Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
96. Hadir diresepsi pernikahan


__ADS_3

"Bibi, Hamzah mau pakai ini" Ujarnya sembari menyodorkan minyak rambut khusus anak kecil kepada Viona.


Viona yang masih bercermin langsung membalikkan badan, mendapati ponakannya itu mendongak dengan tangan keatas berusaha memberikan minyak rambut yang dia pegang.


"Rambutnya dirapihkan aja yaa" Izin Viona dengan lembut sembari menerima minyak rambut dari ponakannya.


Hamzah menggelengkan kepala pelan.


"Ya udah, bukan salah bibi yaa kalau tiba-tiba ibumu melarang pakai minyak rambut" Ujar Viona.


Hamzah yang awalnya mendongak melihat Viona, sekarang malah berubah jadi menunduk, diam sembari meremas tangannya.


Viona melihat itu, langsung menghela napas, "Ya Allah" batinnya.


"Salah lagi nih" Gumam Viona.


"Ya udah kalau gitu, Hamzah tunggu disini. Bibi ke kamar ayah dan ibu, Hamzah disini dulu. Ok?" Tanya Viona sembari senyum.


Hamzah mengangguk setuju dan Viona langsung keluar dari kamarnya menuju kamar Rifal dan Marcellea.


Sesampainya depan kamar, Viona langsung mengetuk pintu kamar dan minta izin masuk.


"Assalamualaikum, Viona mau masuk" Ucap Viona lalu membuka pintu yang tidak dikunci.


Marcellea sudah siap tinggal jalan, begitupun dengan Rifal, pakaian mereka couple.


Marcellea melihat Viona dari kepala sampai kaki.


"Kos kakinya mana, dek?" Tanya Marcellea kepada Viona, "bang sudah selesai kan?, Viona udah datang panggil kita" Sambungnya.


"Sudah" Jawab Rifal sembari menyisir rambutnya, "Oh iya, Hamzah mana?" Lanjut Rifal.


Marcellea baru sadar kalau Hamzah tidak ada dalam kamar.


"Kemana itu anak, apa ada di kamarmu dek?" Tanya Marcellea. Menurutnya kemana lagi Hamzah kalau bukan ke kamar bibinya.


Viona menghela napas, kok bisa-bisanya orang tua didepannya ini sampai lupa anak.


"Aku kesini karena Hamzah ingin pakai minyak rambut, ini tempatnya" Ujar Viona sambil memperlihatkan tempat minyak rambut tersebut.


"Jangan, gak cocok ini" Marcellea mengambil minyak rambut tersebut ditangan Viona, "ini aku sudah pisahkan dirumah tapi kenapa bisa ada disini ya?" Sambungnya dengan nada bingung.


"Abang ya?" Tanya Marcellea kepada suaminya itu.


"Asal ambil ibu Hamzah, lagian suruhnya cepat-cepat jadi ambil-ambil saja, gak perhatikan tempatnya" Respon Rifal dengan santai.


"Ya udah sekarang sudah jam 7 malam, acaranya pasti sudah mulai" Ujar Rifal lagi sembari melihat jarum jam dipergelangan tangannya itu.


"Kalian siap-siap, saya tunggu di mobil" sambungnya lalu pergi.


Viona dan Marcellea langsung sama-sama ke kamar untuk melihat Hamzah. Disana Hamzah sudah duduk diatas tempat tidur Viona.


"Sayang, kita pergi sekarang" Marcellea memberi tahu anaknya sembari menurunkan Hamzah dari atas tempat tidur.


"Lambut Hamzah?" Tanyanya.


Marcellea mengerti maksud putranya itu. Ia langsung menjelaskan kepada Hamzah agar tidak marah.


"Minyak rambut yang bibi bawa tadi itu tidak cocok untuk Hamzah, bikin rusak rambut Hamzah" Jelasnya.


"Lusat?" Tanyanya.


Viona dan Marcellea menganggukkan bersamaan.


"Ote, ayah mana?" Tanya Hamzah lagi.


"Udah di mobil" Jawab Marcellea.

__ADS_1


Mendengar itu Hamzah langsung lari meninggalkan kamar Viona menuju ruang depan. Viona dan Marcellea menyusul.


