidak mungkin pernikahan ini hanya dihadiri keluarga inti saja. Kami tidak malu punya mantu hamil diluar nikah, yang terpenting cucu kami miliki orang tua yang jelas. Untuk omongan Alex, jangan diambil hati. Dia hanya kaget" Jelas Papi Ray dalam telepon itu dan kebetulan di speaker jadi mereka berempat dengar.


Ada yang tersenyum bahagia disana, namun ada juga yang terluka parah yang tidak dihiraukan selian dirinya sendiri.


"Kalau seperti itu, besok pernikahannya di gereja terdekat saja" Pinta ayah Gladis.


Gladis mendengar itu langsung bangkit dari duduknya, ia menghampiri ayahnya.


"Yah, itu terlalu cepat" ujarnya seakan peduli dengan perasaan Ray, padahal dalam hati ingin sekali merayakan kebahagiaan ini.


"Yes" Batin Gladis.


Ray lagi-lagi dikecewakan oleh orang tuanya, tanpa minta pendapat padanya langsung memutuskan jadwal pernikahan.


"Maafkan ayah saya Ra" Ujar Gladis lagi dengan ekspresi pedulinya.


"Iya" Jawab Ray dingin lalu pergi.


🌺


Ray dengan buru-buru mengendarai motornya menuju butik Viona, ia rasa lebih baik berita ini dengar langsung darinya daripada dari orang lain. Dengan kecepatan tinggi, melalui beberapa kendaraan roda empat dan roda dua dijalan. Sampai butik ia melihat Viona sedang main ponsel.


Ray turun dari motornya dengan buru-buru dan masuk dalam butik. Baru sampai pintu masuk butik, langsung memanggil Viona.


"Viona" Panggilnya dan sang empu menoleh serta tersenyum setelah melihat Ray.


Rasa bersalah seketika muncul dalam hati Ray melihat senyum tulus Viona untuknya.


"Masuk Ray, bengong aja disitu" Ujar Viona.


"Oh iya" Ray tersadar kalau ia sedang dipintu masuk butik.


"Aammm, aku.." Ujar Ray tidak jelas.


"Kenapa sih Ray?" Tanya Viona heran dan pergi mengambilkan air minum untuk Ray.


"Minum dulu" Lanjut Viona sembari memberikan sebotol Aqua.


Ray menerima itu dengan senyum canggung. Viona dapat merasakan itu.


"Ada apa Ray?"


"Aku minta maaf" Ucapnya setelah minum.


"Oh, akhirnya kamu sudah menyadari kesalahanmu, terima kasih."


Kalimat Viona itu yang membuat Ray melongo.


"Maksudnya?"


"Lupakan Ray. Gimana urusanmu dengan Gladis. Udah kelar kan?" Tanya Viona lagi dengan harapan semua masalah sudah selesai semua dengan Gladis.


Ray diam mendengar pertanyaan Viona. Kelar bagaimana?, Ini ibaratnya masih awal.


"Ray, kok diam?"


"Apakah kamu dengar berita?" Tanya Ray.


Viona menggelengkan kepala pelan, "berita apa?"


"Enggak, tanya saja" Jawab Ray sembari senyum hambar.


Ray melihat butik Viona yang sunyi tanpa pengunjung itu.


"Vio, tumben butik kamu sunyi seperti ini?"


"Gak tau juga, apa penyebabnya. Tapi di video yang aku posting komentarnya pada bandingin butik aku dengan butik baru. Yang katanya tidak jauh dari sini. Aku penasaran dengan butik itu sebenarnya."


"Tidak jauh" Ulang Ray sambil mengangguk paham, "nanti aku bantu cekkan" lanjutnya.


"Terima kasih ya sebelumnya" Ucap tulus Viona.


"Iya, sama-sama" Jawab Ray lalu diam sejenak menghabiskan air mineralnya.


"Jalan-jalan yuk" lanjutnya mengajak Viona.

__ADS_1


"Kemana?"


"Kemana saja, yang penting kita bahagia."


"Aku sedang jaga butik Ray, dan aku juga gak mungkin dong boncengan di motor. Aku gak bisa" Kilah Viona.


Ray tersenyum mendengar itu, "aku udah tau alasan seperti itu, tidak boleh kan boncengan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram takut bersentuhan?"


"Nah itu tau" Jawaban cepat Viona seketika menutup mulutnya setelah sadar.


"Maaf" Lanjutnya.


"Gak masalah, seberharga itu wanita muslimah?" Tanya Ray lagi.


"Iya, saking berharga dan dimulianya kami, dalam al Qur'an pun kami ada satu surah yaitu surah an-nisa, bahkan dalam sebuah hadis mengatakan, 'sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah'. Bayangkan Ray, perhiasan saja sudah mampu membuat senang terutama wanita, apalagi sebaik-baik perhiasan. Eehh maaf ya, itu dalam agamaku" Viona menyadari sudah banyak membahas agamanya saat ini.


