Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
50. Mengembalikan cincin


__ADS_3

Tidak terasa gelapnya malam sudah berganti dengan cahaya terang sang surya. Panasnya mampu membuat orang yang beraktivitas gerah dan kehausan. Salah satunya Viona sendiri.


Viona sengaja singgah berteduh dibawah pohon yang berada di pinggir jalan hanya untuk istrahat sejenak dari panasnya sinar matahari. Kebetulan penjual keliling lewat, jadi ia memutuskan untuk beli es dawetnya.


"Pak, jualan tiap hari?"


"Iya neng"


Senyum tidak luntur dari wajah bapak tersebut dengan semangat dan telaten mengambil jualannya untuk Viona.


"Semoga laris ya pak"


"Aamiiin"


Penjual es dawet keliling pergi, Viona masih menikmati esnya dibawah pohon. Ia sengaja ambil posisi duduk diatas motor sambil menikmati es dawet tersebut.


Sudah 10 menit telah berlalu, Viona masih dibawah pohon tersebut. Ia mendongakkan kepala melihat langit yang awalnya panas terik tiba-tiba berubah jadi gelap ditutupi awan tebal.


"Sudah mau hujan lagi" Gumam Viona, dengan cepat ia menyalakan mesin motornya dan membawa motornya dengan kecepatan sedang menuju bengkel Ray.


Tidak membutuhkan waktu lama, Viona pun sampai bengkel Ray. Karena Viona sudah dikenal oleh karyawan disana maka mereka menyambutnya dengan senyum ramah.


"Maaf mbak Viona, pak Ray nya gak ada"


"Kalau boleh tau kemana?"


"Itu juga kami tidak tau mbak" Jawabnya lagi.


"Coba telpon mbak" Saran dari salah satu karyawan.


Viona mengambil ponsel dalam tasnya dan ia menelfon Ray. Berkali-kali ia telepon tidak tersambung sepertinya Ray sengaja menonaktifkan ponselnya.


"Gimana mbak?" Tanya karyawan bengkel Ray tersebut.


"Gak aktif pak"


"Kerumahnya saja kalau gitu mbak" Ujarnya lagi.


"Emang bisa?" tanya Viona sedikit ragu kalau ke rumah Ray langsung.


"Mungkin kalau mbak gak masalah" Jawabnya sedikit ragu setelah mendengar pertanyaan Viona.


Viona menautkan dua alisnya tidak mengerti dengan ucapan karyawan Ray tersebut.


"Pernah kesana pak?" Tanya Viona lagi, dengan cepat karyawan tersebut menggelengkan kepala.


"Bisa minta alamat rumahnya pak?" Tanya Viona lagi.


Awalnya ragu tapi ia harus memberanikan diri agar masalahnya cepat selesai dengan Ray.


Karyawan tersebut memberikan Viona secarik kertas berisikan alamat rumah Ray.


"Makasih pak, assalamualaikum" Ucap Viona sembari senyum dan karyawan tersebut ragu-ragu untuk menjawab karena dirinya seiman dengan Ray.


Viona sadar apa yang ia ucapkan, ia langsung menjelaskan kepada bapak tersebut.


"Maaf ya pak, sudah biasa dengan sesama kami. Jadi kalau gak dijawab tidak apa-apa" Jelas Viona dan kemudian melanjutkan kalimatnya, "Pergi dulu ya pak"


🌺


Viona sudah berada depan rumah Ray, ia kembali mencocokkan alamat yang tertulis dikertas tersebut dengan nomor rumah yang berada didepannya saat ini.


"Benar, ini rumahnya" Gumam Viona.


Viona terlebih dahulu standar samping motornya lalu menekan bel yang berada di tembok pagar rumah Ray.


Ray yang lagi duduk santai depan kolam ikan mendengar bel rumah bunyi langsung bergegas menuju gerbang rumahnya.


"Lho" tunjuk Ray setelah membuka gerbang rumahnya dan melihat Viona yang berdiri tepat depan gerbang rumahnya.


