
Viona baru menerima pesan dari Ina kalau ia akan resign dari butik Viona. Viona sedang menunggu Ina datang dibutik untuk terakhir kalinya.
"Ehh Ina" Panggil Viona setelah melihat Ina keluar dari mobilnya. Viona langsung menyambut Ina dari halaman butik.
"Kenapa keluar Na?, Apa pekerjaanmu disini terlalu berat?" Cecarnya.
Ina senyum terlebih dahulu sebelum menjawab, "bukan, aku hanya keluar kota."
"Kemana?" Tanya Viona lagi, sembari keduanya melangkah masuk dalam butik dan memutuskan untuk duduk dikursi panjang seperti biasa.
"Belum tau nih, tergantung" Jawab Ina.
Viona mengerutkan keningnya, "Tergantung siapa Na?"
"Waduh, hampir keceplosan" Batin Ina.
"Tergantung mood, iya tergantung mood" Ina mengulang kata-katanya membuat Viona curiga.
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku ya Na?, Aku udah anggap sahabat, tapi kamu main rahasia-rahasian" Viona mulai cemberut.
"Ahmad pergi dan kamu sekarang pergi juga, terus aku dengan siapa?" Gumamnya sembari menghembuskan napas dengan kasar.
Viona bangkit dari duduknya, ia mengambil sebuah amplop yang ia sudah sediakan sejak sampai butik.
"Apa ni?" Tanya Ina bingung, "bukan aku sudah terima gaji bulan ini?" Lanjutnya.
"Terima aja, kenapa sih" Viona moodnya sudah tidak bersahabat lagi, bukan marah melainkan sedih karena ditinggal karyawan sekaligus sahabat baginya.
Ina akhirnya menerima amplop itu, ia sebenarnya tidak mau tapi melihat Viona jadi tidak enak hati untuk menolak.
"Ok, makasih ya" Ujarnya lalu menyimpan amplop itu dalam tasnya.
"Sama-sama" Jawab Viona lalu ia duduk kembali dikursi Viona.
"Gak peluk nih" Sindir Viona kepada Ina.
Seketika Ina tertawa lucu, lalu merentangkan tangannya.
"Cini-cini peluk dulu" Ucapnya.
"Gak, kayak anak kecil" Protes Viona, tapi menyambut juga tangan Ina dan akhirnya mereka pelukan.
"Hati-hati disini, jika ada masalah telepon saja aku. Pokoknya wajib hukumnya" Pesan Ina.
"Siap" jawab Viona lalu melonggarkan pelukannya. Awalnya Viona masih bisa senyum tapi lama kelamaan ia malah menangis.
"Aku sedih" Ujar Viona sembari menghapus air matanya yang hampir jatuh.
"Yeee, udah tua masih nangis" Goda Ina.
"Aku masih muda tau" Viona tidak terima, ia mengerucutkan bibirnya, "tapi kalau kembali, datang lagi disini kan?"
"Insyaallah" Jawab Ina sembari senyum.
🌺
Siang ini Viona hanya seorang diri di butik tanpa Ina ternyata sepi juga. Viona memutuskan untuk mempromosikan pakaian butiknya lewat online, diberbagai media sosial ia gunakan, Instagram, Facebook, tiktok, Shopee dan Tokopedia. Mengedit video salah satu kesukaan Viona saat ini. Membagi waktu ambil video, edit dan posting membuatnya kadang lupa waktu makan.
__ADS_1
Ia mendengar perutnya bunyi, "jam berapa sekarang?" Tanyanya kepada dirinya sendiri sambil melihat jam di lengannya.
Matanya seketika melebar melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ia bergegas menutup laptopnya dan mengambil ponsel serta kunci mobil hendak keluar mencari makanan.
"Oh iya, Ina sudah keluar" Gumamnya setelah sadar tidak ada lagi yang jaga butiknya.
Viona kembali ke kursinya dan memutuskan untuk gofood saja. Makanan apa saja yang penting bisa dimakan dan tempatnya dekat dengan butik agar tidak lama menunggu.
