
Mobil Viona membelah jalan kota ketempat dimana Ibunya mengirimkan lokasi tempat lunch mereka. Kepalanya terasa pening, mengingat bahasa Ray tadi.
"Kok bisa ada orang tua seperti itu" Viona tidak habis pikir dengan keputusan Gladis dan Ray.
"Ada orang yang punya pemikiran seperti itu, emang mereka kira enak jadi anak broken home" Gumam Viona lagi sembari geleng kepala.
Sementara Ibu Heti dan sahabatnya itu sudah duduk santai sambil cerita.
"Yesi, kita ini udah lama ketemu. Pas ketemu anak-anak kita udah pada besar" Ujarnya.
"Iya nih, tidak menyangka kita bisa ketemu lagi" Balas Ibu Heti.
"Anak kamu berapa?"
"Tiga orang, Nisa. Kamu?" Tanya balik ibu Heti.
Teman ibu Heti bernama nisa itu langsung senyum, "aku satu, itupun sudah syukur alhamdulillah."
"Kenapa?" Tanya ibu Heti penasaran.
"Aku kena kista dan harus angkat rahim. Umur putra saya saat itu kurang lebih 5 tahun" Jelasnya.
Ibu Heti manggut-manggut paham dan prihatin mendengar penjelasan temannya itu.
"Gak masalah yang terpenting saat ini sehat dan melihat anak kita bahagia sudah cukup."
"Benar itu Heti, aku itu risau dengan putra ku sampai sekarang belum membawakan aku mantu" Nisa mengeluarkan keresahan dalam hatinya yang tersimpan rapat selama ini.
"Takutnya dia itu sudah nyaman sendiri" Lanjutnya.
"Jangan berpikir aneh-aneh" jawab Ibu Heti. Ia melihat jam tangan dilenganya, "ini udah jam 1, kenapa belum sampai ya?" Lanjutnya dengan lirih.
Nisa baru menyadari kalau mereka sudah lama menunggu sampai minuman di gelas mereka sudah habis.
Nisa dan Heti,. masing-masing menelfon anak mereka.
"Assalamualaikum, Vio kamu dimana? Kena macet?" Tanya ibu Heti dalam telepon setelah teleponnya dijawab oleh Viona.
Viona yang baru saja sampai masih mencari tempat parkir sambil menjawab telepon ibunya.
"Wa'alaikumussalam mam, Vio sudah diparkiran nih" Jawab Viona sembari membawa mobilnya dengan pelan.
"Mama tunggu didalam ya, meja no 12" Ujar Ibu Heti dalam telepon.
"Ok mam, assalamualaikum" Ucap Viona lalu mematikan sambungan telepon setelah ibunya menjawab salamnya.
Begitupun dengan ibu Nisa sedang menelpon putranya.
"Ibu tunggu di meja nomor 12 lho ini, by. Assalamualaikum" Ucap ibu Nisa dalam telepon.
"Iya bu, sudah dekat dengan restoran ini bu" Jawabnya dalam telepon.
Ibu Nisa senyum mendengar jawaban anaknya, "iya, ibu tunggu ya, assalamualaikum" Telepon Ibu Nisa pun selesai.
Heti dan Nisa saling memandang.
"Semoga niat baik kita dikabulkan oleh Allah" Ujar ibu Nisa.
"Aamiiin" Jawab ibu Heti sembari senyum.
Viona mulai mengedarkan pandangannya mencari meja nomor 12 sambil jalan pelan. Beberapa menit, mata Viona menemukan ibunya sedang bercakap-cakap.
"Oh itu mama" Gumam Viona sembari jalan menghampiri meja ibunya.
Setelah sampai meja, kedua ibu-ibu itu tidak sadar kalau Viona sudah sampaikan, terpaksa Viona memberi salam.
"Assalamualaikum, Viona sampai"
Nisa dan Heti seketika berhenti cerita dan menoleh ke sumber suara.
"Duduk nak" Ujar ibu Heti mempersilahkan Viona.
Sebelum Viona duduk, ia terlebih dahulu menyalami keduanya. Nisa sebagai ibu melihat sopan santun Viona langsung suka. Senyumnya terukir sembari melihat ibu Heti.
"Aku suka Heti" Ujarnya membuat Viona yang baru duduk mengerutkan keningnya sejenak lalu bersikap normal.
"Maaf, Vio terlambat. Ada tamu tadi di butik" Jelas Viona dengan jujur akibat keterlambatannya siang ini.
"Tamu, siapa?" Tanya ibu Heti penasaran.
__ADS_1
"Hmmm, orang yang tidak dikenal mam" Jawab asal Viona dan dalam hati berdoa semoga ibunya tidak bertanya lebih lagi.
"Gak masalah" Timpal Nisa, lalu ia memanggil waiter.
Viona membiarkan kedua buibu itu yang pesan, ia mengikuti saja. Sebenarnya kalau bukan karena ibunya, ia malas ikut lunch.
