Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
52. Rencana Awal


__ADS_3

Kepulangan Gladis dari Korea itu tidak lain hanya untuk menjalankan aksi selanjutnya. Ia sedang istrahat di kamarnya yang ia rindukan itu, merebahkan diri di tengah tempat tidur sambil menatap foto Ray yang sudah lama tersemai dalam ponselnya.


"Tunggu aku Ra, jodohmu itu bukan Viona tapi aku" Gumamnya.


Siang ini, Gladis habiskan waktu untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan masalah hidup atau percintaan. Malam menjelang ia ke club malam yang biasa dikunjungi jika butuh hiburan. Sesampainya di club tersebut, ia sudah ditunggui oleh dua orang laki-laki dan perempuan.


"Tumben baru muncul, kemana saja?" Tanya perempuan tersebut sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.


"Dari Korea" jawab Gladis sembari duduk yang sudah disediakan oleh teman-temannya.


"Ngapain kesana, ada kerjaan. Bagi dong" Ujar satu laki-laki itu.


"Tenang, aku datang disini karena ada pekerjaan untuk kalian bertiga" Ujar Gladis sambil menunjuk tiga sahabatnya itu.


"Apa tuh?" Tanya perempuan itu.


"Gampang Geb" Ujar Gladis.


Perempuan itu bernama Gebi, sahabat Gladis.


Gladis pun susun rencana dengan ketiga sahabatnya, setelah mereka setuju dengan rencana Gladis, Gladis pun pesan minuman untuk malam ini.


"Ini minumannya terlalu banyak" Protes Gebi.


"Sekali-kali gak masalah, ayo minum. Kita rayakan dulu kebahagiaan kita" Ujar Gladis lalu mengangkat gelasnya untuk bersulang.


Malam ini Gladis ia habiskan waktunya di club malam, menjelang pagi baru pulang diantar oleh Gebi dan kedua sahabat laki-laki mereka.


"Aakh" Ucap Gladis memegang kepalanya yang masih sakit gara-gara alkohol.


"Tidur aja dulu" Ujar Gebi yang masih dibalik selimut.


"Udah jam 8, Ra itu sudah di bengkel"


"Kita mulai hari ini?" Tanya Gebi lagi.


"Iya dong, kapan aku bersama Ra kalau ditunda"


"Kabarin kalau giliran aku" Respon Gebi sebelum ia kuasai rasa kantuk.


"Hmm" Jawab Gladis.


Gladis membersihkan badannya dengan rendaman di bathtub selama satu jam, bersenandung ria dalam kamar mandi sambil membayangkan rencananya hari ini.


Setelah mandi siap-siap ke bengkel dan terlebih dahulu membangunkan Gebi.


"Geb, bangun sekarang sudah setengah 10 nanti kita terlambat"


"Hmmm, apa sih tugas aku?" Tanya Gebi setelah digoyangkan tubuhnya oleh Gladis.


"Berteman dengan Viona"


"Itu saja?, gampang" respon Gebi.


"Ok" Jawaban santai dari Gladis.


🌺


Gladis turun dari mobil, ia sudah sampai bengkel Ray. Semua yang kerja dibengkel saling berbisik melihat Gladis.


"Hmm, datang lagi pengacau" Ucap satu orang.


"Huss, nanti kita didengar" Larang satunya lagi.


"Ekhm, apa ada bos kalian?" Tanya Gladis.


"Iya mbak, di ruangannya" Jawab kepercayaan Ray tersebut.


"Terima kasih, kamu begitu baik dan sopan" Ujar Gladis lalu pergi.


Orang kepercayaan Ray mengerutkan kening heran, ia tidak percaya apa yang ia dengar dan lihat saat ini.


"Apa mbak Gladis sudah berubah?, Baguslah" batinnya lalu lanjut kerja.


Gladis sampai ruangan Ray terlebih dahulu mengetuk pintu ruangan.


Ray yang dalam ruangan itu langsung mempersilahkan masuk. Seketika wajah Ray berubah masam melihat Gladis.


"Ada apa kesini?"


"Tidak dipersilahkan duduk dulu?" Tanya Gladis tanpa menghiraukan pertanyaan Ray.


"Duduk saja, biasa langsung duduk" Jawab Ray acuh tak acuh.


"Ok. Makasih" Respon Gladis.


Ray memilih diam, meskipun dalam hati penasaran dengan perubahan sifat Gladis yang tiba-tiba berubah.


"Kamu rencanakan apa lagi?" Tanya Ray to the point setelah lama berdiam diri.


"Rencana apa?, Aku gak ngerti" Respon Gladis dengan santai.


"Viona gak datang disini?" Lanjutnya dengan pertanyaan.