Nasi goreng dan minuman satu botol mineral pilihan Viona, yang terpenting makan. Itu dalam benak Viona.
Sambil menunggu pesanan ia kembali memikirkan bagaimana cara agar jualannya bisa laris, mengingat akhir-akhir ini pengunjung semakin sepi.
"Promosi sudah?, Apa lagi yaa" Gumamnya sambil mematuk-matukkan jarinya di meja.
Viona harus berpikir keras agar butiknya kembali ramai pengunjung, dan yang membuatnya heran para pelanggannya dulu sudah tidak datang lagi.
Ponselnya bunyi tiada henti, ia membuka ponselnya dan disana banyak berkomentar divideo yang ia unggah beberapa jam yang lalu. Namun, yang menyedihkannya bukan bertanya tentang video malah membandingkan butiknya dengan butik yang katanya buka baru dan Viona tidak tau butik itu.
"Berkomentar atau tidak ya?" Viona mulai menimbang-nimbang, "Jangan deh" Putusnya. Ia memilih menunggu makanannya dibandingkan buka gadget.
Kurir yang membawa makanan Viona sudah parkir di halaman butik, karena butik bagian depan full kaca polos maka Viona bisa melihatnya dan tidak menunggu kurir harus masuk dalam butik tersebut, ia memilih untuk keluar sendiri untuk mengambil pesanan makanannya.
"Ini pak, kembaliannya untuk bapak saja" Ucap Viona setelah memberikan uang harga makanan yang ia pesan.
"Terima kasih mbak" Jawabnya dengan wajah ceria dan tersenyum lebar kepada Viona.
"Sama-sama pak" jawab Viona lalu masuk dalam butik, ia sudah tidak tahan ingin sekali santap makanan itu, apalagi jika bau nasi goreng menyeruak keluar perut Viona seketika konser.
Sedangkan Ahmad sudah sampai di kota tujuannya, disana mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru. Meskipun disana kota asal ayahnya tapi karena jarang berkunjung sehingga membuatnya sedikit sulit beradaptasi. Membuka lembaran baru dan belajar budaya baru semoga bisa melupakan Viona. Meskipun bayangan dan rasa khawatir dengan keadaan Viona sering menghampiri.
"Melamun dari tadi, hayo ingat kak Viona ya?" Tebak Tiara sembari menepuk bahu kakaknya.
"Yeee, aku bilang ingat kakak Viona bukan rindu.. ingat RINDU. Rindu kakak Viona ya?" Goda Tiara lagi.
"Enggak, kakak masuk dulu ya. Ingat jangan lama-lama disini, besok balik sekolah" Ahmad meninggalkan adiknya itu, Tiara.
Tiara tau persis seperti apa kakaknya, ia memilih untuk menelpon Viona.
"Oh iya, aku gak punya nomor kakak Viona" Ucapnya dengan lirih dan lari mengejar kakaknya.
"Kakak" Panggilnya membuat Ahmad berhenti melangkah, "boleh minta nomor gak?" Tanya Tiara dengan napas ngos-ngosan.
"Nomor siapa?" Tanya Ahmad, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka kunci pola ponselnya.
"Nomor siapa dek?" ulang Ahmad lagi.
"Lupa namanya, tapi nomornya pasti ada sama kakak" ujar Tiara lagi. Ia takut kalau jujur tidak akan dikasih nomor Viona.
"Oh ya, tau dari mana?" Tanya Ahmad lagi.
"Kakak" Panggil Tiara sembari menghentakkan kakinya di tanah, "kalau gak mau bilang aja" Lanjutnya dengan kesal.
"Dasar manja" Ujar Ahmad sembari menarik pelan hidung Tiara, "ini, kalau sudah dapat bawa dikamar kakak" Lanjutnya.
"Siap" Jawab Tiara sembari mengangkat tangannya memberi hormat kepada Ahmad.
Ahmad pergi meninggalkan tiara.
__ADS_1
Berbeda jauh dengan Ray, ia sedang dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk ke korea bersama gladis.
