
Tiga subuh dihebohkan suara Rifal mengetuk pintu kamar ibunya sembari memanggilnya.
"Mam, mama" panggil Rifal.
"Mama, siap-siap ma kita ke rumah sakit" Ujar Rifal lagi.
Ibu Heti yang tengah tidur tiba-tiba dibangunkan ketukan pintu berkali-kali dan mendengar suara Rifal menyebut rumah sakit, ia langsung bangkit dan membuka pintu kamar.
"Kenapa Lea?" Tanya Ibu Heti sedikit gelagapan.
"Sakit perutnya mam, siap-siap kita ke rumah sakit" Ulang Rifal dan diangguki cepat oleh ibu Heti.
Rifal kembali dikamar untuk membantu Lea jalan menuju mobil, sedangkan yang lain menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa di rumah sakit.
"Sudah semua mam" Ujar Viona dengan tas ditangannya.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" Tanya ibu Heti.
"Aman mam" Jawab Viona.
Yesi dan Ainun pun datang dari kamar.
"Mana Rifal dan Lea?" Tanya Yesi.
"Oh iya ya" Jawab Viona lagi baru sadar kalau mereka hanya berempat diruang tengah.
"Cek dikamar" Perintah Ibu Heti.
"Ok" Jawab Yesi dan hendak membalikkan badan ke kamar Rifal tiba-tiba yang dicari teriak dari halaman rumah.
"Sudah siap belum?, Lea sudah mau melahirkan" Teriak Rifal membuat orang dalam rumah langsung keluar dengan cepat.
"Astaghfirullah, kirain masih dalam kamar ternyata sudah dalam mobil" Ujar Ibu Heti sembari jalan cepat menuju mobil Rifal.
Ibu Heti masuk dan langsung menyuruh Rifal untuk jalan.
"Nak cepat, Yesi dan Viona nanti menyusul" Ujarnya lagi.
"Iya mam" Jawab Rifal dan mengemudi mobilnya sembari sesekali menoleh sedikit kearah belakang untuk memastikan istrinya.
Marcelea meringis sakit, "abang cepat sedikit, sakit ini"
"Iya iya" Jawab Rifal dan menambah kecepatan mobilnya.
"Hati-hati dan fokus nyetir nak" Ibu Heti mengingatkan anaknya lagi.
"Iya mam" Jawab Rifal dengan arah mata hanya fokus dijalanan depannya.
Yesi yang mengikuti belakang mobil, heran melihat laju mobil Rifal.
"Ini Rifal, mau lahir anaknya di mobil atau di rumah sakit, kok bawa mobilnya cepat" Ucap Yesi heran.
"Berarti itu darurat kak"Jawab Viona sambil main ponsel.
"Maksudnya?" Tanya Yesi yang tidak mengerti ucapan adiknya itu.
"Kak Lea, udah waktunya melahirkan makanya bawa mobil kayak gitu" Jelas Viona lagi.
"Ohh" Jawab Yesi.
30 menit menempuh perjalanan, sekarang mereka sudah sampai rumah sakit dan ditunggui oleh suster dengan disediakan kursi roda.
Marcelea keluar dari mobil langsung duduk dikursi roda dan dibawa diruang persalinan.
Rifal melihat Lea yang kesakitan tidak tega, matanya sudah memerah, air matanya tinggal tunggu jatuhnya.
Viona melihat kakaknya tegang dan takut, ia mencoba menghiburnya.
"Kak, kak Lea itu orangnya kuat" Ujar Viona.
"Aku tau dek" Jawab Rifal sembari mondar-mandir depan ruang persalinan.
Tidak lama keluar dokter dari ruangan itu.
__ADS_1
"Suaminya mana?" Tanya dokter itu.
"Iya, saya suaminya" Jawab Rifal.
"Silahkan masuk pak, temanin istrinya" Ujar dokter.
Dokter dan Rifal pun masuk dalam ruang persalinan itu. Rifal melihat istrinya langsung menangis sedangkan Marcelea hanya tersenyum meskipun bibirnya sekali-kali bershalawat untuk mereda rasa sakit. Menurut Marcelea, shalawat pereda sakitnya.