"Iya aku Ray" Jawab Viona sembari senyum sungkan.


"Ada apa?" Tanya Ray to the point.

__ADS_1


"Aaa amm.. Aku... Aku mau.." Ucapan Viona dipotong langsung oleh Ray.


"Masuk aja dulu, gak enak bicara disini" Ujar Ray lalu masuk dalam rumah meninggalkan Viona yang bingung.


"Ini aku disuruh masuk dalam rumah?" Batin Viona bertanya-tanya.


"Gak ah, aku perempuan masa masuk dalam rumah orang dan penghuninya laki-laki pula" Viona membatin dan masih berdiri ditempat semula.


Sementara Ray yang sudah duduk diruang tamu menunggu Viona yang tak kunjung muncul, terpaksa Ray kembali keluar rumah dan ternyata Viona masih disana.


"Oh Tuhan, apa dia gak dengar yang aku ucapkan tadi" Batin Ray sambil menghampiri Viona yang masih stay di gerbang rumahnya.


"Ekhem, sampai kapan kamu berdiri seperti ini?, Apa gak pegal tu kaki, oh aku lupa kalau capek kan tinggal istrahat di restoran seafood"


Viona mendengar itu terlebih dahulu senyum sebelum menjawab.


"Gak enak masuk di rumah kamu, apalagi kita hanya berdua"


"Tunggu bentar"


Ray langsung merogoh saku celana mencari ponselnya.


"Halo Lan, ke rumah aku sekarang. Penting" Ucap Ray dalam telepon lalu mematikan sambungan telepon.


Viona lagi-lagi hanya senyum tanpa mengucapkan satu kata pun.


Tidak menunggu waktu lama Alan sampai dan berhenti tepat disamping motor Viona.


Alan menurunkan kaca mobil terlebih dahulu dan ia keluarkan kepalanya diluar lewat jendela mobilnya.


"Bro, kenapa berdiri diluar?" Tanya Alan.


Ray bukan menjawab pertanyaan sahabatnya, ia malah berkata kepada Viona.


"Sudah ada Alan"


Viona mendengar kalimat itu mengangguk kepala tanda setuju masuk dalam rumah Ray itu.


"Ini ada apa?, Aku gak ngerti drama kalian berdua" Ujar Alan lagi yang sudah berdiri diantara Ray dan Viona.


Alan mengerutkan keningnya, "Ini maksudnya apa?"


Viona menoleh melihat Alan, "Duluan Lan"


Alan bingung tidak mendapatkan penjelasan dari sahabatnya dan Viona, ia pun nurut masuk dalam rumah.


Mereka sudah duduk di ruang tamu, disana antara Ray dan Viona hanya diam-diam membuat Alan ingin bertanya.


"Aku diajak bersemedi?" Tanya Alan sambil melihat Viona dan Ray.


"Enggaklah" Ujar Ray lalu menoleh kearah Viona, "Vio mau bicara apa? Tadi tidak mau masuk karena hanya kita berdua sekarang sudah ada Alan" Sambungnya.


Alan seketika mengangguk paham setelah mendengar kalimat yang keluar dari Ray. Rasa kagum tiba-tiba muncul dari dalam hati Alan untuk Viona.


"Beruntungnya Ray mendapatkan Viona yang terjaga" Batinnya sambil menunduk diam, ia tidak ingin mengganggu obrolan kedua orang didepannya itu.


Viona menghela napas sebelum memulai pembicaraan.


Ray melihat itu hanya senyum lucu.


"Mulai saja Vio, disini hanya kita bertiga. Santai!!"


"Aku minta maaf" Ucap Viona dengan cepat.


Alan langsung mengangkat wajahnya melihat Viona dan Ray silih berganti, seperti ada momen yang terlewati oleh Alan.


"Soal?" Tanya Ray.


"Soal ini" Jawab Viona sembari mengeluarkan kotak cincin dari dalam tasnya menaruhnya diatas meja.


