
Malam ini Ray menghabiskan waktunya dirumah bersama Alan. Minum kopi pilihan mereka berdua.
"Gimana hubungan mu dengan Viona?" Tanya Alan sambil menikmati kopinya.
"Aku gak tau Lan" Jawabnya sambil mengangkat gelas kopinya.
"Lihat Lan, aku tak seberuntung kopi dan gula bisa disatukan dalam satu gelas cangkir" Lanjutnya.
"Menurutmu disitu adil?, Gak Ra. Mata melihatnya itu kopi, tapi saat dinikmati apakah penikmatnya bilang ini rasa kopi? Tidak. Mereka bilang manis" Jelas Alan.
"Intinya disitu harus ada yang berkorban" Lanjut Alan lagi dan kembali mengangkat cangkir kopinya.
"Hmmm, manis" Ucap Alan sembari senyum, "itu kalimat seorang penikmat Ra" sambungnya.
"Benar, tapi apa Viona mau berkorban?" Tanya Ray.
"Kamu laki, kamu yang berkorban demi wanita yang kamu cintai" Jelas Alan lagi.
"Gimana dengan keyakinan?" Tanya Ray dengan serius.
"Jujur, kalau itu aku juga bingung. Tau sendiri bagaimana keluarga Viona" Ucap Alan lagi.
"Apa Mamimu tau kalau kamu dan Viona tidak seiman?" Tanya Alan lagi.
"Belum"
"Kasih tau Ra orang tuamu, sampai kapan sembunyiin itu semua?" Tanya Alan.
"Aku gak rela menyakiti keduanya dan aku tidak siap jika Mami menyuruhku untuk memilih, itu hal sangat sulit"
"Memang itu berat, tapi suatu saat nanti tetap kamu akan memilih. Seperti yang aku bilang tadi BERKORBAN" ujar Alan dan menekan kalimatnya diakhir.
"Aku butuh waktu Lan" Respon Ray sembari meminum kopinya.
"Aku percaya padamu bro" Ujar Alan lagi sembari menepuk punggung Ray dan senyum.
Ray meresponnya dengan senyum sembari mengangguk.
"Terima kasih" Ujarnya.
Disisi yang berbeda. Dirumah Viona, saat ini mereka lagi kumpul santai bertiga dan si cantik Ainun sibuk dengan mainan barunya yang dibelikan Viona.
"Vio, apa gak ada rencana menikah?" Tanya Yesi to the point.
"Menikah" ulang Viona, "Jangan dulu deh, takut!" Sambungnya.
"Takut apa?" Tanya Ibu Heti menimpali.
"Belum bisa jadi istri yang baik" Jawab Viona asal.
"Tau dari mana dek?" Tanya Yesi lagi.
"Kak Yesi, suka mancing pembicaraan" Ucap Viona lagi tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.
"Gini aja, teman-teman mama itu banyak dan pemahaman agama mereka juga bagus. Jadi, mama yakin kalau anak mereka juga insya allah pemahaman agamanya tidak diragukan. Gimana?" Tanya Ibu Heti diakhir ucapnya.
__ADS_1
"Gimana apa mam?" Tanya Viona bingung.
"Mama jodohkan dengan anak teman mama" Ucapan itu membuat Viona menatap ibunya.
"Mam, udah bosan lihat Vio?" Tanya balik Viona.
"Astaghfirullah, tidak ada seorang Ibu bosan lihat anaknya, yang ada rindu" Ungkapan ibu Heti membuat Viona senyum lalu memeluk ibunya.
"Maaf mam, Viona hanya tidak ingin dijodohkan" Ucapnya dalam pelukan ibunya.
"Mama hanya ingin melihat kamu bahagia, dan perasaan mama tenang kalau sudah ada yang jaga kamu" ujar ibu Heti lagi membuat Viona mengencangkan pelukannya.
"Gak lepas nih, kalau bahas jodoh lagi" Ucap Viona dengan candaan.
"Makin dikencangin, semakin semangat mama" Ucap Ibu heti membuat Viona melepaskan pelukannya.
"Gimana kalau orang itu aku gak suka?" Tanya Viona.
"Gimana kalau orang itu sesuai dengan kriteriamu?" Tanya balik Ibu heti.
"Gimana kalau tidak cinta?" Tanya viona.
"Cinta itu akan tumbuh kalau selalu bersama" Timpal Yesi.
"Hmm, kak Yesi memupuk lagi, tambah subur pembahasan" Ucap viona.
"Gimana kalau dia punya pacar mam?" Tanya Viona lagi.
"Yanga paham agama, dia tidak akan pacaran" Jawab Ibu Heti.
"Terjaga banget, aku yang insecure kalau gitu" Ujar Viona lagi.
"Makanya jadi perempuan jangan bermudah-mudah dek sama laki-laki" Yesi kembali menambahkan.
"Kakak!" Panggil Viona lagi dengan tatapan kesal pada kakaknya itu.
"Itulah mama takutkan, sudah bersyukur lihat kamu begini, takut dapat suami tidak benar. Hancur hati mama" Ungkap ibu Heti membuat Viona diam seketika.