Ray menatap Viona lalu senyum, membuat Viona malu dan salah tingkah.


"Kapan agamaku atau agamamu jadi agama kita?" Tanyanya.


"Kelak jika salah satunya berkorban" Jawaban itu membuat Ray menarik keatas sebelah alisnya.


"Benar, jika nanti kamu mendengar berita yang mengecewakan jangan percaya kesiapanpun selain aku dan itu salah satu bukti perjuanganku" Tutur Ray. Ia berusaha untuk jujur tapi tidak sanggup jika melihat Viona sedih karenanya.


"Aku gak paham Ray."


"Kamu akan paham, jika sudah waktunya."


"Gak jelas."


Masih cerita, orang tua Ray menelepon, panggilan demi panggilan sudah banyak diponsel Ray.


"Ponsel kamu bergetar Ray, mungkin penting" Ujar Viona.


"Palingan tentang Gladis" Ray keceplosan.


Viona diam mendengar nama Gladis disebut oleh Ray, ada rasa kecewa yang muncul tiba-tiba.


"Ray, sepertinya aku harus pantau jualan di sosmed" pamit Viona. Ia melangkah pergi meninggalkan Ray yang sedang duduk.


"Tunggu" Pinta Ray, "Tunggu aku, aku dipaksa menikah dengan Gladis karena wanita itu sudah hamil" Lanjutnya.


Deg


Viona seketika berhenti melangkah, mematung mendengar kalimat itu. Air matanya ia tahan agar tidak jatuh didepan Ray. Ia menghela napas untuk menormalkan pikiran dan perasaannya.


"Kapan?" Tanya Viona setelah membalikkan badan.


"Mungkin besok."


"Izinkan aku untuk datang" Pinta Viona dengan bibir dipaksa senyum.


Ray menggeleng kepala pelan seraya berkata, "Jangan, aku tidak mau kamu terluka."


"Kamu terlalu percaya diri Ray, aku datang bukan sebagai kekasih yang ditinggal nikah tapi sebagai sahabat" Jelas Viona dengan tatapan mata kearah sudut butik.


"Tapi.." kalimat Ray dipotong seketika oleh Viona.


"Jangan hiraukan yang tidak ditakdirkan untuk bersama Ray. Fokuskan dirimu untuk hari esok dan setelahnya, karena tanggung jawabmu makin banyak."


Kata bijak keluar dari Viona begitu saja, ia sesekali diam agar suaranya tidak bergetar saat bicara.


"Kandungan Gladis sudah berapa bulan?" Tanya Viona lagi.


"Aku tidak tau" Jawab Ray tegas. Ia merasa kesal kepada Viona yang tidak menampakkan marah kepadanya. Setidaknya melarangnya untuk menikah dengan Gladis sudah cukup baginya.


"Vio, apa hanya aku yang jatuh cinta disini?" Tanya Ray.


Viona tersenyum miris mendengar pertanyaan Ray. Bagaimana bisa bertanya seperti itu kepadanya, Ahmad sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan dengannya demi hubungan menjaga perasaan Ray.


"Kamu salah, Ray" Jawaban kecewa Viona, "Berarti selama ini, aku menunggu dalam ketidak pastian?" Lanjutnya, lalu melanjutkan langkah.


Betapa kecewanya Viona mendengar kata-kata Ray, dia malah mengatakan kalau hanya dirinya yang jatuh cinta, terus apa arti janji dulu.


"Viona dengarkan aku dulu" pinta Ray, "bantu aku, aku sekarang berada di persimpangan" lanjutnya penuh harap. Ia merasa saat ini hanya Viona yang bisa memberikan solusi. Egois, memang bahkan bisa dibilang sangat egois, meminta pendapat kepada orang yang sedang menunggunya.


"Ikuti kata hati Ray, hati kecilmu tau mana yang terbaik untuk dirimu" Tutur Viona lagi dengan posisi yang sudah duduk di kursi kasir.


Ray terus mengikuti belakang Viona, seperti anak ayam mengikuti induknya.


"Aku harus bagaimana?"


"Pulang Ray, aku juga gak tau. Jika datang hanya bahas pernikahanmu dengan Gladis, lebih baik pergi."


Viona rasa mungkin saat ini egois, tapi apa kabar dengan hatinya yang terluka saat mendengar laki-laki yang ia tunggu ternyata menikah dengan orang lain.


"Kita sama-sama kecewa Mad" Gumam Viona.


Hatinya hancur, ia menangis mengeluarkan semua rasa kecewanya melalu air mata.


Ray pulang dengan perasaan yang tidak kalah hancur saat ini. Dilema, antara mengikuti orang tuanya atau kata hatinya. Jika mengikuti kata hatinya, sangat tidak tega mempermalukan kedua orang tuanya, tapi bagaimana dengan hatinya. Hatinya tidak bisa melangsungkan pernikahan dengan orang yang ia tidak cintai lagi.

__ADS_1


__ADS_2