"Ngapain tanya Viona?" Tanya balik Ray dengan tatapan menyelidiki.


Gladis tertawa dalam ruangan Ray, "hahaha, santai saja Ra, apa aku gak boleh berteman dengan Viona?"


"Iya, gak boleh"


"Santai saja kali, aku gak akan ganggu hubungan kalian berdua" Jelas Gladis lagi.


"Ra, Viona itu biasa ibadah dimana?, Aku rasa dia orang baik" Pancing Gladis lagi.


"Aku gak tau" Jawab Ray asal.


"Apa kalian tidak pernah pergi ibadah sama-sama?" Tanya Gladis lagi.


"Tumben kamu tanyakan ini? Ada apa, mau rencanakan sesuatu?" Tanya Ray lagi.


"Gak, aku sadar kalau mau berubah jadi lebih baik maka harus berteman dengan orang baik, dan aku rasa teman yang baik itu Viona" pancing Gladis.


"Cari teman lain saja"


Ray sangat tidak ingin Viona berteman dengan Gladis, entah kenapa perasaannya ada yang aneh dengan Gladis.


"Ada hal penting yang mau dibicarakan sehingga sampai datang di bengkel?"


"Oh iya, hampir aku lupa. Mami rindu karena jarang kamu telepon, dia ingin sekali menelepon mu tapi takut mengganggu"


"Nanti aku telepon" Respon Ray dengan dingin.

__ADS_1


"Sabar Gladis ini baru mulai" Batin Gladis menyemangati dirinya sendiri.


"Baik aku pulang dulu, by" Gladis pamit pulang.


"Baguslah kalau sudah sadar, tapi tetap saja gak bisa aku biarkan berteman Viona" Gumam Ray.


Ray merasa perubahan sifat Gladis yang tiba-tiba sedikit aneh, ia kembali mencerna kata-kata Gladis sebelum pergi.


"Mami, tau dari mana kalau Mami rindu aku" Ray berdialog dalam hati seorang diri.


"Apa Gladis temui Mami lagi di Korea" Batinnya. Ia sibuk dengan pemikirannya saat ini.


Disisi lain, Gebi mendapat pesan dari Gladis kalau perempuan bernama Viona itu sedang menuju sebuah restoran. Gebi menggunakan taksi mengikuti motor Viona.


"Ikuti motor metik depan ya pak" Ujar Gebi kepada supir taksi.


"Baik mbak" Jawabnya.


Dan benar saja motor Viona masuk dihalaman restoran, Viona turun dari motor dan masuk dalam restoran tersebut.


Gebi pun turun dari taksi mengikuti Viona masuk dalam restoran tersebut juga.


Dengan santai Gebi duduk dikursi samping Viona, ia sengaja agar mudah melancarkan rencananya.


"Sendiri juga?" Tanya Gebi dengan ramah.


Viona langsung menunjuk dirinya, "aku?"


"Iya" Jawabnya singkat lalu Gebi mengangkat tangannya memanggil waiter.


"Iya sendiri" Jawab Viona sembari senyum.


Waiter datang, Gebi memilih menu dan waiter tulis menu pesanan Gebi, kemudian Gebi bertanya kepada Viona.


"Kamu mau pesan apa? Aku traktir sebagai tanda persahabatan" Ujar Gebi lagi.


"Sahabat" Ulang Viona dan diangguki oleh Gebi.


"Aku Gebi, kamu?" Tanya Gebi sambil mengulurkan tangannya.


Viona menerima uluran tangan Gebi tersebut, "aku Viona, boleh aku gabung gak?" Tanya Viona.


Gebi respon dengan cepat, "dengan senang hati dong, gak enak makan sendiri"


"Iya, kok sama" respon Viona.


"Seru juga nih orangnya" Batin Viona.


"Mau pesan apa?" Tanya Gebi lagi.


"Oh iya, hampir lupa. Samian aja"


Waiter pun menulis menu yang dipesan lalu pergi untuk menyiapkan pesanan keduanya.


"Kamu sering disini?"


"Gak juga, kalau bosan biasa aku disini"


"Oh" jawaban Gebi begitu singkat.


5 menit kemudian pesanan keduanya datang dan ada tambahan menu seperti biasa yaitu es krim.


Seketika bibir Viona menyunggingkan senyum dan mencari sejauh mata memandang keberadaan Ahmad, tapi nihil.


"Ayo kita makan" Ajak Viona. Ia sudah tidak sabar untuk mencicipi eskrimnya.


Gebi rencananya untuk mengetahui semua kesukaan Viona, maka setiap yang dimakan Viona pasti selalu ditanyakan langsung.


"Suka eskrim juga?"