Ibu Nisa yang sudah tertarik dengan Viona, ia ingin bertanya banyak tentang putri Heti itu.
"Ibu panggil apa ni?" Tanya ibu Nisa sebagai awal pembicaraannya kepada Viona.
Sembari senyum Viona menjawab, "Viona, tante."
"Oh iya. Viona kesehariannya dibutik saja?" Tanyanya. Sebelumnya ia sudah tanya lewat ibu Heti.
"Iya tan, saya hanya mengelola butik" Jawab Viona.
"Mungkin jalan-jalan gitu?" Pancing Ibu Nisa.
"Hmm.. iya sih tapi mama" Jawabnya sambil menoleh ke ibu Heti, "lebih betah di rumah" sambungnya.
Nisa langsung ketawa mendengar jawaban Viona, kejujuran yang ada dalam diri Viona membuat Nisa makin suka.
"Alan ni kemana?" Tanyanya dalam hati.
"Semoga cocok dengan anak ibu" Ujar Ibu Nisa penuh harap, "ibu lihat bukan hanya memiliki wajah yang cantik tapi pribadinya juga."
Kalimat itu mungkin wanita diluaran sana sudah melayang tapi berbeda jauh dengan Viona, ia malah malu mendengar bahasa seperti itu.
"Viona, biasa saja tante" Responnya, tapi sudah mulai tidak tenang.
"Viona ke toilet dulu, mam.. tante" Pamit Viona lalu pergi.
Kepergian Viona, Nisa langsung bicara kepada Heti.
"Heti, kenapa gak bilang kalau punya anak gadis. Bujuk Viona menerima lamaran putraku, kalau aku laki-laki sudah jatuh cinta dari tadi" Ujar ibu Nisa.
Sedangkan Alan, sampaikan dimeja itu langsung berdehem dan hendak menarik kursi.
"Eehh duduk sebelah ibu" Ujar ibu Nisa.
"Disini sebelah ibu juga" Ucap Alan. Apa bedanya dengan kursi yang hendak ia tarik dengan kursi depannya.
"Itu tempat duduk Viona, duduk disini" Ujar ibu Nisa lagi.
"Viona siapa bu?" Tanya Alan.
"Tunggu aja, nanti ibu kenalkan ke dia. Dia lagi ke toilet" Jawab ibu Nisa.
Alan memilih diam, dalam hati bertanya-tanya mendengar nama Viona. Tapi Alan menepis semua itu. Jika Alan melihat ibu Heti sekilas, memang ada kemiripan dengan Viona. Ia pernah melihat ibu Heti tapi lupa dimana, tapi ia yakin pernah bertemu.
"Dirumahnya saat aku pergi dengan Ray" Batin Alan.
Seketika Alan duduk santai sembari senyum-senyum, keinginannya terjawab lewat ibunya.
"Tunggu dulu, sepertinya saya pernah liat kamu" Ujar ibu Heti sambil menatap Alan lama, "Pernah datang dirumah kan?" Lanjutnya.
Viona melihat Alan duduk santai sambil bersandar dikursinya, ingin sekali kabur tapi udah disamping ibunya. Memang dunia ini selebar daun kelor, masa iya tidak berjodoh dengan temannya maka ia akan dijodohkan dengan sahabat orang yang ia suka.
"Iya mam, itu Alan" Timpal Viona lalu duduk.
"Itu kirain mama dejavu tadi" Jawabnya.
Karena makanan sudah tersedia semua diatas meja, jadi setelah pulang dari toilet langsung mereka makan. Viona menyendokkan makanan untuk semuanya, bukan tanpa alasan melakukan itu tapi perintah dari sang ibu.
Nisa melihat itu hanya senyam-senyum saja, melihat putranya dengan sabar menunggu disendokkan makanan oleh Viona.
Viona menarik napas mengulurkan tangannya ke depan kearah Alan.
"Apa mau sendok sendiri?" Tanya Viona memecahkan lamunan Alan. Alan melihat Viona melayani ibunya, merasa lagi duduk dalam satu keluarga utuh.
"Aa..mmmm" Alan bingung sambil menggaruk tengkuknya, "kalau boleh disendokkan saja, lauk pauknya jauh dengan saya" sambungnya.
Mata Viona menatap Alan sekilas, lalu menunduk menahan tawa.
"Ok" Jawab Viona.
Piring Alan sekarang berpindah tangan, dengan telaten Viona mengambilkan makanan untuk Alan dan sekali-kali bertanya ke Alan untuk lauk pauknya. Jawaban yang Viona dapat kata terserah.
Jawaban terserah sangat melekat pada perempuan tapi siang ini kenapa kesasar sama Alan. Viona terpaksa mengambil semua lauk-pauk diatas meja sesukanya.
