Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
71. Butik Jadi Sasaran


__ADS_3

Ray pun pergi, mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Ia berinisiatif untuk singgah ke butik Viona terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, motor Ray sampai butik. Parkir dan masuk didalam. Baru beberapa langkah ia sudah disuguhkan pemandangan yang membuat hatinya sakit.


Ray berhenti dan berbalik badan, ia tidak ingin melihat kedekatan antara Ahmad, Viona dan Tiara yang sedang makan.


Melangkah perlahan keluar, tiba-tiba dari dalam ada yang memanggil namanya, yang tidak lain adalah ibu Heti.


"Nak Ray ya?" Ujarnya dengan nada bertanya.


Ray membalikkan badan dan senyum sebelum menjawab.


"Iya, saya Tante"


Ibu Heti datang menghampiri Ray yang sudah dekat pintu keluar.


"Sudah lama datang?" Tanyanya lagi dengan ramah.


"Aa.." Ray bingung, antara jujur atau tidak untuk menjawab pertanyaan itu.


"Baru juga, tapi sepertinya saya menggangu jadi memutuskan untuk pulang" Jelas Ray.


"Terpaksa jujur" Lanjutnya membatin.


Ibu Heti mengerti maksud ucapan Ray.


"Kebetulan adiknya Ahmad pengen ketemu Viona, jadi sekalian mereka bawa makanan dan makan bersama disini" Ungkap Ibu Heti dengan jujur, tanpa ia pikirkan bagaimana perasaan Ray mendengar itu semua.


Ray menganggukkan kepala tanda paham.


"Saya pergi dulu kalau begitu tan" pamit Ray.


"Hati-hati ya" Ucap ibu Heti.


Ray pergi meninggalkan butik begitu saja, tidak menemui Viona, walaupun sudah didepan mata. Sementara ibu Heti memilih duduk dikursi kasir butik anaknya.


Viona, Tiara dan Ahmad pun sudah selesai makan siang. Tiara yang tidak mau kehilangan momen, meminta untuk difoto bersama Viona.


"Ini kak" Ucapnya sembari memberikan ponsel kepada kakaknya.


Ahmad terima ponsel tersebut lalu ia simpan diatas kursi.


"Kak, foto aku dan kak Viona" Pintanya.


"Istrahat dulu baru foto-foto, kita baru saja selesai makan" Tegur Ahmad kepada sang adik.


Tiara langsung cemberut mukanya, "kakak emang kayak gitu"


"Ya udah, kesana ambil posisi yang bagus" Ujar Ahmad. Ia mengalah demi adiknya.


"Disini saja" Ujar Viona sambil menepuk kursi disampingnya.


"Disitu gak bagus" Jujur Ahmad.


"Gak masalah, foto aja kak. Orang cantik biar posisi jelek tetap terlihat cantik. Kayak kakak Viona, biar kakak Viona marah-marah tapi kakak bilang ke Tiara..jldkdjr" Ucapan Tiara terpotong karena mulutnya sudah ditutup oleh telapak tangan Ahmad.


"Akh" Ahmad mengibas-ngibaskan tangannya karena digigit oleh Tiara.


"Kenapa harus gigit sih dek?, Lihat nih merah" Ujar Ahmad sambil memperlihatkan telapak tangannya bekas gigitan Tiara.


"Kayak vampir saja" Sambungnya.


"Suka kasih kesal Tiara sih" Tiara tidak mau kalah dari sang kakak.


Ingin melerai tapi lebih seru menyaksikan debat keduanya ketimbang nonton drama Korea.


"Dramanya masih lanjut nih?" Tanya Viona sembari senyum lucu.


"Tidak.. tidak" Jawab Ahmad dengan cepat lalu menyuruh adiknya untuk duduk kembali disamping Viona agar bisa mengambil gambar.


"Duduk dek"


"Iya" Tiara pun duduk disamping Viona. Ia memeluk pinggang Viona.


Saat Ahmad mengambil gambar, bertepatan dengan Viona ketawa dengan perlakuan Tiara.


"Kenapa kak?" Tanya Tiara bingung sedangkan Ahmad terus mengambil gambar.


Menurut Ahmad lebih bagus mengambil gambar saat obyeknya tidak sadar kamera.


"Kakak kayak emakmu dek, kalau peluk kayak gitu" Ujar Viona dan berakhir ketawa lagi


"Aduh.. aduh.. sakit perut aku" lanjutnya sambil memegang perutnya kram karena lama tertawa.


Ahmad langsung menghampiri, "Vio gak apa-apa kan?" Dengan wajah sedikit panik.


"Efek ketawa aja Mad, gimana fotonya?" Tanya Viona, "bagus gak?" Lanjutnya lagi.


"Pasti bagus dong kak" Jawab Tiara.


"Buram semua, tapi kalau gak bisa lain kali aja" Kilah Ahmad.