"Iya, eskrim itu menurut ku obat stres. Kalau mood kita gak baik, coba deh makan eskrim langsung normal tuh moodnya" jelas Viona sembari senyum.


"Mau coba?" Lanjutnya


Gebi awalnya menggelengkan kepala tidak mau mencoba yang sudah digunakan oleh Viona.


Viona memanggil waiter dan meminta untuk dibawakan eskrim yang sama.


"Maaf mbak, tapi harus izin dari pak Ahmad"


"Beli eskrim harus izin" Gebi heran dengan kalimat waiter tersebut.


"Nanti aku telepon pak Ahmad" Ujar Viona dan waiter tersebut mengangguk lalu pergi.


"Siapa pak Ahmad?" Tanya Gebi penasaran. Dan ia lihat sepertinya Viona dan pak Ahmad itu saling kenal.


"Jomblo atau sudah berkeluarga yang bernama Ahmad itu?" Sambung Gebi lagi sambil memainkan kedua alisnya


"Masih sendiri, aman. Hehehe" Respon Viona diakhiri dengan tertawa, membuat Gebi pun ikut tertawa.


"Gak tega aku lama-lama, pura-pura baik sama orang baik, terlalu tulus orangnya". Batin Gebi sambil memperhatikan Viona yang sedang makan eskrim.


Keduanya diam sambil menunggu eskrim untuk Gebi. Namun Gebi selama Viona hanya fokus makan eskrim maka tatapan itu tidak beralih.


Tanpa disadari, tidak jauh dari mereka ada yang memantau sesekali orang tersebut mengambil gambar Viona dan Gebi.


Hal itu dilihat oleh Ahmad yang baru sampai restoran. Ia langsung memanggil waiter satu orang menanyakan orang yang berpenampilan aneh.


"Sudah lama dia disini?" Tanya Ahmad kepada waiter yang baru saja ia panggil.


"Lumayan pak, tapi anehnya pak memantau mbak Viona dengan temannya" jelas waiter tersebut.


"Teman" Ulang Ahmad, "mana?" Sambungnya.


"Itu pak" tunjuk waiter tersebut.


"Ok, bawakan aku satu eskrim lagi dan buatkan kopi untuk orang tersebut"


"Baik pak, permisi pak" pamitnya diangguki oleh Ahmad, namun matanya terus memantau orang aneh tersebut.


"Ini pak eskrimnya" Ucap waiter tersebut.


"Terima kasih, tolong bawakan minuman orang tersebut dan lihat reaksinya" Pesan Ahmad lalu bangkit dari kursinya menuju meja Viona dengan membawa eskrim.


"Ini.." Ucap Ahmad tiba-tiba disamping Viona.


"Astaghfirullah, bikin kaget. Eskrim untuk teman aku mana?" Tanya Viona sambil melihat kearah Gebi.


"Ini" Ulang Ahmad.


"Oh iya, kok aku gak fokus kayak gini"

__ADS_1


"Gak apa-apa, makasih" Timpal Gebi sembari senyum kepada Ahmad.


Ahmad membalas senyum Gebi seadanya dan kembali bertanya dengan Viona.


"Bawa teman disini?, maksud aku selain perempuan" Jelas Ahmad dengan cepat.


"Enggak" Jawaban simpel dari Viona.


Sedangkan Gebi, jangan ditanya ia kagum dengan sosok Ahmad.


"Cakep juga teman Viona ini" Batin Gebi.


"Ekhem" Gebi berdehem untuk mengalihkan Ahmad dan Viona yang sedang bicara.


"Maaf ya Gebi, jadi terabaikan" Ujar Viona tidak enak hati kepada orang yang baru dikenal, "Pergi dari sini Mad, banyak pengunjung tu" sambungnya.


"Masih banyak waiter yang tanganin" Ahmad mencari alasan untuk bertahan berada diposisi itu.


Ahmad belum mendapatkan informasi sedikit pun dari waiternya.


"Lama banget informasinya" Batin Ahmad sembari memainkan ponselnya.


"Maaf nih, ini restoran sendiri atau pekerja juga seperti yang lain?" Tanya Gebi.


"Pekerja" Jawab Ahmad.


"Bos" Jawab Viona.


"Ini pekerja atau bos?"


"Pekerja, mana ada tampang kayak gini jadi bos, iya kan Viona?" Tanya Ahmad dengan memainkan matanya tanda kode.


"Aa.. mmm.. iya, dia pekerja. Waiter seperti yang lain"


Viona akhirnya mengikuti sandiwara Ahmad. Setelah Viona menjawab langsung mengambil ponselnya diatas meja dan mengirim pesan lewat WhatsApp.