__ADS_1
Alan hanya membulatkan mata dan sekali-kali ia gelengkan kepala tanda ia tidak mau, namun Viona tidak mengerti itu. Ketahuilah wanita suka main kode-kodean tapi setelah diberi kode, dia kadang tidak mengerti. Alhasil piring Alan seperti gunung berapi yang siap meletus.
"Ini Lan" Ujar Viona, bahkan ia harus memutar meja membawakan piring Alan.
"Tapi ini banyak banget" Protes Alan dengan berbisik.
Viona senyum lalu menaikkan sebelah alisnya, "siapa suruh bilang terserah".
Viona kembali dikursinya. Mereka makan diselingi dengan cerita ibu Nisa dan Heti.
"Viona jaga butik, sedangkan Alan jaga restoran. Kok sibuk banget yaa" Ujar ibu Nisa memancing keduanya.
Viona menaruh sendok dan garpunya di piring yang sudah kosong.
"Kalau aku tante sibuk karena tidak memiliki karyawan" Jelas Viona.
Alan tidak mau kalah, "aku sibuk pantau karyawan resto, tapi bukan gak percaya ya"
Viona seketika menoleh tempat lain untuk menyembunyikan senyumnya, ia merasa lucu dengan jawaban yang kontras.
"Itu harus ada karyawan" saran Ibu Nisa.
"Benar tante, sudah pasang pengumuman juga, tapi gak tau kenapa belum ada yang datang biar satu orang" balas Viona.
"Mungkin besok baru datang, atau karyawan Alan satu orang pindah ke butikmu. Gimana Lan?" Ibu Nisa bertanya kepada anaknya itu.
"Boleh bu, terserah Viona saja" Jawab Alan membuat Viona mengerutkan kening.
"Maaf tante, tapi tidak usah. Restoran butuh karyawan banyak" Tolak Viona dengan lembut.
"Kok mama gak bantu aku jawab" Batin Viona.
"Iya udah kalau gitu" jawab ibu Nisa.
Mereka sudah selesai makan, lanjut makan penutup sembari ibu Nisa mengutarakan keinginannya untuk datang dirumah melamar Viona.
"Heti, saya to the point saja ya. Kira-kira kapan keluarga saya datang dirumah melamar Viona" Ujar ibu Nisa.
Uhuk uhuk
Viona tersedak dengan minumannya, ia tidak menyangka ibu Alan bertanya seperti itu.
"Kamu gak apa-apa Vio?" Tanya Alan dengan penuh perhatian.
Viona seketika melambaikan tangannya diudara sambil menggelengkan kepala.
"Iiii.. kenapa Alan harus peduli" Batin Viona dengan pipet kebali ia masukkan dalam mulutnya.
"Batuk tapi minum lagi, kasih jeda dulu minumnya Viona" Tegur Alan lagi.
Viona menatap Alan dengan tajam, "sok perhatian banget, bikin pusing" batin Viona.
Viona harus berperang dengan kata-katanya sendiri.
"Saya tergantung Viona" Jawab Ibu Heti kepada temannya itu.
"Saya pengen mengembangkan butik dulu, Tante, jadi belum kepikiran kesitu" Viona mengutarakannya dengan hati-hati.
"Kan bisa sama-sama, Alan juga sedang mengembangkan restorannya sekarang. Jadi bisa saling bantu nanti" respon ibu Nisa membuat Viona harus berpikir keras.
"Takutnya nanti terganggu tante, saya harus fokus satu-satu dulu" Viona memberikan penjelasan.
"Ibu rasa gak masalah jalannya berbarengan, banyak diluaran sana seperti itu. Berumah tangga sambil menjalankan usaha."
Kalimat ibu Nisa itu membuat Viona seperti diskak mati.
"Berpikir Viona" Batinnya.
"Gini tante, saya gak bisa berbagi, takutnya malah lalai dua-duanya."
"Kalau gitu, nanti gaji orang saja. Kamu hanya pergi cek sekali seminggu atau dua kali juga gak apa-apa" Ibu Nisa memberikan solusi kepada Viona.
"Waduh, alasan apa lagi ya?" Viona kembali membatin.
"Gimana?" Tanya ibu Nisa lagi.
"Aamm, gimana ya tante. Izinkan saya untuk shalat istikharah dulu" Ucapan Viona kali itu membuat ibu Nisa diam.
"Yes, aku memang" Dalam hati Viona bersorak ria.
__ADS_1
"Ibu suka dengarnya, nanti ibu doakan juga semoga Allah merestui hubungan kalian, agar secepatnya kalian menikah" Ujar ibu Nisa dengan pelan dan senang.
Seketika Viona menarik napas dalam-dalam. Pikirannya sekarang buntu, bagaimana bisa ia bertarung dengan doa seorang ibu. Kali ia deg-degan, bukan karena jatuh cinta pada Alan melainkan jawaban istikharahnya nanti. Karena ia sadar lawannya doa seorang ibu.