__ADS_1


Padahal foto Tiara dan Viona hampir penuh galeri ponselnya, sedangkan di ponsel sang adik hanya beberapa gambar.


"Ulang aja kalau gitu" Ujar Viona, ia tidak ingin mengecewakan yang sudah membuatnya terhibur hari ini.


Kembali berfoto dan Ahmad sebagai fotografer mendadak mereka.


Tidak terasa matahari akan segera terbenam. Warna jingga kini sudah mulai nampak. Karena hari ini Ibu Heti dibutik seharian, jadi Viona sedikit santai ditambah pembeli tidak banyak.


Ahmad dan Tiara, menghampiri ibu Heti.


"Tante, suka duduk disini?" Tanya Ahmad dengan ramah.


"Iya, dirumah sendiri, sunyi tidak ada teman" Jujur ibu Heti.


"Udah makan siangnya?" Tanya ibu Heti kepada Tiara.


"Sudah tan, dari tadi malah. Sekarang itu sudah sore tan" Tiara memberitahu ibu Viona.


"Oh iya, kok mama gak sadar yaa.. hehe" ibu Heti merasa lucu dengan dirinya sendiri, saking semangatnya jaga butik sampai lupa waktu.


"Tante, Tiara dan kakak Tiara pamit pulang ya" Tiara berpamitan.


"Ehh" Ahmad bingung. Karena ia belum ada rencana balik cepat, tapi karena sang adik terlalu pintar langsung izin pulang.


"Gak apa-apa" Timpal ibu Heti seakan paham dengan Ahmad.


Akhirnya Ahmad dan Tiara pulang. Ada rasa khawatir dalam dirinya meninggalkan Viona dan ibunya dibutik berdua.


"Semoga tidak ada kejadian aneh lagi" Batin Ahmad.


🌺


Ray duduk diam dalam ruangannya, sejak siang sampai sore ia hanya duduk di kursinya tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Beberapa kali Ray menghela napas, di kepalanya selalu terbayang kebersamaan Viona dan Ahmad serta gadis kecil yang Ray sendiri tidak tau siapa anak kecil itu.


Tok tok


"Siapa?" Tanya Ray.


"Maaf bos, ada.." Jawab orang kepercayaannya itu berhenti, bersamaan dengan pintu terbuka lebar.


"Masuk di ruangan calon sendiri kok repot"


"Gladis, ketuk pintu baru masuk" tegur Ray.


"Karyawanmu yang sudah ketuk pintu" Jawab Gladis tidak mau kalah, "lagian, setiap hari aku akan datang disini, aku biasakan wajahmu melihat senyumku tiap hari" Lanjutnya membatin.


"Ada apa?" Tanya Ray.


"Mereka siapa?" Tanya Ray penasaran, "Sialan, aku bertanya lagi" Batinnya.


"Si perempuan"


"Oh"


"Oh saja, iihhh" monolog Gladis.


Ray kembali diam, sedangkan Gladis memilih untuk main ponsel sambil menunggu kabar dari Gebi.


Sesekali Ray melirik Gladis, "Tumben betah disini" Batin Ray.


"Kok aku gak tenang, apa aku ke butik Viona lagi yaa" Batin Ray menimbang-nimbang.


"Ok, kesana" Batinnya lalu bangkit dari kursinya.


Gladis yang melihat itu langsung mencegah Ray.


"Ra, mau kemana?, Aku disini sendiri"


"Mau ke toilet, ikut?. Kebetulan aku sakit perut nih, pasti baunya.. yahh bayangkan sendiri" Ujar Ray sambil melirik Gladis.


Gladis seketika membayangkan, rasanya ingin muntah. Dengan ekspresi jijik langsung menarik tangan Ray membawanya keluar ruangan.


"Cepaa.." Gladis tidak melanjutkan kalimatnya.


Ray seketika membeku depan pintu ruangannya.


"Kok bisa dia disini?" Batin Ray.


Awalnya Viona kaget, tapi lama-kelamaan ia menormalkan perasaannya.


"Ray, bantu aku" Pinta Viona setelah diam sejenak.


"Bantu apa?" Tanya Ray.


"Ra, bukannya kamu sakit perut?, pikirkan kesehatanmu baru orang lain" Jelas Gladis sambi melirik Viona.


"Orang lain belum tentu peduli sama kamu" lanjutnya, membuat Viona tidak enak hati pada Ray.


"Benar, maaf. Aku harus pamit kalau begitu" Ucapnya sembari senyum terpaksa dan dimatanya nada sedikit kekecewaan.

__ADS_1


Dengan langkah cepat Viona kembali mencari orang yang bisa membantunya, satpam yang jaga sudah tidak sanggup melawan orang yang datang tiba-tiba mengamuk seperti orang gila dalam butik.