"Kok nangis bang?" Tanya Marcelea setelah melihat suaminya sudah berkali-kali menghapus air matanya.
"Ok, berkuat ya bu" Ucap dokter dan dibantu oleh suster lain.
Marcelea pun berkuat sesuai arahan dari dokter dan Rifal berada dibagian kepala istrinya.
Selama proses persalinan, Rifal tidak henti-henti mengucapkan kalimat-kalimat suci. Matanya kembali menjatuhkan air matanya dikala melihat anaknya telah lahir.
"Oek oek oek" Bayi Rifal dan Marcelea menangis.
Rifal langsung mencium kening sang istri sembari mengucapkan kalimat terima kasih.
"Terima kasih Lea, kamu sudah mengizinkan abang menjadi seorang ayah" Ucapnya dan sekarang menempelkan keningnya dikening istrinya.
"Iya sama-sama" Jawab Marcelea dengan bibir terukir senyum.
Diluar ruang persalinan, keluarga Rifal bernapas lega setelah mendengar suara bayi.
Ibu Heti tidak henti-henti mengucapkan kata syukur.
"Alhamdulillah, cucuku bertambah" Ucapnya dan saat itu Rifal keluar.
"Mam, sekarang aku sudah jadi seorang ayah" Ucap Rifal kepada ibunya.
"Kak, cewek apa cowok?" Tanya Viona penasaran.
"Cowok" Jawab Rifal.
"Alhamdulillah, cucu mama sekarang sudah satu pasang" Timpal Yesi tidak kalah bahagia.
Sekarang Marcelea pindah ruangan dan sang bayi di adzan.
"Assalamualaikum, baby boy" Ucap Marcelea kepada putranya itu.
Marcelea menatap wajah anaknya lama dengan teliti.
"Kok mirip abang Rifal" Ujarnya membuat Rifal senyum senang dan bahagia.
"Iya dong, kan kami nanti satu tim main bola jadi harus mirip" Jawab Rifal dengan bangga.
"Bayi itu masih berubah-ubah, bisa saja satu mimggu kemudian mirip Lea" Jawab Yesi membuat Marcelea senang mendengarnya.
"Alhamdulillah, ada harapan" Timpal Marcelea senang.
"Itu gampang, nanti adiknya mirip kak Lea" Ujar Viona membuat Marcelea dan Rifal bersamaan melihat Viona.
"Salah?" Tanya Viona bingung.
Ia kira ucapannya tidak ada yang salah.
"Kenapa pada liat Vio kayak gitu?" Tanyanya lagi.
"Kamu kira orang melahirkan seenak makan eskrim?" Tanya balik Yesi.
"Mana aku tau kak, kan supaya adil. Kakaknya mirip kak Rifal adiknya mirip kak Lea, jadi pembagiannya itu adil" Jelas Viona membuat Ibu Heti hanya menatap bungsunya itu.
"Vion, kayaknya kamu ngantuk, tidur aja dulu" Ucap Ibu Heti tiba-tiba membuat Viona memanyunkan bibirnya.
"Nanggung mam, sudah mau pagi" Jawab Viona dan seketika diruangan itu istighfar.
"Astaghfirullah, belum shalat subuh" Ucap Yesi, Rifal dan Ibu Heti.
"Kamu sudah shalat?" Tanya Ibu Heti.
"Sudah" Jawab Viona seakan tidak merasa bersalah.
__ADS_1
Viona bukan tidak mau mengingatkan saudara dan ibunya, hanya saja pas pulang dari mushala langsung dengan suara tangisan bayi, akhirnya Viona lupa mengingatkan untuk shalat subuh.
"Temanin Lea, kami shalat dulu" Ujar Rifal dan Viona pun mengangguk setuju.
Rifal, Yesi dan Ibu Heti ke mushola, dalam ruangan itu tinggal mereka berempat, Ainun yang tidur di kursi panjang yang berada dalam ruangan tersebut, sedangkan Viona malah menarik kursi agar duduk dekat dengan iparnya yang sedang gendong anaknya.