"Alex, mami tidak mau tahu. Pokoknya harus ke korea besok pagi" tegas mami Ray.
"Iya, papi tidak mau bikin malu depan keluarga Gladis" Timpal Papinya.
"Alex belum memutuskan apa-apa Mi, Pi" Jawab Ray.
"Apa yang kurang dari Gladis, dia baik dan cantik. Terus keluarga baik-baik juga" Ujar Maminya lagi.
"Mi, aku tau tapi Alex hanya cinta Viona" Tegas Ray lagi didepan kedua orang tuanya.
"Maafkan aku, Mi, Pi. Jika masih memaksa, aku lebih memilih pergi dari rumah ini" Final Ray.
Mami Ray seketika bangkit dari duduknya, "Kamu tega ninggalin orang tuamu demi wanita itu. Dia itu bukan wanita baik-baik Lex, mami liat sendiri foto-fotonya, begitu banyak laki-laki bersamanya."
"Mami tau dari mana?, selama aku bersama Viona, dia gak pernah seperti itu, bahkan Viona cinta pertamanya Alex" Tutur Ray.
"Dasar bodoh, masuk akal Viona tidak punya pacar sebelumnya, jangan terlalu buta dengan cinta Alex. Papa tidak pernah mengajarkan perasaan mengalahkan logikamu" Marah Papi Ray.
"Hanya laki-laki lembek bahasa seperti itu langsung percaya" Papi Ray bicara dengan berapi-api.
"Mami dan Papi hanya percaya pada Gladis tidak pernah percaya kepada Alex" Ray mengeluarkan isi hatinya yang tertekan selama perjodohan mendadak terjadi.
"Sebenarnya Papi dan Mami mewujudkan kebahagian siapa, aku atau Gladis?, Kalau memang Gladis, posisinya sudah benar tapi jika kebahagiaan Alex berarti Mami dan Papi sudah keliru" Jelas Ray. Ia tidak tau lagi harus bagaimana, otaknya mendadak buntu.
Plakk
Tamparan keras mendarat dipipinya, lima jari Papinya tergambar jelas dipipi putih Ray. Perih dan sakit bagi Ray tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya saat ini.
"Papi" Panggil Mami Ray sembari memegang pipi Ray. Ia tidak menyangka kalau suaminya menampar anak semata wayangnya.
"Sudah Mi, Alex capek" Ujar Ray dan bangkit dari duduknya, ia memutuskan untuk ke kamar.
Baru beberapa langkah, ponsel Papinya berdering, ia penasaran. Kembali menghampiri Papinya.
"Apa pak?" Tanya Papi Ray dalam telepon itu dengan ekspresi kaget lalu menoleh kearah putranya dengan tatapan marah.
"Iya, Alex besok berangkat ke Korea" Jawab Papi Ray dalan telepon itu.
"Baik, terima kasih atas pengertiannya" Ucap papi Ray lagi dalam telepon lalu sambungan telepon mati.
Papi Ray membuang diri diatas sofa sembari menghembuskan napas lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Alex, ayah Gladis barusan bilang kalau Gladis sudah hamil makanya pernikahan harus dilakukan secepatnya."
"Anaknya siapa, Pi?" Tanya Ray.
"Bajingan, anak kamu lalu bertanya pada Papi" Ujarnya dan tanpa aba-aba Papinya kembali melayangkan pukulan dibagian rahang Ray.
Ray memegang rahangnya, "Pi, Alex bukan laki-laki bajingan, itu bukan perbuatan Alex, pi. Percayalah pada Alex" Pinta Ray.
"Mami sayang padamu nak, selamatkan keluarga kita, jaga nama baik Manullang."
Ray tidak habis pikir dengan pemikiran kedua orang tuanya saat ini. Nama baik siapa yang akan diselamatkan disini, bukankah itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Manullang?.
Pikiran Ray lagi-lagi buntu dengan masalah yang dihadapi. Ditambah sampai saat ini belum ada waktu bertemu dengan Viona.
__ADS_1
"Aku pergi dulu Pi, Mi" Pamit Ray.