🌺


Undangan baru berdatangan, masih dalam tahap ramai-ramainya tamu. Kolega bisnis Papi Ray pun baru berdatangan, bahkan keluarga dari negeri ginseng menyempatkan waktu untuk hadir, bisa dibayangkan betapa meriahnya resepsi pernikahan Gladis dan Ray.


Pengantin bak ratu dan raja diatas tahtanya, ucapan selamat dan doa menyertai keduanya.


Keluarga Marcellea bersama Viona masuk dalam gedung tempat dimana Ray melangsungkan resepsi pernikahan. Jalan beriringan, Viona jalan disamping Rifal. Mengucapkan selamat kepada pengantin terlebih dahulu.


"Lex, selamat yaa" Ujar Marcellea sembari memeluk sepupunya itu.


"Iya kak" Jawab Ray dengan senyum terpaksa.


Marcellea melepas pelukannya lalu ke Gladis, "selamat ya" Ucap Marcellea sembari senyum.


Menyusul Hamzah, Rifal dan Viona. Mata Ray tidak lepas dari Viona, membuat Viona memilih menundukkan kepala.


Viona mengatupkan tangannya di dada, "Selamat ya Ray, semoga selalu bahagia" Ucapan tulus dari Viona sembari senyum.


Ray menoleh ketempat lain sekilas sebelum menjawab kalimat Viona. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat itu dari Viona.


"Terima kasih sudah datang" Balas Ray dengan senyum terpaksa.


Viona bergeser ke Gladis, karena mereka sesama wanita maka Viona berjabat tangan dengan Gladis.


"Selamat ya, kebahagiaan menyertaimu" Ucap Viona lagi.


Gladis ogah-ogahan mendengar kalimat itu, "Terima kasih" Jawabnya dengan paksa.


Viona membalas dengan senyuman lalu berjabat tangan dengan Mami Ray dan melakukan hal yang sama hal seperti Ray kepada Papi Ray.


"Siapa yang undang kamu disini?" Tanyanya dengan nada berbisik.


Pertanyaan itu sangat menusuk hati Viona, sakit tapi tidak mungkin membalas bahasa tersebut apalagi disampingnya banyak orang yang menunggu untuk berjabat tangan kepada orang tua pengantin.


"Lan, udah lama datang?" Tanya Viona.


"Baru, kamu" tanya balik Alan.


"Hmmm.. lumayan, lihat kakak aku gak?"


"Gak, kan baru sampai"


"Oh iya, sorry" Ucap Viona.


"Santai, gimana kita duduk saja dulu, siapa tau ke toilet" Ujar Alan.


"Boleh"


Viona dan Alan pun duduk sambil cerita, senyum tergambar jelas dibibir Viona jika Alan cerita lucu.


"Eehh, kapan-kapan ke restoran, sepertinya tinggal kamu yang belum pernah kesana. Iya kan?" Tanya Alan dengan memicingkan mata sambil nunjuk Viona.


Viona mengangkat tangan seperti mengipas diudara, "Kamu gak undang, mana aku tau"


"Benar juga sih, eehh mau makan apa atau minum gitu?" Tanya Alan lagi sambil memundurkan kursinya dibelakang.


"Aku gak deh, lagi malas makan"


"Malas atau lagi gak enak makan?" Goda Alan lagi.


Viona mengerutkan keningnya, "malas tuh aku jawab" jawab Viona sembari celingak-celinguk mencari kakaknya.


"Kemana sih mereka ini" Gumam Viona sembari menyandarkan badan dikursi.


Gerak-gerik Viona tidak luput dari pantauan Ray, matanya tidak beralih sedikit pun. Tatapan itu mengisyaratkan kalau Viona tidak rela dekat dan tertawa seperti yang Ray lihat saat ini. Ia mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Untung kamu sahabatku, Lan" Batin Ray.


Gladis melihat itu tersulut amarah. Bagaimana tidak, baru tadi pagi resmi jadi istri Ray tapi tatapan Ray selalu ke Viona, sedangkan dirinya jangankan di tatap dilirik saja sudah untung-untungan.