"Viona mohon mam, buang jauh-jauh pikiran mama jodohin Vio. Viona..." Ucapnya langsung berhenti. Ia belum siap cerita pada ibunya tentang Ray, meskipun mereka tidak pacaran tapi Viona tau kalau Ray mencintainya.
"Kenapa?" Tanya Ibu Heti penasaran.
"Lupa mam, hehehe" Ucap Viona diakhiri dengan tertawa untuk menutupi kalau dirinya bohong.
Ibu Heti hanya menghela napas pelan mendengar ucapan anaknya, ia tau kalau Viona sedang berbohong padanya.
"Mama ingin tanya, emang temanmu Ray dengan Ahmad itu? Maksud mama teman biasa" Ujar Ibu Heti lagi.
"Iya mam" Jawab Viona.
"Oke, mama hanya ingin mastiin saja" ucap ibu Heti, "Mama ke kamar dulu mau istirahat" Sambungnya lalu pergi menuju kamar.
Viona dan Yesi cerita. Yesi kembali menanyakan tentang Ahmad karena ibunya pernah cerita kepadanya, kalau Ahmad memperlakukan Viona di restoran berbeda dengan yang lain.
"Apa benar Ahmad teman biasa?" Tanya Yesi.
__ADS_1
"Benar kak. Kenapa sih tidak ada yang percaya?" Tanya Viona balik.
"Karena bukan teman biasa seperti itu dek. Kamu terlalu dispesialkan, kalau dengar cerita dari mama. Jadi kakak setuju dengan ide mama untuk menjodohkan kamu dengan anak temannya"
Viona mendengar itu hatinya tidak tenang. Kesal kepada kakaknya dan ibunya juga. Karena bagaimana bisa mereka memikirkan tentang perjodohan sementara kedua kakaknya memilih pasangan sendiri.
"Ini tidak adil bagi vio karena masih ingat kak Rifal dan kakak pasangannya atas pilihan sendiri. Kenapa saya harus dijodohkan?" Tanya Viona dengan mata sudah berkaca-kaca.
Yesi sebenarnya tidak tega tapi juga tidak mungkin melarang ibunya, apalagi niat ibunya itu baik hanya untuk menjaga keistiqomah Viona.
"Bismillah dek, tidak ada yang salah pada ucapan mama. Jika itu yang terbaik untuk kamu, saya dan Rifal akan mendukung" tuturnya.
"Dek mencintai karena allah itu lebih baik" Lanjutnya.
"Tapi di hati Viona ada satu nama" Akhirnya Viona jujur.
"Siapa?" Tanya Yesi penasaran, saking penasarannya ia mendekatkan dirinya kearah adiknya.
"Siapa dek?"
"Ray" Jawab Viona singkat.
"Bukan dia non muslim dek?" Tanya Yesi untuk memastikan.
Viona menganggukkan kepala.
"Terus, kamu pacaran dengan dia?" Tanya Yesi lagi dan seketika Viona melambaikan tangannya dengan cepat.
"Gak kok"
"Terus?" Tanya Yesi lagi.
"Ray pernah ungkapkan perasaannya ke Vio, tapi Vio gak terima. Dan ternyata Ray juga gak mau pacaran.." Viona mulai ceritakan semuanya.
"Serius?" Tanya Yesi dan Viona mengangguk.
"Tau kan, kamu dan dia berbeda?" Tanya Yesi lagi.
"Iya kak, tapi apa gak bisa dikasih kesempatan?" Tanya balik Viona.
"Kesempatan yang bagaimana Vio, andaikan hanya berbeda suku, kakak gak permasalahkan. Selagi tidak ada larangan, kakak oke oke saja" Jelas Yesi.
"Tapi masalahnya ini... Yaahhh adek sendiri tau perbedaan itu" Lanjut Yesi tidak melanjutkan ucapannya lagi. Ia habis kata-kata saat adiknya mencintai yang berbeda dengan dirinya.
"Kak, Ray serius" Ujar Viona mencoba meyakinkan kakaknya.
"Seserius apapun, kita berbeda dek.. Asalkan.." Ucap Yesi.
"Asal Ray mengikuti keyakinan kita, itukan maksud kakak?, Aku tidak mau merebut dia dari Tuhan nya kak" Ungkap Viona membuat Yesi menatap adiknya dengan tatapan sayang.
"Lihat mata kakak" Ucap Yesi, "Kita tidak diajarkan untuk memaksa orang masuk di keyakinan kita dek dan kita dilarang menikah dengan orang yang berbeda keyakinan" Lanjut Yesi lagi.
"Itu ujian buat kalina berdua, tapi satu hal pinta kami keluarga ingat Allah dan ingat ayah yang suda tenang, ringankan hisabnya dek" Permintaan Yesi ini membuat Viona tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
"Aku tidak mau menyakiti siapapun kak, tapi Mami Ray kalimatnya selalu berharap kepada Vio" Adu Viona.
__ADS_1
"Jadi kamu mau mengorbankan semuanya hanya karena harapan Maminya?" Tanya Yesi yang membuat Viona diam seketika.