Viona bingung, kepada siapa ia minta tolong. Menelepon Ahmad tidak angkat, Ina seperti pahlawan baginya hari ini tidak datang. Alan pun ditelepon tidak angkat.


"Polisi" Gumam Viona. Ia mencari ponsel dalam saku gamis, "lupa dibutik lagi, terpaksa" Lanjutnya.


Dengan langkah cepat Viona kembali ke ruangan Ray, sesampainya disana langsung mengetuk pintu dua kali lalu ia buka tanpa menunggu dipersilahkan masuk.


"Punya sopan santun gak?" Tanya Gladis dengan kesal.


Viona tidak memperdulikan itu, ia hanya fokus kepada butiknya saat ini.


"Ray, teleponkan polisi sekarang"


"Kenapa?"


"Ada orang aneh datang marah-marah dibutik. Please Ray, hanya kamu harapanku saat ini"


"Ok"


Ray langsung menelepon di kantor polisi dan menceritakan semuanya kepada pihak berwajib.


Gladis yang menyaksikan itu, senang bukan main melihat wajah panik dan takut Viona.


"Gimana Ray?" Tanya Viona lagi.


"Polisi sudah menuju butik" ujarnya memberi tahu Viona.


"Terus ibu mu mana?" Lanjut Ray, ia baru teringat ibu Viona yang berada dibutik.


"Mama udah pulang.. Ray izin mau duduk, capek!" Ujarnya sambil mengatur napas. Ia sangat capek sore ini, lari sana sini hanya meminta bantuan. Untungnya bukan dirinya sasaran orang tersebut.


"Silahkan, kenapa gak pulang sama-sama tadi?" Tanya Ray penasaran.


"Aku tuh pulangnya jam 10 malam, bukan sore menjelang magrib" Jelas Viona.


Ponsel Ray kembali berdering, seorang polisi menelpon menginformasikan kalau mereka sudah di TKP.


"Saya kesana pak" Ujar Ray dalam telepon itu. Dan dengan cepat menarik tangan Viona.


"Jangan salah paham atau marah ini karena keadaan darurat"


Ray sengaja jelaskan, ia takut Viona akan salah paham dengan apa yang dilakukan sekarang. Sementara Viona awalnya kaget, baru kali ini lengannya dipegang oleh laki-laki.


"Heeiii" Teriak Gladis.


"Lagi-lagi Viona, hisss" Ujar sambil menghentakkan kakinya dilantai menggunakan heelsnya.


Ia tidak mau buang-buang waktu, ikut Viona dan Ray keputusan bagus. Sampai di butik, ia tidak gabung dengan yang lain lebih memilih untuk memantau dari jauh.


"Lho kok polisinya pulang?" Gladis bertanya kepada diri sendiri.


"Hmmm, Gebi"


Ia meninggalkan tempat itu dengan cepat dan kembali ke ruangan Ray sembari menelfon Gebi.


"Halo, gimana?" Tanyanya di telepon.


Seberang telepon Gebi marah-marah sama sahabat laki-lakinya yang Gebi sendiri panggil banteng.


"Geb, ini aku menelepon lho, kok kamu gak respon hanya dengar suara aku" Protes Gladis dengan nada penuh penekanan menggunakan nada kecil.


"Maaf, ini lho hampir tadi ke tangkap polisi" Jelas Gebi dalam telepon.


"Kok bisa?"


"Si banteng ini, salah ambil jalur keluar gedung tadi"


"Lho, aku gak mau tau ya.. pekerjaan kalian, tanggung sendiri. Kalau ditangkap polisi jangan bawa-bawa nama aku" Jelas Gladis sembari marah dalam telepon.


Gebi menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu menatap sahabatnya ia sebut banteng.


"Gara-gara kamu, aku yang disalahin" Gebi kembali memarahi teman laki-lakinya itu.


Gebi kembali mengabaikan telepon Gladis. Kalimat Gladis memarahinya, bagi angin lalu.


"Bicara dulu tu sama Gladis, nanti money tidak masuk rekening" Tegurnya.


"Astaga, banteng" Jawab Gebi.


"Gladis, maaf ya tadi lagi marahi banteng kurang serius menjalankan tugas" Gebi berusaha untuk meyakinkan Gladis tapi secara tidak langsung menjatuhkan sahabatnya sendiri.


Gebi sudah menunggu omelan berikutnya dari Gladis tapi dalam ponsel itu hening. Gebi kembali memanggil Gladis.


"Dis" Panggil Gebi.


Setelah tidak ada respon, Gebi langsung melihat layar ponselnya, "dia kasih mati rupanya"


"Dasar tukang marah gak jelas" Ujar Gebi.

__ADS_1


Gebi memutuskan untuk pulang dikarenakan sudah malam, teman yang sering dipanggil banteng sebagai sopirnya tiap hari. Setelah melihat suasa diluar aman dari polisi.


__ADS_2