Dadanya naik turun menahan emosi, tangannya meremas gaunnya. Perubahan Gladis disadari oleh Mami Ray.


Mami Ray seketika menghampiri mantunya sambil memegang pundaknya sebelah, "Kenapa, hmm?. Cerita ke Mami" ujarnya dengan pelan.


"Hanya gerah Mi, butuh air minum" Kilahnya.


Mami Ray mengerutkan keningnya mendengar jawaban Gladis, sangat tidak masuk akal kalau gerah tapi ia mengikuti apa yang dikatakan mantunya. Ia minta satu botol air mineral.


Sementara dikursi, Alan dan Viona masih asyik cerita. Awalnya Viona panik karena sudah lumayan lama menunggu tapi kakak, ipar dan ponakan tidak terlihat juga. Setelah melihat ponselnya, ia mendapat chat dari iparnya kalau mereka sudah pulang duluan, Hamzah mendadak rewel dan ia akan dijemput oleh Rifal.


"Ada yang panas nih" Ujar Alan sembari ketawa.


"Haaa" Viona tidak mengerti arah bahasa Alan.


"Lanjut makan kuenya saja" Perintah Alan.


"Benar juga, sebelum kak Rifal jemput."


Viona lanjut makan kue yang diambilkan oleh Alan, sedang Alan hanya minum. Selesai makan ia pamit pulang sebelum jemputan tiba.


"Lan, temani yuk keatas. Bisa gak? Gak enak naik sendiri" Jujur Viona.


"Dimana-mana emang gak enak sendiri, berdua kan enak" Respon Alan lalu ia ketawa seakan bercanda.


Viona geleng kepala tidak habis pikir dengan Alan malam ini, tidak henti-hentinya membuat Viona tertawa dan heran bersamaan dengan candaannya. Meskipun seperti itu, Viona merasa beruntung bertemu Alan, setidaknya tidak seperti orang bodoh ditengah kemeriahan pesta.


Alan merapikan pakaian dan rambutnya, "sudah oke?" Tanya Alan.


"Iya, sudah oke. Hanya pamit gak bertemu teman spesial kok" Ujar Viona heran melihat tingkah Alan malam ini.


"Orang yang jalan berdampingan dengan kamu itu harus seperti raja" ujar Alan lagi dengan tatapan kedepan.


"Why?"


"Karena yang mengajak adalah ratu, maka yang diajak harus sadar diri. Ratu kan pasangannya raja" Jelas Alan membuat Viona memutar bola matanya.


"Ayo" Ajak Viona.


"Ke pelaminan juga, bercanda, hehehe."


Viona kembali bertemu dengan Ray untuk kedua kalinya. Dari jauh tatapan Ray silih berganti dari Viona pindah ke Alan dan sebaliknya.


Alan langsung menjabat tangan Ray setelah sampai, "selamat bro, cari-cari jodoh ternyata teman SMA. Gak mungkin kan tunda momongan, semoga secepatnya yaa" Ucap Alan panjang lebar.


"Gimana Vio?" Tanya Alan kepada Viona, ia sengaja melibatkan Viona dalam pembicaraan mereka.


Dengan senyum terpaksa Viona menjawab sambil melihat Ray dan saat itu Ray menatap Viona, seketika tatapan keduanya bertemu.


"Iya, benar kata Alan" Ujar Viona dengan pelan.


Rasanya lebih nyesak sekarang daripada awal ia datang. Senyum terpaksa terukir dibibir Viona.


"Maaf" suara itu keluar dari bibir Ray dan sangat pelan.


Viona mendengar itu samar-samar, ia menoleh sekilas dan kembali fokus dan melangkah mendekat ke Gladis.


Alan tidak meninggalkan Viona sendirian, karena ia tau bagaimana Gladis.


"Selamat, jaga sahabatku" Ucap Alan dan diikuti oleh Viona.


"Kebahagiaan menyertai kalian" Viona menambahkan.


Lalu ke orang tua Ray, saat itu Mami Ray tidak mengatakan apa-apa karena disana ada Alan sahabat anaknya.

__ADS_1


__ADS_2