"Kamu benar-benar tidak menerimanya?" Tanya Ray. Ia seakan tidak percaya.


Viona diam begitu lama sembari menunduk.

__ADS_1


"Jawab aku Viona" Nada lembut tapi tegas keluar dari Ray.


"Maafkan aku Ray"


Ray membuang muka kesamping dengan ekspresi kecewa.


"Begitu mudah kamu ucapkan kata maaf tanpa memikirkan perasaan aku. Sebenarnya apa yang kurang dari aku, Vio?, Tolong katakan"


Viona menghela napas begitu berat, ia ingin mengatakan tapi seakan tertahan ditenggorokan.


"Please Vio dijawab" Ujar Ray dengan sedikit memohon.


"Kita berbeda" Jawab Viona dengan mata terpejam.


"Bukan karena yang lain?" Tanya Ray memastikan.


Viona seketika diam, ia juga tidak bisa pungkiri sekarang lagi bingung karena perjodohan dirinya dengan orang yang ia sendiri tidak tau siapa laki-laki itu.


"Aku ketinggalan info" Ujar Alan tiba-tiba.


"Lan.." panggil Ray.


"Iya.. iya.. aku diam dan tutup telinga" Ujar Alan dengan cepat.


"Simpanlah cincin itu, dan tunggu aku datang kembali" Ujar Ray.


"Ray, aku tidak punya kekuatan jika keluargaku menjodohkan aku, apalagi jika laki-laki itu baik agamanya" Jelas Viona membuat Ray menunduk diam.


"Apakah tidak bisa menungguku?" Tanyanya dengan lemah.


"Menunggu tidak sulit bagi wanita tapi jika ia sudah tau orang yang dia tunggu itu mustahil untuk bersama. Apakah kata menunggu itu wajib ia lakukan?"


"Laki-laki yang baik bertanggung jawab dengan keputusannya" Jawab Ray.


"Ini maksudnya gimana?, Apa kamu akan mualaf nanti" Tanya Alan lagi. Meskipun ia diam dan tidak ingin ikut campur tapi kalimat yang keluar dari Ray itu membuatnya ingin bertanya.


"Sepertinya aku harus pulang, assalamualaikum" Ujar Viona sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Alan dan Ray bersamaan.


"Cincinnya?" Tanya Ray lagi.


"Disimpan saja, kelak akan menemukan jari yang cocok dengan cincin itu"


"Gimana kalau itu jari kamu?"


Viona mengabaikan pertanyaan Ray, ia malah pamit untuk kedua kalinya.


"Aku pulang ya, assalamualaikum"


🌺


Kepulangan Viona, membuat Ray terus merenung mengabaikan Alan yang berada disampingnya.


"Ra, serius dengan apa yang kamu ucapkan tadi?"


"Memang aku kelihatan bercanda tadi?" Tanya balik Ray kepada Alan.


"Maksud aku, minta Viona menunggu lho. Maaf nih sebelumnya, keluarga mu pasti menolak Viona"


"Mami suka Viona"


"Tapi sepengetahuan mereka seiman dengan kamu, jujur sama Mami kamu supaya tau reaksinya gimana"


"Gak berani"


"Itu saja kamu gak berani Ra, gimana mau bertanggung jawab dengan kalimat yang kamu lontarkan kepada Viona tadi. Jujur, aku sedikit ragu tadi mendengar ucapanmu" Ujar Alan dan membanting dirinya disandaran sofa.


"Ra, apa rencana selanjutnya. Takutnya dikalah dengan orang baru, hehehe" Lanjut Alan dengan candaan.


Ray menatap tajam Alan, "dukung bukan malah nakutin, ini lagi mikir"


"Santai aja, lagian kalau berjodoh pasti bersama" Ujar Alan menenangkan hati Ray.

__ADS_1


"Maaf Ra, aku masih ragu sebenarnya" Alan membatin.


"Makasih bro" Ucapan tulus dari Ray untuk sahabatnya itu.


__ADS_2