"Dosanya kamu yang tanggung ya, aku gak ikut-ikutan. Tadi hanya terpaksa"


Ahmad yang membaca pesan itu sembari senyum.


"Dosanya dibagi dua" Balas Ahmad.


Spontan Viona bersuara membuat Gebi dan Ahmad kaget.


"Gak bisa gitu, Vio gak terima" Protesnya.


Ahmad langsung pelototi Viona sementara Gebi malah kembali bertanya.


"Maaf nih, tapi gak terima apa?, Ada yang ganggu kamu?" Tanyanya bertubi-tubi.


"Kalau ada yang ganggu bilang ke aku aja" lanjutnya lagi.


"Aa.." Viona baru buka mulut langsung dipotong lagi oleh Gebi.


"Santai saja, kita sekarang teman" Ujar Gebi lagi.


"Kalian berdua saja. Kalau aku gak" Tolak Ahmad mentah-mentah.


"Kok gitu" Timpal Viona kepada Ahmad.


"Gak asyik" Lanjut Viona lagi.


"Hati-hati, assalamualaikum" Bisik Ahmad lalu pergi dari hadapan Viona.


"Maksud Ahmad tadi apa?, Bikin penasaran" Batin Viona sembari diam mencerna kalimat Ahmad sebelum meninggalkannya.


Ahmad menjauh dari meja Viona, menelepon waiternya yang mengantarkan minuman kepada orang yang mencurigakan tersebut.


"Assalamualaikum, bagaimana?" Tanya Ahmad dalam telepon itu.


"Wa'alaikumussalam pak, tidak ketemu pak, pas ke mejanya orang tersebut tiba-tiba hilang pak" Lapornya lewat jalur genggamnya.


"Oh gitu, apa selama ini ada orang yang mencurigakan seperti itu?" Tanya Ahmad lagi penasaran.


"Tidak pak, baru kali ini"


"Ok, terima kasih assalamualaikum" Ucap Ahmad lalu mematikan sambungan telepon.


Ahmad kembali ke ruangan khususnya direstorannya untuk istrahat sejenak sebelum balik rumah. Ia rindu rumah.


Berbeda dengan Gebi dan Viona, keduanya semakin akrab berbagi cerita ketawa ketiwi seakan mereka sudah bertemu berkali-kali.


Gebi ala-ala melihat jam tangan dan ponselnya untuk pamit pulang.


"Ok. Kirimkan sekarang" Balas Gebi di ponselnya itu.


Lalu beralih ke Viona untuk pamit.


"Maaf ya Vio, aku harus pulang. Lain kali kita ngopi-ngopi bareng. By" Pamit Gebi sambil melambaikan tangan sebelum pergi.


"Ko gak salam yaa, apa dia non muslim?, Ahh sudahlah Vio muslim atau bukan yang penting baik" Batinnya sembari menyunggingkan senyum.


Viona lanjut makan eskrim sedangkan Gebi sudah berada dihalaman restoran seafood tersebut.


"Kamu dimana?" Tanya Gebi dalam telepon sembari berdiri seakan menunggu seseorang.


"Udah dekat" Jawabnya seseorang yang terdengar jelas ditelinga Gebi.


"Ok" Respon Gebi sekaligus menutup pembicaraan mereka lewat telepon genggam itu.


Tidak menunggu lama, mobil hitam berhenti didepan Gebi. Gebi tanpa menunggu lama langsung masuk dan melanjutkan perjalanan. Kali ini Gebi tidak tau tujuan mereka.


"Ini kita kemana?" tanya Gebi.


"Biasa ketemu Gladis, aku sudah beberapa kali ambil gambar yang bernama Viona itu. Ternyata dia muslim" Ujar laki-laki tersebut.


"Iya" respon Gebi.


10 menit kemudian sampai disebuah cafe dimana tempat itu titik temu mereka. Disana Gladis sudah menunggu.


Gebi dan laki-laki tersebut duduk tepat di hadapan Gladis, tanpa menunggu di mintai oleh Gladis foto-foto tersebut si laki-laki ini membuka sebuah gambar dan memperlihatkan foto Viona yang memakai hijab.


Gladis membulat matanya, "pakai...." ucapannya itu sambil memperagakan orang yang pakai jilbab menggunakan tangan.


Gebi dan laki-laki tersebut mengangguk.


"Ok, ada foto Viona seorang diri?"


"Gak ada, tapi foto itu tinggal crop selesai" Jelasnya memberikan solusi kepada Gladis.


"Oh iya, kenapa aku gak kepikiran" Ujar Gladis lagi.

__ADS_1


"Sudah dikirim?" Lanjutnya


"Iya, kami harus pergi sekarang Dis, by" Pamit Gebi setelah urusan foto beres.


__ADS_2