"Kak Lea, aku foto tangan baby yaa untuk Ray" Izin Viona sebelum mengambil gambar ponakannya itu.
"Lagi chat dengan Alex?" Tanya Marcelea.
"Tidak, hanya mau kirim aja kan dia ponakannya juga" Jawab Viona dan Marcelea mengangguk.
"Foto saja, aku lupa kasih tau Alex" Ujar Marcelea.
Viona mengambil gambar bagian tangan ponakannya dan ia kirim ke Ray.
"Sudah terkirim, tapi belum dibaca" Ujar Viona sembari memantau chatnya itu kapan centangnya jadi biru.
Beberapa menit ditunggu balasan Ray tidak kunjung muncul, maka Viona memutuskan untuk menyimpan ponsel diatas meja dan ia lanjut cerita dengan Marcelea.
"Baby boy sudah ada namanya?" Tanya Viona sembari memegang dan mengelus-elus tangan baby.
"Belum, tunggu ayahnya. Abang Rifal yang memberinya nama" Jelas Marcelea.
"Abdullah saja kak" Ujar Viona lagi.
"Bagus juga" Marcelea setuju dengan nama yang disebutkan Viona untuk anaknya.
"Bukan hanya bagus juga tapi masya Allah bagus kak, atau nama Hamzah" Ujar Viona lagi.
"Rasulullah Saw, bersabda, "berilah (nama anak kalian) dengan nama yang paling kusenangi yaitu Hamzah." (HR. Ibnu Asakir dan Hakim)" Lanjut Viona yang diangguki oleh Marcelea.
"Tunggu dulu ayahnya yaa" Respon Marcelea kepada Viona.
"Baby boy, bibimu sangat antusias memberimu nama-nama yang bagus" Ucap Marcelea kepada anaknya.
"Dek, apa Alex sudah balas?" Tanya Marcelea kembali mengingat sepupunya itu. Karena biar bagaimanapun Ray adalah saudara sepupu satu-satunya Marcelea di kota yang sama.
"Aku cek dulu ya kak, kalau orang tua kak Lea gimana?" Tanya Viona sembari membuka ponselnya.
"Ehh Ray dari tadi di depan, aku jemput dulu ya kak" Pamit Viona kepada Marcelea.
Viona pergi jemput Ray dan Marcelea hanya menatap wajah anaknya sembari melihat ponakannya yang masih tidur nyenyak di kursi panjang dalam ruangan itu.
Sementara yang shalat, mereka kembali di ruangan.
"Viona mana dek?" Tanya Yesi.
"Katanya jemput Alex tadi didepan" Jawab Marcelea.
"Kenapa gak disuruh masuk saja?" Tanya Yesi lagi.
"Viona gak enak, soalnya Alex dari tadi menunggu" Jelas Marcelea lagi.
"Astaghfirullah, kasian anaknya orang" Respon Yesi setelah mendengar penjelasan Marcelea.
Pintu ruangan pun dikutuk lalu terbuka sembari memberi salam. Terlihat dimuka pintu Viona dan Ray yang sedang memegang dua paper bag.
Viona dan Ray pun masuk, Ray canggung saat masuk karena baru kali ini keluarga Viona lengkap. Ray maju menghampiri tempat tidur sepupunya itu.
"Ini kak, untuk perlengkapan babynya" Ujar Ray.
"Makasih lho, simpan saja dikursi panjang itu" Ujar Marcelea.
Ray menyimpan paperbagnya itu lalu kembali melihat ponakannya itu.
"Kak mirip kak Rifal" Ujar Ray setelah melihat bentuk wajah ponakannya.
"Namanya siapa kak?" Tanya Ray.
"Hamzah, kalau ayahnya mau" Jelas Marcelea.
Percakapan antara saudara sepupu didengar oleh Rifal. Rifal langsung merespon sembari bercanda.
__ADS_1
"Nama yang bagus, abang juga suka"
"Makasih, berarti sekarang kita panggil baby Hamzah" Ucap Marcelea sembari senyum melihat pipi tembem anaknya. a cubit sedikit pipi anaknya, "iiiii, kok imut banget ya"